Demi cita-citanya untuk bisa kuliah di Jakarta, Sella menumpang tinggal di rumah sang kakak. Disya sang kakak selalu sibuk dengan rutinitasnya sebagai wanita karier. Dia meminta Sella untuk mengurus kebutuhan Bagaskara sang kakak ipar, menggantikan peranan sang kakak.
Seiringnya waktu rasa cinta hadir di antara Sella dan Bagaskara. Bagaskara merasa kagum dengan sosok Sella, di tengah kemelut rumah tangga dengan Disya. Hingga akhirnya kejadian di suatu malam, mengubah segalanya. Disya marah besar dan mengusir Sella dari rumahnya membuat hubungan Kakak dan Adik terputus.
Siapakah yang akan Bagas pilih? Ikuti kisah perjalanan cinta mereka dalam karya "Terjerat Pesona Sang Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyaSyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Mencintai
Bagas mewujudkan keinginan calon istrinya, untuk memberikan waktu kepada Sella untuk fokus belajar. Mereka hanya melakukan komunikasi lewat panggilan telepon. Berpacaran dengan Sella, menjadi jiwanya lebih muda seusianya Sella.
"Bagaimana ujiannya? Lancar?" tanya Bagas.
Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Bagas menjemput Sella ke kampusnya, dan mengajak Sella menonton bioskop. Bagas sudah memesan tiket menonton melalui aplikasi online.
"Alhamdulillah lancar, semoga hasilnya bagus," jawab Sella.
"Berarti akan dapat hadiah dari aku dong. Kamu mau hadiah apa? Uang, liburan, atau cinta aku," tanya Bagas sambil tersenyum.
"Kalau tahu hadiahnya cinta kamu, aku tak akan capek-capek mengejarnya. Sekarang saja sudah cinta mati," sindir Sella.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita liburan saja. Sepertinya kita butuh healing deh. Agar pikiran kita sedikit rileks," ujar Bagas.
Ternyata Sella menolaknya, karena dirinya takut mereka khilaf kembali. Sella menginginkan liburan setelah mereka resmi menikah.
"Berarti pilihan kedua gagal juga ya, kalau maunya kamu seperti itu. Berarti nanti saja kalau kita bulan madu, kamu bisa memilih kemana kita akan pergi. Aku akan menurutinya. Berarti kamu pilih uang ya? Berapa yang kamu inginkan?" tanya Bagas.
"Terserah Kakak saja mau ngasih berapa. Uang itu untuk Mba Disya, aku ingin membantu Mba Disya berobat, selama ini Mba Disya sudah banyak memberikan aku uang. Kini giliran aku yang membantunya," sahut Sella.
"Keinginan kamu mulia sekali, bahkan kamu mementingkan orang lain dan mengabaikan keinginan kamu. Jarang-jarang loh ada orang seperti kamu, yang peduli meskipun dia pun butuh," ucap Bagas.
"Mba Disya lebih membutuhkannya. Aku masih ada uang dari pemberian Kakak kemarin. Sudah lebih dari cukup," sahut Sella.
Bagas meminta Sella untuk mencoba berlatih memanggil dirinya panggilan sayang, dan Sella akhirnya menurutinya. Sudah saatnya untuknya melakukan hal itu.
Obrolan mereka harus terhenti, karena mereka sudah sampai di bioskop tempat mereka akan menonton. Bagas mengajak Sella untuk makan terlebih dahulu sebelum mereka menonton bioskop.
"Kenapa sih orang-orang pada melirik ke aku sama kamu. Apa setua itukan aku? Terlihat sangat berbeda dengan kamu? Mereka melihat aku seperti aneh," gerutu Bagas membuat Sella tertawa terbahak-bahak.
"Puas banget kamu menertawakan aku? Awas ya nanti aku hukum," ucap Bagas.
"Sebenarnya, kalau menurut aku. Wajah kamu terlihat muda kok, seperti seusia aku. Mungkin karena orang melihat penampilan kamu kali ya. Kamu memakai kemeja dan rapih, sedangkan aku hanya memakai celana jeans dan kemeja. Lebih terlihat santai," ujar Sella yang mencoba menyenangkan hati calon suaminya.
Mereka kini sedang menikmati makan malam bersama. Pilihan mereka jatuh pada restoran keluarga dari makanan Jepang. Sella terlihat makan dengan lahap, membuat Bagas merasa senang melihat Sella seperti itu.
"Makan yang banyak ya! Kalau kamu mau tambah, tambah saja tak apa-apa," ujar Bagas.
"Enggak kok. Sudah kenyang aku. Nanti yang ada di dalam bioskop aku malah tidur lagi," jelas Sella.
Yakin bisa tidur? Kalau Bagas akan mengganggunya. Pacaran ala orang dewasa. Saat bersama Sella, entah mengapa dirinya bawaannya ini nyeruduk terus seperti banteng.
Setelah makan, mereka memutuskan untuk langsung menuju bioskop untuk menunggu di sana. Kini mereka sudah berada di bioskop.
"Kamu mau popcorn yang asin apa manis? Sama minumannya mau apa? Biar aku sekalian pesan," ujar Bagas kepada Sella.
"Aku suka yang rasa asin sama minumannya lemon tea," sahut Sella dan Bagas mengiyakan. Dia langsung membelikannya. Dia menyuruh Sella duduk, dan dia yang mengantri.
"Ternyata menjalin hubungan dengan pria lebih dewasa enak juga. Tak egois, lebih sabar dan pengertian," gumam Sella dalam hati.
Pandangan Sella kini mengarah ke Bagas yang sedang sibuk mengantri. Sungguh perasaannya saat ini tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
Bagas menghampiri kekasihnya yang sedang duduk menunggunya, sambil menenteng pop corn dan juga minuman untuk mereka di dalam.
"Pintu teaternya sudah dibuka, ayo kita segera masuk ke dalam!" ajak Bagas.
Mereka berjalan mencari nomor bangku mereka.
"Pintar banget, cari tempat duduknya di atas," sindir Sella dan Bagas justru tersenyum.
Sella tampak serius menikmati pertunjukan di layar jumbo. Dia memang benar-benar menonton, berbeda halnya dengan Bagas yang justru gelisah karena kedinginan dan miliknya menegang. Terlebih berada di dekat kekasihnya.
"Sabar dulu kenapa sih? Nanti kalau sudah waktunya, kamu bebas mau ngapain juga," umpat Bagas kepada miliknya. Salah besar dia mengajak Sella menonton, hingga akhirnya sekarang dia merasa tersiksa.
"Yang, kamu baik-baik saja?" tanya Sella.
Bagas semakin tak karuan saat Sella menggenggam tangannya dan menciumi tangan Bagas. Bagas dapat bernapas lega, karena akhirnya pertunjukan teater telah selesai. Mereka keluar meninggalkan studio.
Mereka memutuskan untuk langsung pulang, karena malam sudah semakin larut. Mereka harus segera beristirahat. Mobil yang membawa mereka sudah sampai di halaman parkir kosan Sella.
"Makasih ya Kak, untuk hari ini. Aku senang sekali. Aku pamit pulang dulu ya," ucap Sella.
Baru saja dirinya hendak turun dari mobil Ada yang, Bagas langsung menariknya. Membuat netra mereka saling bertemu, saling memandang. Entah siapa yang memulainya, ciuman pun tejadi. Ciuman mereka semakin, memanas. Sella sudah semakin pintar, ada perkembangan. Lidah mereka saling membelit, Bagas juga menarik tengkuk Sella untuk memperdalam ciumannya.
"Ya sudah sana! Maaf, jika aku tak bisa mengontrol diri. Aku juga pamit pulang ya," ujar Bagas, Sella menganggukkan kepalanya.
Sella melambaikan tangannya, melepas kepergian kakak iparnya. Setelah mobil Bagas sudah tak terlihat, Sella pun berjalan masuk menuju kamarnya.
Sella memutuskan untuk langsung mandi dan membaringkan tubuhnya di kasur. Tubuhnya terasa lelah, hingga akhirnya perlahan matanya pun tertutup. Dia sudah terlihat pulas.
Sama halnya yang dilakukan Bagas, sesampainya di rumah. Dia bergegas untuk segera mandi. Kepala atas dan bawahnya terasa cenat-cenut, hingga akhirnya Bagas terpaksa menuntaskan hasratnya sendiri bermain solo. 10 menit kemudian, desa*han keluar dari bibirnya. Dia berhasil menuntaskan hasratnya.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya Ingflora