Bertransmigrasi?
Satu kata yang mampu membuat Nala, mengumpat di tempat. Dia yang awalnya membenci tokoh utama pada sebuah novel karena bunuh diri akibat diselingkuhi mengakibatkan dirinya bertransmigrasi ke tubuh Carissa.
bagaimanakah jika Nala, si gadis super aktif mengubah hidup Carissa yang flat menjadi lebih heboh dan mengejutkan sekeluarga serta teman-temannya.
Ikuti kisah Nala yang akan mengubah alur hidup Carissa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32| Firasat
Di mall, Carissa dan Bella tengah berbelanja. Keduanya sesekali berhenti untuk sekedar membeli jajan atau melihat-lihat pakaian.
Saat ini Carissa tengah mencuci tangan di toilet. Tiba-tiba saja perasannya seperti merasakan sesuatu.
Perasaan ingin pulang yang semakin besar dan membuncah, gelisah serta tak bisa berpikiran jernih. Ada sesuatu yang menarik jiwanya untuk segera kembali.
Dia menatap ke arah cermin, samar-samar mampu melihat wajah aslinya. Carissa tersentak dan mundur beberapa langkah. Segera dia menggelengkan kepala, lalu menepuk pelan pipinya.
"Pasti salah liat!"
Dia bergegas keluar dan menemui Bella yang senantiasa menunggunya. Sore tiba, mereka kembali ke rumah. Untunglah teman-teman Abian sudah pulang jadi Carissa akan lebih leluasa melakukan apapun.
Abian menyambut keduanya dan duduk di sofa. Lumayan banyak belanjaan yang dibawa.
"Kak, besok-besok gak usah bawa itu cewe ke rumah. Kalau kakak tetep mau bawa, Carissa bakalan laporin ke papa!" ancamnya membuat Bella kebingungan.
"Nggak lagi, dek. Kakak juga udah peringati dia buat gak macem-macem lagi."
Firasat tak mengenakan itu hadir kembali. Carissa menghembuskan napasnya pelan, mencoba menetralkan debaran didada.
"Kak, Carissa mau nanya!"
Ditatapnya Abian dengan raut wajah serius, membuat pria itu sedikit kebingungan.
"Eum, tanya apa?"
"Kak Abian lagi pacaran sama siapa?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Carissa sontak membuat keduanya tersentak.
"E-eh, kenapa tiba-tiba nanya?" dia bertanua balik dengan raut wajah gugup.
"Huh, jawab aja. Seenggaknya Carissa harus tau siapa perempuan yang nantinya bakalan gantiin posisi Carissa!" tegasnya.
Carissa menyadari, bahwa waktunya tak lama lagi. Hembusan napasnua terdengar begitu pasrah, sungguh pasrah.
"K-kakak pacaran sama Be-Bella!" jawabnya malu-malu. Sontak Carissa langsung menatap Bella yang memang sudah menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Sedetik kemudian Carissa tersenyum, kebahagiaan kakaknya sudah didapat, tinggal Wijaya.
"Kakak harus janji buat jaga kak Bella sebaik kakak jaga Carissa. Nggak boleh main tangan juga bentak-bentak. Jangan biarin orang ketiga masuk ke hubungan kalian, pokoknya kakak harus tegas. Carissa tau kalau kak Abian udah lebih dulu suka sama kak Bella, cuma kakak bingung cara nyampaiinnya. Pokoknya kalian harus sampai ke jenjang pernikahan dan jangan pisah sampai maut memisahkan."
Ucapan panjang kali lebar milik Carissa membuat keduanya melongo. Abian kemudian tersenyum dan mengelus pelan rambut Carissa. Doa bersyukur gadis itu hadir dalam kehidupan keluarganya.
"Kakak janji."
Carissa tersenyum getir, waktunya tak banyak lagi. Memastikan orang-orang tersayangnya bahagia adalah misi yang sebenarnya. Carissa akan bahagia jika mereka juga bahagia.
Malam harinya, Carissa duduk di ruang tamu. Sengaja demi menunggu Wijaya pulang. Tepat pada jam sembilan malam, mobil Wijaya telah memasuki pekarangan rumah. Pintu terbuka, pria paruh baya yang lelah dari kerjanya terkejut ketika melihat Carissa sedang duduk sembari memainkan kakinya dengan gemas.
Wijaya berjalan dan mendekati sang anak. Dia tersenyum lantas duduk tepat di sebelah Carissa.
"Sayang, kenapa belum tidur?"
Carissa menoleh ke arah Wijaya, pria yang selama satu tahun telah menjadi orang tua baginya.
"Belum ngantuk. Pa, Carissa mau nanya."
"Mau nanya apa?"
"Carissa mau nanya, papa bahagia nggak?"
Pertanyaan Carissa membuat Wijaya sedikit terkejut. Jika ditanya begitu, tentu dia bahagia apalagi dengan kehidupannya yang sekarang. Tidak ada yang dapat membuatnya bahagia selain kedua buah hatinya.
"Papa bahagia selagi ada kamu dan kakak kamu. Papa bahagia kalian terlahir sebagai anak papa bahkan rasa bahagia papa nggak bisa diungkapin cuma dengan kata-kata," balasnya sembari tersenyum.
Inilah akhirnya. Dia tahu bahwa semua yang dia lakukan tanpa sadar membawa kebahagiaan di rumah ini. Ujung matanya sedikit berair, tetapi dia dengan sigap menghapusnya.
"Syukur, deh kalau papa bahagia. Carissa balik ke kamar dulu, mau tidur. Eum ... Selamat malam!"
Carissa sebelum kembali ke kamar, memeluk Wijaya dan mencium pipi kiri serta kanannya. Dia lalu berjalan menuju kamar. Wijaya yang tak tahu apa-apa tentu hanya tersenyum melihat sikap manis anaknya.
Di sisi lain, Carissa sudah terduduk lemas di belakang pintu. Napasnya memburu dengan mata yang memanas. Pikirannya tertarik ke belakang saat dia pertama kali pindah ke tubuh Carissa asli.
Suara sesegukan terdengar begitu menyesakan hati, dengan langkah pelan dia bergerak menuju meja belajar dan duduk sembari menulis sesuatu. Beberapa tetes air mata jatuh mengenai kertas, bahunya bergetar hebat.
"Maaf ... Maaf nggak bisa tinggal di sini lebih lama lagi."
Setelah suratnya selesai ditulis, dia kembali menangis tanpa menimbulkan suara. Perlahan tubuhnya mulai transparan. Dia tahu, waktunya sudah tiba.
Sebelum benar-benar menghilang, ditatapnya lagi kamar yang selama ini menemani serta menjadi saksi bisu perjuangannya. Sebelum akhirnya dia tersenyum dan menghilang.
.
.
.
Tok tok tok ...
Suara ketukan terdengar dari luar, seorang maid yang sejak tadi memanggil nama anak majikannya sudah panik sendiri. Pasalnya yang dipanggil tak menjawab.
Abian yang baru saja keluar dari kamar, mendapati Marni yang tengah mengetuk berulang kali bersama dengan menampilkan raut wajah kegelisahan.
"Bi, ada apa?" tanyanya dengan mendekat.
"Ini, non Carissa dari tadi nggak jawab panggilan bibi. Bibi takut non Carissa kenapa-napa!"
Abian mengernyit, dia lantas mencoba memanggil dan memang tidak ada sahutan. Dia lantas mendobrak pintu kamar Carissa hingga Wijaya menghampiri keduanya.
"Kenapa pagi-pagi sudah ribut?"
"Ini pa. Carissa nggak mau keluar kamar, dipanggil juga nggak mau jawab. Abian khawatir!"
Begitu kedua pria itu mendobrak pintu, akhirnya terbuka juga. Sayangnya yang mereka dapatkan hanyalah keheningan saja. Kamar itu rapi seperti tak ada yang menggunakannya.
Wijaya yang panik sontak berlari ke arah kamar mandi dan mencoba untuk mencari anaknya.
"Carissa, kamu di mana?" teriaknya mencoba memanggil. Barangkali gadis itu sedang bersembunyi sekarang.
"Sayang, jahilnya nggak lucu. Ayo keluar!"
Ditengah kepanikan Wijaya dan Marni, Abian justru mendapatkan sebuah surat di atas nakas. Dia menutup mulutnya sendiri saat membacanya. Air mata tak dapat dibendung dan akhirnya dia menangis tersedu-sedu.
"Aden!"
Panggila Marni mengalihkan Wijaya yang langsung menatap kertas putih di tangan Abian. Dia merampasnya dan mulai membaca isinya.
Dear
Papa dan kak Abian
Surat ini ditujukan buat papa sama kak Abian dari Nala.
Makasih, selama setahun ini udah mau nampung dan nganggap Nala sebagai keluarga Brawijaya. Nala seneng, kok tinggal di sini. Cuma Nala harus balik ke tubuh yang asli.
Nala nggak bisa lama-lama lagi karena udah terlalu lama ninggalin mama sama papa.
Maaf kalau selama ini Nala udah bohongin kalian dan nyusahin kalian.
Kalian udah bahagia, otomatis Carissa juga bahagia. Makasih udah mau ngejaga rahasia Nala. Carissa juga katanya sayang kalian.
Buat kak Abian, tolong jaga kak Bella. Dia kakak yang Nala dan Carissa sukai. Terus juga tolong sampaikan salamku buat Dina, lala, pak Zidan dan Nana, ya.
Kalau mereka nanya, bilang aja Nala udah nyusul Cakra hehe. Nggak deh, ceritain aja yang sebenarnya ke mereka. Toh, mereka juga butuh kebenarannya.
Nala dan Carissa sayang kalian. Titip salam buat kakek nenek sama Bima, ya? Orang tuanya juga. Pokoknya sama orang-orang yang deket sama Nala.
Nala nggak pergi, Nala cuma kembali ke tempat di mana Nala seharusnya berada.
Nala sayang kalian, sayang banget.
Semoga Tuhan masih berbaik hati dan mempertemukan kita entah dengan cara apa.
Selama tinggal
Dari yang terkasih
Nala Greyson
Tubuh Wijaya bagai ditimpa beban yang berat. Lututnya melemas, dia menjatuhkan dirinya dan tak sadarkan diri. Abian yang kala itu sedang menangis, spontan beranjak ke arah Wijaya.
"Papa, bangun ... Bi tolong panggilkan ambulan!"
Di rumah sakit, Abian tak henti-hentinya menangis. Bella sedari tadi menenangkan pria itu. Dia juga sudah dengar apa yang Abian katakan, sulit dipercaya, tetapi inilah yang terjadi.
Dia juga merasa kehilangan sosok Carissa atau Nala. Bella pun tak lupa mengabari teman-teman Carissa.
Disinilah mereka sekarang, berkumpul untuk mendengarkan penjelasan Abian apalagi setelah melihat tidak ada kehadiran si tokoh utama.
Abian membawa mereka ke kafetaria rumah sakit dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Lala sudah menangis histeris, sedangkan Dina langsung shock dan pingsan.
Zidan baru saja tiba dengan Nana dan melihat Leon tengah menggendong Dina menuju rumah sakit.
"Kenapa Dina pingsan dan Lala ... ?"
Gibran menatap Zidan dengan perasaan kesal, entahlah. Dia mendekati Lala dan menenangkan sang kekasih.
"Jadi ... Alasan dia nanyain kita bahagia apa nggak ... Karena ini?"
Lala masih sesegukan dengan deraian air mata. Napasnya tercekat dan tidak terima dengan semua ini. Apa yang terjadi rasanya sangat diluar nalar.
Zidan pun mendapatkan penjelasan dari Bella dan shock. Nana yang notebane masih kecil, hanya terdiam sembari memasang raut wajah kebingungan apalagi malihat sang kakak yang sebentar lagi akan menangis.
Kepergian Carissa atau Nala akan menjadi sebuah sejarah bagi kehidupan mereka. Keenan yang mendapati kabar terkait kepergian gadis itu pun tak heran sama sekali. Dia orang pertama yang tahu siapa sebenarnya Carissa dan tujuan dia masuk ke tubuh gadis itu.
Semua ini akan menjadi kenangan pahit sekaligus manis dan berjanji akan terus bahagia agar gadis itu merasa tenang, terutama Carissa yang tentu tidak akan pernah kembali lagi akibat sudah pasrah akan takdirnya.
Bersambung...
Bentar, masih ada nie lanjutannya.
mampir yuk ke novel aku yang berjudul transmigrasi jiwa Lien Hua
jangan lupa like & komen
saya tahu perasaan clarissa karena gw juga kesel pas bapak gw selingkuh ada mak gw