Kesalahan membuat Andin tak sengaja menjalin hubungan dengan lelaki yang bukan kekasihnya dan terpaksa berpisah dengan kekasihnya. Namun kesalah pahaman dengan lelaki itu membuat Andin berpikir bahwa dia hanyalah selingkuhan lelaki yang mulai dia cintai tanpa sengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Suasana rumah Andin terlihat sedikit ramai. Beberapa sanak saudara berdatangan ke rumah sesederhana ini. Mereka membawa baskom berisi kebutuhan pokok. Seperti minyak gula beras dan lain sebagainya.
Di tempat Andin, tradisi seperti ini masih ada. Contohnya seperti hari ini, tetangga sebelah rumah dan sanak saudara berkumpul di rumahnya untuk bantu memasak hidangan.
Seperti yang di katakan Abah, kalau malam ini teman Abah beserta anaknya akan datang. Ini bukan malam pinangan, mereka datang memberi kabar kalau akan melamar Andin pada hari yang sudah di tentukan. Walau cuma memberi kabar, biasanya yang datang lumayan banyak. Orang orang yang dianggap tua dan di tua kan ikut serta datang.
Itu sebabnya tetangga dekat dan sanak family berkumpul untuk menyiapkan hidangan penyambut.
Andin sendiri mengurung diri di kamar, matanya sudah sembab karena menangis sepanjang malam.
Dia bingung harus apa, di kampungnya hal tentang perebut suami orang adalah hal yang sangat sensitif untuk di bicarakan. Kalau sampai berita ini tersebar, marwah Abah pasti akan hancur. Bisa di bayangkan apa yang akan terjadi pada Abah. Lalu Bagas..
Dia sudah terlanjur mencintai pria itu, khayalan tentang hidup bersama dengan Bagas memenuhi kepalanya. Tapi bagaimana dengan Abah?
Bagas aku harus bagaimana......
Panjang umur, pria itu menghubungi Andin melalui panggilan telpon.
"Halo,asalamuaikum sayang."
"Waalaikum salam mas." sahut Andin tak bersemangat. Bagas bisa menangkap itu dari nada suaranya.
"Kau baik baik saja?"
"Kok mas nanya gitu?"
"Gak biasanya kamu matin hp semalaman. Ini juga di telpon jawabnya malas malasan gini. Ada apa?"
"Gak ada mas aku cuma capek aja."
"Gitu ya."
"Iya."
"Mmm, tentang hubungan kita apa sudah bilang sama keluarga?" tanya Bagas hati hati.
"Belum mas, belum ada waktu yang pas."
"Ooh, gitu ya. Gak papa kamu pelan pelan aja kasih taunya. Kalau semuanya sudah siap kabari aku, biar aku datang memperkenalkan diri."
"Iya nanti aku kabari. Udah dulu ya mas. Ada yang datang."
"Oh ya udah. Assalamualaikum sayang."
"Waalaikum salam mas."
andin menangkup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya kembali menggenang di sudut matanya. Dia benar benar merindukan Bagas, tapi keadaan mengharuskan Andin mengabaikan pujaan hatinya.
Tepat pukul sembilan. Tamu yang di tunggu-tunggu akhirnya datang. Ada sekitar sepuluh orang yang datang, tidak termasuk Fahri.
Dari balik gorden beberapa sepupu perempuan Andin mengintip Fachri dan orang tuanya. Sementara Andin duduk tak jauh dari mereka, memperhatikan tingkah mereka dengan senyum pahit.
Mereka hanya mengintip sebentar, lalu duduk menemani Andin. Dalam pembicaraan ini, Andin dan fachri tidak di libatkan. Hanya para orang tua saja yang bicara. Kalau di pikir ini lebih mirip perjodohan.
"Kak Fachri makin ganteng loh Din." celetuk Subiyah, sambil menyenggol bahu Andin. Dia sepupu jauh Andin, yang tinggal di dekat rumah.
Andin cuma tersenyum, sudah lima tahun mereka tidak bertemu.Semenjak ayah Fachri pindah ke kota, yang Andin tau Fachri memang tampan, kulitnya kuning langsat hidungnya bangir. Saat remaja sifatnya sedikit arogan, mungkin karena dia anak dari orang berada di kampung ini.
Selesai bicara, makanan pun di hidangkan. Sebelum acara makan Andin di minta memperkenalkan diri. Baru setelah itu mereka makan bersama.
Selesai makan para tamu berpamitan pulang, kecuali Fachri. Dia di ijinkan tinggal, agar bisa bicara berdua dengan Andin.
Suasana terasa begitu canggung, mereka hanya berdua di teras depan. Sudah hampir sepuluh menit, tapi belum ada yang memulai untuk bicara. Yang Andin tau, sedari tadi Fachri tak henti menatap ke arahnya.
"Kau terlihat sangat berbeda." ucap Fachri akhirnya.
Andin menoleh menatap Fachri. Lelaki berdada bidang itu menatap kearahnya.
"Tentu saja, terakhir bertemu lima tahun lalu kan?" sahut Andin. Netranya memindai wajah Fachri dalam cahaya remang. Fachri mengangguk pelan, sambil terus menatap Andin.
"Besok kau ada waktu?" tanya Fachri.
"Tidak tau."
"Aku akan menjemputmu saat makan siang. Ada banyak yang harus kita bicarakan. Tidak leluasa rasanya membicarakannya di sini." jelasre Fachri.
Dia benar, rumah Andin berukuran kecil. Apa yang mereka bicarakan pasti terdengar oleh penghuni lain di rumah ini.
"Baiklah, aku akan bersiap setelah sholat juhur."
Fachri menatap pergelangan tangannya, sudah hampir jam sebelas. Sudah waktunya pulang.
"Kalau begitu aku pamit dulu. Sudah malam." pamit nya sembari menatap Andin. Kemudian beranjak berdiri.
"Iya." sahut Andin, dia juga ikut berdiri.
Fachri berpamitan pada Abah sebelum pulang. Dia juga mengutarakan niatnya untuk membawa Andin besok siang.
Begitu Fachri pulang, Andin langsung mengurung diri di kamarnya. Sementara di ruang tamu masih ada kerabat Abah, biasanya mereka berbincang hingga larut malam. Maklumlah mereka jarang bisa berbincang seperti ini, walaupun tinggal berdekatan.
Andien duduk di tepi ranjang, sembari memeluk kedua lututnya. Dia benar-benar kebingungan, apa yang harus dia lakukan besok. Jelas keputusan Abah tak bisa di tentang.
Haruskah dia Jujur saja pada Fahri tentang apa yang terjadi antara dia dan Bagas. Meminta dia memaklumi keadaan dirinya yang sudah tak murni lagi. Ohh good, membayangkannya saja Andin merinding. Bagaimana bila Fachri tidak amanah, malah menyebarkan aib ini pada seluruh keluarga. Andin tidak berani membayannya.
Andin baru saja merebahkan tubuhnya, matanya juga baru akan terpejam saat ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Renata.
"Assalamualaikum mbak."
"Waalaikum salam. Apa kabar Din, sehat-sehat keluarga di sana?"
"Alhamdulillah sehat Mbak, Maaf belum sebut ngabarin Mbak. soalnya begitu pulang langsung di rumah ada acara Mbak."
"Acara?"
"Iya mbak. Sukurlah mbak nelpon saya. Saya gak tau harus mengadu ke siapa." ucap Andin dengan suara pelan. Sebab letak kamarnya dengan ruang tamu tidak terlalu jauh. Dia khawatir suaranya di dengar Untunglah Abah masih asik bercerita dengan tamunya.
"Andin. Ada apa?"
"Aku bingung mbak. Berita aku merusak rummah tangga mbak, udah nyampek ke telinga Abah."
"Loh, kok bisa."
"Ceritanya panjang. Tapi yang jelas, berita itu membuat Abah marah. Dia tak mau aku membuat aib, jadi Abah menjodohkan aku dengan anak sahabatnya."
"Ya ampun. Jadi gimana, kamu setuju?"
"Di sini, pendapat ku gak berguna Mbak."
"Kamu udah kasih tau Bagas?"
Andin menghela nafas berat. "Belum mbak. Aku gak berani."
"Kamu yang tenang ya, biar mbak cerita ke Bagas."
"Iya mbak makasih."
"Ya udah mbak pamit dulu."
"Iya mbak."
Dada Andien terasa plong, entah benar atau salah. Tapi Bagas memang harus tahu. Bagainanapun hubungan mereka sudah terlanjur jauh. Entah bagaimana nanti sikap Bagas, setidaknya beban Andien berkurang satu. Sekarang yang harus dia pikirkan Bagaimana reaksi Fahri. Suka tidak suka, besok saat bicara Andien Harus Jujur. Atau Andien akan membuat masalah baru lagi.
Bersambung