"ISTIKHARAH pada hakikatnya bukan untuk memilih diantara dua pilihan, tapi untuk menetapkan hati disatu pilihan." Anisa Rahman.
"CINTA adalah ruang dan waktu yang diukur oleh hati, dan terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh." Rahmat Hidayatullah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA TAHUN KEMUDIAN
Waktu begitu cepat berlalu, tanpa terasa pernikahan Anisa dan Rahmat kini menginjak tahun ke tiga. Bahagia? Tentu saja Rahmat merasa sangat bahagia memiliki istri seperti Anisa yang selalu mengerti dirinya. Selalu ada untuknya, dan selalu memenuhi setiap kebutuhannya.
Begitupun dengan Anisa, tentunya ia bahagia memiliki keluarga baru yang begitu menyayanginya. Bahkan menganggap dirinya lebih dari seorang menantu. Namun, kebahagiaan yang dirasakan oleh Anisa tidak begitu lengkap karena selama tiga tahun membina rumah tangga ia belum juga dikaruniai seorang anak.
Yah, meski sang suami beserta keluarganya tak begitu mempermasalahkan dirinya yang tak kunjung hamil, namun tetap saja ia sebagai wanita yang sudah menyandang status sebagai istri merasa tak sempurna jika belum memberikan keturunan terhadap suaminya.
Di ruang keluarga Anisa duduk tampak melamun, namun tatapannya tertuju pada Yusuf yang sedang bermain bersama adik perempuan nya yang kini sudah berusia satu setengah tahun.
Anisa terus memperhatikan putra dan putri Hanifah itu dengan mata berkaca-kaca. Saat melihat kakak iparnya itu tengah mengandung anak keduanya, ia juga berharap bisa segera hamil. Namun hingga kini tiga tahun telah berlalu benih itu belum juga tumbuh di rahimnya.
"Udah, Nis, jangan dipikirkan terus. Nanti juga kalau sudah waktunya Allah juga pasti kasih." usapan lembut di pundaknya sedikit membuat Anisa tersentak.
"Eh, Umi." ucap Anisa dengan tersenyum pada ibu mertuanya itu. Ibu mertua yang sama hebatnya dengan ibunya, ibu mertua yang selalu menyemangati dan menguatkannya dari gunjingan orang-orang diluar sana yang sering membicarakannya karena tak kunjung hamil.
"Nanti kalau Rahmat lihat kamu sedih seperti ini, pasti kamu dimarahin lagi." ucap umi yang membuat Anisa tersenyum hambar.
Yah, sang suami selalu memarahinya jika ia selalu bersedih perihal dirinya yang tak kunjung hamil.
"Mas gak suka lihat kamu seperti itu. Menikah tak selalu tentang keturunan, Nis. Mungkin saja waktunya belum tepat, dan kita tunggu saja waktunya yang tepat itu dengan kelapangan hati yang penuh kesabaran."
Belum lagi saat ia menyuruh suaminya untuk menikah lagi agar mendapatkan keturunan, Rahmat benar-benar marah dan mendiami nya.
Anisa mengusap wajahnya saat terlintas kata-kata yang selalu diucapkan oleh sang suami. Seharusnya ia tak perlu khawatir karena tak ada yang mempersalahkan dirinya tak kunjung hamil, namun entah kenapa rasanya ia merasa benar-benar tak becus menjadi istri.
"Nis, kok ngelamun?" tegur umi yang membuat Anisa terkesiap.
"Eh, engga kok umi." jawab Anisa dengan berusaha tersenyum, meski hatinya benar-benar merasa sedih. Prihatin pada dirinya sendiri.
"Umi, Nisa pamit ke kamar dulu ya, Umi." ucap Anisa kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, kamu istirahat ya Nis, dan jangan terlalu banyak pikiran nanti kamu sakit." kata umi Kalsum.
Anisa menanggapinya dengan anggukan sembari tersenyum, kemudian segera pergi ke kamarnya.
Sesampainya didalam kamarnya, Anisa merangkak naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring miring. Ia menarik selimut menutupi wajahnya. Yah, sepertinya yang sudah-sudah, ia selalu menangisi dirinya sendiri yang merasa tak berguna.
Di tahun pertama pernikahannya, ia bersama Rahmat datang ke rumah sakit memeriksakan diri, dan dokter mengatakan jika dirinya yang mengalami sedikit bermasalah pada kesuburan nya. Tetapi, tetap akan bisa hamil jika menjalani perawatan yang tepat dan teratur. Namun, hingga di tahun ketiga dirinya masih tak kunjung hamil juga membuat Anisa merasa dirinya tak sempurna sebagai wanita karena tak bisa mengandung seorang anak.
Tangisnya kembali pecah, dengan erat ia menyumpal mulutnya dengan selimut agar suara tangisnya tak terdengar oleh yang lainnya.
Hingga terdengar suara pintu kamar terbuka, Anisa mencoba meredam suaranya. Ia tahu itu adalah suaminya yang datang usai mengajar.
Anisa mengusap air matanya, ia kemudian membenarkan posisi berbaring nya seolah-olah ia sedang tertidur. Namun, apa yang ia lakukan itu tak dapat menipu sang suami.
"Sudahlah Nis, Mas tahu kamu gak tidur. Ayo bangun, sini peluk Mas mumpung Mas belum mandi. Kamu kan suka bau keringat Mas." ujar Rahmat terkekeh sambil melepas kancing kemejanya satu persatu lalu membawa dirinya duduk ditepi ranjang.
Dan seperti biasa, Anisa yang selalu berusaha menyembunyikan kesedihannya dari sang suami, alhasil selalu gagal dan berakhir kembali tersedu-sedu didalam pelukan suaminya itu.
"Mas," ucapnya sesenggukan sambil memeluk Rahmat dengan erat.
"Harus berapa kali sih Mas harus bilang, agar kamu tidak memikirkan hal itu." ucap Rahmat dengan nada berat. Sejujurnya ia tak tega melihat istrinya seperti itu. Namun, entah kenapa ia merasa sedikit kesal melihat sang istri selalu saja mengingatkannya pada hal yang sama sekali tidak pernah ia permasalahkan.
seandainya dia crt ke rahmat atau abi ridwan soal mimpinya
jazakillah khairan thor, sukses selalu dlm karya2 nya
🥰🥰🥰🥰
thot terima kasih, jazakillah khairon 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰 🤗🤗🤗🤗🤗🤗
.
bukan rambut kepala di sambung dgn rambut saja.
.
beda daerah beda panggil an kali yahh..