NovelToon NovelToon
RINDU DIATAS KHIANAT

RINDU DIATAS KHIANAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.

Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan melelahkan

Aroma harum tumis bawang putih dan bumbu masakan rumahan memenuhi setiap sudut dapur luas bernuansa putih itu.

Di balik konter dapur, Rindu tengah sibuk memotong beberapa sayuran segar dengan cekatan. Rambutnya dicepol asal ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya.

Seperti sore-sore biasanya, tugas menyiapkan menu makan malam untuk seluruh penghuni rumah berada di bawah tanggung jawab Rindu.

Sejak menikah dengan Arsen, Rindu memang tinggal bersama di rumah besar milik kedua orang tua suaminya, bergabung dalam satu atap bersama mertua dan juga adik iparnya.

Tinggal di rumah mertua tentu menuntut Rindu untuk selalu cekatan dan berbakti. Sejak sore, ia sudah sibuk di dapur sendirian, memastikan hidangan yang ia masak sesuai dengan selera lidah keluarga Arsen.

Dari ruang tengah yang megah, samar-samar terdengar suara tawa ibu mertuanya dan Dinda, adik ipar Arsen, yang sedang asyik berbincang.

Sementara itu, sang ayah mertua biasanya sedang membaca koran digital di ruang kerja.

Tangannya baru saja hendak memindahkan potongan sayur ke dalam wajan yang berdesis ketika sebuah alunan melodi yang sangat familier tiba-tiba memecah kesibukan di dapur tersebut.

Drrt... Drrt...

Lagu instrumen piano klasik yang lembut mengalun dari arah meja konter.

Seketika itu juga, gerakan tangan Rindu terhenti. Jantungnya berdesir halus, diikuti oleh seulas senyum yang langsung terbit di bibirnya.

Rindu tahu persis siapa yang menelepon tanpa harus melihat layarnya terlebih dahulu. Itu adalah nada dering khusus yang sengaja ia pasang hanya untuk satu orang, Arsen, suaminya.

Bagi Rindu, nada dering itu selalu berhasil membawa rasa tenang dan semangat baru, terutama di tengah rasa lelahnya menyiapkan makan malam.

Tanpa membuang waktu, Rindu langsung meletakkan spatula dengan hati-hati ke atas tatakan.

Ia mengelap kedua tangannya yang sedikit basah pada celemek kain yang terikat di pinggangnya, lalu bergegas meninggalkan pekerjaannya di depan kompor yang apinya sudah ia kecilkan agar masakan tidak gosong.

Langkah kakinya bergerak cepat menuju mini bar yang terletak hanya beberapa meter dari area memasak, tempat ia meletakkan ponselnya tadi.

Di atas permukaan marmer mini bar itu, ponselnya tergeletak dengan layar yang menyala terang, menampilkan nama yang selalu ia tunggu-tunggu.

"Mas Arsen"

Rindu mengambil ponsel tersebut dengan binar mata penuh kelegaan. Jam dinding digital di atas kulkas sudah menunjukkan waktu makan malam keluarga tidak lama lagi.

"Baguslah kalau Mas Arsen telepon sekarang. Aku bisa sekalian tanya dia sudah sampai di mana, jadi pas makanan matang, Mas Arsen juga sudah sampai di rumah dan kita semua bisa langsung makan malam bersama," gumam Rindu dalam hati, penuh dengan bayangan kehangatan makan malam bersama seperti biasa.

Dengan ibu jari yang bergerak cepat, Rindu menggeser layar ponselnya ke kanan, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Halo, Mas? Mas sudah di mana?" tanya Rindu, nada suaranya ceria, menjawab panggilan masuk dari suaminya itu.

Di sisi lain, Arsen yang sedang berdiri di dekat jendela apartemen, menatap lampu kota yang berpendar, mencengkeram ponselnya erat-erat. Jantungnya berdegup kencang, sebuah kepalsuan yang mulai menjadi musik latar kehidupannya.

Ia harus menguatkan hatinya untuk melontarkan kebohongan yang sudah disiapkan.

"Rindu..." Arsen menghela napas panjang, suaranya ia setel senada mungkin dengan kelelahan palsu.

"Sepertinya Mas nggak bisa pulang malam ini."

Rindu terdiam sejenak, senyum di bibirnya perlahan memudar.

"Oh, lembur lagi ya, Mas?."

"Iya, maaf ya, Sayang," jawab Arsen, suaranya terdengar berat dan penuh penyesalan, sebuah akting yang sudah ia pelajari dengan sempurna tadi.

"Ada pekerjaan mendadak di kantor yang mengharuskan Mas lembur. Sepertinya akan selesai sangat larut, jadi Mas akan langsung menginap di kantor saja."

Dusta itu meluncur lancar dari bibirnya, meski batinnya terasa tercabik. Di rumah, ia membayangkan Rindu sedang menatap ponselnya dengan raut kecewa yang mendalam, sementara di sini, Arsen justru bersiap untuk menghabiskan malam di tempat yang jauh dari tanggung jawabnya.

"Ya sudah, Mas," suara Rindu terdengar lirih, sarat akan rasa maklum yang justru membuat Arsen merasa semakin kerdil.

"Mas jangan lupa makan, ya. Jangan terlalu memaksakan diri."

"Mas jangan lupa makan, ya. Jangan terlalu memaksakan diri," ucap Rindu dengan nada yang begitu tulus.

Kalimat sederhana itu, yang seharusnya menjadi tanda perhatian seorang istri yang penuh kasih, kini justru menghunjam jantung Arsen layaknya belati tajam.

Setiap kata yang diucapkan Rindu terasa seperti beban yang kian menindih bahunya.

"Iya, Sayang. Kamu juga, makan yang banyak," jawab Arsen sehalus mungkin, meski suaranya sedikit parau karena menahan beban rahasia yang menyesakkan dada.

"Ya sudah, Mas. Semangat ya kerjanya," sahut Rindu sebelum ada jeda yang lebih panjang.

Arsen menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan gemetar di tangannya.

"Iya, aku mulai kerja lagi sekarang. Sampai besok sayang," ucapnya buru-buru, lalu tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, ia menekan tombol merah di layar ponselnya.

Arsen mengakhiri panggilan itu secepat mungkin, seolah takut jika ia mendengar suara Rindu lebih lama lagi, pertahanannya akan runtuh seketika.

Layar ponselnya yang kini padam menjadi cermin gelap bagi wajahnya sendiri. Ia melempar benda pipih itu ke atas sofa empuk di apartemen tersebut dengan kasar, lalu memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.

Kebohongan yang ia ucapkan barusan, tentang pekerjaan, tentang kantor, tentang lembur, terasa begitu kotor, mencemari ketulusan perhatian Rindu yang baru saja ia terima.

Arsen memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan helaan napas beratnya menguar di udara.

Ia bersandar pada sandaran sofa, mencoba mengusir bayangan wajah Rindu yang baru saja ia bohongi lewat telepon.

Detak jantungnya masih belum sepenuhnya normal, rasa bersalah itu merayap pelan, mencengkeram dadanya dengan rasa sesak yang begitu akrab.

Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Di sampingnya, sepasang mata tajam milik istri keduanya telah mengawasi setiap gerak-gerik dan perubahan raut wajah Arsen sejak ia menurunkan ponselnya.

Perempuan itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Arsen dengan tatapan yang kembali mendingin.

"Kenapa?" tanya perempuan itu, memecah kesunyian dengan nada suara yang sarkas.

"Kamu tidak rela membohongi Rindu?"

Pertanyaan itu menghantam Arsen tepat di ulu hati. Ia membuka matanya perlahan, menatap perempuan di hadapannya dengan tatapan lelah yang teramat sangat.

"Aku hanya merasa bersalah padanya," jawab Arsen jujur, suaranya terdengar serak dan nyaris berbisik.

"Dia sedang menyiapkan makan malam bersama keluargaku di rumah, sementara aku di sini... membohonginya."

Mendengar pengakuan itu, perempuan itu tertawa getir. Semburat luka dan cemburu kembali membakar hatinya.

Ia memajukan tubuhnya, menuntut jawaban yang adil bagi harga dirinya yang sudah lama terinjak-injak dalam persembunyian ini.

"Lalu, kamu nggak merasa bersalah sama aku?" tanya perempuan itu, suaranya meninggi.

"Kamu merasa bersalah pada Rindu karena membohonginya satu malam ini. Tapi apa kamu pernah memikirkan perasaanku? Aku yang kamu bohongi setiap hari dengan janji-janji manismu! Aku yang harus berpura-pura tidak punya suami di depan dunia!"

Arsen memijat pangkal hidungnya yang terasa semakin pening. Kepalanya serasa ingin pecah menghadapi rentetan tuntutan yang datang dari segala arah.

Dengan sisa kesabaran yang ia miliki, ia meraih kedua pundak perempuan itu, menatapnya dengan tatapan memohon.

"Bukan begitu, Sayang. Tolong mengertilah, aku hanya lelah dengan semua ini," kata Arsen dengan nada suara yang melemah. Ia benar-benar berada di titik nadir energinya. Konflik batin yang berkepanjangan ini menguras seluruh kekuatannya.

"Kalau begitu ya katakan saja semuanya sama Rindu sekarang, biar kamu nggak lelah lagi!" ucap perempuan itu ketus, memalingkan wajahnya dengan gusar. Kalimat itu meluncur begitu saja sebagai bentuk keputusasaan atas sikap Arsen yang selalu tampak maju-mundur.

Arsen menghela napas panjang, lalu menarik tubuh perempuan itu lembut ke dalam dekapannya, meski sempat ada penolakan kecil darinya.

Arsen lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh perasaan, mencoba meredam bom waktu yang hampir meledak lagi di antara mereka.

"Sayang, jangan mulai lagi. Malam ini yang penting aku di sini sama kamu, kan? Aku temani kamu," kata Arsen dengan nada yang sangat lembut, berbisik tepat di telinganya untuk memberikan rasa aman.

Kalimat itu, bersama dengan pelukan hangat Arsen, perlahan-lahan meruntuhkan pertahanan perempuan itu.

Amarah yang menyala di matanya perlahan padam, digantikan oleh rasa rindu yang egois untuk memiliki pria itu sepenuhnya, walau hanya untuk satu malam ini.

Arsen kemudian mengurai pelukannya sedikit, menangkup dagu perempuan itu, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibirnya.

Sentuhan yang intim dan penuh afeksi itu seketika mencairkan seluruh ketegangan yang tersisa. Sebuah senyuman tipis akhirnya terbit di bibir perempuan itu, menandakan bahwa ia telah menyerah pada pesona sang suami.

Melihat senyuman itu, Arsen tidak ingin membuang waktu lagi untuk membahas konflik yang melelahkan. Dengan gerakan yang sigap namun tetap lembut, ia menyisipkan kedua lengannya di bawah tubuh perempuan itu, lalu mengangkatnya ke dalam gendongannya.

Perempuan itu refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Arsen, menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.

Sambil melangkah pasti, Arsen membawa tubuh istri keduanya itu masuk ke dalam kamar tidur, menutup pintu.

1
Shinta Teja
Thor plis Thor, plisss!!!!!
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
Sanda Rindani
jangan bodo rindu
Shinta Teja
jangan lupa minta no unitnya mbak Fina,rindu. jadi kamu bisa sementara sembunyi di apartemen nya....🥺
Sanda Rindani
jangan lembek dong rindu
Ben Aben
Udah mulai seru ya thor
stela aza
sakarepmu sing nulis Thor endinge arep kaya apa Yo ngono ,,, wis bebeh drama rumah tangga yg ngono kui wis biasa Karo wis akeh di setiap novel hampir sama rata 🙏 nek ora selingkuh Karo konco Yo Karo Adine trs sepupu Yo muter2 Ning Kono kui tok 🙏
Maple latte: saya gk tau ya kak kalau novel lain juga sama, saya cuman nulis apa yang terlintas di pikiran aja.
kayak, bikin cerita ini kayaknya seru, selingkuhannya si ini. terus nanti pertengahannya akan jadi seperti ini, dan endingnya akan seperti ini.
jadi semua sudah saya pikirkan, dan semua sudah ada di otak di penulis. gambarannya seperti apa. dan, juga pasti mencari ini akan seru nih cerita seperti ini. jadi, kita itu gk tau ceritanya sama atau tidak dengan yang lain, kalau kakak merasa ceritanya sama dengan yang lain ya, mungkin pemikiran saya dan penulis yang lain sama.
total 1 replies
stela aza
ujung2 nya Nnti setelah cerai baru ketahuan kalau Nia hamil bukan anaknya Arsen ,,, wisss mambu lagu ngono kui ,,, 🤣
Cha Libra
jngan biarkan Rindu lluh thour ma s Arsen .biar rindu kluar gugat cerai suami kga tau diri
Delisa
novelnya good thor
Yantie Narnoe
😭😭😭 sedih x....up lg othor...💪
stela aza
balas rindu jangan diem Bae ,,, balesnya dg cara yg cantik dan apik ,,, hancurkan sampai tak bersisa 2 penghianat itu 🤭
Shinta Teja
terimakasih ya otor,dah dikabulkan permintaan ku...🫰
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰
Shinta Teja
up nya yang banyak dong Thor. masa cuma 1 . mana makin bikin penasaran lagi🫰
Anonim
Wah wah si nia ini pelakor nya ternyata y thor🤭
Shinta Teja
tolong dong,kak. jangan lama² bongkar kebohongan nya Arsen. sebab aku mau si RINDU itu bisa bersikap tegas & keluar dari keluarga toxic itu
Anonim
Rindu jangan lemah dong thor buat jadi cewe badas,gemes ih sama mertua modelan kek gitu pengen kasih rawit sekilo
stela aza
kok rindu diem j di hina di injak-injak harga dirinya,, meneng Bae ,,, lawan donk , jgn jdi perempuan bodoh ,,
Shinta Teja
jangan sampai itu si Nia,sahabat nya rindu🥺🥹
Anonim
Masih muter aja thor kapan nih rindu tau kalau suaminya selingkuhh🤭
Anonim
Jijik bener deh sama yg namanya pelakor,malah jadi ngerasa dia yg korban padahal istri sah yg korban
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!