Kerap kali persahabatkan akan menumbuhkan ras cinta, terlebih jika persahabatan antara laki - laki dan perempuan.
Seperti yang aku alami, aku dan Arjuna sudah bersahabat sejak lama tepatnya sejak SMP. Usiaku memang lebih muda dua tahun darinya. Tapi karena keenceran otakku aku bisa tinggat dengannya.
Dan ini kisahku dengan sahabatku Arjuna, yang terpaksa menikah karena suatu alasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Positif. ( Dua garis merah )
Sampai dirumah ibu, aku bergegas kekamar mandi karena rasa mualku selama perjalanan dari rumah tadi sudah tak bisa kutahan.
" Ada apa sayang, kamu sakit nak? tanya ibu yang khawatir menyusulku kekamar mandi.
Aku tak menjawab hanya menggelengkan kepala. Perutku sangat mual seperi diaduk - aduk. Seluruh isi makanan yang sempat aku makan tadi, keluar tak tersisa.
Ibu memijat tengkukku, mengusap lembut peluh yang membasahi kening. Lemas, keringat dingin mengucur membasahi kulit. Hampir aku pingsan karenanya.
" Sudah dites belum?" tanya ibu yang sepertinya sudah menduga kalau aku hamil.
" Belum bu." jawabku sambil mengelap wajah yang basah.
" Buruan dites, semoga Allah memberikan kabar bahagia dengan ini!" harapan ibu. Sepertinya beliau memang sudah tak sabar untuk menggendong cucu.
Aku yang mengeluarkan alat tes kehamilan dari dalam tas. Waktu kesini tadi aku sempat mampir ke Apotik untuk membelinya. Penasaran juga karena datang bulanku sudah lewat dari 10 hari.
Aku kembali masuk kekamar mandi, sementara ibu menunggu diuar. Ibu pun tidak sabar mengetahui hasilnya.
Didalam kamar mandi aku ragu untuk melakukan, takut jika nanti hasil tesnya tak sesuai harapan. Aku memejamkan mata, bulir - bulir bening mulai mengalir deras dari kedua mataku.
*****
Ibu sangat bahagia saat melihat hasil tes yang aku perlihatkan tadi. Beliau cepat - cepat pergi kepasar untuk berbelanja. Katanya sih mau masak istimewa malam ini. Sebagai bentuk rasa syukur pada Allah SWT.
Aku duduk bersandar disofa ruang keluarga rumah bapak. Mengamati tespeck ditangan, dua garis merah. Bibir tersenyum dengan telapak tangan menyentuh perut.
" Apa maksudnya semua ini?" suara Arjuna yang baru saja muncul membuatku tersentak.
Aku menoleh padanya dengan tatapan dingin. Sambil kugenggam erat benda mungil itu.
" Apa aku harus jelasin lagi, Jun?" kataku tanpa melihatnya.
" Pulang kita omongin dirumah!"
Dia berdiri didepanku, menatapku dalam. Aku menarik nafas dalam.
" Buat apa aku pulang? Buat bikin kamu ketawa, kamu sakitin, terus kamu tinggalin seenaknya? Kamu pikir aku apa, Jun?" tegasku, menatapnya dengan tatapan berkaca - kaca.
" Pergilah Jun! Aku lagi pingin sendiri dulu."
" Kamu ngomong apa sih, Han?" tanyanya tanpa rasa berdosa. Kemudian duduk disampingku. Membuat darahku mendidih.
" Percuma juga kan, buat diomongin. Kamu juga gak bakalan mengerti gimana perasaanku. Nggak akan ngaku kalau kamu salah. Ngomong seenaknya, pergi seenaknya. Terus berbuat seenaknya, apa ma.... hhmmmpp."
Dengan secepat kilat dia menyambar bibirku. Bibirnya mengunci semua perkataanku. Dada masih naik turun karena emosi, sekarang ia malah membuatku terbelalak. Belum lagi jantung berdebar sangat cepat karena ulahnya.
" Bisa dengerin dulu gak?" tanyanya.
" Nyerocos aja dari tadi!"
Aku terdiam mendadak lidah terasa kelu. Pipi pun mulai memanas karenanya.
Melihat sesuatu ditangan, seketika dengan cepat Arjuna menyambar tespack dari genggaman tangan. Kemudian mengamatinya, seutas senyum terbit dibibirnya.
" Pantasan udah kek harimau. Marah - marah mulu.!" ucapnya tersenyum lebar menoleh padaku.
Aku menutup mata, mengusap wajah dengan kedua tangan. Menyilakan rambut panjangku kebelakang. Karena tangis yang tak mampu ditahan, hingga terisak didepannya.
" Kamu pikir ini lucu, Jun? Perasaanku itu lucu buat kamu, heh..?"
" Sssttt." Arjuna memelukku erat.
" Makanya dengerin dulu, sayangku!"
Aku terisak dengan bahu yang bergetar, menangis sejadi - jadinya dipelukan hangat suamiku. Sesak didada sudah tak tertahankan.
" Kamu jahat, Juna. Kamu jahat.!" ucapku dengan suara bergetar sambil sesekali memukul - mukul dadanya, pelan.
" Assalamualaiku, " salam dari ibu yang baru saja datang.
Membuat kami kaget, Arjuna melepaskan pelukannya. Aku menegakkan badan, menghapus air mata yang membasahi pipi.
" Walaikumsalam," jawabku dan Arjuna bersamaan.
" Ehh, nak Juna kapan datang?"
Arjuna bangkit dari duduknya, menyalami dan mencium tangan ibu takzim.
" Baru saja bu. Ibu dari mana?" tanyanya sopan.
Sementara aku langsung bergegas menuju kamarku. Menutup pintu rapat, lalu bersandar dibaliknya. Menyentuh bibir dengan ujung jari dan satu tangan memengangi dada yang masih bergemuruh hebat. Ya Allah, Arjuna. Nyebelin.!
*****
Tok...tok...tok..
suara pintu diketuk dari luar. Entah ibu atau Arjuna yang datang.
" Han, aku masuk yaa?" suara Arjuna dari luar lalu membuka pintu.
Sejujurnya aku masih kesal dan malas untuk bertatap muka dengannya. Tapi, takut dosa juga jika terus menghindarinya. Walau bagaimana pun dia masih suamiku.
Hingga pada akhirnya aku berpura - pura tak mendengarnya. Bahkan tak menoleh padanya. Masih dengan kaca mata bertengger diwajah, aku masih pura - pura asik dengan laptop didepanku.
Arjuna melangkah mendekatiku, lalu memutar kursi yang aku duduki. Mau tak mau aku menatap wajahnya yang kini menunduk menatap wajahku.
" Kenapa masih disini? pulanglah!" kataku memalingkan pandangan.
" Istri dan calon anakku ada disini dan aku ingin bersama kalian disini.!" jawabnya meraih daguku menghadapkan wajahku meminta perhatian.
Aku menatap dalam matanya, sejujurnya aku ingin memaafkan dia. Tapi, rasa sakit ini masih kurasakan menyayat hati.
Entah mengapa aku malah tenggelam dalam tatapan matanya. Tangannya menangkup kedua pipiku, perlahan mendekatkan wajahnya.
Saat bibirnya hampir menyentuh bibirku, aku tersadar dan segera ku palingkan wajah kekanan. Ku lirik Arjuna tersenyum tipis melihat tingkahku saat merajuk seperti ini.
" Pulanglah, kita pikirkan semuanya lagi. Ambil keputusan yang terbaik, aku akan menerima semua keputusanmu.." kataku dingin masih enggan menoleh padanya.
" Baiklah, aku pulang. Tapi, perlu kamu tahu Hana tak ada yang perlu aku pikirkan lagi. Semua sudah jelas dan kamu tahu apa yang aku maksud.?"
Arjuna mengusap kepalaku lembut, lalu mencium puncak kepala.
" Jangan lama - lama yaa marahnya! Besok aku jemput!" sambungnya lalu pergi keluar kamar.
Yaa, Allah. Kenapa untuk marah padanya saja aku tak bisa.?
Aku melepas kaca mataku, melemparkan kemeja. Meraup wajah kasar, rasanya sulit untuk mengabaikan dia.
" Lagi marahan sama nak Juna, yaa?" tanya bapak yang masuk begitu saja karena pintu kamar memang tak ditutup lagi oleh Arjuna, tadi.
" Nggak kok, pak. Cuma lagi kesel aja Hana sama Juna.!" jawabku menutup laptop dimeja.
" Apapun masalah kalian segera selesaikan dengan baik. Jangan menghindari masalah, dengarkan penjelasan nak Juna. Dalam berumah tangga yang paling utama adalah komunikasi yang baik dan rasa saling percaya. Ingat itu, yaa nak!" kata bapak bijak.
Aku mematung sesaat, mungkin benar kata bapak. Masalah tidak akan selesai jika dihindari. Mungkin aku harus mendengarkan penjelasan Arjuna. Lebih baik sakit karena kejujuran dibandingkan sakit karena kebohongan terus menerus.
Kuraih ponsel diatas meja, dan ku ketik pesan untuk Arjuna suamiku.
Nanti malam jemput aku.
Terima kasih, sudah mampir.
Semoga suka.