NovelToon NovelToon
Read Zone

Read Zone

Status: tamat
Genre:Patahhati / Permainan Kematian / Teen School/College / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Tamat
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Litlerose

Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.

Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.

Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.

Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halusinasi

Pukul 19.12 WIB

​"WUUHUUU! KEREN BANGET!"

​Sorakan meriah meledak di tengah lapangan sekolah. Tepuk tangan dan siulan panjang bersahut-sahutan dari puluhan panitia OSIS yang berkumpul di depan panggung utama.

​Di atas sana, lampu sorot yang sejak tadi bermasalah, kini menyala sempurna. Sinar warna-warni bergerak lincah membelah kegelapan malam, mengikuti dentuman bass musik yang menghentak. Kelap-kelip cahaya itu membuat panggung festival terlihat megah, siap menyambut hari esok.

​"Mantap! Masalah lampu clear! Bentar lagi kita pulang!" teriak Zaki dari meja operator, mengacungkan dua jempol ke udara.

​Annas berdiri di pinggir tenda medis, berpegangan pada sandaran kursi plastik. Dia melihat wajah-wajah lega teman-temannya. Ada senyum, ada tawa, ada rasa bangga.

​Ia mencoba ikut tersenyum. Sudut bibirnya terangkat sedikit.

​Namun, senyum itu hanya bertahan satu detik.

​Dunia di sekelilingnya mendadak berayun pelan.

​Cahaya lampu sorot yang kelap-kelip itu terasa menusuk retina matanya, mengirimkan denyutan sakit yang luar biasa ke kepala belakangnya. Suara sorakan teman-temannya terdengar berdengung, seperti suara radio yang kehilangan sinyal.

​Annas mencengkeram sandaran kursi itu lebih kuat.

​Dia memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir rasa pusing yang berputar-putar.

​Saat dia membuka mata lagi, pandangannya sedikit kabur.

​Di tengah kerumunan panitia yang sedang membereskan kabel, mata Annas menangkap sebuah siluet.

​Seorang gadis, memakai kerudung putih, dan ada kacamata yang bertengger di hidungnya.

Ia berjalan membelakangi Annas sambil memeluk papan.

​Jantung Annas seketika berhenti berdetak. Rasa sakit di kepalanya mendadak hilang.

"​Febby?"

​Gadis itu berjalan menjauh menuju arah koridor kelas.

​"Feb..." panggil Annas. Suaranya serak, tenggelam oleh suara musik.

​Annas melepaskan pegangannya dari kursi. Dia melangkah maju.

​"Feb, tunggu..."

​Ia mempercepat langkahnya. Matanya terkunci pada punggung gadis berkerudung putih itu. Dia tidak melihat apa pun lagi. Dia harus memastikan itu Febby. Dan dia harus minta maaf.

​Annas berjalan lurus, memotong jalur lalu lintas panitia.

​"Awas! Minggir!"

​Dua orang siswa logistik sedang berjalan cepat membawa sebuah tangga lipat besi yang panjang. Mereka tidak melihat Annas yang berjalan seperti orang mabuk memotong jalan mereka.

​"KAK ANNAS! AWAS TANGGA!" teriak salah satu siswa dengan panik.

​Sayangnya Annas tidak dengar. Matanya hanya tertuju pada gadis itu. Jarak wajahnya dengan ujung tangga besi yang keras itu tinggal setengah meter.

​SRET!

​Tiba-tiba sebuah tangan menyambar lengan Annas dengan kasar, menariknya mundur seketika.

​"WOY!"

​Annas terhuyung ke belakang, nyaris jatuh kalau saja tubuh di belakangnya tidak menahannya.

​Angin dari tangga besi yang lewat itu menyapu wajah Annas. Nyaris sekali.

​Annas mengerjap, napasnya memburu. Dia mendongak, mencari gadis berkerudung putih tadi.

​Gadis itu menoleh karena keributan.

Ternyata itu bukan Febby. Itu Rina, anak kelas 10 panitia dokumentasi.

​Bahu Annas merosot lemas.

​"Lo cari mati, Nas?!"

​Suara bentakan di telinganya membuat Annas menoleh.

​Fadhil berdiri di sampingnya, masih mencengkeram lengan kakaknya. Wajah merah padam.

​"Lo nggak liat ada tangga segede gaban lewat?! Kalau kena muka lo gimana?!" omel Fadhil, napasnya naik turun.

​"Gue... gue nggak liat," gumam Annas pelan. Dia mencoba melepaskan cengkeraman Fadhil. "Sorry, gue kira tadi..."

​"Lo kira apa?!"

​Fadhil menyentuh pergelangan tangan Annas.

​Detik berikutnya, omelannya tertunda. Dia langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Annas, lalu ke leher kakaknya.

​"Ya Allah, Nas..." suara Fadhil berubah drastis, dari marah menjadi panik. "Lo demam tinggi banget! Badan lo panas kayak setrikaan!"

​Fadhil menatap wajah Annas lekat-lekat. Di bawah sorot lampu panggung yang terang, barulah terlihat jelas betapa mengerikannya kondisi Annas. Wajahnya pucat pasi seperti kertas, bibirnya kering dan pecah-pecah, matanya merah dan sayu.

​"Lo sakit, Nas. Lo sakit parah," desis Fadhil.

​"Gue nggak apa-apa. Cuma butuh minum," elak Annas, mencoba berdiri tegak meski lututnya gemetar. "Kerjaan belum beres. Gue harus cek sekali—"

​"Bodo amat sama kerjaan !" potong Fadhil keras. Dia menahan bahu Annas agar tidak bergerak. "Lo pulang sekarang."

​"Dhil, please. Besok hari H. Gue nggak bisa—"

​"Gue bilang pulang ya pulang!" bentak Fadhil, kali ini suaranya bergetar. Dia tidak peduli dilihat anak-anak lain. "Liat diri lo, Nas! Jalan aja lo mau nabrak tangga! Lo mau pingsan pas sambutan besok? Lo mau bikin Bunda nangis lagi?!"

​Nama Bundanya membuat Annas terdiam. Tenaganya langsung habis.

​"Gue anter lo pulang sekarang," putus Fadhil tegas. Dia melingkarkan lengan Annas ke bahunya, memapah kakaknya yang sudah tidak punya tenaga untuk melawan. "Urusan di sini biar Zaki sama gue yang handle lewat WA. Lo istirahat di rumah."

​Annas menurut. Dia membiarkan dirinya diseret menjauh dari panggung megah yang kelap-kelip itu. Pandangannya menggelap.

​Di kejauhan, gadis berkerudung putih yang dikiranya Febby tadi sudah menghilang di balik kerumunan.

'​Feb... lo baik-baik aja, kan?' batin Annas sebelum kesadarannya mulai memudar.

-BERSAMBUNG

1
icaaaa
😭
Vena
Masih sempet" nya ya
Vena
Awal yang menyedihkan tor
Vena
Tuh kannnnn
Vena
Hmmm seperti ada firasat buruk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!