NovelToon NovelToon
NADIRA

NADIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Perjodohan / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:967.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratihyera

Arga Ibrahim adalah pewaris tunggal dari bisnis turun temurun milik keluarganya. Ia memiliki segalanya, wajah yang tampan dan banyak digilai wanita, harta kekayaan yang melimpah, dan juga seorang tunangan cantik yang begitu dicintainya sepenuh hati.

Suatu malam, Arga mengalami kecelakaan yang menyebabkan kedua matanya buta. Saat itu juga tunangannya yang bernama Niken tiba-tiba meninggalkannya dengan mengembalikan cincin pertunangan lewat perantara Nadira, sepupunya. Sejak saat itu takdir menyeret Nadira masuk dalam kehidupan Arga dan keluarganya.

(Full Drama. Cerita ini hanya fiktif belaka)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratihyera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MABUK

Irfan yang sedang mengemudi mobil, berhenti tepat ketika lampu merah. Ia melirik dari spion, melihat Arga duduk bersandar di jok belakang sambil mengarahkan wajahnya ke arah kaca jendela mobil.

Kata-kata Nadira terus terngiang di telinganya. Gadis itu ternyata tidak seperti yang ia pikirkan, Nadira tetap mengharapkan suatu hari nanti bisa bebas dari ikatan pernikahan dengannya. Padahal Arga sudah mulai menyadari kalau ia merasakan sesuatu yang berbeda dengan gadis itu, yang juga tidak pernah ia rasakan saat ia mengenal Niken lalu mengajaknya berpacaran.

Setelah malam itu, Arga bersikap seperti biasanya kepada Nadira. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa antara mereka di malam itu. Nadira selalu membantu keseharian Arga di rumah, Arga pun tidak pernah menolak, kecuali ia merasa bisa mengerjakannya sendiri maka ia akan menolak bantuan Nadira. Jika Rachel ada, Arga lebih memilih dibantu oleh ibunya sendiri dibanding Nadira.

Nadira pun sudah tidak pernah lagi mendapatkan telpon tengah malam dari Arga. Arga tak pernah lagi memintanya membuat minuman coklat panas atau sepiring nasi goreng.

Nadira merasa hampa, walau Arga bersikap seolah tidak terjadi apa-apa,  tapi ia masih kepikiran akan sikapnya kemarin kepada Arga.

.

.

.

Nadira melihat bagaimana gelisahnya Rachel yang sedang mondar-mandir di ruang tamu rumahnya yang luas. Sudah lewat jam dua belas malam dan Arga belum juga pulang.

Irfan mengabari kalau Arga sedang mengadakan pertemuan dengan salah satu rekan bisnis sejak jam lima sore, dan rekan bisnis itu mengajaknya mengadakan pertemuan di sebuah tempat hiburan malam yang elit.

Rachel begitu khawatir saat tahu hal itu. Arga bukan tipe laki-laki yang senang berkunjung ke tempat-tempat hiburan malam. Sekali dua kali ia pernah berkunjung, itupun bersama beberapa teman dan Arga tidak pernah pulang larut malam.

Nadira pun tak bisa tidur saat tahu Arga belum juga pulang ke rumah dari jam pulangnya biasa. Ia pun ikut turun menunggu kepulangan Arga bersama Rachel di ruang tamu.

“Nyonya, tuan Arga sudah kembali,” sahut salah satu pelayan rumah yang berdiri dekat pintu utama rumah.

Rachel bergegas keluar, Nadira mengikuti di belakang juga dengan perasaan cemas.

Irfan turun dari mobil di pintu depan, kemudian bergegas membukakan pintu jok belakang. Irfan membantu Arga turun dari mobil, Rachel begitu kaget saat melihat Arga keluar dan di sisinya yang lain ia dibantu oleh seorang perempuan dengan pakaian yang seksi.

Arga tampak setengah sadar, tubuhnya sempoyongan karena begitu mabuk, sehingga ia harus dibantu berjalan oleh Irfan dan juga wanita itu.

“Irfan, apa yang terjadi pada Arga?” Rachel begitu murka begitu menghampiri ketiganya.

“Saya akan jelaskan nanti nyonya, biarkan tuan Arga ke kamar dulu untuk beristirahat,” Irfan menjawab sopan dan tetap tenang walau ia kena murka dari sang nyonya besar.

“Siapa kau? Lepaskan tanganmu dari anakku!” Rachel memaksa wanita asing itu agar melepaskan diri membantu Arga, agar ia saja sebagai ibunya yang membantu Arga berjalan masuk ke rumah.

“Apa yang kau lakukan! Singkirkan tanganmu! Siapa kau berani menyuruhnya pergi!” sahut Arga dengan nada bicara yang kasar sambil menepis tangan Rachel, tubuhnya semakin oleng dan wanita itu sekuat tenaga menahan tubuh tinggi besar Arga agar tidak roboh ke tanah lalu menimpanya. Irfan dengan gesit membantu mengimbangkan tubuh Arga.

Irfan dan wanita itu bergegas membawa Arga masuk ke rumah. Rachel begitu shock dengan sikap Arga yang berada di bawah pengaruh alkohol. Nadira pun sama shocknya, apalagi saat melihat Arga begitu merangkul erat pundak wanita itu. Ada rasa tak nyaman menjalari hatinya.

“Arga,” panggil Nadira begitu cemas saat ketiganya berpapasan dengan Nadira yang berdiri dekat pintu utama.

“Nona, tolong ambil alih membantu tuan Arga,” pinta Irfan.

“Dia tidak mau dengan orang lain, kecuali denganku,” sahut wanita itu terdengar sedikit angkuh. Karena sejak Arga mulai mabuk, Arga terus menempel padanya.

“Arga, ini aku Nadira,” sahut Nadira lalu menyentuh tangan Arga.

Mendengar suara Nadira, Arga menegakkan kepalanya.

“Arga, apa yang terjadi padamu?” Nadira terdengar begitu khawatir dan membujuknya agar mau melepaskan wanita itu dan menyambutnya saja.

“Siapa kau?” Arga bertanya sambil menyentuh wajah wanita di sampingnya dan meletakkan sebelah tangannya di atas kepala wanita itu, ia mengelusnya pelan dan merasakan helaian rambutnya.

“Ahh, sial! Kau bukan dia! Dia tidak pernah menampakkan rambutnya seperti ini. Pergi kau sana! Beraninya menipuku hanya karena aku tidak bisa melihat!” Arga mendorong kasar tubuh wanita itu agar menjauh darinya. Wanita itu begitu terkejut, padahal sejak Arga perlahan kehilangan kesadaran karena mabuk, ia tidak ingin lepas darinya.

Nadira segera bergerak ke sisi Arga saat wanita asing itu diusir oleh Arga. Nadira dengan sigap menahan tubuh Arga yang oleng. Arga mendekatkan wajahnya seolah ingin mendeteksi bau tubuh Nadira melalui wajahnya.

“Ini kau, ha ha,” Arga tertawa senang, lalu tangannya menyentuh puncak kepala Nadira yang tertutup hijab dan mengelusnya pelan sambil tersenyum senang, “tidak salah lagi, ini benar-benar kau!” Arga merapatkan lengannya merangkul tubuh Nadira begitu erat.

Nadira dan Irfan lalu bergerak membawa Arga masuk ke dalam. Sementara wanita asing itu hanya bisa tertegun kesal melihat pria buta yang tampan dan seorang bos besar itu meninggalkannya begitu saja setelah Nadira datang. Rachel menatap tak suka kepada wanita itu ketika melintas, hendak menyusul masuk ketika Arga sudah dibawa masuk oleh Nadira dan Irfan.

Irfan dan Nadira pun berhasil merebahkan tubuh Arga di atas tempat tidur kamarnya. Nadira menatap Arga terengah-engah, ia begitu kelelahan menopang tubuh Arga sambil menaiki anak tangga menuju ke lantai dua.

Tak lama kemudian, Rachel muncul. Ia menatap prihatin kepada Arga yang terlelap di atas kasur dengan gaya tidak karuan. Irfan langsung jadi sasaran amarahnya.

“Bagaimana bisa kau membiarkan Arga seperti itu, huh!”

Irfan hanya menundukkan wajah sambil berkata, “maafkan saya nyonya,”

“Nadira, tolong kau urus Arga. Aku perlu bicara dengan Irfan,” Rachel melangkah keluar, Irfan mengikuti dengan patuh sang nyonya besar yang berjalan menuju ke ruang kerja pribadinya.

Nadira tertegun menatap Arga yang terlelap sambil bergumam, “apa yang terjadi padamu, Arga?”

Nadira berjalan menutup pintu kamar Arga lalu kembali menemui Arga. Nadira segera memperbaiki posisi Arga di tempat tidurnya. Ia segera melepas kaos kaki dan sepatu hitam yang masih terpasang di kedua kaki Arga. Nadira melepaskan jas Arga, lalu melepas lilitan dasi, dan beberapa buah kancing kemeja Arga agar tubuhnya tidak terasa sesak. Nadira kemudian melepaskan ikat pinggang yang masih melilit. Setelah itu Nadira menarik selimut, menutup setengah tubuh Arga. Nadira meraih remote AC tak jauh dari tempat tidur dan menyalakan pendingin ruangan di kamar Arga. Nadira lalu membetulkan letak bantal kepala Arga, saat itu Nadira tertegun menatap wajah Arga yang sedang terlelap. Rambut Arga agak berantakan jatuh didahinya. Nadira menyentuhnya pelan, dan membetulkan posisinya.

Tiba-tiba Arga membuka kedua matanya, meski tampak sayu. Nadira segera menarik tangannya.

“Arga, apa kau butuh sesuatu?” Tanya Nadira lembut.

Arga mengangkat sebelah tangannya, seperti mencari sesuatu. Nadira menyentuh tangan yang terulur itu.

“Kau butuh apa, Arga? Bilang padaku, biar aku ambilkan untukmu,” sahut Nadira yang sedikit membungkukkan badannya ke depan Arga.

Seketika tangan Arga berbalik menarik tubuh Nadira dan jatuh menindih dada Arga yang lebar dan bidang. Arga melingkarkan lengannya yang kokoh untuk mendekap Nadira di atas tubuhnya, lalu menurunkan tubuh Nadira berbaring di sisi tempat tidur yang kosong. Posisi mereka kini berpelukan, meski sejujurnya Arga lah yang memeluk Nadira begitu erat.

“A-Arga, apa yang kau lakukan?” sahut Nadira yang menggerakkan wajahnya, ia tidak bisa berontak, tangan Arga begitu erat memeluknya.

Wajah Arga mengarah jelas ke wajah Nadira. Posisi mereka begitu intim. Nadira bisa merasakan embusan nafas Arga yang begitu dekat di wajahnya. Dan kedua mata itu masih terbuka, walau sorotnya kosong, tapi seakan Arga kini sedang menatapnya begitu dalam.

Nadira merasakan darahnya berdesir, jantungnya berpacu cepat.

“Aku benar-benar tidak suka masa lalumu dengannya, aku tidak suka dia menghinamu begitu saja,” gumam Arga.

Nadira bisa mencium aroma alkohol yang menyengat dari mulut Arga.

“Apa maksudmu, Arga?” Nadira bertanya bingung.

“Aku tidak peduli bagaimana kau dulu dengannya. Mungkin satu-satunya hal yang membuatku begitu kesal adalah karena aku tidak tahu bagaimana wajahmu, aku benar-benar tidak bisa ingat wajahmu saat pertemuan kita saat aku masih bersama Niken. Tapi aku tidak begitu peduli, aku hanya ingin selalu bersamamu, Nad,” bisik Arga lalu makin mengeratkan pelukannya dan memejamkan kedua matanya.

Nadira diam, dia pasrah dengan apa yang Arga lakukan padanya. Kata-kata Arga tadi membuatnya berpikir keras, dan ragu-ragu bertanya dalam hatinya, “Arga, apa kau mencintaiku?”

Pintu kamar Arga tiba-tiba terbuka, Rachel dan Irfan menatap terkejut ke dalam kamar Arga. Rachel membelalak kaget melihat Arga sedang berbaring di tempat tidurnya sambil memeluk erat Nadira.

Nadira bergerak-gerak, ingin tahu siapa yang membuka pintu kamar sementara posisinya dengan Arga seintim ini. Dengan susah payah, Nadira bisa menolehkan sedikit kepalanya untuk melihat dari balik punggungnya, siapa yang membuka pintu kamar Arga.

Nadira melihat jelas Rachel berdiri termangu di ambang pintu kamar, menatap tajam ke arahnya dan Arga dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. Sementara Irfan, dalam situasi apapun pembawaannya selalu tenang.

1
dewi rofiqoh
Semoga arga dan nadira bahagia selalu dan tetap harmonis....
Thor bikin si bram sadar biar fk ganggu nadira, bikin ia jatuh cinta sama Melanie
dewi rofiqoh
Jangan sampai Melanie jadi korban kebejatan bram...
dewi rofiqoh
Arga emang 👍👍👍👍
Mau berbagi secercah harapan dan kebahagiaan untuk sesama yang kurang beruntung...
Yati Joice
Terimakasih Thor up nya 🙏 semoga tidak tertunda lagi ya dan tetap Semangaaaaaaaaaat 👍
semoga Kebahagiaan Arga dan Nadira juga Rumah tangga nya langgeng tidak ada gangguan dari luar dan Samawa til jannah sampai maut memisahkan Aamiin Aamiin YRA 🤲🤲😘❤️🙏
Kurniasih Asih
selamat Thor atas kelahiran ya,kamu selalu menunggu karyamu,semoga sehat selalu
Yati Joice
Alhamdulillah,,, akhirnya datang juga,sudah berapa purnama,,,, dirimu meninggal aku Thor,,,semoga semuanya baik baik dan lancar ya,,,tetap Semangaaaaaaaaaat 👍🙏 Succes selalu,,, Aamiin Aamiin YRA 🤲🤲❤️😘
Ratihyera: wah makasih. maaf, saya sibuk jadi IRT, ngajar, habis lahiran, mana stuck ga tahu ceritanya mau dibawa kek mana soalnya masih ada beberapa konflik yg harus selesaikan antara Bram sama Rio, baru novel ini saya tamatkan
total 1 replies
Sri Acong
sekian lama,,,akhirnyaaa/Rose//Rose//Rose/
Devy Joice
lanjut thor
tokcar d monkar
mantaap
Khalid Ayubi
bgs
Vida Juli
nangis gw 😭😭😭😪
Neva Yanti
👍
Lidia Andiani
emak ga jelas emak egois emak ga tau diri
Lidia Andiani
gila nih ibunya arga kok malah ga boleh jatuh cinta ke nadira. bodoh apa gimana ini ga jelas banget deh
Shuhairi Nafsir
Tahniah Dan Selamat Melahirkan Cahaya mata Thor. Take care and stay healthy ❤️
Shuhairi Nafsir
lama kelamaan mengikuti cerita ini terasa bosan dibuatnya dengan sikapnya Nadira yang nga tegas.
Ijah Cai
lanjutkan thor
Dewi Purnomo
Biasa
Dewi Purnomo
Kecewa
Sunarti W Spdi
Thor ada gak didunia nyata persinya arga
𝑰𝒍 𝒏𝒖𝒍𝒍𝒂: Hai kak mampir yuk di novel ku ",My Possessive Lecturer"++🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!