Prolog
Gadis itu berjalan dengan tatapan kosong tidak mempedulikan guyuran hujan yang menimpa tubuh mungilnya. Ia berjalan tanpa alas kaki melewati jalanan penuh kendaraan yang berlalu-lalang.
Gadis malang itu berjalan tanpa arah. Bahkan ia tidak bisa merasakan dirinya sendiri, tubuhnya seperti melayang tanpa beban.
"Sayang.. jangan takut, kau tidak akan sendiri, aku akan menyusulmu." Gumamnya dalam hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
"Wah!" Gysta merentangkan tangannya merasakan angin musim panas yang menerpa tubuhnya. Gysta memejamkan mata menghirup aroma lavender, ia tidak percaya bisa berdiri di depan barisan bunga lavender yang sangat luas, seperti mimpi.
"Kamu suka?" Arkan mengusap rambut Gysta yang tertiup angin.
"Wah aroma nya lebih enak dari candle aku di rumah." Gysta tersenyum lebar melihat Arkan yang begitu tampan terkena pantulan sinar matahari.
"Oh iya?" Arkan mengangkat kedua alisnya. "Apa kita harus bawa beberapa levender disini?"
"Nggak-nggak!" Gysta mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Arkan, jika ia iseng menjawab iya, pasti Arkan tidak akan segan-segan membawa lavender itu pulang. "Kita boleh kesana nggak sih?" Gysta menunjuk barisan lavender tersebut.
"Boleh." Arkan mengangguk.
Gysta langsung berlari meninggalkan Arkan melewati barisan bunga lavender yang bergoyang tertiup angin. Arkan hanya memperhatikan punggung Gysta yang semakin menjauh sambil tersenyum lebar, senyum yang tidak pernah ditunjukkannya di depan orang lain kecuali Gysta. Bersama dengan Gysta membuat Arkan tidak bisa berhenti tersenyum.
Arkan duduk di atas alas kain yang ia sengaja bawa di bawah pohon aras yang daunnya lebat sembari menunggu Gysta puas bermain-main dengan bunga lavender. Arkan membuka halaman pertama colouring book milik Gysta, sebuah gambar bunga berwarna merah muda. Gysta selalu punya cara untuk mengistirahatkan pikirannya dari kesibukan sekolah, salah satunya dengan mewarnai. Arkan bersyukur karena Gysta tidak pernah menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat.
"Arkan!"
Arkan terkejut mendengar suara Gysta yang datang tiba-tiba, ia spontan menutup buku mewarnai di tangannya dan mendongak.
"Aku ambil beberapa." Gysta bergabung dengan Arkan, ia membawa beberapa helai lavender di tangannya.
"Kamu benar-benar suka bunga itu ternyata, rupanya semua wanita suka bunga."
"Sama seperti semua laki-laki suka bola." Gysta meletakkan lavender di samping nya.
"Siapa bilang aku suka bola?"
"Iya aku tahu kamu nggak suka bola." Gysta mengerucutkan mulutnya, ia meraih roti gandum yang dibawa dari resor sisa semalam. "Kita beli oleh-oleh apa buat kak Sarah?" Tanya Gysta yang tengah membuka bungkusan roti gandum.
"Hal yang disukai wanita." Arkan mengambil alih roti di tangan Gysta, melihat Gysta bersusah payah hanya untuk membuka bungkus roti membuat Arkan gemas. Arkan memberikan roti yang sudah dibuka bungkusnya pada Gysta.
"Entahlah, wanita suka banyak hal." Gysta mengedikkan bahu sambil mengunyah roti nya.
Mereka sama-sama terdiam, memandang hamparan bunga lavender di depan sana. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Gysta memikirkan oleh-oleh untuk Sarah sedangkan Arkan tidak mementingkan itu, Arkan hanya ingin kakak nya sembuh walaupun dokter bilang penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan.
"Ngantuk!" Keluh Gysta sembari membaringkan tubuh nya di samping Arkan, ia menggunakan tangan nya sebagai bantal. Pandangan nya menengadah pada dahan pohon aras di atas sana. Burung-burung beterbangan di udara, menari-nari sambil bernyanyi bersahut-sahutan. Musik alam menangkan beralun menenangkan jiwa manusia di dalam nya.
"Tidur sini." Arkan menepuk-nepuk paha nya.
"Kalau aku ngiler di paha mu gimana?" Gysta melihat Arkan dari bawah sana.
"Nggak apa-apa."
Gysta tertawa mendengar jawaban Arkan. Dasar Arkan! Jangan bikin aku jatuh cinta disiang bolong. Bagaimana tidak jatuh cinta kalau Arkan yang dulu senang berkelahi sekarang justru memperlakukan Gysta dengan penuh kelembutan. Walaupun Arkan tetap sering minum minuman keras tapi tingkah lakunya tak seliar dulu.
Gysta menggeser tubuhnya, meletakkan kepala di pangkuan Arkan, matanya memandang wajah Arkan dari bawah. Dilihat dari sudut pandang manapun Arkan terlihat tampan dengan rahang tegas dan tulang hidung tinggi, kulit nya juga putih bersih dengan pembuluh nadi kebiruan, Gysta memperhatikan hingga sedetail itu. Kadang Gysta ingin tahu apakah Arkan juga memperhatikannya sedetail itu.
"Makan." Gysta mengulurkan roti nya. Arkan menyambut roti tersebut dengan senang hati, menggigitnya cukup banyak. "Arkan." Panggil Gysta.
"Hm?" Arkan menunduk melihat gadis yang tengah berbaring di pangkuannya. Mata Gysta berbinar-binar secerah sinar matahari siang ini. Arkan tercengang sesaat karena dari tadi ia justru memperhatikan pemandangan di depannya padahal ada pemandangan yang jauh lebih cantik di dekatnya.
"Berat badan kamu turun ya?" Sebenarnya Gysta ingin menanyakan hal ini dari satu bulan yang lalu. Walaupun tanpa ditanya siapapun juga tahu kalau Arkan tampak lebih kurus dari sebelumnya.
"Nggak tahu." Arkan menggeleng pelan, ia tidak pernah menimbang badan nya. "Kenapa?"
"Kamu kurusan." Gysta tersenyum hambar.
Arkan terdiam, mendongak kembali melihat hamparan lavender di depannya. Dua kata terakhir Gysta membuat Arkan berpikir bahwa gadis itu tak hanya membicarakan masalah berat badan melainkan juga kecanduannya selama ini.
Ponsel Arkan berdering memecahkan keheningan di antara mereka berdua. Arkan meraih ponsel yang terletak di atas colouring book Gysta. Tertulis nama Mama di layar ponsel, Arkan ragu untuk menjawabnya. Sejak sampai kesini, Arkan memang tidak memberi kabar apapun pada Mama nya. Arkan hanya mengirim pesan singkat pada Sarah bahwa ia akan menikmati liburannya dengan Gysta.
"Angkat aja." Ujar Gysta walaupun tidak tahu si penelepon.
Dengan satu gerakan ibu jari, Arkan menjawab telepon tersebut.
"Kakak mu dirawat lagi kan." Suara Wulan, Mama Arkan terdengar bagai petir bagi Arkan. Petir disiang hari yang cerah. Bibir Arkan bergerak samar, tidak tahu harus menjawab bagaimana. "Kemarin dia jatuh di depan rumah, Mama udah wanti-wanti dia supaya nggak turun dari kursi roda tapi...."
"Gimana kondisinya sekarang?" Tanya Arkan cepat, bahkan sebelum Mama nya menyelesaikan kalimat.
"Belum sadar." Suara Wulan lemah, hampir tidak terdengar tertiup angin musim panas yang tiba-tiba terasa menyakitkan bagi Arkan.
"Aku pulang hari ini." Arkan memutus sambungan.
Gysta membelalakkan mata mendengar ucapan Arkan sebelum menutup telepon. Pulang hari ini? Kenapa?
"Kenapa Kan?" Gysta mengangkat kepalanya dari paha Arkan, melihat wajah kekasih nya yang tiba-tiba berubah drastis, sorot matanya menggelap.
"Kak Sarah masuk rumah sakit lagi, kita pulang." Arkan beranjak, menarik tangan Gysta agar segera meninggalkan tempat ini.
Gysta tak kalah terkejut mendengar kabar tersebut, ia ingin bertanya mengapa Sarah tiba-tiba dirawat padahal saat mereka hendak berangkat ke bandara, Sarah masih baik-baik saja bahkan sangat sehat. Sarah tersenyum sangat lebar sembari memeluk Arkan dan Gysta bergantian, ia mengecup kening adik nya lama, mencium kedua pipi Gysta penuh sayang. Namun melihat Arkan seperti ini, Gysta tak kuasa menanyakan hal tersebut.
"Maaf Gys." Lirih Arkan saat mereka sampai di resor tempat mereka menginap sejak tiga hari yang lalu. Arkan masih menggandeng tangan Gysta di depan kamar mereka. Melihat wajah tampan kekasihnya yang tiba-tiba redup, Gysta tak kuasa untuk tidak memeluk Arkan.
"Kenapa minta maaf disaat kamu nggak ngelakuin kesalahan?" Gysta mengeratkan pelukannya, memberikan Arkan kekuatan melalui pelukan tersebut. "Aku masuk dulu." Gysta mundur selangkah, melihat Arkan sesaat sebelum melangkah masuk ke kamar nya.
Arkan juga masuk ke kamar nya setelah Gysta menghilang di balik pintu, ia merasa bersalah pada Gysta karena mereka belum menciptakan kenangan indah di tempat impian seperti Daylesford. Tapi wanita Arkan yang lain lebih membutuhkan kehadiran si cowok tampan.
Sepanjang perjalanan Arkan hanya terdiam, tidak melepaskan genggamannya pada tangan Gysta barang sebentar. Gysta juga diam, tidak bertanya banyak hal walaupun jauh di dalam hatinya ia penasaran bagaimana Sarah kembali dirawat setelah kesehatannya dikatakan membaik.
Perjalanan 6 jam yang akan terasa begitu lama bagi mereka berdua. Gysta ingin tidur dan terbangun saat sudah landing. Bahkan Gysta tidak sempat memberitahu orangtua dan dua sahabatnya. Jika tahu Gysta pulang mendadak, pasti Nindy dan Noura akan memberondongi nya dengan pertanyaan tiada henti hingga ponsel nya meledak.
tiap bca psti nyesek
di episode trkhr ini lbh nyesek lg coz sad ending 😭😭😥😥
aku pkr arkan msh hidup smpe sneng aku thor...😥😔
roman2nya ni nnti sad ending deh...🥺🥺🥺