NovelToon NovelToon
I Love You, Oom!

I Love You, Oom!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:266.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kikan Selviani Putri

Alluna tak tahu jika kepergiannya kali ini akan menjadi malapetaka bagi dirinya sendiri. Emanuel Sagi Pratu, lelaki yang telah di pacarinya selama 3 tahun terakhir memilih menikah dengan Syailea - kakak dari Luna.

Tanpa tahu apa yang terjadi, Luna mengerahkan segala cara agar Sagi dapat kembali menjadi miliknya. Tetapi lelaki bernama Andrew Kilburn mendadak hadir di tengah usahanya itu. Lelaki yang ternyata adalah Om dari Sagi itu mengaku jika Alluna adalah miliknya.

•••
I Love You, Omm! Season 2

Keterpurukan Sagi akan cinta pertama mengantarkan gadis bernama Saras dalam hidupnya. Gadis pemilik iris caramel yang kembali memperangkap ingatan Sagi tentang Alluna. Sagi yang merasa penasaran serta keberadaan Saras yang selalu disisinya itu pun membuat perasaan nyaman memenuhi diri Sagi. Dan untuk pertama kalinya jantung Sagi kembali berdebar oleh senyum seorang Wanita selain Luna. Namun sayangnya perbedaan diantara mereka terlalu besar.

“Cinta yang tidak dikatakan pun masih tetap disebut cinta kan, Oom?” — Saras.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan Selviani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMAINAN OBSESIF

Beberapa hari berlalu sejak insiden di rumah sakit, dan Alluna berusaha menjalani rutinitasnya seperti biasa. Meski begitu, perasaan tidak nyaman akibat kemunculan Sagi terus menghantuinya.

Hari itu, Andrew memutuskan untuk bekerja dari rumah. Ia ingin memastikan bahwa dirinya ada di dekat Alluna.

Sementara Alluna tetap pergi ke rumah sakit seperti biasa. Sebelum berangkat, Andrew menghentikan langkahnya.

"Sayang, kalau ada hal mencurigakan lagi, kabari aku langsung, ya?" katanya sambil mengecup kening Alluna.

Alluna mengangguk. "Iya, Mas. Aku akan hati-hati. Kamu juga jangan terlalu stres di rumah."

Andrew tersenyum tipis, tapi dalam hatinya, ia masih khawatir.

Di rumah sakit, Alluna kembali sibuk dengan jadwalnya. Namun, di sela-sela pasien, seorang perawat mendekatinya.

"Dokter, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda di ruang tunggu," kata perawat itu.

"Siapa?" tanya Alluna, merasa curiga.

"Dia tidak menyebutkan nama, hanya bilang ini penting."

Alluna merasa ragu, tetapi akhirnya memutuskan untuk pergi. Saat sampai di ruang tunggu, ia menemukan seorang pria dengan setelan rapi sedang duduk sambil membaca majalah.

Ketika pria itu melihatnya, ia tersenyum lebar.

"Alluna, akhirnya kita bertemu lagi," kata Sagi, berdiri dan mendekat.

Alluna langsung merasa jantungnya berdegup kencang. "Sagi, kenapa kamu ada di sini lagi? Aku sudah bilang untuk menjauh."

Sagi mengangkat tangan, seolah mencoba menenangkan. "Aku tidak datang untuk membuat masalah. Aku hanya ingin bicara."

"Di sini bukan tempatnya. Dan aku tidak punya waktu untuk ini," ujar Alluna dingin, mencoba berjalan pergi.

Namun, Sagi memegang lengannya, membuatnya terpaksa berhenti. Sentuhan itu membuatnya merasa tidak nyaman.

"Sekali saja, Alluna. Dengarkan aku. Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu," kata Sagi dengan nada yang memohon, meski sorot matanya tetap menunjukkan obsesi.

Alluna menarik lengannya dengan cepat. "Jangan sentuh aku. Kalau kamu terus memaksaku, aku akan panggil keamanan."

Sagi tersenyum kecil. "Kamu tahu aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin memastikan kamu tahu perasaanku. Andrew tidak pantas untukmu, Alluna."

Kata-kata itu membuat emosi Alluna meluap. "Sagi, dengarkan aku baik-baik. Andrew adalah suamiku, dan aku mencintainya. Tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk mengubah itu."

Sagi terdiam sejenak, tapi tatapannya semakin gelap. "Kalau begitu, aku akan membuatmu sadar. Kamu akan tahu siapa yang lebih pantas untukmu, Alluna. Cepat atau lambat."

Alluna tidak menjawab. Ia hanya melangkah cepat keluar dari ruangan itu, merasa lega saat perawat keamanan segera menghampiri dan membawa Sagi keluar dari gedung.

Ketika Alluna pulang malam itu, Andrew langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

"Ada apa, sayang?" tanyanya, mendekat dan menggenggam tangan Alluna.

Alluna menghela napas panjang. "Sagi datang lagi ke rumah sakit, Mas. Dia bilang ingin bicara, tapi aku tahu dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang dia inginkan."

Andrew menegang, matanya mengeras. "Ini sudah kelewatan. Aku tidak akan membiarkan dia mengganggumu lagi. Besok aku akan urus ini."

"Mas, aku hanya ingin dia pergi. Aku tidak ingin ada konfrontasi," ujar Alluna dengan nada cemas.

Andrew mendekat, membelai wajah Alluna dengan lembut. "Tenang, aku tidak akan melakukan hal bodoh. Tapi aku juga tidak akan membiarkan dia terus mengancam kita. Kamu istriku, dan aku akan selalu melindungimu."

Alluna merasa lega mendengar itu, meski jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ini belum selesai. Sagi adalah pria yang keras kepala dan obsesif. Masalah ini mungkin akan lebih rumit dari yang mereka kira.

•••

Sagi duduk di dalam mobilnya yang terparkir di seberang rumah sakit, mengamati pintu masuk dengan pandangan tajam. Ia tidak benar-benar menyesal atas apa yang pernah dilakukannya kepada Alluna di masa lalu.

Kehilangan ingatan Alluna karena kecelakaan yang disengajanya hanyalah kesempatan yang dimanfaatkan untuk mencuci otak wanita itu.

Ia masih ingat jelas saat pertama kali Alluna membuka matanya di rumah kecil yang ia sewa khusus untuk “menjaga” wanita itu. Saat itu, Alluna yang polos, bingung, dan tanpa ingatan, hanya memiliki dirinya untuk bergantung.

Dengan manis, ia memanfaatkan kondisi tersebut untuk membangun hubungan palsu, meyakinkan Alluna bahwa ia adalah kekasihnya.

Sagi mengusap dagunya sambil mengingat bagaimana semua usahanya hancur ketika Andrew, pamannya, bekerja sama dengan Lea, kakak Alluna.

Mereka tidak hanya menemukan Alluna, tetapi juga mengatur terapi intensif untuk memulihkan ingatan wanita itu. Saat semua kenangan kembali, kebencian di mata Alluna terhadap dirinya menjadi pisau yang menusuk lebih dalam dari hukuman penjara yang ia terima.

Namun, itu tidak mengubah perasaannya. Cintanya kepada Alluna tetap sama. Obsesinya tetap menguasainya.

"Alluna," gumamnya pelan, tangannya mengepal erat di atas kemudi. "Kamu tahu bahwa Andrew tidak pantas untukmu. Dia hanya mengambilmu dariku. Tapi aku akan merebutmu kembali, dengan cara apa pun."

•••

Di rumah sakit, Alluna sedang duduk di ruang kerjanya, memeriksa laporan pasien. Namun, pikirannya terganggu oleh insiden sebelumnya dengan Sagi.

Meski ia sudah meminta keamanan untuk memperketat pengawasan, rasa tidak nyaman masih menghantuinya.

Saat ia tenggelam dalam pikiran, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal:

“Aku akan menunggumu, Alluna. Sampai kamu menyadari siapa yang benar-benar mencintaimu.”

Pesan itu membuat Alluna merasa mual. Ia tahu siapa pengirimnya tanpa perlu menebak. Tangannya gemetar saat mencoba menghapus pesan itu, tetapi rasa takut dan marah membanjiri pikirannya.

“Alluna, kamu baik-baik saja?”

Suara kolega dokter, Ryan, mengagetkannya. Ia segera memasang senyum tipis, menyembunyikan kecemasannya.

"Oh, tidak apa-apa, Dokter Ryan. Hanya sedikit lelah."

Ryan mengangguk, meski matanya menunjukkan kekhawatiran. "Kalau butuh istirahat, jangan ragu untuk bicara. Kamu sudah cukup sibuk hari ini."

“Terima kasih, Dok.” Alluna menutup pembicaraan dan kembali berpura-pura tenang.

Di sisi lain kota, Sagi duduk di apartemennya yang sederhana, memandang layar ponselnya dengan senyum samar. Ia memiliki rencana. Ia telah mengamati setiap langkah Alluna dan Andrew selama beberapa minggu terakhir. Ia tahu rutinitas mereka, jadwal mereka, bahkan siapa saja orang-orang di sekitar mereka.

“Andrew pikir dia menang,” gumamnya. “Tapi dia tidak tahu aku selalu selangkah lebih maju.”

Sagi membuka sebuah map di mejanya yang berisi foto-foto Alluna, baik saat di rumah sakit maupun saat bersama Andrew. Ia juga memiliki catatan kecil tentang kebiasaan dan kegiatannya.

Ini bukan obsesi baru baginya; ini adalah sesuatu yang telah ia pelihara sejak bertemu Alluna bertahun-tahun lalu.

"Aku akan mendapatkanmu kembali, Alluna," ujarnya dengan nada rendah namun penuh tekad. "Apa pun caranya."

Di luar sana, malam semakin gelap, dan permainan obsesif Sagi baru saja dimulai.

1
.🌶
Q masih penasaran, yg pertama mncintai al itu om ama sagi sih
.🌶
apa yg terjadi?? sagi hilang ingatan kah
.🌶
Q nyesek baca bab ini... tega nian ortunya
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
jangan sampai aluna diculik lg oleh sagi.
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
si sagi beneran gila terobsesi dengan luna
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
sepertinya andrew tau klo sagi sedang mengawasinya, andrew sengaja tidak menutup pintu untuk mengetahui reaksi sagi
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
begitulah tugas seorang dokter, tidak kenal lelah
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
tugas seorang dokter memang berusaha menyelamatkan pasien nya dan alluna mengerjakan nya dengan profesional, good lah
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
semoga kelakuan sagi cepat terlacak oleh orang 2 nya andrew
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
setia pada orang yang akan melakukan kesalahan itu namanya konyol jo
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
ada lagi yang seperti andrew kilburn, mau lah 1 😂
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
janganlah kita bertindak menyepelekan orang hanya karena melihat penampilan orang biasa saja. klo akibatnya bisa membuat kita menesal
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
sebagian orang terkadang memang suka melihat orang itu dr luarnya saja, tanpa tau siapa mereka. harusnya bersikap bijaklah dan ramah klo bertemu dengan siapa pun itu.
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
beruntung nya punya pasangan yang saling mencintai dan melindungi
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
lebih mengerikan dr orang gila nih sagi
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
kenapa sagi bisa masuk mansion, bukannya mansion selalu dijaga ketat, atau ini karena sagi terlalu pintar mengelabui orang.
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
andrew harus betul betul extra melindungi alluna
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
mungkin kah ada unsur kesengajaan sehingga kecelakaan itu terjadi?
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
sagi bener bener sakit
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
romantis terus nih sebelum datang kerikil kerikil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!