Aderson yang sering dipanggil Derson adalah laki-laki yang sangat kejam, suka kekerasan dan juga sangat membenci yang namanya perempuan.
Olivia yang kerap disebut Via datang kekehidupan Derson, Via mampu mengobrak abrik hati Aderson yang dingin dan sangat susah untuk dijangkau.
Jangan lupa dukung karya ini dengan tinggalkam jejak kalian ya, cukup dengan like, komen, vote, kasih hadiah mawarnya.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linasolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Jangan lupa kasih dukungan ya...
Kasih vote kalau bisa wkwkwk
🌛🌛🌛
Ditempat lain, Via yang melihat Derson marah-marah dan mengobrak-abrik isi kamar langsung mendekat kearah derson dan bertanya.
"Siapa yang menelfon kenapa kamu marah begitu?" tanya Via dengan hati-hati.
Dengan rapuh Derson langsung mendekat kearah Via lalu memeluknya.
"Aku memang kejam terhadap perempuan, tapi sampai saat ini aku belum pernah melecehkan seorang perempuan diatas ranjang, tapi kenapa adikku Lily mau dilecehakan para lelaki brengsek itu" Derson menangis dipelukan Via, hatinya sangat hancur sehancur-hancurnya adik yang selama ini ia jaga bagaikan berlian tapi tidak berharga dimata orang lain.
"Kamu tenang dulu ya.... siapa yang melecehkan Lily apa laki-laki itu mau mempertanggungjawabkan perbuatannya?" tanya Via pelan.
"Laki-laki berengsek itu tidak jadi melecehkan Lily karena James menolongnya".
"Sekarang Lily sudah aman, jadi kenapa masih marah-marah?".
"Obat perangsang yang Lily minum terlalu tinggi dosisnya, dan saat ini aku memaksa james untuk mengobati diatas ranjang".
"Sudah jangan menangis, semua pasti ada jalan keluarnya kamu tenang dulu ya" Via menepuk-nepuk pundak derson aga lebih tenang sedikit walaupun Via membenci Derson tapi hati kecilnya ikut merasa sedih melihat seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya bagaikan berlian.
"Kamu tenang dulu ya aku ambil air minum dari dapur" Via melepas pelukan Derson dari tubuhnya berjalan menuju dapur.
Via membawa air putih didalam gelas lalu menyerahkannya kepada Derson, penampilan kali ini sangat berbeda dari biasanya, sekarang keadaan derson sangat berantakan rambut acak-acakan dan juga wajah yang kusam akibat air mata yang selalu menetes dipipinya.
"Sebegitu berharganya kah Lily didalam hidupmu? sampai kamu prustasi begini, padahal kamu sudah memberi kepada orang yang tepat" batin Via.
"Kamu mandi dulu ya sudah sore, biar aku ambilkan baju untuk mu tidur" ucap Via hendak beranjak dari duduknya.
"Tidak usah mulai malam ini kita akan tidur dikamar utama. semua barang-barang mu akan dipindahkan oleh pelayan nanti, sekarang ikut aku kekamar ku aku mau mandi" ucap Derson lesu.
Via yang melihat keadaan Derson saat ini tidak tega untuk membantahnya, Via hanya bisa mengikuti langkah kaki Derson sebelum keluar dari kamar, Derson kembali menoleh lagi kearah Via.
"Kamu bawa baju tidurmu untuk malam ini apa kamu tidak mau mandi dulu" ucap Derson lagi.
"Kalau begitu aku akan menyusulmu, kamu duluan saja".
"Tidak, aku akan menunggu mu disini".
"Baiklah tunggu sebentar" Via berjalan kearah lemari untuk mengambil baju untuknya malam ini, berhubung dia akan tidur bersama Derson, Via memilih baju yang agak tebal dan celana yang panjang.
"Ok sudah siap, ayok" aja Via kepada Derson yang sedang berdiri didepan pintu.
Kedua orang itu berjalan menaiki tangga dengan posisi Via dibelakang derson.
Klek.... Derson membuka pintu lalu segera masuk menuju kamar mandi.
"Ambilkan baju untukku ya" ucap Derson lagi sebelum masuk kamar mandi dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Via.
Tidak menunggu lama Derson dan Via sudah selesai mandi, dan Via ingin segera turun untuk makan malam.
"Malam ini kita makan dikamar saja, kamu telfon pelayan ya" suruh Derson dengan lembut.
Selesai menelfon pelayan 3 menit kemudian ada beberapa pelayan datang untuk membawa makan malam untuk mereka, dan juga berbagai lauk pauk untuk dimakan.
"Terimakasih ya pak" ucap Via saat pelayan itu sudah selesai meletakkan makanan diatas meja.
"Sama-sama non Via, silahkan dinikmati" ucap pelayan itu sopan.
Derson yang dari tadi duduk saat melihat pelayan datang dia kembali menormalkan ekspresi layaknya tuan Aderson yang disegani banyak orang, tapi tiba pelayan itu semunya pergi Derson kembali loyo.
"Udah makan dulu jangan terlalu dipikirkan nanti kamu sakit kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga Lily?" Via memberi semangat kepada Derson.
"Terimakasih ya, aku janji nggak bakal sakit supaya bisa menjaga Lily dan juga kamu dari orang jahat" ucap Derson menatap mata Via yang duduk didekatnya.
Deg....
Ini pertama kali Derson berjanji kepadanya kalau Derson akan menjaga dirinya, akhirnya Via hanya bisa membalas dengan senyuman.
"Kalau begitu ayok makan dulu" ajak Via.
"Nggak, aku nggak mau makan sendiri".
"Aku juga makan" ucap Via sedikit menaikkan volume suaranya.
"Suapin" suara khas orang manja baru pertama kali didengar oleh Via dari seorang Aderson yang dulunya ia kenal sangat kejam dan tidak punya hati.
"Dasar bayi besar, sini mendekat" omel Via lalu menyendokkan makanan dari piringnya kedalam mulut Derson.
Beberapa kali Via hanya menyuapi Derson tidak ikut makan membuat Derson menyipitkan matanya.
"Kamu nggak mau makan?".
"Nanti siap kamu makan" jawab Via ingin menyedokkan makanan lagi kedalan mulut Derson, dengan gagahnya Derson meminta sendok ditangan Via.
"Buka mulut! udah aku bilang kamu itu harus kuat makan dan juga istirahat yang cukup biar badanmu yang kecil ini bisa membesar sedikit, kalau kek gini kecilnya bagaimana bisa kamu menggedong anak kita nantinya?" Omel Derson sambil menyuapi Via, kini sifat asli telah kembali setelah ada tenaga.
Uhuk.... Uhuk... Via tersendak mendengar ucapan Derson barusan, Via merasa Derson sudah mulai gila.
"Pelan-pelan kalau makan, masih banyak makanan kalau kurang tambah lagi" ucap Derson tidak peka dengan ucapan.
"Kamu sih, kalau ngomong saring sedikit".
"Aku ngomong apa? nggak ada yang aneh-aneh" ucap Derson, kembali menyuapi Via setelah Via siap minum dan rileks kembali.
"Apa dia sudah mulai gila ya? karena Lily" batin Via karena menurut Via malan ini Derson sangat aneh.
Via tidak mau berpikir aneh-aneh hanya bisa diam menerima makanan suapan dari Derson hingga semua nasi dan lauk pauk diatas meja habis dimakan oleh kedua insan itu.
"Haha lihatlah makanannya semu habis ternyata kita kuat juga makannya" ucap Derson sambil memperhatikan meja yang tinggal piring-piring tanpa sisa makanan sedikit pun.
"Iya ya?" tanya Via.
"Gitu dong... kamu itu harus makan banyak-banyak kalau perlu kita kedokter untuk meminta vitamin untukmu, agar kamu setiap hari kuat makan" ucap Derson sambil mengusap lembut rambut Via.
Yaudah kamu telfon pelayan untuk ambil piring kotor ini ya, aku mau keruang kerja sebentar kalau kamu ngantuk tidur duluan. diatas kasur ya bukan dilantai" Derson mengingatkan Via.
"Ok boss" jawab Via senang sambil menunjukkan jarinya kepada Derson tanda Ok.
Derson yang gemas melihat tingkah Via langsung mendekat dan menc*um bibir Via sekilas.
Plak.... tangan Via menampar bahu Derson karena terkejut dengan perlakuan Derson.
"Sakit lho" omel Derson.
"Makanya jangan bertindak yang aneh-aneh, sana pergi" usir Via.
"Aku pergi sayang, kalau ngantuk duluan tidur ya, bye sayang" ucap Derson lagi lalu berjalan pergi dari dalam kamar miliknya.
"Apa? Sayang? astaga dia memang sudah benar-benar gila, aku harus mengatakannya kepada Lily kalau Lily sudah sehat" batin Via lalu berjalan kearah telfon rumah untuk menelfon pelayan.
🌛🌛🌛
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, kasih dukungan buat aku biar tambah semangat buat up