Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 002: Resepsi yang Membeku
Pintu gedung resepsi terbuka tepat ketika pembawa acara meminta Hendra Prasetyo dan Ratna Lestari saling menyematkan cincin.
"Sebentar."
Suara Sari Wulandari tidak keras, tetapi musik organ langsung berhenti. Tamu yang sedang mengambil kue menoleh, anak kecil di dekat meja prasmanan ditarik ibunya, dan Hendra berdiri kaku di panggung dengan cincin masih di tangan.
Di ambang pintu, Sari berdiri dalam kain kafan. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan Nadia di belakangnya menggenggam ponsel seperti menggenggam pisau.
"Itu Bu Sari?"
"Bukannya tadi pagi meninggal?"
"Ya Allah..."
Bisik-bisik menyebar lebih cepat daripada suara pengeras. Sari tidak menunggu mereka selesai kaget. Ia melangkah masuk, lurus ke panggung kecil tempat Ratna mundur sampai bahunya menyenggol dekorasi bunga plastik.
"Sa... Sari?" Hendra akhirnya bersuara.
Sari berhenti di ujung karpet merah. "Kenapa? Kaget istrimu belum jadi jenazah?"
Pembawa acara menurunkan mikrofon dan menyingkir pelan. Hendra turun dari panggung, mencoba meraih lengan Sari, tetapi Nadia langsung mengangkat ponsel.
"Jangan sentuh Ibu."
Hendra menahan tangan di udara. "Kamu seharusnya di rumah. Dokter bilang..."
"Dokter salah. Kamu yang terlalu cepat bahagia."
Wajah Hendra menegang. Ia melirik tamu-tamu, lalu merendahkan suara. "Jangan bikin ribut. Kita bicara di luar."
"Kamu mengadakan acara di depan orang banyak saat aku dikafani, tapi aku harus bicara pelan di luar?"
Beberapa tamu yang duduk dekat panggung mulai mundur. Seorang ibu menyembunyikan kotak nasi di bawah kursi, seolah benda itu ikut bersalah. Di meja keluarga, Ibu Sri tidak terlihat. Sari tahu perempuan tua itu cukup pintar untuk tidak hadir di bagian yang bisa disalahkan, tetapi cukup dekat untuk menikmati hasilnya jika acara berjalan lancar.
Nadia bergerak ke sisi kiri, mengambil posisi yang bisa merekam Hendra, Ratna, dan dua kakaknya sekaligus. Sari melihat itu dari sudut mata. Anak perempuan yang tadi pagi gemetar di samping kain kafan kini tahu kamera bisa menjadi perisai.
Ratna turun dari panggung, masih berusaha menjaga senyum. "Bu Sari, kami semua mengira Ibu sudah meninggal. Saya turut bersyukur kalau Ibu masih hidup, tapi acara ini sudah..."
Tamparan Sari menghentikan kalimat itu.
Suara telapak tangannya menghantam pipi Ratna terdengar sampai barisan belakang. Ratna terhuyung, tangan menutup pipi, riasannya mulai retak bersama wajah manis yang tadi ia pamerkan pada tamu.
"Itu untuk kata tapi," kata Sari. "Tidak ada tapi setelah istri sah bangun dari kafan dan menemukan suaminya memasang cincin untuk perempuan lain."
Ratna membelalak. "Kamu tidak berhak mempermalukan saya. Hendra sudah tidak mencintaimu. Kami punya masa lalu."
"Masa lalu yang diberi rumah? Mobil? Uang bulanan? Atau masa lalu yang melahirkan Tania?"
Ruangan langsung riuh. Seorang kerabat Ratna yang duduk dekat meja keluarga menunduk pura-pura sibuk dengan piringnya. Beberapa tamu saling pandang, seolah potongan cerita yang selama ini beredar akhirnya punya nama.
"Jawab," kata Sari. "Kalau kamu berani memakai kebaya pengantin di hari kain kafanku dibentangkan, kamu juga harus berani menjelaskan siapa Tania."
Ratna membuka mulut, tetapi Hendra maju lebih cepat.
"Sari!"
Sari berbalik dan menamparnya.
Kepala Hendra berpaling. Sebelum ia sempat bicara, tamparan kedua mendarat di pipi satunya. Kali ini, tidak ada yang maju melerai. Mungkin karena kain kafan itu. Mungkin karena semua orang tahu dua tamparan masih terlalu ringan untuk laki-laki yang menikah di hari kematian istrinya.
Raka bangkit dari barisan depan. Bayu ikut berdiri, wajahnya pucat.
"Ma, cukup," kata Raka. "Semua tamu melihat."
Sari menatap anak sulungnya. "Kamu juga melihat. Adikmu menangis sendirian di samping kain kafan ibunya, sementara kamu berdiri di sini."
Raka kehilangan kata.
Bayu mendekat setengah langkah. "Ma, kami pikir Mama benar-benar meninggal. Ayah juga butuh didampingi."
"Ayahmu butuh didampingi saat menikah lagi?"
Bayu menunduk.
Raka membuka mulut lagi, lalu menutupnya. Wajahnya menunjukkan pertarungan kecil antara malu dan kebiasaan membela ayahnya. Sari tidak menunggu ia memilih. Selama bertahun-tahun ia terlalu sering menunggu laki-laki di rumah itu memilih benar. Hari ini, ia yang memilih jalan.
Hendra memegang pipinya, malu dan marah bercampur di wajahnya. "Kamu sudah gila."
"Belum." Sari mengambil mikrofon dari meja cincin. "Kalau aku gila, gedung ini sudah lebih berantakan."
Pengeras suara memantulkan napasnya yang pendek. Nadia berdiri di samping panggung, kamera tetap menyala.
"Nama saya Sari Wulandari," kata Sari. "Saya masih istri sah Hendra Prasetyo. Pagi ini saya dikafani setelah rumah sakit menyatakan saya meninggal karena keracunan makanan. Anak perempuan saya menemani saya. Suami saya dan dua anak laki-laki saya tidak ada di rumah karena mereka ada di sini."
Hendra melangkah untuk merebut mikrofon. Sari mengangkatnya lebih tinggi.
"Kalian boleh menyebut ini acara keluarga. Tapi ada pelaminan, cincin, katering, undangan, dan perempuanmu memakai kebaya merah. Jangan minta orang lain ikut pura-pura bodoh."
Beberapa tamu menunduk. Ada yang mundur ke pintu. Ada yang menyimpan ponsel cepat-cepat saat Nadia mengarahkan kamera ke arah mereka.
"Mulai hari ini, saya menggugat cerai Hendra Prasetyo di Pengadilan Agama. Saya juga akan memeriksa harta bersama, rekening usaha, rumah, mobil, transfer untuk Ratna, dan biaya anak yang disembunyikan selama pernikahan saya."
Warna wajah Hendra hilang. Kata harta jauh lebih cepat menembus harga dirinya daripada kata istri.
Ratna ikut pucat saat mendengar kata transfer. Tangannya yang tadi menutup pipi turun sedikit. Di wajahnya muncul rasa takut yang berbeda dari malu, seolah ia baru ingat uang bulanan, cicilan rumah, dan biaya sekolah Tania tidak turun dari langit.
Sari melihat perubahan itu dan menyimpannya dalam kepala, rapi untuk dipakai nanti saat waktunya tiba.
"Sari, jangan macam-macam."
"Aku baru bangun dari kain kafan, Hendra. Ancamanmu terlalu kecil."
Raka bergerak seperti hendak bicara, tetapi Nadia mengarahkan kamera padanya.
"Mas, kalau mau bicara, bicara di depan kamera. Jangan nanti bilang Ibu salah dengar."
Raka menatap adiknya. Malu akhirnya muncul di wajahnya, terlambat tapi nyata. Bayu menarik lengan kakaknya pelan.
Di antara tamu, seseorang mulai berbisik soal polisi, soal Pengadilan Agama, soal apakah acara seperti itu sah atau hanya akal-akalan keluarga. Hendra mendengar potongan kata itu dan rahangnya makin keras. Sari tahu, baginya masalah terbesar bukan luka istrinya, melainkan saksi yang terlalu banyak.
Ratna menangis lebih keras. "Mas, jangan biarkan dia pergi begitu saja."
Hendra memanggil nama Sari, namun tidak berani mengejar. Tamu-tamu sudah memandangnya seperti tontonan kotor, bukan kepala keluarga yang perlu dihormati.
Sari meletakkan mikrofon. Tenaganya hampir habis; lututnya mulai bergetar dan pandangan di tepi matanya menggelap. Nadia cepat menopang lengannya, dan kali ini Sari membiarkan.
Di pintu, Sari berhenti sebentar dan menoleh pada para tamu.
"Silakan lanjut makan. Nasi kotaknya jangan mubazir. Aibnya sudah telanjur matang."
Ia keluar sebelum Hendra menemukan jawaban.
Begitu duduk di mobil, seluruh tubuh Sari menggigil. Nadia menyalakan mesin dengan mata basah.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
Sari mengangguk. "Setelah itu ke rumah."
"Rumah?"
"Ambil dokumen. Buku rekening. Sertifikat kios. Kontrak kebun. Ponsel lama Ibu. Semua yang bisa jadi bukti."
Nadia mengunci pintu mobil. Dari kaca spion, Sari melihat Hendra berdiri di depan gedung dengan pipi merah dan wajah kosong. Di belakangnya, Ratna menangis dengan riasan yang luntur.
Raka keluar beberapa langkah dari pintu gedung, tetapi berhenti ketika Bayu menarik lengannya. Tidak ada yang mengejar sampai mobil. Sari tidak kaget. Anak-anaknya sudah terbiasa membiarkan Nadia melakukan bagian sulit.
Nadia melihat juga, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya memasukkan ponsel ke tas, memastikan rekaman tersimpan, lalu menyalakan mode pesawat sebentar agar file tidak terganggu panggilan masuk dari keluarga.
Sari tidak merasa menang. Belum. Hari itu ia baru mengambil kembali suaranya. Sisanya akan ia rebut satu per satu.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??