"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-Pura Lupa
"Ayo ta makan dulu" ujar Ammar yang menyodorkan nasi berwadah Styrofoam
"Gak bang Ita gak lapar" tolak Ita, ia masih belum tenang karena bapaknya belum sadar-sadar
"Nanti kamu sakit gimana? paling gak beberapa suap aja" ujar Ita
"Gak usah bang, abang aja yang makan"
"Kamu juga makan, sini abang suapi" Ammar mengarahkan sesuap nasi ke mulut Ita
Perlahan Ita membuka mulutnya dan menerima suapan Ammar
Serasa dunia milik mereka berdua, karena apa? karena mereka melupakan sosok yang tengah duduk di belakang sembari memakan cemilan yang ia beli tadi
"Mereka pikir ini tayangan live apa" batin Zofa, mulutnya tak henti henti mengunyah
Krauk krauk krauk
Makin lama makin kenceng suara kunyahannya, namun balik lagi dunia milik mereka berdua itu tandanya tak menghiraukan di sekitarnya
Namun sebentar lagi akan jadi milik bertiga, tunggu aja saat bapak Ita membuka matanya
Terus yang di belakang ntahlah abaikan saja
Tadi Ammar sempet membawa ibu mertuanya pulang untuk istirahat, mereka tak memperbolehkan ibu Ita menginap di sini karena takut akan mengganggu kesehatannya, sedangkan Chaca Ammar titipkan pada abi dan uminya tidak mungkin membiarkan bayi itu menginap di rumah sakit, niatnya Zofa mau menemani bayi itu tidur di rumah namun esok pagi ia harus bekerja akhirnya ia memilih ikut menginap di rumah sakit sembari membawa barang yang ia butuhkan untuk berangkat kerja biar tidak usah pulang ke rumah
"Bang kok bapak belum sadar-sadar ya?"
"Sabar bi, In Syaa Allah sebentar lagi" ujar Ammar menenangkan
"Ayo makan lagi" Ammar menyuapkan sendok demi sendok ke mulut Ita hingga nasi itu tandas masuk ke perut Ita
"Kalau udah makan kan tenang, biar gak ikut sakit, nanti malah ibu dan bapak khawatir" ujar Ammar tangannya mengelus pada pucuk kepala Ita yang tertutup jilbab
"Sial benar-benar nyamuk gue di sini" pekik Zofa dalam hati
"Serasa aku gitu ya yang orang ketiga, ya meski bener sih tapi..... au ah au ah gelap" gerutunya dalam batin
Ia bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan panas itu, ya panas akan semburan cinta dua sejoli dan apesnya lagi ia kena cipratan api tersebut
"Bukannya gue cemburu tapi..... tapi apa ya, masak iya cemburu, ah iya cemburu dalam arti yang berbeda" batin Zofa kesal, dari tadi ia debat dengan batinnya sendiri
Zofa berjalan keliling rumah sakit hingga ia nyasar, balik muter muter lagi sampai ia pusing sendiri
"Ini rumah sakit apa labirin" gerutunya
Zofa duduk di taman yang ia jumpai di sana, kakinya lelah, badannya lelah, pikirannya lelah, hatinya juga lelah
"Kapan ini semua berakhir dan jika berakhir akankah ada persoalan hidup lainnya" Zofa mendongak menatap beberapa bintang yang nampak malu-malu menampakkan dirinya
Puas merenungi nasibnya kini ia bangkit dari duduknya dan kembali ke kamar tempat bapak Ita di rawat, matanya sudah kelap kelip minta di tutup
"Zofa" panggil Ammar kala melihat pintu terbuka dan menampilkan sosok Zofa dengan wajah layunya karena mengantuk
Zofa menatap ke arah Ita yang sudah terlelap di kursi panjang bagian belakang yang tadi sempat Zofa duduki, Ammar memangku kepala Ita nampaknya posisi itu cukup nyaman, terbukti dari Ita ya g tertidur lelap
"Hay" sapa Zofa
"Kamu dari mana?"
"Bapaknya mbak Ita udah sadar?" Zofa malah bertanya hal lain
"Alhamdulillah sudah kemudian beliau tidur lagi
"Syukurlah" Zofa menggelar karpet yang tadi ia bawa, merebahkan tubuhnya di sana dengan bantal kecil yang ia jadikan guling tak lupa selimut untuk menutupi dirinya agar tak kedinginan
Tak membutuhkan waktu lama Zofa sudah terlelap, padahal Ammar belum sempat bertanya-tanya kemana Zofa tadi
***
Zofa berangkat ke kantor dengan abang-abang grab abang suaminya masih sibuk dengan urusan rumah sakit
"Akkhhh beneran kalian mau ngadain liburan?" tanya Zofa antusias
"Iya akhir pekan ini, gimana bisa ikut gak? merayakan kekompakan kita karena kegagalan tim kita kemarin" timpal pak Arif
"Mau lah, liburan ke mana ini emang?"
"Ke villa yang ada di gunung, kita mendaki naik naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali" celetuk Rani
"Berapa biayanya budget ku gak banyak loh mbak" ujar Zofa
"Berapa budget mu?"
"Ya paling gak 200an lah"
"Itu pelit apa hemat" timpal Adit
"Dihhh mas gak tau aja anak muda yang ambisius seperti ku"
"Ada perumahan murah, lumayan lah barangkali kamu tertarik" ujar pak Arif, karena waktu itu Zofa bertanya-tanya soal rumah
"Ehhh beneran pak berapaan emang, bagus gak tempatnya, kamarnya tiga kan? gak tingkat juga gak pa pa sih asal kamar mandi dua kamar tidur tiga ada ruang tamu ruang keluarga dapur halaman depan halaman belakang...."
Pletak
"Aduh mas bukan muhrim main sentil-sentil dahi orang aja" Zofa mengelus dahinya yang terasa nyut nyutan sentilannya lumayan juga
"Lagian kamu tuh cerewet banget sih, rumah seluas itu dengan budget murah mana ada rugi rugi dah tuh pemiliknya"
"Ya barangkali ada rezeki anak sholehah"
"Lagian ngapain sih mau beli rumah, nanti aja pas kamu mau nikah cari cowok yang udah punya rumah, biar enak ya masak kamu yang bawa suami kamu ke rumah kamu, kan lucu jadinya, dunia terbalik" timpal Rani
"Eh maksud lo apaan ran, nyindir gue"
"Ehhh lu nya aja yang kesindir"
"Udah udah mas Adit mbak Rani gak boleh ribut, sesama adik dan kakak ipar harus rukun ya kan pak Arif"
"Heem, jadi fiks ya liburan ke villa akhir pekan boleh bawa keluarga, biaya di tanggung sendiri sendiri"
"Siap"
"Ok"
***
"Iki" teriak Zofa kala melihat Iki di parkiran, tadi pria itu bilang ingin bertemu Zofa
Iki tersenyum kala melihat Zofa berjalan dengan langkah cepat ke arahnya
"Ayo masuk" Iki membuka pintu mobil dan mempersilahkan Zofa masuk
"Ada apa nih, mmm udah gak sibuk?" tanya Zofa
"Gimana kabar kamu?" tanya Iki
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri?"
"Baik, hehehe kamu bertanya seperti ini kayak udah lama gak ketemu aja" celetuk Iki sembari terkekeh
"Lah kan kamu duluan yang nanya kabar"
"Maksud aku gimana kabar rumah tangga kamu? bahagiakah atau malah sebaliknya?"
"Jangan tanya itu"
"Kenapa?" Iki melirik ke kursi sampingnya
"Kayaknya bentar lagi aku bakal jadi janda deh, nanti kalau aku janda kira-kira masih laku gak ya, kira-kira aku bakal dijauhi gak ya"
Iki tersenyum masam mendengar ucapan Zofa "Kenapa tiba-tiba menyimpulkan seperti itu"
"Kau tahu sendiri kan kehidupan ini keras terkadang tak sesuai dengan harapan kita, kau tahu perkataan orang itu dapat membunuh orang lain"
"Apa mereka menyakitimu?"
"Tidak..... aku hanya takut kelak akan mengalami kehidupan setelah perceraian"
"Hahahaha ternyata kamu masih memiliki rasa takut ya" Iki tertawa untuk meregangkan suasana
"Sebenarnya sih gak takut-takut amat, tapi takut akan berimbas pada keluarga ku"
"Kamu tenang aja masih ada aku di sini, nihhh kamu lihat bahu ini" Iki menepuk-nepuk pundaknya
"Siap untuk jadi sandaran kamu" ujarnya
Zofa tersenyum tipis, ia tahu Iki sedang menghiburnya "Oh ya untuk apa kamu menemuiku?"
"Mau merayakan ulang tahun, jangan bilang kamu lupa?"
Zofa menatap ke samping, memandang jalanan dengan nanar "Aku hanya ingin pura-pura lupa" batinnya
***
Zofa dan Iki telah sampai di sebuah tempat sembari memegang sebuah buket bunga yang nampak indah, bunga mawar merah yang sudah di rangkai sedemikian rupa, mereka akan mempersembahkan bunga ini sebagai hadiah ulang tahun terindah, mereka berjalan melewati beberapa orang yang tengah berbaring di sana, berbaring dengan tenang tanpa pernah bisa bangun kembali
"Assalamualaikum" sapa mereka berdua
"Selamat ulang tahun, hari ini adalah hari dimana seharusnya umur kamu berkurang"
"Oh ya aku lupa bahwa umur kamu sudah habis dan tak bisa di kurangi lagi" ujar Zofa mengelus batu nisan itu
"Egi..... terimakasih atas semuanya"
Setelah berdoa Zofa bangkit dari duduknya, sekilas ia mengusap matanya yang nampak berair
"Ayo pulang" tanpa menunggu jawaban Iki Zofa terlebih dahulu pergi meninggalkan Iki
"Aku akan menjaganya untukmu dan memastikan ia hidup bahagia"
"Seperti janjiku dulu"
"Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya...... Regian Syahputra"
Ujar Iki, ia mulai berdiri dan meninggalkan Egi menyusul Zofa yang sudah menunggunya di mobil
***
🌹🌹🌹