Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12 - Sekolah Baru
Lila tidak menangis saat bangun pagi.
Ia hanya duduk di sudut kasur, memeluk lutut, menatap pintu kamar.
Naya terbangun karena merasa ada yang menatapnya. Begitu melihat Lila duduk diam, dadanya sakit.
"Kamu sudah bangun?"
Lila mengangguk.
"Takut?"
Anak itu menunduk.
Naya bangkit perlahan, tidak mendekat terlalu cepat.
"Kalau kamu bangun dan Mama masih tidur, kamu boleh panggil. Kalau belum bisa pakai suara, sentuh tangan Mama. Tidak apa-apa."
Lila menatapnya, seolah menimbang apakah aturan itu benar.
Naya mengulurkan tangan.
Lila ragu, lalu merangkak mendekat dan menyentuh ujung jarinya.
"Bagus," bisik Naya. "Begitu."
Hari-hari pertama berjalan pelan. Lila makan sedikit, tidur sebentar-sebentar, dan selalu membawa sepotong kain kecil dari baju Naya. Jika pintu diketuk, ia bersembunyi di belakang sofa. Jika ada suara laki-laki dari koridor, tubuhnya gemetar.
Naya harus bekerja.
Nenek Sari masih dirawat.
Lila tidak bisa ditinggalkan sendirian.
Raka membantu mengatur pengasuh sementara dari lembaga resmi, tetapi Lila menolak semua orang. Ia akan diam seperti patung, lalu muntah karena takut.
Naya akhirnya membawa Lila ke kantor selama dua hari, menyembunyikannya di ruang arsip kecil saat jam sibuk. Bu Lestari hampir meledak ketika tahu.
"Ini kantor, bukan tempat penitipan anak!"
"Maaf, Bu. Saya sedang cari sekolah."
"Cari cepat. Kalau manajemen tahu, saya yang kena."
Kabar itu sampai ke Arkan sebelum makan siang.
Ia memanggil Naya ke ruang kerjanya.
Naya masuk dengan wajah siap dimarahi.
"Duduk."
"Kalau soal Lila, saya..."
"Rayyan sekolah di Tunas Mentari International Kindergarten. Mereka punya psikolog anak dan program pendampingan."
Naya menatapnya. "Tidak."
Arkan bersandar di kursinya. "Aku belum selesai."
"Saya tahu ujungnya. Sekolah mahal, fasilitas bagus, dan Bapak akan bilang bisa diurus."
"Memang bisa."
"Lila bukan proyek amal keluarga Wiratama."
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi semua yang Bapak lakukan terasa seperti itu."
Arkan diam.
Naya sadar nada suaranya terlalu tajam, tetapi ia tidak menariknya kembali. Ia sudah terlalu sering melihat orang kaya memberi sesuatu sambil diam-diam memegang tali di ujungnya.
"Lila butuh tempat aman," kata Arkan akhirnya. "Kamu butuh bekerja. Aku butuh memastikan dia tidak disembunyikan di ruang arsip dan ketakutan setiap ada orang lewat."
Naya meremas tangan.
"Biayanya?"
"Masuk ke utangmu."
"Utang saya sudah terlalu banyak."
"Kalau begitu anggap beasiswa."
"Dari siapa?"
"Yayasan keluarga."
"Kenapa yayasan keluarga Bapak memberi beasiswa pada anak saya?"
Arkan menatapnya lurus.
"Karena anakmu korban kekerasan dan butuh bantuan. Yayasan itu memang untuk anak-anak seperti dia."
Naya tidak langsung menjawab.
Kali ini alasannya masuk akal. Terlalu masuk akal sampai ia sulit menolaknya tanpa mengorbankan Lila.
"Saya mau melihat sekolahnya dulu."
"Raka antar."
"Saya antar sendiri."
"Kamu kerja."
"Saya ibunya."
Kata itu membuat ruangan senyap.
Arkan mengangguk pelan.
"Baik. Kamu antar sendiri."
Tunas Mentari berada di kawasan hijau Jakarta Selatan, jauh dari gang sempit dan panti tua. Gerbangnya cerah. Ada mural hewan, taman bermain, satpam ramah, dan anak-anak memakai seragam kecil yang rapi.
Lila menggenggam tangan Naya begitu kuat sampai kukunya menekan kulit.
"Kalau tidak mau, kita pulang," bisik Naya.
Lila menatap taman bermain.
Matanya takut, tetapi ada rasa ingin tahu.
Seorang guru bernama Bu Karin menyambut mereka tanpa ekspresi kasihan berlebihan. Itu membuat Naya sedikit lega.
"Kami tidak akan memaksa Lila langsung bergabung," kata Bu Karin. "Hari pertama hanya observasi. Dia boleh duduk dengan Ibu di kelas."
"Saya tidak bisa setiap hari menemani."
"Nanti bertahap. Ada psikolog sekolah yang bisa membantu."
Naya mengangguk.
Saat mereka melewati kelas kecil, seorang anak laki-laki berlari keluar.
"Papa bilang Tante Naya datang!"
Rayyan.
Naya belum sempat bereaksi. Rayyan sudah berhenti di depan Lila.
Dua anak itu saling menatap.
Rayyan biasanya banyak bicara. Pagi itu ia diam.
Lila juga diam.
Mereka berdiri di koridor, dua wajah kecil yang berbeda luka tetapi anehnya serupa. Bentuk mata. Garis alis. Cara mereka memiringkan kepala saat bingung.
Bu Karin melihat mereka, lalu melihat Naya.
"Mereka sudah saling kenal?"
Naya menjawab cepat, "Belum."
Rayyan mengangkat tangan kecil. "Aku Rayyan."
Lila mundur setengah langkah.
Naya menunduk. "Tidak apa-apa. Dia tidak akan menyakitimu."
Rayyan mendengar itu. Wajah kecilnya berubah serius.
"Aku tidak pukul anak perempuan."
Naya hampir tersenyum.
Rayyan merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan permen susu.
"Ini. Kalau kamu takut, makan ini. Manis."
Lila menatap permen itu lama.
Tangannya bergerak sedikit, lalu berhenti.
Rayyan tidak memaksa. Ia meletakkan permen itu di lantai bersih di antara mereka, lalu mundur dua langkah.
"Aku taruh sini. Kalau mau, ambil. Kalau tidak, nanti aku makan sendiri. Tapi aku sudah sikat gigi, jadi jangan bilang Papa."
Bu Karin tertawa kecil.
Naya menutup mulut, menahan rasa yang naik ke tenggorokan.
Lila menatap Naya.
Naya mengangguk.
Perlahan, Lila mengambil permen itu.
Rayyan tersenyum lebar, seperti baru memenangkan lomba besar.
"Dia ambil, Tante!"
"Iya," suara Naya serak. "Dia ambil."
Hari itu Lila tidak masuk kelas penuh. Ia duduk di sudut dekat Naya, memegang permen yang belum dibuka. Rayyan beberapa kali menoleh dari mejanya. Setiap kali guru bertanya, ia menjawab cepat lalu kembali melirik Lila.
Saat jam istirahat, Rayyan menghampiri lagi.
"Kamu mau lihat kelinci sekolah?"
Lila menatap Naya.
"Kalau mau, Mama ikut," kata Naya.
Rayyan mengangguk semangat. "Tante ikut juga."
Mereka pergi ke taman kecil di belakang. Ada dua kelinci putih di kandang. Lila berjongkok, matanya sedikit lebih hidup.
Rayyan berkata pelan, "Kelinci tidak suka suara keras. Jadi aku juga bisa diam."
Ia lalu benar-benar diam.
Lila menoleh padanya.
Untuk pertama kalinya, sudut bibir anak itu bergerak sangat kecil.
Naya melihatnya.
Air matanya hampir jatuh.
Dari lantai dua gedung administrasi, Arkan berdiri di balik kaca.
Ia datang tanpa memberi tahu Naya. Raka di belakangnya memegang map pendaftaran Lila.
"Pak, sekolah meminta data wali. Untuk sementara atas nama Mbak Naya. Tapi mereka juga meminta kontak darurat kedua."
Arkan melihat Naya yang berjongkok di belakang dua anak itu, menjaga jarak cukup dekat untuk melindungi, cukup jauh untuk membiarkan Lila mencoba.
"Pakai nomorku."
Raka terdiam.
"Pak?"
"Pakai nomorku."
Di bawah, Rayyan mengambil satu permen lagi dari saku dan memberikannya kepada Lila.
Kali ini Lila tidak menunggu terlalu lama.
Ia menerima.
Arkan menatap dua anak itu.
Pertanyaan dalam kepalanya semakin keras.
Jika Rania benar ibu Rayyan, kenapa anaknya justru terlihat seperti pulang saat bersama Naya dan Lila?
Pertanyaan itu belum selesai ketika ponsel Raka bergetar.
Ia melihat layar, lalu mendekat setengah langkah. "Pak, pihak sekolah bilang ada satu masalah kecil."
Arkan tidak menoleh. "Apa?"
"Nama Lila belum masuk Dukcapil dengan jelas. Akta yang dibawa Mbak Naya hanya salinan dari panti, bukan dokumen lahir. Kalau nanti ada kegiatan luar sekolah, mereka perlu data asal anak."
Arkan akhirnya berbalik.
"Asal anak?"
Raka tahu ia salah memilih kata. "Maksud saya, asal administrasi."
Di bawah, Naya sedang membantu Lila melepas tali tas yang tersangkut di kursi kecil. Gerakannya hati-hati, seperti takut sentuhan yang terlalu cepat membuat anak itu kembali menutup diri.
Arkan menatap itu lama.
"Urus," katanya.
"Dengan nama siapa?"
"Naya Prameswari."
"Kalau pihak panti menolak?"
"Panggil pengacara."
Raka mengangguk, tetapi masih berdiri.
Arkan melihatnya. "Ada lagi?"
"Keluarga Pradipta menelepon kantor pusat. Mereka bertanya kenapa Pak Arkan mengurus anak dari perempuan itu."
Senyum Arkan dingin.
"Perempuan itu menyelamatkan anakku. Mereka pernah melakukan apa untuk Rayyan selain membawa kamera dan karangan bunga?"
Raka tidak menjawab.
Di halaman, Rayyan tiba-tiba menarik kursi kecil untuk Lila. Anak perempuan itu ragu, lalu duduk. Naya menatap mereka dengan mata basah, tetapi ia cepat menunduk supaya tidak terlihat.
Arkan melihat semuanya.
Ia tidak tahu kenapa pemandangan sederhana itu terasa seperti bukti.
Belum cukup untuk pengadilan.
Tapi cukup untuk membuatnya mulai melawan keluarganya sendiri.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕