Lily terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Dante tidak pernah mencintainya. Dante menikahi Lily hanya untuk membayar hutang Budi orang tuanya kepada orang tua Lily.
Namun sebuah kecelakaan membuat keadaan berubah. Dante didiagnosa menderita cedera otak parah yang membuatnya kehilangan ingatan jangka pendek.
Dante hanya mengingat apa yang terjadi hari ini, lalu setelah dia tertidur dia akan melupakan semua. Begitu setiap harinya.
Inilah kesempatan bagi Lily untuk membuat suaminya bisa menerima dan mencintainya sepenuh hati.
Inilah kesempatan bagi Dante untuk memperbaiki kesalahan besar yang telah dia perbuat.
Namun, kehidupan tidak semudah itu untuk memberi mereka kebahagiaan.
berhasilkah mereka membangun Rumah tangga bahagia atau bahkan perceraian adalah jalan terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tata Tetott, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Buku Harian Dante - 3
Hari ini, saat aku baru saja terbangun, lagi-lagi aku terprovokasi dengan buku ini. Ku baca ulang kembali tulisan yang ku tulis malam sebelumnya. Hal itu terang saja bisa membuatku lebih terkontrol, lebih memahami rasa sakit yang ku rasa, lebih mengerti keadaanku sendiri.
Tept saat aku melefakan buku harian itu di atas nakas, suara ketukan pintu terdengar.
"Siapa?" teriaku pelan untuk merespon ketukan pintu itu.
Tidak ada sahutan. Sepertinya aku tahu siapa itu.
"Lily, apa itu kau?" tanyaku untuk memastikan.
Tetap tidak ada sahutan, namun bisa kukihat gagang pintu bergerak turun pintu terbuka perlahan. Sesosok perempun terlihat berdiri sambil memegangi nampan tang di atasnya terdat segelas air putih. Perempuan itu mirip dengan deskripsi yang kutulis di buku harianku. Tidak salah lagi, dia Lily.
"Selamat pagi, Lily," sapaku sambil tersenyum meski sebenarnya agak canggung.
"Mas Dante, mengenaliku?" tanyanya pelan masih tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Tentu saja, kamu istriku, kan?"
Dia diam, ekspresinya menunjukan seolah dia terkejut dan bingung dengan mata membulat dan bibir merah terbuka.
"Apa yang kamu bawa? Obatku?" tanyaku.
Dia menatap nampan yang ada di tangannya kemudian menatap ke arahku bergantian secara berulang.
"Apakah aku yang harus berjalan ke sana untuk mengambil obatku? Atau kamu yang berjalan ke sini untuk mengatakan obat itu pada suamimu yang cacat ini," ucapku dibarengi tawa, mencoba mencairkan kecanggungan yang kurasa.
"Apa yang Mas Dante katakan? Jangan berkata begitu," ucap Lily sebelum kemudian maju selangkah. Selangkah lagi, dan langkah-langkah demi langkah yang akhirnya mengantarkan dia tepat berdiri di sebelah aku duduk di tempat tidurku.
"Duduk, Ly," pintaku sambil mengusap sisi kosong kasur di dekat kakiku. Percayalah, tanganku gemetar saat itu.
Lily meletakan nampan di atas nakas kemudian duduk di tempat yang sebelumnya kuusap. Nampaknya bukan hanya aku yang dilanda kegugupan dan kecanggungan, dari ekspresi wajahnya, kulihat Lily juga merasakan hal yang sama.
Tangan Lily bergetar saat memberikan obat dan gelas berisi air ke tanganku.
Beberapa butir obat ku konsumsi dalam kebisuan, tak tahu harus berkata apa, sampai tegukan terakhir air, aku mencoba berbicara lagi.
"Bagaimana tidurmu, Ly?" tanyaku.
Lily menatapku bingung.
"Apa pertanyaanku terdengar Aneh? Maaf, jujur saja aku merasa agak canggung."
"Canggung?" Lily mengulangi kata terakhir yang kuucap sebelumnya.
"Ya, semacam itu. Aku, masih berusaha mencerna apa yang terjadi, Ly, jadi mohon kamu bisa memakluminya, sebenarnya aku tidak menyangka kalau aku sudah menikah, aku tidak mengingatnya, ku rasa kamu lebih paham kondisiku."
"Jadi, Mas Masih tidak mengingat apa-apa?" tanya Lily.
"Aku mengingat beberapa Ly, Aku mengingat dua hari terakhir, aku mengingatmu, aku mengingat Revan yang kemarin menginap di sini juga alasan mengapa Revan menginap, karena kamu pergi ke rumah orang tuamu, kan? Ayahmu mengalami kecelakaan, kan? Bagaimana keadaan papahmu sekarang?" terangku di barengi dengan tanya.
"Papah baik-baik saja. Tunggu sebentar. Bagaimana Mas Dante bisa mengingatnya, bukankah sebelumnya ...." Dia menggantung kalimatnya, namun aku paham apa yang dia maksud.
Selanjutnya, kujelaskan padanya tentang Revan yang menyarankanku untuk menulis buku harian. Kujelaskan juga efek positif setelah aku menulis apa yang kualami setiap harinya.
Lily, tersenyum. Senyumnya manis sekali, senyum termanis yang pernah kulihat. Iya, seingatku aku tak pernah melihat senyum semanis senyum milik Lily. Anehnya, begitu melihat Lily tersenyum, seketika bibirku ikut tersenyum. Apa karena aku merasakan sesuatu yang tiba-tiba saja menggelitik perutku.
"Aku senang mendengarnya, Mas," ucap Lily masih dengan tersenyum.
"Aku senang jika kamu senang," balasku. Seketika, bukan hanya senyum Lily yang mengembang semakin lebar, namun seluruh wajahnya menjadi memerah.
"Ly, boleh aku meminta sesuatu?" tanyaku setelah jeda diam.
"Tentu," jawab Lily singkat.
"Soal buku harianku, aku mohon kamu jangan membukanya apalagi membacanya. Aku ... hhmm ... malu, jujur saja aku belum pernah menulis buku harian, jadi aku merasa agak malu jika orang lain membaca apa yang aku tulis di sana.
Lily tertawa kecil. "Aku juga tidak akan membiarkan siapa pun membaca buku harianmu Mas. Tenang saja aku tidak akan membacanya."
Aku juga tertawa kecil. "Kamu berjanji?"
"Aku berjanji. Pinky promise." lili mengacungkan jari kelingkingnya, kuacungkan juga jari kelingkingku, lalu ku kaitkan di kelingking Lily lalu kami saling menatap dan tanpa ada sepatah kata lagi, senyum kami merekah bersamaan.
***
Lily benar-benar banyak membantuku melakukan aktifitas. Mulai dari Minum Obat, menyiapkan sarapan, makan siang, makan malam, mendorong kursi roda ku ke sana ke mari dan juga menyiapkan pakaianku. Hanya satu yang tidak dia bantu. Mandi.
Aku tidak memintanya membantuku untuk mandi, mungkin jika aku meminta, dia mau membantuku. Hanya saja, aku merasa, aneh. Iya,aku tahu dia istriku, hanya saja rasanya asing jika dia membantuku untuk mandi, seolah ada rasa malu jika harus melepaskan semua pakaianku di depannya. Aku juga tidak mengerti mengapa aku begini, Lily terasa masih asing.
Lily tidak banyak bicara, dia hanya bicara seperlunya, jika aku bertanya dia akan menjawab, jika aku diam aku juga diam. Lily sepertinya tidak pandai membuat topik pembicaraan, tapi dia sering tersenyum padaku, dia selalu tersenyum saat kami saling menatap baik tatapan sengaja atau tatapan tak sengaja. Kuberanikan diri beberapa kali menyentuh tangannya, sentuhan yang membuat Lily tersenyum malu, sentuhan yang membuat perutku terasa bergelitik aneh.
Sensasi macam apa ini?
Kami memutuskan untuk menonton film untuk membunuh kebosanan. Kami memilih secara random Film yang sama-sama belum pernah kami tonton dan pilihan kami jatuh pada film berjudul Me Before You.
Karakter pria dalam film itu sama seperti diriku, berkursi roda, dan peran wanita pada film itu mirip dengan Lily, merawat lelaki cacat. Bedanya, Louisa, nama wanita dalam film itu berperan sebagai yaa semacam asisten pribadi, sedangkan peran Lily di kehidupan nyata adalah sebagai istri dari seorang lelaki cacat ini.
Lily benar-benar terharu menyaksikan film ini, sampai-sampai kulihat dia meneteskan air mata.
"Cowok yang di film tadi sama kayak aku, cacat," komentarku begitu kami selesai menonton film tersebut.
"Kamu pasti sangat lelah merawat lelaki cacat seperti aku ini," tambahku.
"Mas bicara apa sih?"
"Ly, apa aku harus mati saja biar penderitaanmu berakhir?"
"Mas!" Lily melotot kepadaku.
"Ya, kan, daripada aku nyusahin kamu."
"Mas, tolong jangan bicara seperti itu lagi, aku sama sekali tidak keberatan kok merawat Mas Dante, lagi pula, Mas punya peluang kesembuhan yang besar, di tambah lagi jika Mas rutin melakukan Fisioterapi, dalam waktu dekat Mas mungkin sudah bisa berjalan dengan normal."
"Fisioterapi?" tanyaku.
"Iya, Mas akan melakukan Fisio terapi setiap hari jum'at. Catat ini juga fi buku harian Mas agar Mas Dante bisa ingat, oke? "
"Oke," jawabku antusias.
***
Malam sebelum tidur, seperti biasa kusempatkan untuk menulis apa yang kualami seharian ini di dalam buku harian. Namun malam ini agak berbeda, setelah aku selesai menulis, pada halaman berikutnya, aku memutuskan untuk melukis sketsa wajah Lily dengan pencil. Tujuannya, agar saat aku terbangun dan membuka buku harian ini aku langsung mengingat wajah Lily, tidak hnya menerka dari deskripsi tentang bagaimna bentuk wajah Lily seperti sebelumnya.
Kupejamkan mata, mencoba berkonsentrasi, mencoba melukiskan lagi rupa Lily dalam kepalaku, bibirnya, matanya, hidungnya, rambutnya, senyumnya, kubayangkan secara detail dalam otakku, lalu kurepleksikan melalui goresan pensil diatas kertas. Aku ingin melukisnya semirip dan senyata mungkin.
Ingatanku masih cukup bagus untuk mengingat bagaimana wajah Lily, seharian ini aku selalu menatapnya, kucermati caranya tersenyum, caranya diam, caranya terharu,caranya menangis saat menyaksikan film.
Dan beginilah hasil sketsa wajah Lily yang kubuat.
Besok pagi aku akan tebangun, membaca buku ini dan menatap sketsa ini dan semuanya akan menjadi normal, aku siap untuk kehidupan pernikahan yang normal dengan tetatap terus mengingat nama serta wajah cantik istriku.
Aku akan belajar mencintainya, Lagi.
Tunggu. Seperti apa rasa cintaku dulu pada Lily?
Entahlah, aku tak ingat. Aku yakin aku sangat mencintainya, secara dia begitu cantik dan baik hati.
^^^Ardate, penderita Anterograde Amnesia.^^^
__________________Bersambung____________________
Hehehehee .... iya, tau kok lama. Maafkan saya ya. Mood saya benar-benar terjun bebas beberapa hari terakhir ini karena satu dan lain hal. Kasih saya semangat dong biar bisa rutin update, caranya, komen sesering mungkin di cerita ini, tekan tombol like dan vote sebanyak-banyaknya, kalo boleh juga ajakin temen kalian buat baca cerita ini. Makin banyak viewers makin semangat juga saya updatenya. hohohoo ... author banyak mau bnget yaa, huhuhuu ... maafkan, maklum pemula. 🤭
Gimana? Suka enggak sama visual Lily versi saya?
Udah dua kali nih visual Lily saya tampilin, apa visual Dante perlu ditampikan juga?
Kalau iya, kira-kira siapa yaa yang cocok jadi Dante? Saya bingung.
Jujur nih ya, selama nulis karakter Dante ini saya ngebayangin wajah temen saya, Orang India, cakep banget. 😭😭
Masa iya sih foto dia saya tampilin di cerita ini? Kan nggak etis ya? Secara dia bukan Public figure, hanya orang India biasa yang punya ketampanan luar biasa. ya elah lebay.
Komen dong, kalian maunya kira-kira siapa yang jadi Dante? cast Lokal, Bule, Korea, India, Turki atau apa?
Komen ya! Jangan diskip.
Udah ah segini dulu cuap-cuapnya, saya tunggu komen dari kalian.
See you ....