Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, akan tercium juga. Begitulah kata pepatah.
Meira Andana, gadis cantik yang baru menginjak kelas 3 SMA. Harus menikahi CEO tampan yang sifatnya random sekali.
Karena unsur persahabatan Papanya dengan Papi CEO, ia pun setuju untuk menikah. Ekonomi keluarga menurun karena sang Papa meninggal dalam kecelakaan tabrak lari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siska febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
"OMAAA DATANG!!" teriak Mami saat masuk ke dalam rumah Reyhan.
Kompak Reyhan dan Alea yang sedang bergurau di ruang tamu menoleh. Alea tersenyum lebar saat melihat boneka besar yang dibawa oleh Mami untuknya.
Meira segera mencuci tangannya saat membantu Mbok memasak di dapur, ia menuju ke ruang tamu.
Alea menghampiri Mami dengan langkah kecilnya. Di belakang Mami berdiri Papi yang membawa mobil mainan bewarna merah muda untuk Alea.
"Ini untuk Lea?" tanya Alea mengambil boneka yang berada di tangan Mami dan memeluknya erat.
"Ini untuk cucu kesayangan Oma. Kamu suka nggak?"
"Suka...." Alea bingung mau memanggilnya apa.
"Panggil Oma dan itu Opa punya mainan juga untuk Alea."
Alea segera menghampiri Papi dan menaiki mobil itu. Papi mengajarkan Alea cara bermain mobil ini.
Baru beberapa waktu saja mereka sangat akrab sekali. Antusias kedua orangtua Reyhan menyambut Alea. Tak membedakan mau itu cucu kandung atau bukan.
Meira senang melihatnya jika kedua orangtua Reyhan suka pada Alea. Reyhan berdiri di samping Meira yang tersenyum senang melihat anaknya bermain.
"Kado yang indah untuk Mami sama Papi," kata Reyhan.
"Iya, aku nggak nyangka kalo mereka bertiga bakalan cepat akrab."
"Meira sayang," sapa Mami dan memeluk Meira erat. Mengecup pipi Meira juga.
Mami menampilkan senyumannya. "Coba dari dulu kayak gini. Jadi Mami sama Papi ada teman main. Nggak kesepian lagi."
"Syukur deh kalo Mami sama Papi suka. Mei mau lanjut masak ya. Mami main aja dulu."
Mami mengangguk saat menawarkan dirinya untuk membantu. Meira menolak dan menyuruh Mami untuk duduk saja.
Di ruang tengah suara sangat ribut sekali saat keluarga kecil itu sedang bergurau. Alea membawa kebahagiaan di keluarga ini.
Ponsel Reyhan berdering. Tertera nama Monica disana. Ia menuju ke kolam renang untuk menjawab panggilan Monica.
"Reyhan, aku ketemu gaun bagus banget. Ini cocok untuk pernikahan kita. Kamu dimana sekarang, aku mau tunjuk pakaian sama kamu."
"Aku libur kerja."
Kening Monica berkerut. Sejak kapan pria itu libur kerja kok ia tidak tau. Monica berada di butik gaun pernikahan. Ia tak sabar menunggu Reyhan melamar dirinya dan memilih gaun pengantin.
"Kamu nggak kasi tau aku tentang libur kerja?"
"Maaf, aku lupa."
"Yaudah nggak papa. Hari ini aku ada pemotretan dulu. Siangnya ketemuan di cafe biasa ya. See you sayang."
Reyhan baru ingin menjawab, mengatakan kalo ia tidak bisa. Namun Monica mematikan sambungan ponselnya secara sepihak.
Reyhan berbalik ingin ke ruang tengah lagi. Ia terkejut melihat Papinya yang berdiri menatap tajam dirinya.
Terlihat jika dari mata Papinya memiliki isyarat yang banyak. Reyhan terdiam, Papi mendekati Reyhan.
"Kamu masih berhubungan dengan Monica itu?"
Enggan untuk menjawab. Reyhan tak bisa melepaskan Monica begitu saja. Karena masa lalunya sangat sulit, ia juga tidak bisa melepaskan Meira. Keduanya berarti di hidup Reyhan.
"Kamu pria sejati 'kan?"
"Putuskan dari sekarang sebelum kamu memperburuk keadaan."
"Ingat Nak. Sepandai-pandainya kamu menyimpan bangkai, akan tercium juga nantinya. Jangan sampai menyesal, meninggalkan berlian hanya untuk seonggok sampah tak berguna."
Keluarga Reyhan memang tidak suka dengan Monica. Wanita itu selalu mementingkan diri sendiri dan tidak begitu sopan pada keluarga Reyhan.
Monica bukan lah pasangan yang baik. Reyhan tak pantas bersanding dengan Monica. Karena wanita itu licik dan hampir mencelakai Mami, namun kepercayaan Reyhan ada pada Monica bukan Mami yang jelas jelas ibu kandungnya.