NovelToon NovelToon
(Not) A Perfect Boy

(Not) A Perfect Boy

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Misteri / Cintamanis / Tamat
Popularitas:277.7k
Nilai: 4.3
Nama Author: RiniAngraini

Awalnya Adeeva ingin mencari pacar yang tergolong dalam sebutan good boy agar ia bisa memiliki pasangan yang baik dan hidup dengan nyaman nantinya. Namun bagaimana jika takdir malah mempertemukannya dengan cowok yang jauh dari kata sempurna? Suka bolos. Jahil. Pakaian jauh dari kata rapi. Namun ia tak mengetahui sisi lain dari cowok itu. Karena ia adalah cewek keras kepala yang selalu berasumsi sendiri atas apa yang dilihatnya. Tapi bukankah segala sesuatu yang kita lihat belum tentu kebenarannya kan?

Arsenio Juvenal Candrakanta, cowok yang susah ditebak, sedikit nakal, dan tidak peka. Arsen dengan ketidaksempurnaannya menganggap status itu tidak penting. Karena baginya yang terpenting itu adalah rasa. Tapi...bukankah bagi cewek keduanya begitu penting?

'I'm not the perfect boy like your dreams. Here I am, someone who loves you in his way'

***

Ceritanya telah diremake di akun w*ttp*d @Biebalms_h

Penasaran dengan kisahnya? Yukk baca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RiniAngraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 32

Happy Reading

.

.

.

Resya terbangun merasa pusing di kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya . Ia tidak merasa asing dengan ruangan ini. Tentu saja. Ia berada di kamarnya sendiri.

Tapi tunggu, bukannya ia berada di club tadi malam? Kenapa ia tiba-tiba berada di kamarnya sendiri?

Resya ingat, tadi malam ia mengikuti Dion dan tiba-tiba ada yang membekapnya. Apa tujuan orang itu membekapnya? Apa hanya untuk mengantarnya pulang? Yang benar saja. Siapa kira-kira orang bodoh itu? Orang idiot yang sudah menggagalkan rencananya untuk mengikuti Dion. Kalau begini bisa-bisa ia tidak memiliki bukti apapun. Apa dia orang suruhan orang tuanya?

"Shit!"

Resya segera beranjak dari tempat tidurnya lalu mencari handbag-nya. Ouh ternyata ada di nakas samping tempat tidurnya. Ia mengambilnya lalu membukanya untuk mengambil ponselnya. Namun sebuah benda kecil mengalihkan perhatiaanya, sebuah flashdisk.

"Siapa yang nyimpan ini di tas gue? Apa orang itu? Tapi untuk apa?" Gumam Resya dengan heran memandangi flashdisk yang kini berada dalam genggamannya.

Resya segera mengambil laptopnya dan menyalakannya untuk melihat isi flashdisk itu. Mata Resya terbelalak melihat tayangan di laptopnya. Siapa orang yang telah berbaik hati memberikannya video rekaman cctv ini?

Resya tersenyum miring kembali memandangi tayangan itu. Ia kini sudah memiliki bukti pada Adeeva. Meskipun di video itu suasana temaram. Tapi ia masih bisa melihat wajah cowok itu. Sekali lagi Resya berterima kasih pada orang yang memberikan video ini. Ia tak perlu susah-susah lagi ke club.

***

"Arsen!" Panggil Karina saat Arsen telah memasuki rumahnya dengan senyum yang merekah. Namun senyuman itu seketika saat mendengar suara itu. Ia menoleh ke sumber suara.

"Ya, Tan."

"Kamu baru pulang sekarang? Kamu tau? Tante sudah sejam nunggu kamu di sini!" Maki Karina.

"Arsen dari pesta pernikahan sepupu Arsen," balas Arsen menunduk.

"Tante tidak peduli kamu darimana. Tapi kenapa kamu pulang selarut ini? Asyik berduaan dengan pacarmu itu?"

Arsen mendongak mendengar ucapan tantenya. Jadi tantenya sudah tau kalau ia pacaran dengan Adeeva? Arsen mulai was-was.

"Apa peringatan tante belum cukup?" Lanjut Karina membuat Arsen semakain risau.

"Maksud tante? Tante udah ngelakuin sesuatu sama Adeeva?" Tanya Arsen memgang lengan tantenya yang langsung ditepis Karina.

"Oh jadi kamu belum tau? Rupanya pacar kamu itu tak jujur padamu."

"Tante jangan macam-macam pada Adeeva!"

"Ouh tante sudah melakukannya. Sayang sekali preman itu malah gagal dan mati secara mengenaskan. Kira-kira siapa yang menolong pacar tercintamu itu? Sungguh pacarmu beruntung saat itu. Tapi ke depannya mungkin tidak akan seberuntung itu!" Karina memandang Arsen disertai senyum sinis.

"Adeeva gak ada masalah sama Tante! Jadi jangan macam-macam sama Adeeva!" Bentak Arsen.

"Tentu saja ada. Gadis kecil itu sudah berani membuat kamu celaka dan tentu saja itu sama saja sedang mengusikku. Dia telah mengganggu ketenanganku. Apa kamu pikir tante tidak tau kalau kamu kecelakaan karena ingin menjemputnya?" Balas Karina dengan nada yang sama seperti Arsen.

"Jangan berani-berani Tante ngelakuin sesuatu lagi pada Adeeva. Atau Arsen gak akan maafin Tante!" Ancam Arsen.

"Apa Tante kelihatan butuh dimaafkan? Tante tidak merasa bersalah!"

Arsen segera berlutut di depan Karina dan memohon, "Tan, Arsen mohon. Jangan celakain Adeeva lagi. Arsen sudah kehilangan orang yang Arsen sayang. Arsen gak mau kehilangan lagi. Kumohon."

"Jangan drama! Kalian itu masih remaja labil. Cinta kalian cuma cinta monyet. Lebih baik kamu sekolah yang bener dan secepatnya melanjutkan bisnis papa kamu!" Karina sama sekali tidak terenyuh meskipun Arsen, keponakannya sendiri berlutut memohon padanya.

"Tapi, Tan--"

"Cukup Arsen! Jangan membantah lagi! Nurut apa kata tante karena kalau tidak, jangan salahkan tante kalau berbuat sesuatu sama Adeeva," Potong Karina membuat Arsen terdiam dengan tangan terkepal.

"Jauhi Adeeva!" Lanjut Karina.

"Nggak! Arsen gak bisa!" Teriak Arsen.

"Oh kamu mau dia celaka? Ingat! Jika kamu tidak menurut, itu sama saja kamu membuat Adeeva bahaya. Kamu tau sendiri tante tidak pernah bermain-main dengan ucapan tante," ucap Karina lalu meninggalkan Arsen yang menunduk, berlutut dengan tangan yang terkepal.

Arsen bingung. Sangat bingung. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menurut pada tantenya dengan menjauhi Adeeva. Atau ia tidak menurut tapi itu sama saja dengan membawa Adeeva dalam celaka. Inilah yang ditakutkan Arsen selama ini.

"Arrgghhhh kenapa gue harus terlahir di keluarga kek gini!"

***

Arsen dan Adeeva tengah berada di taman. Pagi ini memang Arsen mengajak Adeeva untuk jogging. Dan saat ini mereka sedang duduk di bangku taman setelah jogging.

Arsen sedari tadi terlihat pendiam. Baru berbicara ketika Adeeva yang mulai duluan. Tak seperti Arsen yang biasanya. Hal itu membuat Adeeva heran.

"Perasaan tadi malem bahagia banget. Kenapa sekarang murung begini?" Heran Adeeva dalam batinnya.

"Sen. Kamu kenapa?" Tanya Adeeva pelan memegang lengan Arsen.

"Apa ada yang mau kamu ceritain ke aku?" Tanya Arsen menatap Adeeva.

"Hah? Cerita apa?"

"Dari tadi aku nungguin kamu jujur sama aku," Arsen memalingkan wajahnya menghadap ke depan.

"Jujur apa sih? Aku nggak ngerti. Gak ada yang aku sembunyiin dari kamu," balas Adeeva lembut. Namun beberapa saat kemudian Adeeva tersentak ketika mengingat sesuatu.

"Kecuali saat aku digangguin preman," cicit Adeeva tak berani menatap Arsen.

"Kapan?"

"Sepulang sekolah. Tepat hari kamu kecelakaan. Saat itu aku ketiduran di rooftop sampe sore. Ketika aku mau pulang ponsel aku lowbat. Akhirnya aku memutuskan untuk naik angkutan umum. Tapi saat di depan halte, ada dua preman gangguin aku. Mereka bawa paksa aku ke gedung yang udah gak terpakai. Tapi untungnya di sana ada yang nolongin aku sebelum preman ngapa-ngapain aku," cerita Adeeva berusaha menahan tangisnya karena teringat betapa takutnya ia saat itu.

Arsen yang sedari tadi mendengar Adeeva bercerita tanpa sadar tangannya terus berkepal. Tantenya benar-benar tega. Bukankah tantenya itu perempuan? Tapi kenapa begitu tega berbuat jahat seperti itu pada perempuan. Apakah ia tak memposisikan dirinya? Bagaimana jika ia yang berada di posisi itu?

Arsen lalu memeluk Adeeva saat mendengar isak tangis gadis itu. Ia memeluknya erat. Takut kehilangan untuk yang ke sekian kalinya. Meskipun tidak terlalu dekat dengan keluarga ayahnya, tapi Arsen tau kalau keluarga ayahnya memang kejam. Tak pernah main-main dengan perkataannya.

"Aku nggak kasih tau kamu karena aku khawatir nanti kondisi kamu ngedrop. Maafin aku," isak Adeeva dalam pelukan Arsen.

"Iya. Tapi lain kali kamu harus jujur sama aku ya. Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Aku nggak tau hidup aku gimana ke depannya kalau gak ada kamu," tutur Arsen mengeratkan pelukannya.

"Iya. Aku bakal jujur sama kamu." Balas Adeeva memejamkan matanya saat Arsen mengecup pucuk kepalanya.

Saat ini Arsen hanya berharap bahwa tantenya tidak akan melakukan tindakan seperti itu lagi. Berharap bahwa tantenya akan merestui hubungan mereka.

***

Dion tengah memeriksa dokumen-dokumen penting di kantornya. Ya, meskipun hari minggu ia tetap bekerja. Sikap workaholicnya tidak bisa lepas sepertinya sudah mendarah daging.

Selain itu ia sumpek berada di rumahnya. Tadi pagi ia diberi santapan pagi oleh kemesraan Arsen dan Adeeva yang ingin pergi jogging. Daripada ia berdiam diri di rumah lebih baik ia ke kantor kan?

Hingga dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Dion segera menerima telpon itu.

"Ya."

"...."

"Apa?"

"..."

"Shit. Ok saya ke sana sekarang!"

Klikkk

Dion menutup panggilan itu secara sepihak. Ia segera beranjak dari duduknya. Ada hal penting yang diurusnya. Ia melangkah dengan tatapan tajamnya. Sepertinya yang menelponnya memberikan kabar buruk.

***

Sesampainya Dion di tempat tujuannya, rumah sakit. Ia segera menuju ruang rawat orang yang menelponnya tadi. Dion membuka pintu ruangan dengan kasar hingga membuat orang yang berada di ruangan itu tersentak kaget dan ketakutan melihat siapa yang datang.

"Boss." Orang itu gemetaran perlahan bangun dari posisi berbaringnya.

"Saya menyuruh kamu mencelakakan gadis itu. Bukannya malah kamu yang celaka!" Ucap Dion dengan dingin. Orang di depannya menelan ludah dengan susah payah.

"Anuu bos. Tadi malam saya berhasil membekapnya. Namun saat saya menyeretnya tiba-tiba ada yang menolongnya. Bahkan jari-jari tangan saya sampai patah dibuatnya." Jelas bawahan Dion.

"Apa kamu melihat wajah orang itu?" Tanya Dion memicingkan matanya.

"Tidak, Boss. Dia pakai hoodie. Wajahnya tidak kelihatan sama sekali. Cahaya juga temaram Boss. Jadi saya tidak bisa memperhatikan wajah dibalik hoodie itu.

"Siapa yang berani menghancurkan rencanaku? Dan gadis itu, kupastikan ia takkan selamat kali ini. Tadi malam hanya keberuntungannya saja," Batin Dion tanpa sadar mengepalkan tangannya.

"Baiklah. Saya pergi dulu. Soal biaya, kamu tenang saja!" Ucap Dion lalu meninggalkan ruangan itu.

"Terima kasih, Boss!" Ucap bawahan Dion dengan lega.

-TBC-

1
Noli loliii
Aldrian kayaknya yg bantui Resya... rasanya sih dia itu si Ian. teman masa kecil Resya....
Gustein Arifin👑
kisal aldrian sma resyaa blommm thorrrr
Aisyah
kayak gak rela ni udh ending aja...Mash gantung Thor penasaran
Aisyah
kisah vano sangat menarik.eh jumpalg d kondangan nya....top markotop lani ceritanya
Aisyah
sumpah deh Thor..gara² penasaran sama ceritanya...Ampe rela diriku keluar mlm² nongkrong d depan curi wifi orng😅😅😅
Tara
Kaya kaga rela ini uda Han.. 🥺😭
Tapi thanks uda berbagi cerita. Here some cadeau 🎁. Take care🌹
Tara
Omg.. Jangan 2 Karina yg bunuh ibu n ayah Arsen.. Jahat bener.. Semoga kena azabnya😱😤😠
Tara
Alo kak.. Aku mampir boleh. Sebelum Baca langsung follow n give 5 🌟juga kasih hadiah 🎁, click Fav n like. Punten follow back ya kak. Semoga sehat selalu. Semangat!! 🤗🌹🙏
Aisyah
mampir ni thor
Anny cell
aku langsung meluncur kesini kak.....
Edward Cullen
kisahnya menarik, konfliknya lumayan berat, tapi ttp berusaha buat ngangkat hal2 yg cukup realistic di dunia nyata
Edward Cullen
ceritanya lebuh berat dari ceritanya vano aileen, tapi ngga ppa lah... soga ada Easter Egg kaya cerita vano aileen
Edward Cullen
kenapa author sering bgt bikin sosok berhoodi sih? di aileen dan vano ada doni, di sini juga ada sosok berhoodi juga....
Suwati Suwati
aq pengen ceritany Raysa dong thor....biasany cewe yg pecicilan kyak gitu cerita cintany seru
Suwati Suwati
buang aj cewe kyak Adeeva...sooookkk
dian pertiwi
up
Cahaya Warna
bingung, kan sm saudara tiri haram menikah, mahram itu terbagi dua,krn nasab(darah) dan krn pernikahan
Olan
hai thor, aku bawa like kecerita bagus mu😊 mampir juga kekarya aku ya Hate But Love😍😍
Septi Wulansari
astoge br nyadar ini si arsen sepupunya vano
Maria Rajasa
covernya Manurios nih...ceweknya siapa?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!