Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
unknown
Hari-hari di Konoha berlalu. Sebagian besar waktu Raiden dihabiskan dengan bersandar di batang pohon besar, memperhatikan Tsunade yang sedang menempa Sakura dengan latihan fisik yang nyaris tidak manusiawi. Dentuman tanah retak dan teriakan Sakura menjadi musik latar harian bagi Raiden.
Namun, di tengah pengamatannya, pikiran Raiden sering melayang ke hal yang jauh lebih personal. Ia memperhatikan Tsunade yang tampak semakin segar dan bertenaga, lalu ia menatap tangannya sendiri.
'Haisss... kenapa sampai sekarang belum ada tanda-tanda "Raiden Junior" ya?' batin Raiden sembari menghela napas panjang.
Ia mengingat kembali "kerja keras" yang ia lakukan bersama Tsunade hampir setiap malam. Namun perut Tsunade masih saja tetap rata. Raiden sempat berpikir apakah garis keturunan Otsutsuki miliknya yang terlalu murni membuat proses biologis ini menjadi sulit. Tapi kemudian ia teringat Kaguya. Dulu, Kaguya bisa memiliki Hagoromo dan Hamura tanpa masalah yang berarti.
'Mungkin aku harus lebih bersabar. Lagipula, memiliki anak sekarang sungguh merepotkan' pikirnya mencoba menghibur diri.
Sesekali, Tsunade berteriak menyuruhnya ikut melatih Sakura, namun Raiden selalu menolak dengan lambaian tangan malas. "Sudahlah Tsuna, cara bertarungku dan Sakura itu ibarat siang dan malam. Dia belajar untuk mengontrol cakra, sedangkan aku adalah cakra itu sendiri. Latihanku hanya akan membuatnya hancur berkeping-keping sebelum dia sempat belajar apa pun."
Di sisi lain di sebuah gua, ribuan kilometer dari kedamaian Konoha. Satu per satu, sosok-sosok transparan dengan aura biru redup muncul di atas jari-jari patung Gedo Mazo. Teknik Gentōshin no Jutsu memungkinkan mereka berkumpul meski raga mereka tersebar di berbagai penjuru dunia.
"Sudah berapa banyak yang terkumpul?" suara berat Pain menggema di dinding gua.
"Target pertama sudah dalam pengawasan. Namun, ada satu masalah besar," sahut Zetsu. "Konoha... tempat itu sekarang menjadi zona terlarang bagi kita."
Suasana mendadak hening. Semua anggota Akatsuki di sana teringat laporan Itachi dan Kisame tentang pria berambut putih.
"Pria bernama Raiden itu... kekuatannya tidak masuk akal," gumam Kakuzu dengan nada kesal.
"Konoha bisa menunggu," Pain memutuskan dengan dingin. "Kita fokus pada Jinchuriki di desa lain terlebih dahulu. Tapi, Konoha harus ditaklukkan jika kita ingin rencana Tsuki no Me berhasil."
"Siapa yang akan menghadapi monster itu?" tanya Deidara dengan tersirat rasa takut.
"Aku sendiri yang akan ke sana jika saatnya tiba," jawab Pain datar. Matanya, Rinnegan, berkilat di kegelapan. "Seorang dewa harus menghadapi mereka yang mengaku melampaui dewa. Sekarang, bubar!"
Satu per satu sosok biru itu menghilang, meninggalkan gua kembali dalam kegelapan yang sunyi.
Kembali ke Konoha, suasana di kantor Hokage justru lebih mencekam daripada gua Akatsuki tadi. Raiden duduk di kursi kebesaran Hokage, dikelilingi oleh gunungan kertas yang seolah tidak ada habisnya.
Tsunade sedang asyik melatih Sakura di luar, meninggalkannya dengan tugas administratif yang paling ia benci di dunia ini. Raiden menggertakkan giginya hingga terdengar suara gemeretak.
KRETEK!
Pulpen di tangannya remuk menjadi serpihan kayu dan plastik saat ia teringat ejekan Tsunade pagi tadi. "Kalau kau mengaku kuat, coba taklukkan tumpukan kertas itu! Atau kau hanya hebat di tempat tidur tapi payah di depan dokumen, Sayang? Fufufu!"
"Sialan kau, Tsuna... berani-beraninya mengejekku begitu," gumam Raiden dengan mata yang berkedut menahan amarah.
Di samping meja, Shizune berdiri mematung sembari memegang nampan teh. Tubuhnya bergetar hebat melihat aura hitam yang keluar dari tubuh Raiden. Ia merasa seolah-olah ruangan itu akan meledak kapan saja.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Raiden. Suaranya terdengar sangat tenang, namun bagi yang mengenalinya, itu adalah ketenangan sebelum badai.
Pintu terbuka. Shikamaru, Kiba, dan tim mereka masuk untuk menerima instruksi misi mingguan.
Shikamaru, yang memiliki insting tajam, langsung berhenti di ambang pintu. Ia melihat Shizune yang gemetar, ia melihat pulpen yang hancur, dan ia melihat Raiden yang tersenyum sembari menyipitkan satu matanya yang berkedut.
"Maaf mengganggu... sepertinya kami salah waktu. Mungkin besok saja kami kembali," ucap Shikamaru sembari berbalik dengan cepat.
"Eh? Shikamaru! Kenapa balik lagi? Bukannya kita sudah sepakat mau ambil misi hari ini?" sela Kiba dengan bodohnya, menahan pundak Shikamaru.
Dalam sekejap mata kursi Hokage sudah kosong. Raiden sudah berdiri di belakang Shikamaru, tangannya yang dingin mendarat di bahu jenius klan Nara itu.
"Benar kata anjing ini... kau ke sini untuk menjalankan misi, bukan? Rambut nanas?" bisik Raiden tepat di telinga Shikamaru.
Shikamaru membeku. Di matanya, ia melihat bayangan hitam raksasa dengan mata merah menyala sedang menyeringai di belakang Raiden. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya.
"I-iya, Raiden-sama... kami siap menerima misi," jawab Shikamaru terbata-bata sembari melirik Kiba dengan tatapan 'Kau baru saja membunuh kita semua, Bodoh!'.
Raiden kembali ke kursinya dalam sekejap.
BAMMM!
Setumpuk besar dokumen jatuh di depan Shikamaru dan Kiba hingga menimbulkan debu.
"Misi kalian sekarang adalah membantuku menyelesaikan dokumen-dokumen ini. Tenang saja, ini bukan dokumen rahasia negara, hanya laporan logistik dan anggaran pembangunan pasar yang membosankan," ucap Raiden sembari menyeringai nakal.
Kiba melongo. "Hah? Misi macam apa ini?! Kami ini ninja, bukan kuli tinta!"
Raiden mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya meninggi dan auranya membuat kaca jendela bergetar. "Selesaikan semua itu malam ini. Jika tidak selesai, kalian akan kubuat menjadi umpan ikan di danau belakang desa!"
Ia kemudian menoleh ke Shizune. "Shizune, bantu mereka. Aku mau tidur sebentar. Jangan biarkan ada satu pun dari mereka yang kabur lewat jendela."
Raiden kemudian menyandarkan kepalanya, memejamkan mata, dan mulai mendengkur halus, meninggalkan para shinobi muda itu dalam keputusasaan.
Pikiran batin Mereka Saat Menerima saat itu juga
Shikamaru:
"Mendokusai... ini benar-benar bencana. Kenapa aku harus terjebak dengan monster ini? Aku sudah tahu ada yang salah sejak melihat pintu kantor tadi. Jika aku selamat malam ini, aku akan tidur selama tiga hari penuh."
Kiba Inuzuka:
"Gila! Kenapa baunya mendadak jadi sangat menyeramkan?! Akamaru bahkan sampai kencing di tempat! Aku baru sadar kalau pria berambut putih ini benar-benar tidak bisa diajak bercanda. Umpan ikan? Dia pasti serius... seleranya benar-benar buruk!"
Shizune:
"Tsunade-sama... tolong cepat pulang! Aku tidak kuat lagi berada di ruangan yang sama dengan Raiden-sama saat dia marah. Rasanya seperti berdiri di depan gunung berapi. Maafkan aku Shikamaru, tapi kita harus mengerjakan ini secepat kilat jika ingin melihat matahari besok pagi."
Akamaru:
(Hanya meringkuk di pojok ruangan sembari menutup telinganya dengan kaki, berharap dirinya bisa menghilang dari dimensi ini).