NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Surat yang Terlupakan

Naura memegang lembaran kertas tua itu dengan hati-hati, seolah takut kertas itu akan hancur jika dipegang terlalu kuat. Tulisan tangan yang tertera di sana agak sulit dibaca karena sudah memudar, namun setiap kata yang berhasil terbaca membuat jantungnya berdebar kencang. Aldo duduk di sampingnya, menatap surat itu dengan pandangan waspada namun penuh perhatian.

"Jika surat ini sampai ke tangan anakku, berarti aku sudah tiada. Ada hal yang tidak sempat aku ceritakan, karena aku takut keselamatanmu terancam. Hartono bukanlah satu-satunya dalang di balik kecelakaan itu. Ada orang lain yang memiliki kekuasaan lebih besar, yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang..."

Naura menelan ludah, suaranya bergetar saat membacakan bagian itu. "Jadi... masih ada orang lain yang terlibat?"

Aldo mengernyitkan dahi, matanya menelusuri baris demi baris tulisan di surat itu. "Sepertinya begitu. Lihat bagian ini." Ia menunjuk ke kalimat berikutnya.

"Orang itu adalah mitra bisnis kami yang terpercaya, seseorang yang tidak akan pernah kami curigai. Ia merasa terancam karena kami berencana mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih transparan dan adil, yang akan mengungkapkan praktik-praktik kotor yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun. Ia bekerja sama dengan Hartono, namun ia tetap menjaga jarak agar tidak tersangkut."

Di dalam amplop itu juga terdapat foto-foto lama yang menunjukkan orang-orang yang sering bergaul dengan ayah Naura. Salah satu foto menampilkan tiga orang pria muda—ayah Naura, ayah Aldo, dan seorang pria lain yang wajahnya terlihat samar namun terasa tidak asing. Di bagian belakang foto tertulis nama: Widodo Suryatmojo.

"Widodo..." gumam Aldo, matanya melebar seolah baru teringat sesuatu. "Aku pernah mendengar nama itu. Ia adalah salah satu pendiri asosiasi pengusaha, dan dulu sempat menjadi penasihat senior di perusahaan kita sebelum akhirnya mundur dan membangun bisnisnya sendiri."

"Jadi dia orangnya?" tanya Naura, matanya memandang suaminya dengan penuh kekhawatiran.

"Belum bisa dipastikan. Tapi surat ini memberikan petunjuk yang jelas. Kita harus menyelidiki lebih lanjut," jawab Aldo tegas. Ia segera mengambil telepon dan memanggil kepala tim penyelidikannya. "Kumpulkan semua data tentang Widodo Suryatmojo—riwayat bisnisnya, hubungan dengan Hartono, dan segala hal yang berhubungan dengan peristiwa dua puluh tahun lalu. Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai diketahui orang lain."

Sementara itu, Naura terus memeriksa isi amplop itu. Di bagian paling bawah, ia menemukan sebuah kunci kecil yang terbuat dari logam perak dengan ukiran bunga yang indah. Di sampingnya ada catatan singkat: "Kunci ini akan membuka kotak penyimpanan di bank pusat. Di sana tersimpan bukti-bukti yang cukup kuat untuk mengungkap kebenaran sepenuhnya."

"Kunci ini..." Naura mengangkatnya ke hadapan Aldo. "Mungkin ini kunci yang dimaksud."

Aldo memeriksa kunci itu dengan teliti. "Kita akan memeriksanya besok. Tapi untuk saat ini, kamu harus beristirahat. Kondisimu sudah mendekati waktu persalinan, aku tidak mau kamu terlalu memikirkan hal ini sampai mengganggu kesehatanmu."

Naura mengangguk setuju, meski rasa penasaran dan kekhawatiran masih menggelayuti hatinya. Ia tahu suaminya benar—kesehatan dirinya dan calon anaknya adalah hal yang paling utama. Namun, di sisi lain, ia juga merasa wajib mengetahui kebenaran lengkap tentang nasib orang tuanya.

Keesokan harinya, Aldo mengatur jadwal untuk pergi ke bank pusat. Karena kondisi Naura yang sudah tidak bisa berjalan terlalu jauh, ia memutuskan untuk pergi ditemani asistennya saja, namun ia berjanji akan memberitahu setiap perkembangan secara rinci.

Setelah melalui proses verifikasi yang panjang, akhirnya mereka diizinkan membuka kotak penyimpanan yang terdaftar atas nama almarhum ayah Naura. Di dalamnya terdapat beberapa dokumen penting, rekaman suara di kaset lama, dan sebuah buku catatan harian yang berisi rincian transaksi dan percakapan rahasia.

Saat melihat isinya, Aldo menyadari bahwa dugaan mereka benar. Widodo Suryatmojo memang memiliki peran besar dalam peristiwa itu. Ia telah memanipulasi situasi, memanfaatkan keserakahan Hartono, dan menyusun rencana sedemikian rupa sehingga dirinya terlihat tidak bersalah sama sekali. Dokumen-dokumen itu juga menunjukkan bahwa ia masih memiliki pengaruh yang cukup besar di dunia bisnis hingga saat ini.

Aldo segera membawa semua bukti itu pulang dan menunjukkan kepada Naura. "Ini semua cukup jelas. Widodo bukan hanya terlibat, tapi ia adalah otak utama di balik semuanya. Ia membiarkan Hartono menjadi kambing hitam agar dirinya tetap aman dan bisa terus menjalankan bisnisnya dengan tenang."

Naura membaca dokumen itu dengan perasaan campur aduk. Rasa sedih bercampur marah, namun juga ada rasa lega karena akhirnya potongan teka-teki itu mulai lengkap. "Mengapa ia melakukan hal sekejam itu? Apa yang ia dapatkan?"

"Kekuasaan dan uang. Ia takut jika perusahaan berkembang sesuai rencana ayahmu dan ayahku, maka praktik korupsi dan penggelapan yang ia lakukan selama bertahun-tahun akan terungkap. Ia ingin memegang kendali penuh tanpa ada yang mengawasi," jelas Aldo dengan nada dingin.

"Apakah kita bisa menuntutnya sekarang? Bukti ini sudah cukup kuat?" tanya Naura.

"Sudah cukup, tapi kita harus berhati-hati. Widodo bukan orang sembarangan. Ia memiliki banyak koneksi dan mungkin masih memiliki orang-orang yang bisa ia andalkan. Kita harus mempersiapkan segalanya dengan matang agar ia tidak bisa melarikan diri atau menghancurkan bukti ini," jawab Aldo.

Namun, sebelum mereka sempat merencanakan langkah selanjutnya, kabar tak terduga datang. Seseorang telah mengetahui bahwa mereka sedang menyelidiki Widodo. Suatu malam, saat semua orang sedang beristirahat, alarm keamanan rumah berbunyi keras. Tim keamanan segera bergegas, dan ditemukan bahwa ada orang yang mencoba masuk secara paksa melalui jendela ruang kerja.

Meskipun tidak berhasil masuk, kejadian itu membuat Aldo semakin waspada. "Mereka sudah tahu. Kita tidak bisa menunda lebih lama lagi."

Keesokan paginya, Aldo menghubungi kepala kepolisian dan menyerahkan salinan bukti-bukti yang telah dikumpulkan. Ia juga meminta perlindungan tambahan untuk keluarga dan rumahnya. "Kami ingin keadilan ditegakkan, tapi kami juga ingin memastikan keselamatan istri dan anak kami yang akan segera lahir."

Pihak kepolisian menyatakan kesediaannya untuk menangani kasus ini dengan tingkat keamanan tertinggi. Mereka segera mengumpulkan informasi dan mengawasi pergerakan Widodo tanpa menarik perhatian.

Sementara itu, kondisi Naura semakin dekat dengan waktu persalinan. Dokter menyarankan agar ia tetap tenang dan tidak terlalu memikirkan masalah yang sedang berlangsung. Aldo selalu berusaha menyembunyikan kekhawatirannya agar tidak membuat istrinya cemas, meski di dalam hatinya ia merasa sangat waspada.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di teras rumah menikmati udara segar, telepon Aldo berdering. Ia mengangkatnya, dan sejenak wajahnya terlihat serius, lalu perlahan berubah menjadi lega.

"Ada kabar baik?" tanya Naura dengan hati-hati.

Aldo mengangguk, senyum tipis terukir di bibirnya. "Widodo telah ditangkap pagi ini. Ia sedang berusaha melarikan diri ke luar negeri, namun petugas sudah menunggunya di bandara. Semua bukti sudah diserahkan, dan ia tidak bisa lagi mengelak."

Mendengar kabar itu, Naura menarik napas panjang. Beban yang selama ini terasa mengganjal di hatinya perlahan terangkat. "Akhirnya... semuanya terungkap. Orang tua saya bisa beristirahat dengan tenang sekarang."

"Ya. Keadilan akan segera tercapai sepenuhnya," jawab Aldo sambil memegang tangan istrinya erat.

Namun, kelegaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, Naura merasakan nyeri yang teratur di perutnya. Wajahnya sedikit memucat, dan ia menggenggam tangan Aldo lebih kuat.

"Aldo... rasanya... sepertinya bayi kita akan lahir lebih cepat dari perkiraan," ucapnya dengan suara sedikit terengah.

Wajah Aldo langsung berubah menjadi waspada, namun ia tetap tenang. "Baiklah, jangan panik. Kita segera ke rumah sakit. Semuanya sudah siap."

Ia segera memanggil asistennya dan mempersiapkan mobil. Dengan hati-hati, ia membantu Naura berjalan menuju mobil. Di dalam perjalanan, ia terus berbicara lembut untuk menenangkan istrinya, meski di dalam hatinya ia juga merasa gugup namun penuh harapan.

Sesampainya di rumah sakit, Naura segera dibawa ke ruang persalinan. Aldo tidak beranjak dari sisi istrinya, memegang tangannya dan memberikan dukungan sepenuhnya. Setelah beberapa jam perjuangan yang melelahkan, akhirnya terdengar tangisan bayi yang nyaring dan sehat memenuhi ruangan.

Seluruh kelelahan dan kekhawatiran seketika lenyap. Aldo menatap bayi laki-laki mungil yang kini terbaring di samping Naura, matanya berkaca-kaca menahan haru. Di tengah perjalanan yang penuh liku dan rahasia masa lalu, akhirnya mereka dianugerahi anugerah terindah yang melengkapi kebahagiaan mereka.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!