Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kembali
Dien bercengkrama dengan ayah dan ibunya setelah selesai makan malam. Mereka saling bercerita dan berbagi hal-hal yang menarik yang mereka alami beberapa hari belakangan. Keluarga kecil itu tampak begitu bahagia.
Dien tiba-tiba memberikan 7 juta gajinya dalam bentuk tunai kepada ibu dan berkata dengan senyuman “Ayah-ibu, aku akan pergi untuk waktu yang lama. Aku akan pergi ke luar kota untuk melakukan beberapa hal, mungkin aku tidak akan kembali dalam waktu dekat.”
Ayah hanya diam, sementara ibu langsung mengerutkan kening dan senyumannya menghilang seketika.
“Kamu mau pergi kemana, nak? Apakah itu berbahaya?” Tanya ibu tampak khawatir.
“Aku menerima misi tertentu yang tidak bisa dibocorkan kepada siapapun, termasuk kepada keluarga sendiri. Maaf bu, aku tidak bisa mengatakannya.” Dien segera memberikan alasan yang dia pikirkan sebelumnya.
“Apakah kamu harus pergi?” Tanya ibu semakin khawatir.
“Jangan banyak tanya dan membuatnya takut melangkah karena kekhawatiranmu. Biarkan dia pergi menjalani tugasnya. Kita hanya bisa mendoakan kesuksesannya.” Tegur ayah tegas dan tampak tidak peduli.
Ibu terdiam dan menundukkan kepala.
“Bu, jangan khawatir, aku...” Dien mencoba menghibur ibunya.
“Dien pergilah! Kami selalu mendoakan keberhasilanmu. Satu hal yang ayah minta darimu, kamu harus pulang apapun yang terjadi. Ayah dan ibu selalu menunggu kepulanganmu.” Ayah menyela pembicaraan dan menepuk lembut pundak Dien, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang tamu yang tampak sunyi.
Dien tersenyum kecil dan melihat ibunya yang tampak begitu khawatir. Dien merasa aneh karena tiba-tiba suasananya tampak suram dan mencekam, seakan-akan dia akan pergi berperang.
“Ibu aku hanya pergi untuk mendata dan mempelajari beberapa hal, bukan untuk berperang. Jangan khawatir.” Ucap Dien tersenyum tanpa daya.
Ibu hanya bisa mengangguk lembut dan mengizinkan Dien pergi.
“Pergilah, nak! Jalankan misimu dengan baik dan kembalilah ke rumah tanpa kehilangan apapun. Ibu mendoakan kesuksesanmu.” Ujar Ibu tersenyum berat hati, lalu menyerahkan kembali gaji Dien.
“Bawalah! Kamu lebih membutuhkan uang ini daripada kami yang tidak pergi kemana-mana dan hanya diam dirumah. Semoga misimu berjalan lancar tanpa kendala. Doa ibu selalu bersamamu.” Ucap Ibu lembut dan tersenyum.
Dien tersenyum haru dan mendorong uang itu kembali kepada ibunya.
“Tidak perlu bu. Kami memiliki uang saku sendiri saat menjalankan misi, jangan khawatir.” Ucap Dien tersenyum menenangkan.
“Tapi nak…”
“Ibu jangan menolak pemberianku. Aku bisa sedih loh!” Dien menyela pembicaraan dan memalingkan muka cemberut.
Ibu tersenyum hangat dan merasa bahagia karena sifat baik Dien.
“Baiklah! Ibu akan menyimpan uang ini untuk pernikahanmu nanti.” Ucap ibu tersenyum penuh arti.
Dien seketika cemberut mendengar kata pernikahan.
Keesokan harinya.
Dien kembali datang ke ruang kantor kapten Medi untuk mengikuti tim pemburu yang akan dikirim untuk memburu monster di dunia monster. Ketika masuk ke dalam ruangan kantor kapten, Dien melihat 4 orang yang dikenalnya.
Mereka adalah Aamon Liebert, Rudo, Syifa Kafa, dan sang kapten pemburu monster yang bernama Seta Huang.
"Yo, bocah! Kita bertemu lagi." Sapa Rudo dengan senyuman lebar dan mengangkat tangan kanannya, seperti menyapa teman lama.
Dien hanya tersenyum melihat satu-persatu orang-orang tersebut.
Syifa menunjukkan senyuman manis menyapa Dien sambil melambaikan tangan ringan. Seta menatap tajam dan tegas seperti biasanya. Aamon masih terlihat suram dan mencekam seakan-akan berada di pemakaman.
"Bagaimana keadaanmu bocah! Apakah kamu menyukai pekerjaan ini?" Tanya Rudo tiba-tiba merangkul Dien dan mencoba mengakrabkan diri.
BUGH!
BUGH!!!
Tiba-tiba Dien memukul perut dan punggung Rudo dengan sangat keras, membuat pria itu jatuh tersungkur dan meringis kesakitan sambil mengelus lembut punggung lehernya yang tampak membiru.
"Apa yang kau lakukan..." Pekik Rudo seketika marah.
"Itu balasan atas pukulanmu waktu itu, sialan!" Potong Dien tidak memberi kesempatan Rudo protes.
"Kau... ah sial!" Rudo menunjuk marah, namun hanya bisa bersabar dan mengumpat.
Tuk! Tuk! Tuk!
Kapten Medi mengetuk meja kerjanya dengan tatapan serius.
Suasana tiba-tiba sunyi selama 10 menit. Tidak ada yang berani berbicara dihadapan kapten yang tampak serius. Sampai akhirnya sang kapten menghela nafas ringan, dan melirik Dien yang sangat tegang.
“Dien, seperti yang aku katakan kepadamu kemarin sore. Mereka adalah tim pemburu monster ke-15 yang akan membantumu mendapatkan bahan-bahan ramuan lima elemen milikmu.” Ucap kapten lembut dan menunjuk Syifa dengan tangannya.
“Wanita itu bernama Syifa Kafa, seorang penyihir elemen api sekaligus pemegang lentera ingatan. Pria di sampingnya Rudo, seorang petarung yang menggunakan tangan kosong dan memanipulasi elemen petir. Pria pemegang pedang yang duduk di sana bernama Seta Huang. Dan dia (Aamon) kamu mengenalnya.” Ucap kapten memperkenalkan mereka satu-persatu.
Syifa adalah seorang wanita yang memiliki rambut pirang, mata biru, memakai topi lebar khas penyihir, mengenakan gaun berwarna merah, dan membawa tongkat penyihir dengan mutiara merah di ujungnya. Syifa memiliki tinggi 170 cm, memiliki sifat tomboy, dan terlihat kalem dan tenang.
Rudo terlihat seperti pria pemalas, memiliki cambang tidak beraturan, kumis tebal yang menutupi bibir atasnya, dan terlihat seperti pria yang tidak serius dan kasar. Rudo mengenakan pakaian prajurit biasa dengan baju dalaman putih, memakai ikat pinggang bolong, dan mengenakan celana hitam dengan kombinasi sepatu hitam.
Seta adalah pria kurus yang tidak terlalu mencolok, memakai topi caping yang rusak dan tidak layak pakai, dan selalu tersenyum kaku di setiap kesempatan. Pedang panjang selalu terselip di pinggang kanannya.
Aamon Liebert masih sama, terlihat suram dan memancarkan aura berbahaya. Aamon mengenakan pakaian yang didominasi warna hitam, dan sebilah pedang di pinggang. Berbeda dari sebelumnya, pedang Aamon memancarkan aura kematian dan haus darah yang sangat pekat.
Dien tersenyum sopan menyapa mereka satu-persatu, lalu melihat Aamon yang tampak lebih dingin dan suram daripada saat mereka masih menjalankan misi bersama. Dien melihat Aamon seperti melihat orang asing yang penuh dengan aura kematian (energi pembunuh).
Dien melihat pedang Aamon yang memancarkan aura intimidasi yang sangat mengganggu jiwanya.
“Apakah itu senjata tersegel yang kamu dapatkan setelah berhasil menjadi pemburu monster?” Tanya Dien basa-basi saja dan tidak terlalu peduli.
Faktanya tiga minggu lalu, Aamon berhasil lulus ujian pemburu monster dan resmi bergabung ke dalam divisi pemburu monster ke-15 kota Selabatu. Sesuai dengan aturan pasukan malam, pemburu monster berhak mencoba mendapatkan pengakuan senjata tersegel.
Aamon berhasil mendapatkan pengakuan salah satu senjata tersegel. Pria suram itu secara resmi menjadi praktisi ke 13 yang mendapatkan pengakuan senjata tersegel dalam sejarah pasukan malam kerajaan Keleztial.
Aamon Liebert dapat dikatakan praktisi spiritual yang paling berbakat di generasinya.
Aamon melihat pedangnya yang memancarkan energi kematian dan haus darah.
“Iya, begitulah!” Balas Aamon singkat saja dan tampak tidak peduli.
Mendapatkan respon datar Aamon, Dien hanya tersenyum kesal dan tidak berbicara lagi.
“Kapten apakah kami bisa pergi sekarang?” Tanya Aamon menatap kapten Medi yang belum membiarkan mereka pergi.
“Iya pergilah!” Kapten Medi mengangguk santai mempersilahkan kelompok itu pergi keluar dari ruangannya.
Bersambung.