IG @Amisari
Muchamad Mahadam, seorang Dokter bedah saraf yang tampan nan sukses,
selama 4 tahun Aam biasa dia di panggil, hanya mampu mencintai dalam doa seorang Dokter Ais, kisah cinta yang bermula dari pandangan pertama nya pada gadis manis berlesung pipi itu di sebuah kegiatan amal
Namun cinta nya harus dia tahan dalam diam, karena wanita itu telah di jodohkan dari kecil oleh orang tua nya.
Apa kah Allah mengijabah doa Aam yang meminta Ais jadi jodoh nya ?
Bagaimana cara aam meluluhkan hati ais yang mengalami trauma?
Bagaimana pesantren abi menjadi saksi perjuangan Aam?
semua akan terjawab di sini
happy reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amisari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa takut
..." Menikahi seseorang yang mencintai ALLAH Akan menunjukkanmu lebih banyak hal tentang masa depan, dibanding apa yang kau lihat dan dengar sekarang."...
Aisha prov
Aku terdiam sesaat mendengar orang di depan ku ini mengutarakan niat nya
Bismillahirrahmanirrahim
Saya Muchamad Mahadam, berniat ingin mengkhitbah Aisha syifa Alinarohman, apakah dek Ais menerima niat saya
Perasaan terkejut bercampur dengan kebingungan, bagaiman aku harus menjawabnya dengan kondisi ku yang seperti ini, aku sendiri tidak yakin apa aku bisa percaya pada laki-laki lagi, tidak ingin dia terlibat dalam hidup ku yang penuh dengan ketakutan. Aku takut mencintai karena aku takut di khianati.
Menjawab dengan mengutarakan kondisi ku, berharap dia mengerti dan membatalkan niat, namun aku salah hingga di buatnya terkejut saat mendengar dia menjawab bisa menerima semua dan akan membantuku untuk sembuh.
Ada sebuah keyakinan saat mengingat hampir dua bulan di sini dan hampir tiap hari aku melihat nya, bisa ku bilang dia adalah laki-laki berkharisma, santun dan sholeh.
Di tambah lagi bagaimana dia memperlakukan umi nya, dengan begitu lembut dan tanpa malu bersikap manja, dia juga begitu dekat dengan abi nya.
mungkin kah dia juga akan memperlakukan ku seperti itu?
Ku terima niat nya melamar ku namun dengan syarat Ijab Qabul nya di laksanakan malam ini juga. tanpa berpikir panjang dia langsung menyanggupi nya.
Ibu bertanya pada ku saat kami istirahat di kamar tamu rumah ini.
" Sayang, apa kamu sudah yakin untuk melaksanakan Ijab Qabul malam ini juga?"
" Apa itu tidak terburu-buru?"
" Ais tidak mau kecewa lagi umi,"
" Menunggu dan akhir nya Ais di khianati."
ucapan ku membuat wajah ibu berubah memerah.
" Bukan kah niat baik akan lebih baik jika di segerakan,"
" Dan kenapa Ais tidak ingin ada nya resepsi karena Ais tak ingin di lihat dan menjadi bahan pembicaraan orang, membanding-bandingkan Ais dengan masa lalu Ais ibu," Aku berusaha menahan air mataku yang akan jatuh.
Ibu memelukku erat
" Maaf kan ibu nak, semoga kali ini Allah memberikan jodoh yang terbaik buat mu,"
" Suami sholeh yang bisa membimbing mu dan menyayangi mu."
Membalas pelukan ibu dengan erat,
" Maaf kan Ais juga ibu."
Sebelum magrib, umi masuk ke kamar ku.
" Nak Ais,"
" Umi mau tanya apa ada sesuatu yang kamu inginkan sebagai seserahan?"
" Tadi Aam belanja dan dia bingung mau memberikan kamu apa."
Senyumku langsung tercipta ketika mendengar bu nyai yang akan menjadi mertuaku ini menceritakan bahwa calon imam ku sendiri yang berbelanja untuk seserahan malam nanti.
" Gak ada bu nyai,"
" Ais menerima apapun yang Mas Aam berikan buat Ais."
" Alhamdulilah kalau begitu,"
" Umi ke dapur dulu ya, mau bantu nak Fat nyiapin peralatan makan dan minum."
" Kalau gitu Ais ikut bantu ya bu nyai, Ais bosan di kamar terus."
" Jangan sayang,"
" Kamu di sini aja, sebentar lagi ada perias pengantin yang akan membantu mu berdandan."
Aku pun mengiyakan perkataan calon mertuaku itu.
Setelah sholat magrib, aku mulai di dandan seorang ibu berusia di atas 40 tahun, meminta pada beliau untuk mendadani ku setipis mungkin hingga kesan natural yang dilihat, setelah nya beliau membantu ku memakai baju kebaya modern yang sederhana di padukan dengan jilbab senada berwarna ungu muda, entah siapa yang memesan warna ini, yang jelas ini warna kesukaan ku.
Mendengar suara ayah yang mengucap kan Ijab dan di Jawab dengan lafal Qabul dengan suara lantang oleh seseorang yang akan menjadi imamku, tak berapa lama terdengar para saksi mengucapkan kata Sah... sah...
Membuat ku langsung mengucapkan Alhamdulillah, dan berharap ini adalah jodoh terbaik untuk ku.
Ibu dan bu nyai mendampingi ku untuk turun kebawah, menyelesaikan admistrasi pernikahan kami.
Saat di masih di anak tangga aku sudah bisa melihat mas Aam yang memperhatikan ku dengan senyum di wajah nya.
Sekuat tenaga menahan rasa grogi di tambah mata orang-orang juga melihat ku, walau di ruangan itu hanya ada sekitar belasan orang saja, tapi tetap membuat jantungku berdetak cepat.
Ibu mengarahkan agar tubuhku duduk di samping mas Aam, yang kemudian pria itu memasang cincin kecil bermata ungu, cincin yang begitu indah dan pas di jari manis ku, di lanjutkan dengan membaca surat Ar-Rahman dengan fasih dan merdunya sebagai maharnya untuk ku, Aku merasa kagum karena ternyata dia hapal di luar kepala.
Nanti setiap malam sebelum tidur, aku akan minta dia membaca kan surah ini, begitu indah sampai aku mengeluarkan air mata.
Setelah nya aku menyalami tangan mas Aam dan dia mencium keningku, memegang ubun-ubun ku dan membacakan doa.
Aku yang merasa dicium dan disentuh oleh mas Aam merasa kan ketakutan, mungkin kah rasa takut ini salah satu bentuk rasa trauma ku. Aku mulai merasakan panas di tubuhku dan perasaan sakit yang begitu kuat di dada ku, seperti yang ku rasa ketika aku mengingat laki-laki itu. Air mata ku mulai terkumpul dan siap ingin turun.
Ya Allah aku mohon jangan biarkan rasa ini menguasai tubuh ku, aku tidak ingin merusak kebahagian orang-orang malam ini. beristigfar dan mencoba mengatur jarak dengan mas Aam.
Setelah mendatangani surat bukti pernikahan kami, mas Aam meminta ku untuk mengambilkan makanan, kata nya dia lapar
" Dek apa kamu tidak lapar, " yang di jawab gelengan kepala oleh ku.
" Mas lapar, bisa ambilkan mas makanan," ucap nya dengan senyum.
Aku berdiri dan mengambil kan nya makanan,
" Ini mas," memberikan piring yang berisi nasi, lauk, sayur, sambal dan aku kembali duduk sedikit jauh dari nya.
" Adek gak makan?"
" Atau mau mas suapi ," tanya nya sambil mengambil sendok di tepi piring nya.
" Nanti aja mas,"
" Ais tidak terbiasa seperti ini jadi risih rasanya," jawab ku sambil menunjuk wajah ku yang masih dengan riasan dan mahkota kecil di atas jilbab ku.
Mas Aam hanya tersenyum melihat ekspresi ku dan segera melanjutkan makannya.
♥️♥️♥️♥️♥️
Happy Reading
tp jgn d kasih sndri" bingung jdnya