Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
"Assalamu'alaikum.."
Hary dan Bara mengucap salam secara bersamaan ketika sudah berada di depan pintu sebuah rumah yang terlihat adem dan sejuk. Dan tak lama kemudian sudah terdengar jawaban salam dari dalam rumah. Mungkin memang sang penghuni rumah sedang berada di ruang tamu. Sehingga mendengar ucapan salam mereka.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh.."
Jawab seorang laki-laki yang sudah terlihat sepuh. Dia yang sedang duduk menikmati secangkir teh di ruang tamu terkejut ketika mendengar deru mobil yang berhenti di depan rumahnya. Tak lama terdengar suara salam dari seseorang yang sudah lama dia tunggu kedatangannya. Bukan karena rindu tapi karena ada suatu hal yang harus dia sampaikan.
" Hary, Cucuku Bara. Akhirnya kalian datang...."
Hari dan Bara menjabat tangan ustadz Zakaria begitu erat dan menciumnya dengan takzim. Ustadz yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri itu sangat senang di kunjungi kerabat yang selama ini di nanti kedatangannya.
" Selamat datang kembali di rumah reyot ini. Ayo masuk. Masuk dulu kita ngobrol di dalam.."
Sang ustadz mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam. Dan menyuruhnya duduk di kursi yang ada di ruang tamu.
"Bagaimana kabar kalian. Kenapa baru sekarang kalian datang. Hm.."
" Kabar kami baik Abah. Kabar Abah sendiri bagaimana. Maafkan kami baru sempat mengunjungi Abah.."
Hary merasa sungkan ketika Zakaria bertanya demikian. Memang dia selalu berkunjung jika ada keperluan saja. Bukan tidak mau, namun karena memang kesibukan yang kadang sudah untuk meluangkan waktu.
" Alhamdulillah Abah juga baik. Ini cucuku Bara , sudah dewasa sekarang . Sudah berapa lama kalian tidak kemari. Mana istrinya kok tidak dibawa serta.." Kelakar sang ustadz menggoda Bara.
Bara hanya tersenyum dan mengangguk. Dia sangat senang saat disebut sebagai cucu oleh orang yang punya nama besar itu.
" Belum bertemu jodoh ustadz..." Jawab Bara miris. Tentu dirinya langsung teringat akan orang yang sangat dia sayangi.
" Jangan sedih Nak. Jodohmu Insya Allah sudah dekat. Bukan mendahului yang di atas. Banyak-banyaklah kamu berdoa dan memohon.."
Bara hanya mengangguk. Setiap hari dia selalu berdoa demi ketenangan kesayangannya itu dan tentu saja tak lupa dia selipkan doa agar jodohnya segera tiba. Mengingat umurnya juga sudah matang.
" Bagaimana keadaan kalian. Kalian sudah siap menghadapi semua yang terjadi bukan...?"
Bara dan Hary saling pandang ketika mendengar ucapan sang ustadz. Mereka sudah menduganya. Pasti sang ustadz sudah merasakan sesuatu yang tidak beres dengan mereka.
" Kalian kenapa baru datang sekarang hm...?"
Sekali lagi mereka berdua saling pandang. Dan mereka yakin sang ustadz benar-benar tahu yang sebenarnya terjadi.
" Maafkan kami, pekerjaan membuat kami baru bisa berkunjung sekarang.." Hary menangkupkan kedua tangan di dada.
" Jangan terlalu sibuk mencari duit. Luangkan waktu untuk diri kalian."
" Iya ustadz .." Hary dan Bara menjawab bersamaan.
" Ustadz ada sesuatu yang ingin kami tanyakan.. "
" Hahahaha.. Mari kita melepas rindu terlebih dahulu. Nanti saja kita bahas itu. Ada yang mau aku tunjukkan.."
Ustadz Zakaria berjalan masuk ke dalam rumah. Sepertinya dia akan mengambil sesuatu. Hary dan Bara menunggu dengan perasaan tak menentu. Apalagi setelah tadi mendengar perkataan Zakaria.
Tak berapa lama terdengar suara langkah kaki dari dalam. Muncul seorang wanita paruh baya membawa sebuah nampan. Ada tiga cangkir diatas nampan tersebut. Dan juga sepiring singkong rebus yang masih mengepul.
" Silahkan dinikmati. Hanya begini adanya. Maklum di desa.." Ucap wanita tersebut sambil tersenyum ramah. Dan kemudian meletakkan apa yang dibawanya di atas meja.
" Terima kasih Nyai. Ini sudah lebih dari cukup. Pasti ini singkong hasil kebun sendiri.."
" Iya Nak, baru panen tadi pagi. Silahkan dinikmati. Saya tinggal ke belakang dulu. Sebentar lagi Abah pasti akan kembali.."
" Terima kasih Nyai.." Jawab Bara dan Hary bersamaan.
Wanita paruh baya tersebut meninggalkan mereka. Namun tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat. Dan nampak Ustadz Zakaria berjalan mendekati mereka dengan membawa bungkusan.
" Singkong nya sudah matang ternyata. Silahkan dinikmati dahulu mumpung masih panas.."
Hary dan Bara mengangguk. Kemudian mengambil sepotong singkong rebus yang terlihat merekah. Pasti empuk. Pasti enak. Mereka menikmati suguhan yang begitu menggoda.
" Bagaimana rasanya, enak bukan."
Hary dan Bara hanya mengangguk. Mereka tidak bisa menjawab karena mulut mereka penuh dengan singkong tersebut. Ustadz Zakaria ikut menikmati singkong rebus tersebut. Walaupun makanan kampung namun sangat nikmat buat yang menyukainya.
" Enak, nikmat selagi hangat seperti ini." Ucap Hary. Dia kemudian mengambil teh hangat yang telah disediakan.
Begitu pula dengan Bara. Dia juga minuman teh yang telah disediakan. Teh hangat membasahi kerongkongannya. Walaupun cuaca panas, namun minuman itu sungguh pas dinikmati di siang ini.
Ustadz Zakaria mengambil nafas panjang. Dia menatap Hary dan Bara bergantian. Raut wajahnya sangat serius.
" Nak...." Zakaria berhenti sejenak.
" Boleh Abah bertanya, apakah kamu pernah menyinggung perasaan orang. Atau mungkin kamu pernah dengan tidak sengaja telah melakukan hal yang menyakiti hati orang lain.."
Zakaria masih memandang Hary dan Bara bergantian. Pandangan penuh rasa selidik yang terukir diwajahnya. Bukan mencurigai. Namun hanya ingin melihat kejujuran dari jawaban Hary mau pun Bara.
" Manusia tempatnya salah. Mungkin tanpa saya sengaja, perbuatan atau pun perkataan saya bisa jadi ada yang menyinggung dan tidak berkenan di hati orang lain.."
Jawab Bara pelan. Kedua tangannya saling meremas. Terasa dingin dan berkeringat . Dia merasa seperti sedang disidang .
" Benar kata Bara. Kita sudah berusaha sebaik mungkin menjaga perbuatan dan perkataan kita. Namun kita tidak bisa mengatur dan memaksa mereka untuk menyukai ataupun menerima apa yang kita lakukan ." Hary ikut menimpali perkataan Bara.
"Benar sekali. Apa pun yang kita anggap baik belum tentu baik di mata orang. Yang penting kita sudah berupaya untuk berbuat baik. .."
Ustadz Zakaria menambahkan pernyataan yang diucapkan Hary. Kemudian sang ustadz menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dia kembali menarik nafas panjang. Dia tahu semua jawaban yang dia dengar benar adanya.
" Hary dan cucuku Bara. Abah cuma mau berpesan, kalian berhati-hatilah. Ada orang yang ingin berbuat tidak baik pada kalian berdua..."
Zakaria menghentikan ucapannya. Dia tarik nafas panjang. Sungguh berat apa yang akan dia ucapkan. Tapi dia harus tetap memberi peringatan kepada dua orang yang dia ketahui memang orang baik itu.
Hary dan Bara saling pandang. Mereka tahu ada yang akan berbuat jahat, Namun siapa mereka sebenarnya. Sebelum mereka bercerita bahkan Zakaria sudah memberi peringatan terlebih dahulu.
" Abah, apa Abah bisa memberitahu siapa orang tersebut.." Tanya Hary ingin tahu. Walaupun dia yakin Zakaria tidak akan memberitahukannya. Namun Hary harus tetap berusaha.
" Hahahaha... Mana mungkin aku bisa mendahului yang Maha Kuasa. Aku hanya bisa merasakan sedikit ketika melihat wajah kamu yang terlihat kusut. " Jawab ustadz Zakaria.
" Abah, kami benar-benar merasa aneh dengan semua kejadian yang telah kami alami belakangan ini. Apakah yang kami alami ini merupakan akibat dari perbuatan kami di masa lalu atau mungkin memang ada orang yang sengaja ingin mencelakai kami."
Ucap Bara akhirnya. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui yang sebenarnya.
" Boleh Abah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan apa yang sebenarnya kamu alami.."
" Boleh Abah.."
Bara menceritakan semuanya. Semua kejadian yang dia alami. Bermula dari kecelakaan dan kematian Arin. Dan kejadian saat dia ditemui sang arwah penasaran. Dan juga kejadian saat di rumah sakit . Dan saat dia muntah darah juga ia ceritakan.
Zakaria dan Hary mendengarkan dengan seksama. Hary sungguh terkejut mendengar apa yang Bara ceritakan. Tidak pernah terpikir olehnya cerita yang begitu menyeramkan bisa di alami oleh sang putra.
Sedangkan ustadz Zakaria hanya menyimak dan sesekali tersenyum. Entah apa yang dipikirkan tentang kejadian yang dialami Bara.
" Bar, kenapa kamu tidak pernah bercerita pada papa tentang semua kejadian itu.." Hary bertanya begitu cerita Bara selesai. Hary merasa bara telah terlalu banyak mengalami kejadian mistis yang sangat menyeramkan.
"Maaf pa, Bara mau bercerita hanya saja takut mama mendengar dan Mama menjadi kepikiran.."
" Oh ya betul. Mamamu pasti akan kepikiran sekali dan dia pasti akan sangat khawatir.."
" Hary apa kamu mengalami hal yang sama dengan yang dialami Bara.." Ustadz Zakaria beralih bertanya pada Hary.
Hary menarik nafas panjang. Sudah saatnya dia menceritakan semua hal yang dia alami belakangan ini. Mungkin ini saatnya dia membuka semua rahasia yang dia pendam selama ini.
" Jadi begini...."
Hary mulai bercerita. Di mulai saat dia di Surabaya. Saat dia menemukan kecurangan-kecurangan di panti Asuhan milik Yusuf. Dan semua kejanggalan-kejanggalan yang dia temukan. Tak lupa kejadian mistik di rumah sakit juga dia ceritakan.
Zakaria hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda dia memahami semuanya. Dia sepertinya sudah memahami apa yang sebenarnya dialami oleh kedua orang tersebut.
" Bara cucuku. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Abah cuma mengingatkan padamu untuk memperbanyak bacaan Al-Qur'an dan perketat ibadahmu. Suatu saat nanti ketika saatnya tiba akan muncul petunjuk itu padamu." Zakaria berhenti sebentar.
" Hary, Bara. Abah tidak bisa mengatakan apapun. Cuma menurut pikiran Abah, mungkin benar apa yang kamu alami itu adalah sebuah petunjuk. Mungkin benar ada seseorang yang memang membutuhkan pertolonganmu. Jadi perbanyaklah sholat malam. Mintalah petunjuk kepada Sang Penguasa Alam. Mudah-mudahan di dalam sholatmu itu kamu bisa menemukan jawaban atas semua kejadian yang kamu alami.."
Zakaria memandang Bara. Dia tahu apa yang dialami Bara adalah hal yang berat. Namun Zakaria juga tidak bisa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena memang dia juga tidak tahu. Dia tidak mau mendahului Yang Maha Kuasa dengan asumsinya sendiri. Nanti malah bisa menyesatkan.
Sebagai manusia yang sedikit mempunyai kelebihan, Zakaria hanya bisa merasakan sesuatu hal ataupun kejadian yang ganjil dan tidak mungkin bisa mengetahui sebenar-benarnya kejadian. Karena itu bukan wewenangnya. Hanya Allah lah yang Maha Tahu.
Zakaria juga tidak mau gegabah menuduh seseorang karena dia juga tidak tahu pasti. Kecuali dia menyaksikan sendiri kejadian yang sebenarnya terjadi.
Hary dan Bara mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Sebenarnya semua memang tidak jelas dan mereka memang harus menyelidiki dahulu sebelum melakukan tindakan apapun.
Akhirnya mereka pulang ke rumah setelah mendapatkan banyak wejangan dari sang Ustadz. Pikiran Hary dan Bara lebih tenang sekarang.
Mereka pulang dengan perasaan lega dan tenang walaupun tidak mendapatkan satu pun petunjuk. Hati mereka menjadi lebih damai dan otak mereka lebih jernih untuk berpikir.
Mereka pulang juga tidak dengan tangan kosong. Sekarung singkong dan hasil kebun telah masuk di dalam bagasi mobil mereka. Bukan mereka meminta, memang selalu seperti itu. Ustadz Zakaria selalu memberi hasil kebunnya untuk oleh-oleh.
Bersambung
Semoga setelah ini mereka bisa menemukan jalan keluar dan juga petunjuk agar semua segera selesai dan tidak menjadi beban pikiran.
Terima kasih untuk yang sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Love ❤️❤️❤️
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya