Ellen disuruh menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam oleh pamannya sendiri namun ellen baru menyadari bahwa pria yang diluarnya dingin didalamnya sangat hangat apalagi perilakunya kepada dirinya membuatnya semakin penasaran siapa sebernarnya pria ini?
Arkana, tuan muda yang tidak pernah berdekatan dengan wanita manapun tiba tiba menikah dengan seorang gadis yang menjadi korban dari utang pria paruh baya yang tidak tau diri itu. Namun siapa sangka bahwa yang akan menjadi istrinya di masa depan adalah gadis yang selama ini ia cari, yaitu cinta pertamanya.
Bagaimana kisah pernikahan mereka disaat ellen tau bahwa suaminya adalah teman sekaligus cinta pertamanya selain mantannya? Dan Arkan tau bahwa istrinya adalah gadis yang ia tunggu selama ini? Bagaimana kisahnya, silahkan ikuti lanjut.
Season2 Kisah Cerita anak anaknya yaa.. Lanjut kok, ditunggu aja..
Beri jejak untuk ceritaku ya.. Terima Kasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Chapter 29 Pengacau|
❤️Happy Reading❤️
Selesai makan bakso di rumah makan keluarga rudi, arkan serta keluarga kecilnya pulang saat hujan sudah sedikit reda. Sepeninggalan keluarga Arkan, Riska gadis itu masih menatap mobil yang ditumpangi pria yang pertama membuat hati dan jantungnya terpaku oleh ketampanan milik Arkan.
Rudi yang melihat adiknya menatap mobil Arkan sudah tidak ada pandangan langsung menepuk pundak adiknya, "ikhlaskan, pria itu sudah memiliki keluarga."
"Entah kenapa itu sangat berat abang."
"Abang tau, tapi kamu kan sangat benci dengan kata pelakor. Kamu sudah bisa merasakan bagaimana hubungan percintaanmu di rusak oleh orang ketiga, sekarang jangan lah merusak kebahagiaan orang lain. Cukup doakan yang terbaik untuk keluarga mereka, ris."
Gadis itu menghela nafas lalu mengangguk, "sebagai perempuan memiliki perasaan dan logika yang seimbang maka dari itu kita sesama perempuan memiliki tugas untuk mendukung sesama perempuan bukan menikung sesama perempuan."
"Betul sekali, maka dari itu sesama perempuan pasti bisa merasakan apa yang pernah kamu rasakan akibat rusaknya hubungan asmara karena orang ketiga."
"Sudahlah, gak usah membicarakan masalah cinta, lebih baik kita selesaikan penjualan bakso kita hari ini." ucapnya dengan semangat membuat Rudi melihatnya tersenyum senang melihat adiknya yang semangat seperti itu.
Didalam mobil, arkan menatap istrinya saat lampu merah menyala. "Apa sudah puas memakan bakso? Apa ada yang ingin kamu mau lagi?" tatap arkan kepada istrinya yang masih menatap arah jalanan. "Mungkin aku mau makan waffel di sebuah kafe?"
"Oke, kita akan mampir sebentar ke kafe untuk memakan waffel keinginan mama el." ujar arkan sembari mencolek hidung mungil milik putranya, sedangkan putranya hanya bertepuk tangan sembari berdiri dipaha mamanya.
"Senangnya elvano, enak ya nak lagunya? Buat joget emang enak ini." ujar Arkan sembari mengikuti jogetan putranya, el hanya tertawa melihat papanya mengikuti jogettannya.
"Sudah itu lampu hijau pa." ingat ellen kepada suaminya, "oh iya, keasikkan joget sama el." jawabnya lalu ia menjalankan mobilnya saat mobil belakang sudah tidak sabar menunggu. "Sabar napah, pengang ini telinga." komen Arkan membuat elvano ikutan, "Bubupahh!" ucapnya sembari menyembur seperti air mancur.
Arkan dan ellen tertawa melihat tingkah putra mereka sampai tidak sadar bahwa mobil mereka sudah sampai di kafe dekat komplek rumahan mereka. "akhirnya kita sampai, putra papa mau makan apa disini? eskrim atau puding?" tanya arkan membuat ellen menggelengkan kepala, "dia belum mengerti pa, belikan saja jika mau." Arkan mengangguk mendengar ucapan istrinya, "baiklah akan papa belikan semuanya untuk putra papa satu satunya ini.
Keluarga kecil itu masuk kedalam kafe dengan Arkan yang menggendong putranya membuat mereka menjadi pusat perhatian orang orang. Ellen berjalan dengan merangkulkan lengan suaminya sedangkan suaminya hanya fokus bermain dengan putranya yang berada digendongannya saat ini.
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya ellen kepada suaminya sembari melihat menu di konter. "Aku mau kentang goreng aja yang, sama minumnya teh manis hangat saja." jawab arkan, ellen pun mengangguk. Tanpa mereka sadari banyak sekali yang menatap kedua orang itu dengan komentar yang bagus bagus membuat satu orang menahan kesal saat melihat pasangan itu apalagi ia mengajak perang kepada orang yang ia tatap sangat menusuk.
"Gila itu keluarga cakep-cakep ey, apalagi anaknya."
"Badas banget sih itu keluarga."
"Keren gila, itu putranya gedenya pasti terkenal itu."
"Seketika suasana kafe jadi sunyi kedatangan mereka."
"Gila istrinya cakep bener, coba masih single gua gebet dah tuh."
"Cowoknya lebih keren dibandingkan lo, bro, dia tampan lo buluk."
"Kurang asem lu kalo ngomong."
Begitulah komentar-komentar kepada keluarga kecil Arkan didalam kafe ini. Sampai kedua orang itu sudah duduk pun masih saja mereka berkomentar, sampai pesanan mereka datang seperti waktunya. Di tengah tengah makan ringan Arkan merasakan bahwa ada yang ingin keluar. "Yang, aku ke kamar mandi dulu ya." Ellen mengangguk lalu menyuapi es krim kedalam mulut putranya yang sangat senang mendapatkan es krim vanila.
Arkan yang baru saja selesai dari urusannya langsung segera keluar dan mencuci tangan di wastafel sampai ia melihat sosok di cermin hadapannya. "Hai." sapa sosok itu dengan senyum manisnya, Arkan menatap sosok itu dengan datar. Baru saja ingin melangkah lengannya ditahan. "Tunggu, aku mau ngomong sebentar."
"Maaf gak ada waktu buat ngomong sama orang kayak lo." ujar Arkan sembari menepis tangan yang mencekal lengannya. "Sebentar saja."
Arkan mendengus kesal. Lalu menatap sosok itu dengan tajam, "apa? apa yang ingin kau bicarakan?" tanya langsung to the point arkan. "Tidak bisakah kamu kembali seperti dulu?"
"Seperti dulu yang mana?" tanya Arkan yang sebentar lagi tertawa. "Seperti dulu, seperti saat kita bersama dikampus, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi sejak kamu menikah?"
"Sejak kapan diriku mencintaimu? Sepertinya tidak pernah." ujar Arkan membuat wanita dihadapannya menahan malu karena dilihat dan didengar oleh banyak orang.
"Benar-benar wanita tidak tau malu,"
"Sudah ditolak bukannya pergi masih saja dia berdiri dihadapan pria beristri."
"Benar-benar pelakor."
Tak lama Ellen datang dengan putranya digendongan, "sayang ayo- dia lagi?" tanya ellen saat ingin mengajak suaminya pergi ternyata suaminya sedang ditahan oleh wanita gila yang pernah ia hajar. Siapa lagi jika bukan..
"Mau apa lagi kau evangelin? Masih belum sadar di dorong oleh ku dan di usir oleh suamiku?" tanya ellen dengan nada sinis, membuat evangelin menatap ellen dengan tatapan mangsa. "Kau! Kenapa kau selalu saja datang di waktu yang tidak tepat?"
"Seharusnya itu perkataanku, kenapa kau selalu muncul seperti tuyul disaat diriku sedang menghabiskan waktu bersama keluarga kecilku? Apa kau penguntit, ah sepertinya bukan kau hanya pengacau. Pengacau rumah tangga orang." ujarnya dingin membuat semua orang yang menontonnya merinding mendengar nada suara ellen.
Lalu ellen menatap suaminya dengan tatapan lembut, "ayo sayang kita pulang, kasihan putra kita sudah mengantuk." ujarnya membuat Arkan mengangguk lalu mengecup kening istrinya dan merangkul pinggang langsing istrinya kemudian mereka berlalu pergi dari hadapan wanita gila yang masih mencak mencak.
"Bagaimana bisa dia masih mengganggu dirimu? Berapa lama ia ingin seperti itu apa dia tidak ingin bertobat?" tanya ellen saat ia sudah masuk kedalam mobil suaminya, Arkan yang mendengar dumelan istrinya hanya mengulum senyuman dan mengacak pucuk rambut istrinya dengan gemas. "Tenanglah, wanita itu juga akan lelah sendirinya."
"Tapi kapan? Setiap kita ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu selalu muncul bagaikan tuyul."
"Namanya juga pengacau, pengacau tetaplah pengacau. Lebih baik kamu ademkan kepalamu, lihatlah putra kita sudah terlelap, apa saja yang ia makan?"
"Es krim, dan jus yang ku beli tadi."
"Jus stroberi?" ellen mengangguk, "dia suka?" ellen mengangguk lagi. "Bukannya itu sangat asem?" ellen menggeleng, "tidak terlalu asem menurutku. Mungkin lidahnya sama sepertiku."
Arkan mengangguk, "ya mungkin lidahnya sama sepertimu karena dia adalah putramu serta putraku juga."
"memang dia putra kita kata siapa dia putra orang lain?"
Arkan tertawa dengan balasan istrinya dari pernyataannya yang terdengar bodoh. Tentu saja putranya ini sangat mirip dengannya serta istrinya. Sesampai rumah, pager rumah langsung terbuka oleh satpam dan mobil langsung terparkir di depan rumah begitu saja.
Ellen berjalan keluar mobil tanpa membantu suaminya yang sedang mengeluarkan barang barang bekas piknik mereka. Ellen membaringkan putranya sebentar dikasurnya agar ia bisa bebas menghapuskan riasana yang masih menempel di wajahnya lalu menggantikan pakaian pergi menjadi jubah mandi.
Lalu ia membuka baju putranya setelah sudah ia langsung mengajak putranya untuk mandi. Saat ia jalan masuk kamar mandi ia bisa melihat putranya yang terbangun karena dirinya. "Apa mama membangunkanmu sayang?"
"hm ndaa."
"Tidak? baguslah, mari kita mandi sayang.." ujar ellen lalu memasukkan tubuh mungil putranya setelah itu ia membasuh dan menyabunkan tubuh putranya. Selesai itu ia langsung mengeluarkan putranya dari bathup dan menggulungnya dengan handuk agar tubuh putranya hangat.
Keluar kamar mandi ia mendapati suaminya yang sedang rebahan dikasur dengan pakaian keluar tadi. "Kamu belum ganti baju jangan tiduran dikasur atuh. Kumannya itu langsung menyebar." ujar ellen lalu menaruh putranya di atas kasur samping suaminya rebahan, lalu ia membalur tubuh putranya dengan minyak angin agar menghangatkan tubuh kecil itu dan harum.
"Tolong kasih dia ke nanny mewi, sayang. Aku mau mandi." arkan mengambil alih putranya lalu memanggil pengasuh putranya dan memberikannya begitu saja setelah putranya sudah harum dan memakai baju tidur. Arkan mengunci pintu kamarnya lalu melepaskan semua pakaian luar menjadi jubah mandi seperti istrinya, ia masuk kedalam kamar mandi melihat istrinya yang sedang berendam di bathup.
"Aku ikut sayang." ujarnya lalu masuk begitu saja tanpa mendengar jawaban istrinya. Dan keduanya pun mandi tanpa melakukan apapun karena kedua tubuh mereka sudah lelah dan sangat ingin beristirahat diatas kasur empuk miliknya.
Setelah keluar kamar mandi, keduanya sudah memakai baju tidur yang nyaman, ellen langsung melangkah kekasur setelah melakukan ibadah di sore hari. Diikuti oleh suaminya yang baru selesai melipat sajadah, tidak lupa ia membuka pintu kamar yang tadi ia kunci.
"Mari kita tidur sayang."
"Hem. Bagaimana dengan el?"
"Dia sudah di urus oleh nannya Mewi." ellen mengangguk lalu matanya terpejam karena sudah berat sekali. Begitupun dengan Arkan yang sudah lelah juga.
❤️Bersambung...❤️
Baby Elvano
padahal itu mulesnya udah kurang dari 5 menit sekali .... uuuhhhggg rasanya udah ga bisa mikirin lapar.... yang ada pinggang panas perut mules keringet banjir tak tertahankan