Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.
Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.
Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?
Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Pamit
Daffa duduk dengan gelisah, mulutnya terasa panas. Wajahnya memerah dan keningnya berkeringat. Sementara tangannya masih menggenggam botol kosong, enggan untuk meminta air lagi pada Alya.
Alya menutup mulutnya dengan tangannya, berusaha menahan tawa melihat ekspresi lucu wajah Daffa saat kepedasan.
"Kenapa tertawa? Senang liat bibir Aku dower kepedasan," tanya Daffa gusar.
Beberapa menit yang lalu Alya ingin sekali menjauhkan diri dari laki-laki di hadapannya itu, tapi sekarang ia justru duduk berhadapan dan hanya dibatasi meja bulat.
Alya menggelengkan kepala sambil tetap tersenyum, lalu menyerahkan saputangannya untuk menyeka keringat di kening Daffa.
Daffa mengernyitkan dahinya, memandang saputangan pemberian Alya. "Buat apa?"
"Buat mandi!" sahut Alya gemas. "Seperti anak kecil saja, makan pedas sedikit saja sudah keringatan. Itu saputangan buat hapus keringat di kening Bapak."
"Nggak perlu," tolak Daffa balas menatap Alya dengan kesal.
"Ini orang kenapa ngeselin banget ya, datang nggak diundang. Sekalinya datang malah bikin repot orang," rutuk Alya dalam hati.
"Bentar, Bapak tunggu disini dulu." Alya lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur.
Lima menit kemudian Alya kembali dengan membawa sebuah mug besar berisi coklat hangat dan dua gelas kecil di atas nampan.
"Biasanya Saya minum coklat hangat buat mengurangi rasa pedas." Tanpa diminta Alya menuangkan segelas coklat hangat untuk Daffa. "Minumlah, mungkin bisa membuat Bapak lebih nyaman."
"Aku nggak suka coklat," sahut Daffa cepat.
"Ya sudah kalau nggak suka, buat Saya saja semua. Manis gini kok nggak suka," sahut Alya tak peduli. Ia mengambil gelas berisi coklat hangat yang tadi diberikannya pada Daffa lalu meminumnya.
"Hemm, enak loh Pak. Rugi kalau nggak suka," Alya mengusap bibirnya dengan punggung tangannya, menatap Daffa dengan tatapan menggoda.
"Ish, yang seperti anak kecil itu Kamu." Daffa lalu mengambil kotak kecil berisi tisu di atas meja, dan menyodorkannya pada Alya. "Dasar jorok, pakai tisu buat bersihin mulutnya. Jangan pakai tangan gitu!"
"Dih, sewot." Alya menaikkan ujung bibirnya, menatap Daffa dengan tatapan menantang. Senang rasanya bisa menggoda dan membuat laki-laki itu kesal dan marah-marah padanya.
"Kamu ya! Nurut kalau di kasih tau itu," Daffa menaikkan nada bicaranya.
"Stop!" Alya mengangkat tangan ke depan wajah Daffa, "Perasaan dari tadi Bapak marah-marah terus. Mending sekarang Bapak pulang, deh."
Daffa menurunkan tangan Alya, menatapnya tajam. Detik berikutnya tangannya bergerak di dahi Alya, menyentil dengan gemas.
"Tuk!"
"Auww!" Alya menepis tangan Daffa kesal sembari mengusap-usap keningnya yang sakit. "Sakit, tau!"
Daffa tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membalas Alya, "Makanya kalau dikasih tahu itu nurut," kata Daffa lalu menurunkan tangan Alya dari keningnya.
"Weh, merah Ay. Hahaha!" Daffa tertawa melihat hasil perbuatannya pada kening Alya.
"Bapak jahat!"
"Itu salah satu bentuk perhatian Aku sama Kamu, Ay. Kamu susah kalau di kasih tahu, ngeyel terus. Makanya harus disentil biar nurut," jawab Daffa masih tertawa.
Alya terheran-heran dengan jawaban Daffa, perhatian model baru pikirnya.
"Aku pamit pulang, Ay." Daffa bangkit berdiri, tersenyum ramah pada Alya. "Makasih sudah mau makan malam denganku."
Alya menganggukkan kepala dan balas tersenyum, "Sama-sama, Pak."
"Sudah malam, masuk sana. Istirahat, langsung tidur. Jangan begadang," kata Daffa mengingatkan.
Alya mengantar Daffa sampai di depan teras rumahnya. "Iya, bentar mau bersihin bekas makan dulu, setelah itu langsung istirahat tidur."
"Ay," Daffa terlihat ragu-ragu.
"Ada yang ingin Bapak sampaikan?"
"Besok Aku harus pergi ke luar kota, bisa seminggu bahkan bisa lebih," katanya dengan nada gamang.
"Urusan pekerjaan?"
"Mama Aku sakit, Ay. Beliau minta Aku untuk pulang. Kangen katanya." Daffa tersenyum kecil.
"Oh, terus siapa yang gantiin Bapak di kantor?"
"Ada Rey untuk sementara gantiin Aku, ka Dhesita juga ikut pulang bareng Aku," jelas Daffa.
"Rey!" Alya mengulang nama yang diucapkan Daffa.
"Iya, Rey. Kenapa?"
"Nggak apa-apa, Pak," sahut Alya cepat. Untuk yang ke sekian kali Alya harus bertemu lagi dengan Rey.
"Aku pulang, kalau ada apa-apa cepat kabari Aku." Daffa lalu berjalan pulang tanpa menoleh lagi, meninggalkan Alya yang termangu di depan pintu rumahnya.
"Kenapa harus bertemu lagi dengannya, sanggupkah Aku menghadapinya. Setelah semua yang telah dilakukannya padaku."
🌹🌹🌹
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐