Yogyakarta selalu menjadi saksi hubungan percintaan seorang gadis bernama Clara Audra.
Perbedaan keyakinan, restu orangtua, dan perselingkuhan mewarnai perjalanan cintanya.
Kini hatinya tertambat pada sahabatnya sendiri, seorang arsitek tampan bernama Daniel Ararya.
Namun, masa lalu Ararya yang selalu hadir di tengah hubungan mereka, membuat Clara menaruh keraguan dengan apa yang telah ia jalani selama ini.
Gagalnya rencana pernikahan Ayu (sahabat perempuannya) karena sebuah perselingkuhan, juga menjadikan Clara semakin ragu untuk melangkah maju di detik-detik menuju pernikahannya dengan Ararya.
Akankah Ararya mampu meyakinkan hati Clara untuk sepenuhnya menerima dirinya menjadi pasangan hidup?
Ataukah Ararya akan kembali kepada masa lalunya dan menorehkan luka yang sama pada hati seorang Clara Audra?
Kisah ini diangkat berdasarkan dari beberapa kisah nyata serta dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon margaretha.chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih Bagas ! (4)
Makanan sudah tertata di meja kamar itu.
"Aku mau makan dulu, aku lapar. Nanti aja lagi bicarainnya." ucap Ayu yang sudah duduk di dekat meja itu.
Malam itu Jakarta masih diguyur hujan, biasanya dengan suasana seperti ini sepasang manusia akan menghabiskan waktunya untuk saling melepas kerinduan di dalam hotel.
Namun, berbeda dengan mereka. Suasana canggung, sendu, dan emosi bercampur menjadi satu menghiasi makan malam mereka.
Ayu sudah menyelasaikan makannya, lalu meminum segelas air putih di depannya.
Ayu
Ia menatap lelaki yang ada di depannya saat ini. Wajah Bagas yang rupawan dan sikap Bagas yang tenang adalah salah satu alasan ia jatuh cinta kepada lelaki yang saat ini telah menyakiti hatinya itu.
"Sekarang jelasin semua sama aku, dari awal sampai apa yang terjadi sekarang. Kalau kamu masih cinta sama aku dan menghargai aku sebagai pasangan kamu, aku minta kamu jujur, tanpa ada yang kamu tutupin, sekalipun itu akan menyakitkan buat aku." ucap Ayu tegas sambil menatap tajam mata Bagas.
Bagas menelan salivanya, lalu membuang nafasnya kasar.
"Geya itu mantan aku saat masih kuliah. Hubungan kita nggak direstuin papa mama, jadi kita putus. Aku nggak sengaja ketemu sama dia tiga bulan yang lalu. Kamu ingat waktu aku bilang ada reuni kampus, aku ajak kamu tapi kamu nggak mau karena kita habis berantem?" Bagas mulai menceritakan semuanya.
Ia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Bagas.
Memang benar Bagas mengajaknya untuk ikut acara reuni kampusnya, namun ia menolak karena saat itu mereka habis bertengkar, jadi saat itu ia masih malas bertemu Bagas.
"Saat itulah aku ketemu Geya, aku nggak tahu kalau dia juga datang, karena kami pun nggak pernah tegur sapa sama sekali setelah putus. Tapi, saat itu Geya habis putus dari pacarnya, dia curhat ke aku, setelah itu kami jadi intens telfon atau chat." Bagas berhenti sebentar, karena mulai melihat matanya merah dan meneteskan air mata.
"Udah nggak apa-apa lanjutin aja." suaraku tercekat karena menahan tangis.
"Setelah itu aku tahu kalau Geya ternyata sering ke Jakarta, dia sering ngajak aku ketemuan tapi hanya sekedar makan. Tapi, saat itu.." Bagas terdiam sejenak, bagian ini pasti akan membuat hati Ayu sangat sakit.
"Saat itu Geya ngundang aku ke apartemennya, dia sewa apartemen untuk seminggu. Maaf Yu, aku emang laki-laki brengsek, aku tergoda sama dia, aku tidur sama dia. Itu pertama kalinya aku tidur sama dia, selama kami pacaran dulu aku belum pernah sama sekali berhubungan sam dia."
Ayu
Air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya. Pengakuan jujur calon suami yang sangat dicintainya itu membuat hatinya benar-benar berantakan.
Ia mengusap wajahnya kasar, nafasnya mulai menderu cepat.
Sesekali ia menatap mata Bagas yang juga mulai memerah dan berkaca-kaca, namun terkadang ia memilih membuang pandangannya ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang diguyur hujan.
"Dan kamu ngelakuinnya lagi tadi? Udah berapa kali kamu tidur sama Geya?" tanyanya dengan suara parau.
Bagas mengangguk dengan penuh penyesalan di wajahnya.
"Bahkan setelah kamu tidur sama aku, terus kamu tidur sama perempuan itu? Kamu gila Bagas! Kamu gila!" teriaknya tiba-tiba, akhirnya tangisnya pecah.
Kedua telapak tangannya sekarang menutup wajahnya. Emosinya sudah memuncak.
Ia tidak mampu menampar wajah kekasihnya itu, karena ia bukan tipe perempuan yang seperti itu.
Bagas saat ini sudah berlutut di depannya sambil mendekapnya. Pikirannya menolak, namun hatinya menerima pelukan itu.
Walaupun Bagas saat ini sangat menyakiti hatinya, namun Bagas adalah orang yang masih mengisi penuh hatinya. Ia masih sangat mencintai Bagas.
"Maafin aku Yu..maafin aku, kamu boleh tampar aku, kamu boleh umpat aku sepuas kamu, kalau kamu mau. Tapi aku mohon, jangan akhiri hubungan kita. Aku mohon Yu..aku mohon.. Aku janji nggak akan ketemuan lagi sama Geya atau wanita manapun, tapi please jangan tinggalin aku.." tangis Bagas pun akhirnya pecah.
Bagas
Ia sadar bahwa sebenarnya hanya Ayu yang ada di dalam hatinya selama ini, dan Bagas tahu apa yang dilakukannya dengan Geya adalah kesalahan.
Mungkin ia mengira bahwa ia tidak akan sejauh ini dengan Geya, karena awalnya ia hanya kasihan mendengar curhatan mantan kekasihnya yang ditinggalkan oleh lelakinya saat akan bertunangan.
Namun, entah apa yang bisa membawanya untuk berulang kali menerima ajakan Geya untuk melakukannya lagi.
Sekarang calon istrinya yang sangat ia sayangi sedang meluapkan tangisnya di pelukannya.
Ia tetap berusaha meminta Ayu untuk tidak nengakhiri semuanya, tapi saat ini ia hanya mampu pasrah.
"Aku pengen acara pernikahan kita mundur.." ucap Ayu seraya melepaskan diri dari pelukannya
Ia membelalakan matanya dan menggelengkan kepalanya, sambil menggenggam tangan Ayu.
"Jangan gitu Yu, aku mohon. Kamu boleh mau minta apa aja, tapi please jangan batalin pernikahan kita."
"Aku nggak bilang batalin, tapi aku cuma pengin ditunda, sampai kapannya kita lihat nanti. Dan selama seminggu ke depan, jangan paksa aku buat nerima panggilan kamu, aku pengin tenangin diri aku." jelas Ayu dengan nada pelan.
"Baru setelah itu kita bicarakan gimana rencana pernikahan kita.." imbuh Ayu lagi.
Ayu menatap matanya lekat dan meraba wajahnya dengan lembut.
"Semua butuh waktu Gas, jujur saat ini hati aku berantakan. Aku nggak mau ambil keputusan salah untuk masa depan kita. Duduklah." Ayu menyuruhnya untuk duduk kembali di kursi tadi.
"Aku nggak nyangka ternyata Arya memberikan kejutan ini, tapi aku bersyukur karena aku menjadi tahu dan kamu juga dapat pelajaran dari kejadian ini, kalau kamu sadar." ucap Ayu sambil memandang kembali jendela di sampingnya.
"Tapi jangan pernah kamu membawa mereka dalam permasalahan kita ini. Mereka sahabat-sahabat aku, mereka cuma nggak mau aku salah langkah, tapi semua keputusan murni ada di aku." tegas Ayu kembali, yang disambut anggukan oleh Bagas.
"Dan untuk orangtua kita, tenang aja, aku nggak akan menceritakan kejadian ini sama mereka, kalau pun mereka berpikir kita bertengkar ya biar aja, tapi bukan karena masalah ini. Aku nggak ingin kamu buruk di mata mereka, karena aku nggak tahu suatu saat apa yang terjadi sama kita nantinya."
Bagas menelan salivanya kembali, lalu menyisir kasar rambut depannya. Ia memandangi Ayu yang saat ini entah statusnya apa, karena Ayu secara sepihak memilih menunda rencana pernikahan mereka.
Namun, ia sangat kagum dengan perempuan yang ada di depannya saat ini. Sangat baik itulah satu kata yang terlintas di dalam otaknya.
Bisa-bisanya ia melukai perasaan perempuan sebaik itu dan mungkin akan menjadi trauma di hati Ayu untuk selamanya.
Ia tidak menyalahkan keputusan Ayu dan ia juga tidak menyalahkan Arya ataupun Clara dalam kejadian ini. Semua ini murni kesalahannya. Ia tidak mampu menghentikan nafsunya dan justru menerima berkali-kali ajakan Geya.
"Kamu pulang lah, aku mau sendirian aja di sini. Lagian besok kamu kerja." suruh Ayu kepada dirinya yang sudah tampak lelah.
"Kamu yakin? Atau kamu mau aku antar ke Clara?
"Nggak usah biarin mereka berdua, aku pengin sendirian aja." ucap Ayu sambil membenahi kunciran rambutnya yang sudah berantakan.
Ia menatap perempuan itu, ia merasa tidak tega meninggalkannya sendirian. Namun, pasti Ayu juga tidak mungkin mau berbagi ranjang dengannya saat ini.
"Aku besok ijin kerja aja, aku temenin kamu di sini ya, kamu tidur aja di kasur, biar aku di chaise." pintanya, ia berharap Ayu menyetujuinya.
"Nggak usah Gas, kamu pulang aja. Kalau kamu besok mau ke sini nggak masalah, tapi malam ini aku lagi pengin sendirian. Besok kamu ambilin koper aku di tempat Arya. Aku besok mau pulang."
"Yaudah kalau gitu. Aku pulang ke kos. Besok pagi aku ambil koper kamu. Sama aku mau minta ijin buat selesain urusan aku sama Geya." ucapnya sambil menggenggam tangan Ayu.
"It's okay ! Itu tanggungjawabmu.." jawab Ayu sambil tersenyum tipis.
......................
Ayu
Bagas telah meninggalkannya sendiri di kamar itu, karena itu memang pintanya.
*Aku nginep di hotel yang aku udah share ke kalian, aku sendirian di sini. Bagas juga sudah aku suruh pulang. Everything is okay! Besok Bagas mau ambil koper aku pagi katanya, besok aku mau balik YK, biarin aku sendirian aja. Kamu sama Arya aja ya Ra. Thanks ya,*
Pesan sudah ia kirimkan ke sahabatnya.
Clara
*Beneran balik sendiri? Tapi kamu nggak diapa-apain sama Bagas kan? Yaudah kalau itu mau kamu, klo ada apa-apa kabarin ya Yu..*
Ayu
*Tenang aja, i'm okay! Cuma aku emang pengen sendirian dulu. Have fun ya buat kalian, kalian harus saling jaga ya. Udah jgn pikirin aku, pokoknya malam ini kalian harus have fun!*
Ayu menaruh kembali ke ponselnya di nakas sebelah ranjangnya, lalu mematikan lampu tidurnya.
Air matanya pelan-pelan mulai membasahi kembali wajahnya. Hatinya terasa sakit, baru kali ini ia merasakan sakitnya dikhianati oleh orang yang dicintainya.
Namun, seketika kenangan indah bersama Bagas yang telah mereka lalui bersama berputar di otaknya.
Jujur, kejadian tadi bukan serta merta membuat cintanya ke Bagas hilang begitu saja dan ia sangat yakin Bagas juga merasakan hal sama, setelah kesalahan Bagas terbongkar di depan mata kepalanya sendiri.
"Aku masih sayang kamu Bagas.." ucapnya pelan sambil menangis dan memeluk satu bantal.
Ia lelah berpikir , ia lelah berkata, dan ia lelah menangis, kemudian ia membawa tangisnya ke dalam tidurnya.
......................
suka dech
sakha putra
reno-teman sakha
ardhana- kkak angkat Clara
narendra
arya
akeh e 😅
siapa ituuuuu,,,,,
jreng jreng jreeeeeeeeengggggggg😜😜😁😁
gooodds
gue suka gaya lo mas bro arya😜