Sekuel Jodoh Pilihan Ayah 1, tapi bisa langsung baca Jodoh Pilihan Ayah 2 ya karena beda pemeran utamanya dengan yang pertama :)
Aku tidak menyangkah Ayahku akan memaksaku menikahi gadis gila dan lumpuh.
--------------------
Zayn Rahardian, pria yang kurang beruntung dalam hubungan percintaannya. Wanita yang menjadi cinta pertamanya hilang bak ditelan bumi, bertahun-tahun ia mencari keberadaan wanita itu namun hasilnya tetap nihil.
Hingga suatu hari, kecelakaan yang menimpah ayahnya ikut berimbas pada kehidupan Zayn. Karena rasa bersalah ayahnya, Zayn dipaksa untuk menikahi wanita yang telah menjadi korban kecelakaan yang menjadikan wanita itu lumpuh.
Zayn menolak keras, ia tidak mencintai wanita itu, namun hasil penolakannya itu justru membuat ayahnya terkena serangan jantung. Hingga akhirnya dengan penuh keterpaksaan Zayn menikahi wanita yang sama sekali tidak dicintainya.
Apakah hubungan itu akan bertahan lama?
Yukss baca kisah Zayn selanjutnya ❤🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangat ketakutan
Mendengar usulan Andre membuat Zayn tersenyum sinis, ia kembali mendekat ke arah Rian yang masih tersungkur di lantai dan bahkan sudah terbaring lemah, ia meraih tangan pria itu hendak mematahkannya. Namun, Ara yang melihat hal itu langsung teriak histeris. Seketika Zayn mengurungkan niatnya, kepalanya menoleh ke arah istrinya yang begitu histeris, pun air matanya semakin mengalir deras membuat amarah Zayn perlahan menguap ke udara.
Tangan Rian dihempaskan oleh Zayn dengan kasar sebelum kemudian pria itu melangkah menuju ranjang, untuk menghampiri istrinya.
Zayn mendaratkan tubuh di tepi tempat tidur, sebelum kemudian ia meraih tubuh Ara dan langsung mendekap tubuh tersebut ke dalam pelukannya seraya menenggelamkan wajah istrinya yang basah akan air matanya di dadanya. Ara menangis sesegukan, ia sangat takut melihat apa yang baru saja terjadi. Kilasan ingatan mengenai dirinya yang pernah hampir diperkosa di masa lalu kembali memenuhi kepalanya. Ia juga masih begitu histeris mengingat Zayn yang hampir membunuh dokter Rian, sungguh aksi Zayn tadi membuat Ara merasa trauma karena pernah melihat seseorang di bunuh di depan matanya sendiri, namun ia tidak mengingatnya dengan begitu jelas.
"Za-Zayn. A-aku takut. Huhuh." Tangis Ara semakin memecah hingga air matanya membasahi kemeja yang dipakai oleh Zayn, pun tangannya yang mencengkram kuat lengan baju suaminya, tidak ingin melepaskan pria itu.
Cengkraman tangan Ara di lengan baju tersebut ikut menarik kulit Zayn hingga membuat pria itu mendesis kesakitan. Namun ia bisa memahami hal itu, karena Zayn menyadari jika istrinya tersebut benar-benar sangat ketakutan. Ia juga bisa merasakan tubuh Ara yang gemetar akibat rasa takut itu. Zayn melepaskan pelukannya, kemudian menatap lekat kedua mata Ara yang masih dialiri air mata dan bahkan matanya mulai mengecil.
"Tenanglah. Aku sudah berada di sini, aku akan melindungimu. Tidak ada yang perlu di takuti lagi." ucap Zayn menyeka air mata istrinya yang masih mengalir dengan derasnya dari kedua pelupuk mata wanita itu.
"A-aku takut." Bibir Ara bergetar, bayangkan akan dokter Rian yang hampir merenggut kehormatannya kembali menghantuinya.
Zayn kembali membenamkan tubuh Ara kedalam pelukannya, melihat istrinya menangis membuat hatinya terasa sakit. Matanya memerah dan mulai terasa panas. Zayn menggepal tangannya kuat hingga buku-buku jarinya terlihat dengan jelas, ia tidak akan melepaskan Rian begitu saja, pria itu harus menerima balasan akan air mata dan rasa takut yang Ara alami akibat ulahnya.
"Tenanglah sayang, kau sudah aman bersamaku. Aku akan menjagamu, tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu." ucap Zayn mencium puncak kepala istrinya, entah kenapa naluri pria itu mendorong Zayn untuk melakukan hal tersebut.
Mata Zayn yang terasa panas kini mulai berkaca-kaca, ia mengerjab-ngerjabkan matanya berusaha untuk tetap membendung air matanya yang hendak tumpah. Zayn mengeratkan pelukanmya membenamkan kecupan-kecupan singkat di kepala Ara, mencoba untuk menenangkan wanita itu.
Ara melepaskan pelukannya, matanya yang mengecil dan sembab menatap lekat kedua manik mata suaminya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Zayn terlambat datang tadi, pasti saat ini dirinya akan dinodai oleh dokter Rian.
"Jangan menangis lagi." ucap Zayn berusaha tersenyum agar membuat Ara bisa lebih tenang. Zayn mengusap lembut puncak kepala Ara, sebelum kemudian ia kembali menyeka air mata istrinya tersebut.
Diperlakukan manis seperti ini oleh Zayn malah membuat Ara semakin menangis, ia merindukan perlakukan manis yang sudah beberapa hari ini hilang.
"Hey sayang, kenapa kau malah menangis lagi? Pria bejad itu sudah pergi dari sini, tidak ada yang perlu ditakutkan lagi." Zayn kembali merekahkan senyuman hangat, menenangkan Ara dengan mengusap kedua pipi wanita itu.
Ara semakin tak kuasa menahan air matanya, ia kembali memeluk tubuh Zayn, sangat erat. Tangan Zayn bergerak mengusap-usap kepala istrinya, ia membiarkan Ara memeluknya lebih lama, berharap dengan melakukan itu dapat melebur rasa takut di dalam diri Ara.
"Maafkan aku." ucap Zayn lembut setelah beberapa saat terjadi keheningan, namun Ara tidak merespon, tangannya yang semula memeluk erat tubuh suaminya kini berangsur terlepas dari tubuh pria itu.
Dahi Zayn berkerut dalam, ia menjauhkan tubuh Ara, seketika mata Zayn membulat saat melihat Ara yang telah kehilangan kesadarannya.
"Ara." panggil Zayn menepuk-nepuk pipi istrinya namun tetap tidak membuat Ara tersadar. Dengan begitu paniknya, Zayn langsung mengangkat tubuh Ara, entah akan membawanya kemana.
Saat hendak keluar kamar, Zayn bertemu dengan Bi Sumi yang berjalan tegopoh-gopos ke arahnya, disusul pak Ali dibelakangnya.
Zayn melihat mata Bi Sumi yang berkaca-kaca, sepertinya wanita paru baya itu telah mengetahui apa yang telah terjadi di rumah itu, pun Pak Ali yang memasang raut wajah bersalah.
"Nona Ara." mata Bi Sumi membola, melihat nona mudanya yang saat ini berada di dalam gendongan Zayn dengan tidak sadarkan diri.
"Siapkan kamar tamu Bi. Dan pak Ali, tolong hubungi dokter Lisa." ujar Zayn, dengan segera ia mengikuti langkah kaki Bi Sumi yang berjalan menuju kamar tamu, sedangkan Pak Ali, ia melangkah menuju nakas dimana telpon rumah berada untuk menghubungi dokter Lisa yang merupakan dokter keluarga.
***
Zayn berdiri di dekat ranjang, sorot matanya memerhatikan dokter Lisa yang tengah memeriksa kondisi Ara yang belum sadarkan diri. Saat dokter Lisa hendak menyuntikan sesuatu ke tubuh Ara, Zayn langsung memalingkan wajahnya, pria itu sedikit phobia terhadap jarum suntik.
Cairan penetralisasi masuk ke dalam tubuh Ara, cairan yang akan menetralkan bahan kimia berbahaya yang mengendap di tubuh wanita itu.
"Dok, apa yang terjadi sebenarnya dengan istriku? Kenapa dia belum sadarkan diri juga hingga sekarang?" tanya Zayn setelah dokter Lisa menyelesaikan pekerjaannya.
"Tuan, terdapat bahan kimia berbahaya dalam tubuh nona Ara hingga membuat tubuhnya lemas, dia juga mengalami syok berat." tutur dokter Lisa.
"Bahan kimia berbahaya?" tanya Zayn kembali, kenapa bisa? Apa ini termaksud rencana Rian? Pantas saja Ara tidak memberontak saat Rian hendak menindih dan menciumnya.
"Iya tuan. Apa anda tidak tahu?" Zayn menggeleng, ia benar-benar tidak tahu sama sekali.
"Baiklah, sebentar lagi nona Ara akan siuman." ucap dokter Lisa lalu ia berpamitan untuk pergi dari sana.
Sepeninggalan dokter Lisa, Zayn lamgsung mencari keberadaan Bi Sumi, menanyakan apa yang dilakukan oleh dokter Rian selama ini.
Wajah Zayn kembali dipenuhi amarah setelah mendengar penuturan Bi Sumi yang mengatakan jika setiap hari dokter Rian menyuntikkan sesuatu pada Ara, Bi Sumi juga mengatakan pada Zayn jika dirinya telah mencurigai dokter Rian karena setelah menerima suntik dan obat-obatan dari dokter Rian, tubuh Ara akan melemas. Pun dirinya yang ingin memberitahu Zayn namun tidak memiliki waktu untuk berbicara kepada tuannya apalagi setelah Ara yang melarangnya keras.
"Seharusnya Bibi memberitahu saya sekalipun Ara melarang Bibi." ketus Zayn, ia sangat kesal terhadap Bi Sumi yang menutupi masalah sebesar ini darinya.
"Ma-maafkan saya tuan." Bi Sumi menundukan kepalanya, ia sangat merasa bersalah karena telah meninggalkan Ara sendirian di rumah hingga membuat dokter Rian memiliki celah untuk melancarkan aksi bejadnya.
Suara teriakan yang bersumber dari kamar tamu, membuat Zayn dan juga Bi Sumi terkesiap, dengan segera mereka berjalan menuju kamar tamu tersebut.
"Za-Zayn." panggil Ara wajah wanita itu di penuhi keringat dingin pun wajahnya yang sangat pucat ketakutan.
Menyadari ketakutan masih mengendap di dalam diri istrinya, Zayn langsung bergegas naik ke atas tempat tidur, sebelum kemudian ia memeluk tubuh Ara, berusaha menenangkan wanita itu.
"Ke-kenapa kau meninggalkanku. A-aku sangat takut." Ara berucap dengan bibir yang gemetar, perlahan ia mengatur napasnya yang saling memburu. Ternyata cuma mimpi. Ya, teriakan yang bersumber dari kamar tamu adalah teriakan Ara, wanita itu bermimpi jika Rian kembali ke rumah mereka seraya membawa pisau yang begitu tajam, bahkan pisau tersebut berhasil menusuk tubuh Zayn.
Ara mengeratkan pelukannya, air matanya kembali menetes, mimpi yang baru saja terjadi terasa begitu nyata, ia benar-benar takut jika dokter Rian akan kembali dan mencelakai Zayn.
"Tenanglah, aku akan menjagamu. Kau tidak perlu takut lagi." ucap Zayn melepaskan pelukannya. Tangannya kembali mengusap wajah Ara.
"Bi, tolong ambilkan air minum untuk Ara." ujar Zayn kepada Bi Sumi yang berdiri mematung di dekat pintu.
"Ba-baik tuan." Bi Sumi menundukan kepalanya singkat sebelum kemudian ia berlalu dari sana.
"Apa kau bermimpi tadi?" tanya Zayn yang langsung di balas anggukan oleh Ara, "A-aku takut Zayn." ucapnya.
"Tidak apa-apa." Zayn kembali membenamkan tubuh Ara kedalam pelukannya, ia mengusap-usap wajah wanita itu seraya menenangkannya.
👍👍👍 dada mau copot tau gk Thor...
dengan konflik yg di alami Rey dn Tasya mmbuat ingatan Ara balik lg....