Anjani, 21 tahun. Baginya memiliki suami tampan dan mapan adalah keberkahan. Namun, siapa sangka keberkahan itu akan menjadi sebuah ujian. Suami Anjani, banyak didekati wanita cantik nan sexy. Sembari menjalani peran sebagai istri sekaligus mahasiswi di kampus baru, Anjani belajar meredam kecemburuan dan prasangka macam-macam yang seringkali melemahkan kesetiaan.
Ketika Anjani hamil besar, datanglah kabar yang menguji jalinan ikatan cinta halal. Sang suami meminta izin untuk menikahi rekan bisnisnya lantaran sebuah skandal. Apakah Anjani akan mengizinkan dan bertahan menjalani takdirnya bersama sang suami, sembari menahan perih? Atau justru mengakhiri janji suci dan menikah lagi dengan teman kampus yang sedari awal dicemburui oleh sang suami?
Dapat mengobrak-abrik rasamu. Harap bijak untuk tidak baper berlebihan. Enjoy reading dan terima kasih sudah mampir. 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Hapsari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 : Bukan pasangan
Hati yang semula kukuh, berniat mendekati cinta baru, harus memudar karena sadar keadaan. Ken mundur, padahal belum ada sejengkal pun usaha yang diayunkan. Tidak ada perih, sesak, ataupun luka yang menjurus ke rasa sakit hati. Tidak sampai seperti itu, lantaran Ken memang belum mengenal ataupun menjalin ikatan dengan sosok yang dicomblangkan. Akan tetapi, rasa yang timbul pada diri Ken justru rasa kasihan. Ken kasihan pada Anjani, andai hubungan Mario dan Lovey ke depan menjadi lebih dari sekedar teman.
"Kalau ada pihak yang harus kudukung, itu adalah Anjani. Bro, meski aku sahabatmu, tapi aku tidak akan mendukungmu untuk selingkuh." Niatan Ken sudah bulat.
Langkah yang semula diayun untuk menjauh, seketika diubah arah. Ken menitipkan lebih dulu buket bunga yang dibawanya, kemudian menuju tempat Mario dan Lovey berada.
"Nah, ini dia yang barusan kita gosipin!" ujar Mario seraya menggeserkan kursi untuk Ken.
"Sejak kapan kau jadi tukang gosip, Bro? Anjani perlu tau nih kalau suaminya suka rumpi." Ken kembali ke sikap awal. Suka asal.
"Vey, lihatlah! Betapa friendly-nya Ken saat berbicara. Kusarankan agar kau bisa lebih mengenalnya. Seperti kataku tadi."
"Eh? Habis ngomong apaan sih kalian?" Ken tak paham.
Yang ditunjukkan Mario bukanlah penjelasan gamblang. Sebaliknya, Mario hanya menepuk-nepuk bahu Ken sembari memberi kedipan.
"Ehem. Aku ingat kalau belum mengabari istriku kalau aku sudah sampai dengan selamat. Jadi ... aku duluan, ya. Vey, selamat berbaikan dengan Ken."
Lovey hanya mengangguk, tapi yang tersuguh adalah anggukan yang kikuk. Lovey sama sekali tidak berani menatap Ken. Jelas, tamparan waktu itu masih membayang, dan Lovey gengsi untuk mengakui kesalahan.
"Bro! Tunggu!"
Langkah Mario dicegah oleh Ken. Sedikit menjauh dari meja tempat Lovey berada, Mario dan Ken berbicara empat mata.
"Maksudmu apa ninggalin aku berdua aja sama Lovey?"
"Ken, kau mau lebih dekat sama Lovey atau tidak?"
"Nah, itu tuh. Itu yang mau kubahas juga. Kau suruh aku mendekati Lovey, tapi justru kau sendirilah yang terlihat lebih dekat dengannya." Ken menegaskan dengan penuh penekatan kata.
Mario menyadari keseriusan kata-kata Ken. Kata dekat, mendekat, dan lebih dekat yang dipermasalahkan jelas mematik kesalahpahaman.
"Ken, aku dan Lovey bukan pasangan. Hubunganku dan Lovey hanya sebatas rekan bisnis."
"Serius hanya rekan bisnis?"
"Apa kau meragukanku? Apa kau mengira aku akan selingkuh dari istriku, Ken?"
Giliran Mario yang memberi penekanan pada setiap kata yang diucapkan. Sorot mata Mario meyakinkan, membuat Ken bungkam lantaran tak memiliki kata balasan.
"Em ... oke aku percaya."
"Bagus."
Senyum Mario mengembang. Dilihatnya Ken yang tengah membetulkan letak kacamatanya, sembari mencuri pandang ke meja tempat Lovey berada.
"Udah sana baikan!" suruh Mario.
"Kurasa ... kalau baikan aja sih mudah. Tapi, kalau menumbuhkan rasa cinta, aku nggak bisa jamin, Bro. Statusku baru aja ditinggal nikah. Jadi, aku nggak mau terkesan membuat Lovey sebagai pelarian saja."
"Bisa kau kompromikan itu dengan hatimu, Ken. Berteman baik sajalah dulu. Lovey tidak sedingin yang kau kira."
"Baiklah. Berteman jauh lebih aman daripada bermusuhan. Pasti Lovey juga kepikiran setelah mendaratkan tamparan." Lagi-lagi Ken mencuri pandang ke meja tempat Lovey berada.
Mario menepuk-nepuk bahu Ken, kemudian sedikit mendorongnya agar bergegas kembali ke meja Lovey.
"Temui dia!"
"Eh, tunggu-tunggu! Kau benar-benar mau telepon Anjani?"
"Tentu saja. Kenapa juga aku harus berbohong."
"Oh. Kukira cuma buat alasan aja di depan Lovey."
Mario mendahului dengan tawa ringan sebelum memberi tanggapan.
"Daya pikat Anjani masih terlalu kuat dibanding Lovey, Ken. Jangan berpikiran macam-macam lagi tentangku dan Vey. Oke?"
"Terserah kau daja, deh. Yang penting jangan sampai selingkuh, Bro."
Sebagai tanggapan, Mario hanya memberi anggukan. Setelahnya, tubuh Ken kembali didorong pelan agar bergegas menemui Lovey. Dan ... Ken dan Lovey pun duduk satu meja, sementara Mario kembali menuju kamar hotelnya.
***
Di kedai es krim, Anjani dan Bastian masih saling mengobrol dan membuat candaan. Beberapa pengunjung kedai es krim sampai mengira Anjani dan Bastian adalah pasangan. Lebih-lebih pemilik kedai yang tetiba saja memberi bonus es krim tambahan pada Anjani dan Bastian hanya karena keserasian yang ditampilkan.
"Kalian ini pasangan yang baru jadian, ya?" tebak pemilik kedai es krim.
"Bukan, Mbak. Kami hanya teman." Anjanilah yang membantah dugaan.
"Wah, ternyata hanya teman, toh. Tapi kalian terlihat serasi, lho."
Anjani dan Bastian auto tersenyum canggung.
"Ini bonus es krim buat kalian. Selamat menikmati."
Pemilik kedai pamit, meninggalkan Anjani dan Bastian yang masih kikuk karena dugaan yang sempat dilontarkan.
"Makan gih! Nggak baik nolak rezeki." Kalimat itulah yang dipilih Bastian demi memecah kecanggungan.
Anjani melirik jam yang melingkar di tangan. Auto terkejut melihat waktu yang sudah melebihi batas istirahat makan siang untuk pekerja kantoran.
"Kak, sudah jam segini nih!"
"Astaga. Iya."
Bastian tampak panik. Es krim bonus dari pemilik kedai yang belum disentuh langsung diberikan pada Anjani.
"Ambil saja es krim bagianku."
"Tapi, Kak."
"Sudah. Jangan menolak rezeki. Aku duluan ya. Daa!"
Bastian pergi, meninggalkan Anjani yang sebenarnya masih mau menolak es krim yang diberi.
"Yaudah, deh. Aku makan es krimnya di online car aja."
Anjani menyudahi jalan-jalannya. Bergegas menuju rumah menggunakan jasa online car. Selama perjalanan pulang itulah daya ponsel Anjani habis. Sementara Mario di seberang sana sudah kepikiran karena sambungan telepon yang tak kunjung tersambungkan.
Daya ponsel baru diisi sesampainya Anjani di rumah. Itu pun tidak langsung dihidupkan, tapi ditinggal tidur siang sebentar. Ponsel Anjani baru dihidupkan kembali setelah empat puluh menit kemudian. Dan ... langsung tertera nama Mario di layar.
"Sayaaaaang. Ah, syukurlah tersambung juga." Via video call Mario menghubungi Anjani, dan mimik wajahnya tampak begitu lega.
"Maaf, Mas. Tadi kehabisan baterai, terus kutinggal tidur siang sebentar." Anjani jadi merasa bersalah karena sudah membuat khawatir suaminya.
"Iya, tidak apa-apa. Sudah makan siang belum?"
"Em ... sudah, sih. Tadi juga sempat jalan-jalan sebentar beli es krim."
Mario menampilkan senyum termanisnya. Tampak di mata Anjani lebih manis dari es krim yang tadi dimakan olehnya.
"Kalau aku pulang nanti, kuajak jalan-jalan beli es krim mau?"
"Mau banget, dong. Oya, Mas. Kak Ken gimana perkembangannya? Sukses?" Tetiba saja Anjani ingat pendekatan yang akan dilakukan Ken pada Lovey.
"Belum balik dia. Terakhir kali kutinggal mereka berdua di resto dekat hotel. Tunggu cerita dariku saat pulang ya, Sayang." Ada jeda sebentar karena terdengar ketukan pintu kamar. "Sayang, sepertinya Ken sudah kembali. Aku sudahi dulu, ya."
"Iya, Mas. Bismillaah, semoga lancar pekerjaannya."
"Aamiin. Terima kasih, Sayang. Ingat, jangan sampai kecapekan."
Anjani mengangguk. Senyum dan kata penyemangat untuk sang suami tidak lupa diberi, sebelum akhirnya panggilan video itu diakhiri.
Begitu video call berakhir, Mario bergegas membuka pintu kamar hotelnya. Benar dugaannya, Ken sudah berdiri di depan sana. Namun, benak Mario seketika dipenuhi tanya lantaran melihat wajah Ken yang kusut, cemberut, campur aduk.
"Ken, kamu baik-baik saja?"
"Tidak sama sekali."
Ken masih bertahan di depan pintu. Wajahnya kini berubah lesu.
"Apakaah terjadi sesuatu antara kau dan Vey?"
"Gillaa! Bener-bener nggak ada baik-baiknya tuh cewek. Masa iya aku hampir di ...."
"Keeeen! Di situ kau rupanya!"
Mario dan Ken kompak menoleh ke sumber suara. Seketika tampak wajah Lovey yang geregetan menahan amarah. Sorot matanya tajam tertuju pada Ken. Tetiba saja Lovey melepas high heelsnya sebelah, mengumpulkan tenaga, dan bersiap mengayukan tangan hingga high heels itu pun melayang.
Bersambung ....
LIKE - VOTE - KOMENTARI, yuuuuk!
Terima kasih sudah mampir dan membaca. Mampir juga ke novel pertama author yang berjudul Cinta Strata 1, ya. Kisah Mario-Anjani bermula dari sana. Hayuuk. Kenal juga novel-novel kece karya my best partner. Novel MENANTI MENTARI karya Cahyanti dan Novel CINTA YANG TERPENDAM karya Dian Safitri. Dukung kami.
NB : Novel IKATAN CINTA ALENNA sudah END di episode 63. Silakan mampir bagi yang kepo sama kisah bar-bar adik bulenya Mario.
Salam Luv 💙
***
Emang Mamanya kemana???
Sedangkan sewaktu Ayah Mario selepas pulang dari Bandara kan bareng Mamanya,terus kenapa " Ada tapi seakan tiada."?!
😤😤😤