Hidup Luna hancur setelah di jebak dan di hamili oleh kekasihnya - Gandhi. Terlebih saat Mira, Ibu dari Gandhi menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Suatu ketika Mira mengetahui Luna adalah anak tunggal dari Adiyatama Erlangga - Pemilik Perusahaan Erlangga Jaya. Ia menyesal telah menolak Luna dan berusaha mendekati Luna supaya Gandhi menjadi penerus Erlangga Jaya jika menikahi Luna.
Luna hancur saat ia diperalat sebagai boneka pemuas nafsu oleh Gandhi. Kemudian Luna mengetahui niat jahat Mira, ia segera melakukan sesuatu agar perusahaan Ayah tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti Mira dan Gandhi. Luna mengorbankan Aditya - Sahabat kecil Luna yang sejak dulu menyukainya. Luna melakukan hubungan intim dengan Aditya. Luna menikah dengan Aditya namun Gandhi mengakui bayi yang dikandung Luna adalah anaknya.
Siapakah ayah yang sebenarnya dari bayi yang dikandung Luna?
Apa rencana Gandhi dan Mira untuk mendapatkan Luna?
Bagaimana dengan pernikahan Luna dan Aditya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sity Qhomariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Tes DNA sudah dilakukan, tinggal menunggu hasilnya satu minggu lagi. Adit menjadi banyak diam. Luna terluka dan menyesal. Ingin rasanya berkata jujur namun tak sanggup bila nanti harus kehilangan Adit. Ayah dan Ibu sudah menyarankan Luna untuk berterus terang dengan Adit namun Luna mengurungkan niatnya. Ia tidak memiliki keberanian.
Waktu yang di tunggu pun tiba. Adit memaksa Luna untuk ke rumah sakit menemui Gandhi dan Ibunya. Mereka akan melihat hasil tes bersama-sama. Luna menggigil ketakutan. Ia menjadi panik dan gelisah. Tubuhnya sudah gemetaran sejak tadi. Adit terus menatapnya tajam. Dokter keluar dari ruangan dan memberikan kertas hasil tes. Mereka segera berkerumun. Sementara Luna terpaku di sudut, tidak berani mendekat.
Senyum Mira dan Gandhi mengembang, sementara Adit merah padam. Ia menatap Luna dengan sorot mata seperti hendak menerkam. Luna menggigil.
“Hubungan kita selesai. Silahkan urus Mentari bersama Ayah kandungnya!” teriak Adit dan berlalu meninggalkan Luna. Luna mengejar Adit dan menarik tangannya. Adit menepis dengan kasar.
“Jangan kejar aku lagi!” Adit mendorong tubuh Luna. Luna menangis, mulutnya mendadak tak bisa bersuara. Ia berteriak sekencang-kencangnya memanggil Adit namun hanya terdengar didalam hati. Luna jatuh tersungkur di lantai rumah sakit. Tubuhnya lemas. Ia kehilangan Adit. Kehilangan orang yang tulus mencintainya. Hidupnya benar-benar hancur semenjak kedatangan Gandhi dalam kehidupannya. Luna menyesal dulu telah mengenal Gandhi saat masih menjadi mahasiswa. Gandhi adalah perusak hidupnya sejak dulu hingga saat ini. Gandhi dan Mira mendekati Luna. Gandhi memapah Luna berdiri. Namun Luna menepis. Ia berjalan meninggalkan Gandhi dan Mira. Gandhi mengejarnya.
“Jangan dekati aku! Puas kau menghancurkan hidupku!” teriak Luna membuat beberapa orang di sekitar menoleh ke arahnya. Gandhi menghentikan langkah membiarkan Luna pergi sambil menghela nafas. Tiba-tiba terbesit rasa menyesal dihatinya.
Luna berjalan tak tentu arah, langit begitu mendung. Sebentar lagi hujan akan turun. Situasi ini mengingatkan Luna pada masa lalu. Saat ia berjalan kaki dibawah guyuran hujan sepulangnya dari apartemen Gandhi. Lalu Fandra muncul untuk menolongnya. Namun saat ini hal tersebut tidak akan terulang kembali. Fandra tidak ada disini. Ia berada di Kalimantan meneruskan usaha ibunya. Fandra adalah kakak terbaik Luna, dewa penolong Luna sejak kecil, saat Luna terluka atau di jahili oleh Adit. Sekarang orang-orang baik telah pergi meninggalkan Luna.
Tubuh Luna menggigil kedinginan. Air hujan membasahinya. Ia merasa sangat lemas dan tak sanggup lagi berjalan. Tiba-tiba bersamaan dengan suara guntur, Luna jatuh pingsan di trotoar.
Luna membuka matanya. Ia terdiam sejenak menatap langit-langit ruangan. Kemudian ia menangis. Ia sudah sering membuka mata dan menatap langit-langit rumah sakit sejak dulu. Dan orang terkasih selalu ada didekatnya. Namun saat ini ia membuka mata setelah semua orang pergi meninggalkannya. Luna menangis. Rasanya ia tak sanggup lagi untuk membuka mata.
Pintu rumah sakit terbuka, Ayah dan Ibu serta membawa Mentari memasuki ruangan.
“Luna? Kamu udah sadar, Nak?” Ibu bergegas menghampiri.
“Dimana Adit, Bu?” tanya Luna lirih. Ayah dan Ibu saling berpandangan.
“Adit perlu waktu untuk menenangkan diri. Kamu harus segera pulih.” Kata Ibu. Luna tertunduk lemah. Ibu ingin memberitahukan sesuatu kepada Luna namun melihat Luna tidak bersemangat ia pun mengurungkan niatnya. Luna telah mengandung darah daging Adit. Usia kandungan baru satu minggu. Ibu mengetahuinya dari dokter yang memeriksa Luna. Itu adalah kabar bahagia yang harus Luna dan Adit terima. Namun karena situasi ini Ibu menundanya untuk memberitahukan kepada mereka. Ibu ingin memberi waktu kepada Luna dan Adit untuk menenangkan diri.
Luna sudah kembali ke rumah. Matanya sendu, ia melihat sekeliling. Mobil Adit tidak ada di garasi. Bahkan tanda-tanda kehadiran Adit pun tidak ada. Luna masuk ke dalam kamar. Memeriksa lemari. Baju-baju Adit kosong. Adit telah meninggalkan rumah. Hal yang di takutkan Luna benar-benar terjadi. Luna terduduk di lantai. Meringkuk sedih. Menyembunyikan wajahnya di atas lutut. Menangis sepuasnya.
Sudah dua hari Luna mengurung diri di kamar. Ayah dan Ibu sangat khawatir melihat keadaan Luna. Terlebih Luna sudah tidak pernah lagi melihat Mentari. Luna larut dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Separuh jiwanya pergi dan hilang bersama Adit.
“Luna? Buka pintunya, Nak. Kamu gak boleh seperti ini terus. Kamu masih punya Ibu, Ayah, Mentari. Mentari butuh kamu, Nak. Ayo keluar Luna.” bujuk Ibu dari balik pintu. Luna tetap tak bergeming.
“Luna? Buka pintunya, Ibu ingin memberi tahu sesuatu yang penting kepadamu.” Bujuk Ibu lagi. Luna mengangkat wajahnya. Guratan cantik di wajahnya sedikit tertutup oleh sendu dan kusam. Karena sudah berhari-hari menangis. Luna diam sejenak. Ibu terus saja memanggil dan membujuknya untuk membuka pintu. Akhirnya Luna bersedia membuka pintu kamar. Ibu segera masuk ke dalam dan duduk di tepi tempat tidur. Luna kembali naik ke atas ranjang kemudian duduk bersila di depan ibunya. Ibu membelai rambutnya. Merapikan rambut kusut Luna.
“Jangan sesali sesuatu yang sudah terjadi. Percaya kepada yang maha kuasa, beliau pasti akan mengembalikan kebahagiaan kamu. Ini cobaan buat kamu, kamu harus kuat menghadapinya.” Nasihat Ibu sambil mengelus pipi Luna.
“Tapi Adit ninggalin Luna, Bu.” Mata Luna berkaca-kaca.
“Percaya sama Ibu, Adit pasti kembali. Adit cuma butuh waktu untuk menerima semua ini.” Sahut Ibu.
“Mentari butuh Bundanya. Sebesar apapun kasih sayang Ibu dan Ayah kepada Mentari, tapi gak akan bisa menandingi kasih sayang ibu kandungnya. Tolong Luna lebih kuat lagi. Pikirkan Mentari, dia masih terlalu kecil untuk menanggung beban yang Luna pikul. Apalagi sekarang Mentari sudah memiliki calon adik.” Kata Ibu. Luna menoleh menatap Ibu.
“Maksud Ibu?” tanya Luna. Ibu tersenyum.
“Kamu sedang mengandung.”
“Hah?” Luna terkejut.
“Tolong di jaga baik-baik.” Ucap Ibu sembari mengecup kening Luna. Luna termangu. Berusaha mencerna informasi dari ibunya. Ibu berdiri kemudian keluar meninggalkan Luna di kamar.
Keesokan harinya, Luna keluar dari kamar dan bergegas menemui Ibu dan Ayah yang sedang berada di ruang makan.
“Luna? Alhamdulillah kamu sudah mau keluar. Kamu mau makan apa? Biar Ibu masakin. Luna mau apa?” tanya Ibu lembut, menawari Luna. Luna tersenyum dan menggeleng.
“Luna gak mau apa-apa, Bu. Makan yang ini aja.” Jawab Luna sambil mengambil makanan yang tersaji di meja makan. Ayah dan Ibu tersenyum melihatnya.
“Ndaa, Yah manaa!” teriak Mentari dengan bahasa cadel ala-ala anak batita. Mentari mencari ayahnya. Luna menoleh. Menatap Mentari begitu lama.
“Lun?” tegur Ibu. Luna terkejut.
“Eh! Iya! Anu! Itu! Aduuhh Ibuu! Luna harus ngomong apa?” Luna tergagap. Ibu tersenyum kemudian berjalan mendekati Mentari yang sedang asik bermain di atas karpet permadani.
“Mentari, ayah lagi keluar kota. Pulangnya lama. Doakan ayah cepat pulang bawa hadiah buat Mentari, yaa?” kata Ibu sambil mengusap kepala Mentari. Mentari mengangguk dan tersenyum lebar kemudian kembali asik bermain. Tanpa sadar Luna menyunggingkan senyum tipis melihat Ibu dan Mentari.
egois pula
baguslah adit gag ngemis²
langsung di ceraiin
udah gag suci
gag tau malu pula
8 like favorite😍 untuk mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk