NovelToon NovelToon
PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.

Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.

Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 GEJALA ANEH DARI SELATAN DAN PERINTAH BARU

Waktu berlalu begitu cepat. Sudah tiga bulan lamanya sejak Lin Mo duduk di atas takhta Kekaisaran Langit. Seluruh negeri tampak makmur dan damai. Ladang-ladang kembali hijau membentang luas hingga ke ufuk cakrawala. Pasar-pasar kembali ramai dilalui pedagang dari berbagai penjuru yang membawa barang dagangan mereka dengan senyum lebar di wajah. Rakyat hidup tanpa rasa takut lagi. Hukum ditegakkan dengan adil. Dan setiap pagi, saat Kaisar Lin Mo duduk di aula istana untuk menerima laporan dari para pejabat, wajahnya selalu tampak tenang namun penuh perhatian yang mendalam.

Pagi itu, matahari bersinar terang benderang menyinari halaman istana yang luas. Di dalam aula utama yang megah dan sejuk, Lin Mo duduk di atas takhta emasnya yang bersinar lembut di bawah cahaya jendela kaca besar. Ia mengenakan jubah kekaisaran berwarna ungu keemasan yang disulam benang emas berupa gambar naga terbang memegang permata di cakarnya. Cahaya ungu keemasan yang samar namun murni berdenyut lembut di sekujur tubuhnya seakan berirama dengan detak jantung dan napasnya. Di sebelah kanan takhtanya berdiri Chen Yu yang kini telah menjabat sebagai Panglima Besar Pasukan Kekaisaran. Wajahnya tampak gagah dan tegas dengan seragam panglima berwarna biru berhias emas. Matanya sesekali melirik ke arah saudaranya yang kini menjadi kaisar dengan penuh rasa hormat sekaligus kasih sayang yang tulus.

Seorang pejabat tinggi yang bertugas mengawasi wilayah selatan melangkah maju dan berlutut di hadapan takhta dengan wajah yang tampak cemas dan penuh kebingungan. Lin Mo menatap pejabat itu dengan pandangan yang lembut namun tajam. Ia memberi isyarat agar pejabat itu bangkit berdiri dan berbicara dengan tenang.

"Bangkitlah... Jangan takut... Katakanlah apa yang telah terjadi di wilayah selatan..."

Pejabat itu bangkit perlahan namun tangannya masih tampak gemetar hebat. Ia menundukkan kepala dan melaporkan suaranya terdengar penuh kebingungan.

"Yang Mulia... Di wilayah selatan... tepatnya di daerah perbatasan hutan belantara yang luas... sejak sebulan terakhir ini terjadi hal-hal yang sangat aneh... Tanah yang dulu subur dan hijau perlahan berubah menjadi gersang dan berwarna kelabu... Sungai yang mengalir dari pegunungan itu airnya perlahan menjadi keruh dan berbau menyengat... Tanaman layu dan hewan-hewan yang minum air sungai itu jatuh sakit dan mati... Penduduk desa di sana mulai merasa lelah dan lemah tanpa sebab yang jelas... Mereka berkata... bahwa dari arah hutan belantara itu sesekali terdengar suara dengungan rendah yang membuat dada terasa sesak dan kepala terasa pening..."

Lin Mo mendengarkan laporan itu dengan wajah yang perlahan berubah menjadi serius. Tangan kanannya yang bertumpu pada lengan takhta perlahan mengepal erat. Cahaya ungu keemasan di sepasang matanya berkilauan tajam seakan mencoba menembus jarak yang jauh dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di wilayah selatan yang jauh itu. Energi qi di dalam dadanya berdenyut cepat dan terasa berat seakan memberi peringatan bahwa hal itu bukanlah peristiwa alam biasa.

Chen Yu yang berdiri di samping segera melangkah maju dan berbicara dengan suara yang tegas dan penuh kesigapan.

"Yang Mulia... Izinkan hamba memimpin pasukan untuk menyelidiki wilayah itu... Jika ada makhluk berbahaya atau kekuatan gelap yang kembali muncul... hamba pasti akan membereskannya..."

Lin Mo menatap Chen Yu dan perlahan menggeleng pelan. Ia berdiri perlahan dari takhtanya dan melangkah turun menuju lantai aula yang luas itu. Cahaya ungu keemasan yang memancar dari tubuhnya perlahan melebar dan menyebar ke seluruh ruangan seakan menyapu segala keraguan dan kegelisahan yang ada di hati setiap orang yang hadir di sana.

"Kekuatan yang muncul di selatan itu... bukanlah makhluk biasa... dan bukan pula sisa-sisa kekuatan gelap yang pernah kita hadapi... Energi yang terpancar dari sana... terasa sangat kuno... sangat dalam... dan penuh dengan kesedihan yang tak terhingga..."

Lin Mo berhenti tepat di depan jendela besar yang menghadap ke arah selatan. Ia menatap ke kejauhan seakan dapat melihat puncak gunung tertinggi di wilayah selatan yang tertutup awan kelabu yang tak pernah terlihat sebelumnya. Cahaya ungu keemasan di matanya berdenyut lembut seakan sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang tersembunyi di balik awan kelabu itu.

"Konon di bagian paling dalam hutan belantara selatan... terdapat sebuah tempat yang dijaga ketat sejak ribuan tahun silam... Tempat itu bernama Lembah Awan Gelap... Dikatakan bahwa di sanalah leluhur kita dulu pernah menyegel sebuah kekuatan purba yang sangat dahsyat namun penuh dengan kebencian dan kesedihan... Kekuatan itu bukanlah jahat secara alami... melainkan ia terluka... dan luka itu tak pernah sembuh sepanjang ribuan tahun..."

Lin Mo berbalik perlahan menatap para pejabat dan prajurit yang menatapnya dengan penuh rasa hormat sekaligus kekaguman yang mendalam. Wajahnya tampak tenang namun matanya bersinar teguh dan penuh ketetapan hati yang tak tergoyahkan.

"Aku akan pergi sendiri ke selatan... untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi..."

Mendengar itu, seluruh orang yang hadir di aula itu serentak menundukkan kepala dan memohon dengan suara yang penuh kecemasan.

"Ampuni hamba Yang Mulia... Itu terlalu berbahaya... Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Yang Mulia... Kekaisaran ini belum lama damai... Rakyat masih sangat membutuhkan kehadiran Yang Mulia..."

Lin Mo tersenyum lembut namun tegas. Ia melambaikan tangan memberi isyarat agar mereka tenang.

"Justru karena kekaisaran ini damai dan rakyat hidup bahagia... maka aku harus pergi... Jika kekuatan purba itu benar-benar terbangun dan melukai rakyatku... maka kedamaian yang kita bangun bersama akan hancur lebur... Aku tidak akan berdiam diri melihat rakyatku menderita... demi keamanan seluruh negeri... aku harus pergi..."

Lin Mo menatap ayahnya yang berdiri tenang di ambang pintu aula. Kaisar Agung tersenyum penuh kebanggaan dan kasih sayang. Ia mengangguk pelan kepada putranya.

"Pergilah... Lin Mo... Takhta bukanlah tempat yang paling penting bagimu... Hati nuranimu lah yang menjadi penuntunmu... Jangan takut... Karena kekuatan yang mengalir di dalam tubuhmu adalah kekuatan yang diciptakan untuk melindungi bukan untuk menaklukkan... Percayalah pada hatimu... dan semoga cahayamu menenangkan badai yang sedang bangkit..."

Lin Mo mengangguk hormat kepada ayahnya. Lalu ia menatap Chen Yu yang menatapnya dengan wajah yang penuh keinginan untuk ikut serta. Lin Mo tersenyum dan menepuk bahu saudaranya dengan lembut.

"Kau tetap tinggal di ibu kota... menjaga ketertiban dan membantu ayahku... Aku pergi sendirian... Karena kekuatan yang akan kuhadapi mungkin membutuhkan pendekatan yang berbeda dari pertempuran biasa... Jika aku membutuhkan bantuan... aku pasti akan memanggilmu..."

Chen Yu menatap saudaranya dengan mata yang berkaca-kaca namun ia tahu bahwa keputusan Lin Mo tak dapat diubah lagi. Ia pun membungkuk hormat dan berkata dengan suara yang tegas namun penuh haru.

"Baik Yang Mulia... Hamba akan tetap menjaga rumah... Semoga perjalananmu aman... dan semoga kau segera kembali dengan selamat..."

Malam itu juga, Lin Mo bersiap berangkat. Ia hanya membawa pedang Naga Surgawi yang tergantung di pinggang kirinya. Tidak ada beban berat. Tidak ada pengawal. Ia melangkah keluar dari gerbang istana di bawah sinar bulan purnama yang terang benderang namun di kejauhan arah selatan tampak tertutup awan kelabu yang tebal dan berputar perlahan seakan menanti kedatangannya. Cahaya ungu keemasan yang samar menyelimuti tubuhnya seakan melindunginya dari segala bahaya yang menanti di jalan yang jauh itu.

Langkah kakinya mantap dan tenang. Ia tahu bahwa perjalanan ini tak akan mudah. Ia tahu bahwa apa yang menantinya di lembah selatan itu bukanlah musuh yang dapat ditaklukkan dengan kekuatan semata. Namun ia juga tahu bahwa selama hatinya tetap tulus dan cahayanya tetap bersinar murni... tak ada badai apa pun yang mampu menenggelamkannya. Dan demi rakyatnya... demi kedamaian yang mereka nikmati... ia rela menempuh bahaya apa pun yang datang.

 

1
Predi Siswanto
katanya mau memahami kekuatan yg baru di dpat kan kok malah prgi lagi ...AQ jadi curiga jangan jangan kepala Ator nya lagi eror🤣🤣
Arman: maaf jika ada cerita/alur yg kurang memuaskan tapi ini cerita yg bertahap kakak baru baca awal bab jadi wajar jika tokoh utama Masi lemah
total 1 replies
Predi Siswanto
tu kan makin letoy
Predi Siswanto
tambah letoy
Predi Siswanto
tu kan mulai letoy
Predi Siswanto
Alang kah hebat nya oi..jangan jangan begitu keluar langsung keok keok🤣🤣🤣
Alia Chans
ceritanya keren thor/Smile/
Arman: terima kasih pujian mu semangat ku💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!