Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian di balik dapur dan meja makan
Alika terbangun lebih awal dari biasanya. Suara azan Subuh dari masjid terdekat tidak lagi ia anggap sebagai gangguan, melainkan sebuah alarm alami. Di sampingnya, Farhan sudah lebih dulu bangun dan bersiap ke masjid. Sejak malam itu, ada kesepakatan tak tertulis di antara mereka: Alika tidak lagi dipaksa, tapi ia memilih untuk bangun.
Setelah sholat, Alika tidak kembali tidur. Ia melangkah menuju dapur dengan ragu. Selama hidup di rumah ayahnya, dapur adalah wilayah terlarang baginya. Ayah selalu bilang bahwa tangan Alika yang kasar dan kotor tidak pantas menyentuh peralatan masak yang bersih, sementara Alya selalu dipuji karena masakan dan ketelatenannya.
"Mau masak apa, Nak?" suara Ummi Salamah mengagetkan Alika yang sedang menatap deretan bumbu di rak.
"Alika mau coba buat sarapan, Ummi. Tapi Alika cuma tahu cara masak mie instan," jawabnya jujur tanpa basa-basi. Ia tidak ingin berpura-pura pintar di depan mertuanya.
Ummi tersenyum dan mendekat. "Tidak apa-apa. Semua orang mulai dari tidak tahu. Kita buat yang sederhana saja, nasi goreng mentega dan telur mata sapi. Kamu kupas bawangnya, pelan-pelan saja."
Alika mulai bekerja. Jari-jarinya yang biasa memegang stang motor kini harus berurusan dengan pisau dapur. Ia sempat mengaduh pelan saat ujung jarinya teriris tipis, namun ia segera menyembunyikannya dari Ummi. Ia teringat kata-kata Farhan: belajar itu mendaki gunung. Luka kecil ini tidak ada apa-apanya dibanding luka batin yang ia terima bertahun-tahun karena dianggap tidak berguna.
Satu jam kemudian, meja makan sudah siap. Farhan yang baru pulang dari masjid tampak terkejut melihat Alika mengenakan celemek, wajahnya sedikit berkeringat, dan tangannya berbau bawang.
"Ini masakan Alika, Farhan. Ummi cuma bantu mengarahkan sedikit," ujar Ummi dengan nada bangga.
Farhan duduk dan mulai mencicipi. Nasi goreng itu sejujurnya agak terlalu asin, dan telurnya sedikit gosong di bagian pinggir. Alika menahan napas, menunggu komentar. Di kepalanya, ia sudah membayangkan kritikan tajam seperti yang biasa dilontarkan ayahnya jika masakan Alya sedikit saja kurang sempurna.
"Enak," kata Farhan singkat sambil terus menyuap. "Bumbunya pas untuk lidah saya."
Alika mengembuskan napas lega. Ia tahu Farhan mungkin sedikit berbohong untuk menghargai usahanya, tapi itu jauh lebih baik daripada kebenaran yang menyakitkan.
Namun, suasana tenang itu berubah saat pintu depan diketuk dengan keras. Ayah Alika datang tanpa kabar. Wajahnya tampak tegang dan matanya langsung menyapu ruangan hingga berhenti pada Alika.
"Bagus. Sudah bisa jadi pembantu di sini?" sindir Ayah saat melihat Alika masih memakai celemek.
Alika terdiam. Rasa sakit itu kembali muncul, namun kali ini ia tidak membalas dengan teriakan. Ia hanya melepas celemeknya dengan tenang.
"Alika sedang belajar masak untuk suaminya, Pak Ahmad," sahut Ummi Salamah dengan nada yang sopan namun tegas, mencoba membela menantunya.
Ayah Alika duduk di ruang tamu dengan angkuh. "Saya datang ke sini untuk memastikan kalian tidak menyesal. Pak Ridwan, sahabat saya, berkali-kali menanyakan kenapa Farhan tidak jadi dengan Alya. Saya malu menjawabnya."
Farhan yang baru saja selesai makan, berjalan menuju ruang tamu. Ia duduk di depan ayah mertuanya dengan tenang. "Ayah, tidak ada yang perlu dimalukan. Alika adalah istri saya, dan dia jauh lebih hebat dari apa yang Ayah bayangkan."
"Hebat apa? Masak saja baru belajar sekarang? Alya sudah bisa masak rendang sejak umur lima belas tahun!" Ayah Alika tertawa sinis. "Saya dengar dari teman-temannya di jalan, Alika ini cuma mau harta kamu saja, Farhan. Dia itu tidak bisa berubah."
Alika yang berdiri di balik tembok dapur mengepalkan tangan. Air matanya nyaris jatuh, tapi ia menahannya. Ia ingin lari keluar, mengambil motornya, dan kembali ke jalanan yang liar di mana tidak ada orang yang menuntutnya menjadi sempurna.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara Farhan yang berat.
"Ayah, jika Ayah datang ke sini hanya untuk merendahkan istri saya, maka saya mohon maaf. Di rumah ini, Alika dihormati. Jika Ayah tidak bisa menghormatinya sebagai anak, tolong hormati dia sebagai istri saya. Alika yang Ayah kenal sudah tidak ada. Alika yang sekarang sedang belajar mengaji, belajar memasak, dan dia adalah wanita paling jujur yang pernah saya temui."
Suasana mendadak hening. Ayah Alika tampak terbungkam oleh keberanian menantunya. Ia tidak menyangka Farhan yang dikenal pendiam dan santun bisa bicara setegas itu demi membela "anak buangan".
Ayah Alika berdiri, merapikan kemejanya dengan kasar. "Terserah kalian. Kalau nanti dia berulah lagi dan mempermalukan keluarga besar kita, jangan cari saya."
Setelah Ayah pergi, Alika keluar dari persembunyiannya. Ia menatap Farhan dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kenapa kamu membela aku sehebat itu? Ayah benar, aku belum bisa apa-apa," bisik Alika.
Farhan mendekat, menatap mata Alika dengan lugas. "Karena saya suamimu. Dan karena saya tahu, bunga mawar tidak akan mekar jika setiap hari disiram dengan air cuka. Kamu hanya butuh orang yang percaya padamu, Alika. Dan saya orangnya."
Hari itu, Alika belajar satu hal penting: rumah bukan hanya tempat untuk tidur, tapi tempat di mana ia tidak perlu takut menjadi dirinya sendiri yang sedang berproses. Ia kembali ke dapur, mengambil piring kotor bekas makan, dan mencucinya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...