Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih bersama keluarga Arsen
"Enak, ngga, masakan mami?" tanya Annette ketika mereka mulai makan.
"Enak, tante." Dia akui bumbunya sangat terasa. Mama Arsen tidak pelit bumbu dalam memasak.
"Kok, tante. Mami, dong," protes Annette dengan wajah penuh senyum.
"I .... iya, mama," gugup Ananta malu malu.
"Nah, gitu, dong. Jangan sungkan Ananta. Kamu sudah kami anggap anak perempuan kami karena kamu bentar lagi jadi istrinya Arsen," jawab Latif Jaffar ngga kalah ramahnya.
"Berarti sudah boleh ninaninininu, dong, pi," sergah Arsen bercanda.
Wajah Ananta membara. Dia tau maksud ucapan Arsen.
"Ngga boleh. Belum resmi," tolak Annette cepat dengan gemas menatap putra semata wayangnya. Hampir saja centong nasinya mampir ke kepala putra jahilnya.
Latif Jaffar hanya tergelak. Dia terserah putranya saja.
"Papi ketawa, mam. Kayaknya boleh, tuh."
"Papi ngga ngomong gitu. Kamu, ya, sukanya fitnah papi," bantah Latif Jaffar cepat tapi tawanya tambah keras sampai dia tersedak. Rasanya cukup perih di tenggorokan dan di hidungnya.
"Minum dulu, pi. Kalo makan jangan sambil tertawa." Annette mengulurkan gelas yang berisi air dingin kepada suaminya. Tawanya juga jadi berderai melihat kesakitan suaminya.
"Tuh, papi kena karma. Ketahuan bohong sama mama," ejek Arsen.
"Enak aja," protes Latif Jaffar setelah menghabiskan minuman pemberian istrinya. Sakit di tenggorokan dan hidungnya mulai berkurang.
Ananta tersenyum manis melihatnya. Tidak ada yang mendominasi. Beda dengan keluarganya, karena mamanya yang sangat dominan.
*
*
*
Setelah acara makan malam usai, Ananta diminta Arsen menunggu sebentar karena ada berkas yang harus dia ambil. Sementara orang tua Arsen beranjak ke kamar.
"Atau mau ikut aku ke kamar?" Canda Arsen menggoda Ananta.
"NGGAK," tolaknya galak. Beberapa kali kalo dia hanya terkurung berdua saja dengan Arsen, akibatnya akan sangat fatal. Apalagi di kamar laki laki itu yang sudah pasti ada tempat tidurnya. Ananta yakin Arsen tidak akan kuat menahan hasratnya.
Arsen tertawa melihat protes Ananta yang ditampakkan dengan wajah masamnya. Dia juga hanya bercanda. Tidak mungkin membiarkan Ananta ikut ke kamarnya di mana ada mamanya di rumah. Mamanya bisa mengamuk. Kalo hanya ada papinya, Arsen yakin pasti tidak akan mempermasalahkannya.
"Kamu akan menunggu aku di mana?" Arsen bertanya sambil melihat wajah merona itu dengan gemas.
"Di dekat bunga bunga mawar itu aja."
"Oke."
Tapi sebelum Ananta pergi dia menarik tangan gadis itu hingga kini tubuh Ananta membentur dadanya.
"A arsen ...." Ananta tergagap. Tapi belum lagi dia melanjutkan kata katanya, bibir Arsen sudah menyentuh bibirnya. Menghisapnya pelan.
Nafas keduanya terngengah ketika Arsen melepaskan ci-um@nnya.
Ananta masih memejamkan matanya, seolah masih merasakan sensasi aneh tapi candu di bibirnya.
Hembusan nafas hangat Arsen membuat Ananta membuka matanya perlahan dengan malas. Sekarang dia terperangkap dalam tatap gelap Arsen. Laki laki itu kemudian menunduk lagi memberikannya ci-um@n singkat membuat jantungnya makin ngga bisa berdetak normal.
Kemudian Arsen melepaskan pelukannya dan berjalan cepat meninggalkan Ananta yang masih terpaku beberapa saat menatapnya.
Kemudian dengan debar yang masih menjalar cepat di dada, Ananta berjalan mendekati pekarangan yang penuh bunga. Di matanya terbayang lagi bagaimana wajah Arsen saat menci-umnya. Nampak lembut.
Bagaimana ini, dia sudah merasa diikat oleh Arsen. Sentuhan sentuhan fisik yang dilakukan Arsen membuatnya makin sulit mendefinisikan perasaanmya.sendiri terhadap Arsen. Apakah cinta atau n@fsu.
Tapi bodohnya dia suka dan ingin lagi Arsen melakukannya.
Ananta menarik nafas dalam dalam. Arsen adalah satu satunya laki laki yang sudah menyentuhnya. Dia tidak yakin kalo Arsen tidak pernah menyentuh perempuan lain. Apalagi perempuan yang disukainya sangat cantik. Ananta agak insecure.
Biasanya dia tidak terlalu peduli dengan sekitarnya. Tapi sejak perasan anehnya tumbuh subur terhadap Arsen, Ananta mulai membandingkan dirinya dengan gadis lain. Terutama istri orang itu.
Ananta kini sudah duduk di sebuah kursi besi berukir dan menatap bunga bunga mawar yang ditanam mamsnya Arsen. Semuanya terawat dengan baik. Setidaknya pemandangan ini bisa menenangkan perasaannya.
"Kamu suka bunga?" Mama Arsen sudah berada di dekatnya. Duduk di kursi yang berada di sampingnya.
Ananta mengangguk.
"Suka, mam."
"Kalo memandang bunga, hati kita rasanya tenang."
"Iya, mam." Dia sudah membuktikannya barusan. Jantungnya bisa ditenangkan karena menatap bunga bunga yang cantik ini.
"Saya membudidayakan anggrek di rumah, mam, karena saya ngga terlalu telaten. Kadang saya ngga berada di rumah selama berhari hari," jelasnya santun.
"Oh, iya, sih. Anggrek tahan ngga disiram berhari hari, ya."
Ananta mengangguk.
"Sebenarnya ada bunga mawar juga, mam, hanya beberapa saja yang saya tanam. Tapi ngga secantik mawar punya mama." pujinya apa adanya. Kelopak mawarnya tidak sebesar yang mama Arsen punya. Anehnya sekarang lidahnya mulai terbiasa memanggil mama pada Annette.
"Kamu bisa bawa pulang kalo kamu mau. Pilih saja yang kamu suka," tawar Annette hangat. Padahal dia sulit memberikan mawar itu untuk orang lain. Tapi terhadap Ananta, pengecualian.
"Iya, mam. Terimakasih." Ananta tersenyum canggung, kaget aja karena mamanya Arsen semurah hati ini padanya.
"Mama mau anggrek koleksi saya? Nanti saya titip Arsen," tawarnya sopan.
"Jangan dititipin. Arsen anaknya pelupa. Nanti anggreknya malah mati di.ruangannya," tawa Annette berderai.
"Ooo .... Iya, mam." Ananta tersenyum canggung lagi. Maksud ya disuruh antar ke rumah? Sama Arsen?
"Kamu bawanya saat datang ke sini aja," ujar Annette lagi. Lagi pula dia akan merasa senang kalo Ananta nantinya sering mengunjunginya.
"Iya, mam." Dia lebih baik datang sendiri saja mengunjungi mamanya Arsen. Selalu di dekat Arsen membuat jantungnya ngga sehat.
Tidak ada percakapan lagi di antara mereka karena keduanya sibuk dengan pikiran masing masing. Ananta masih menatap mawar mawar yang ada di depannya. Sangat indah.
Annette memperhatikan Ananta dengan seksama. Dia bisa melihat ada kenyaman dari putranya terhadap Ananta.
Dari penyelidikannya, Annette tau kalo Ananta tidak pernah bertingkah yang aneh aneh. Lulus kuliah S2 malah menjadi guru kindergarten. Padahal dia bisa bekerja di perusahaan papanya atau perusahaan rekanan papanya, tapi dia memilih bekerja sebagai guru, mengajar anak anak usia pra sekolah. Kabarnya untuk mendukung karir papanya. Dan gadis ini sudah melakukan yang terbaik.
Annette sudah membaca beritanya yang viral di berbagai media online.
Dia tangguh. Memang pantas untuk Arsen. Pasti dia bisa menolong Arsen nantinya di saat terpuruknya laki laki itu. Annette tau, hal hal buruk bisa terjadi kapan saja. Kenyamanan tidak akan abadi.
Seperti yang sudah dialami dirinya dulu. Saat yakin bisa hidup bahagia bersama Latif karena sudah hamil anak laki laki itu, tapi dia malah terbuang dan srmpat dilupakan.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?