Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA
Malam berikutnya, suasana di dalam rumah terasa makin berat dan menekan. Tidak ada yang berbicara banyak saat makan malam. Rina merasakan ketegangan di antara ayah dan anak itu, tapi tidak tahu apa penyebabnya. Zain menolak menjelaskan apa pun, hanya bilang itu masalah pengganggu yang iseng lewat telepon. Lia diam saja, hatinya dipenuhi rasa curiga dan ketakutan yang makin menumpuk.
Ponsel Lia kembali bergetar saat ia sedang bersiap tidur. Kali ini dari nomor yang berbeda lagi — deretan angka asing yang tidak ia kenali.
“Jangan bersembunyi di belakang ayahmu. Dia tidak bisa melindungi siapa pun.”
Lia membaca pesan itu dengan tangan gemetar hebat. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia langsung mematikan ponselnya total, melempar ke atas meja jauh dari jangkauan, dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia berusaha keras tidak memikirkan kalimat itu, berusaha meyakinkan diri semua ini cuma ulang orang gila yang iseng.
Namun beberapa saat kemudian, saat ia berbaring memejamkan mata, dari arah cermin besar di sudut kamarnya, terdengar suara bisikan pelan dan kasar — seolah berbicara tepat di samping telinganya.
“Lia…”
Lia langsung duduk tegak. Napasnya tertahan di tenggorokan. Perlahan, dengan jantung berdegup kencang, ia menoleh ke arah cermin.
Sosok itu sudah ada di sana.
Kali ini gadis itu tidak berdiri jauh di belakang. Ia sudah berdiri tepat di balik permukaan cermin, seolah-olah dinding kaca itu hanyalah tirai tipis yang memisahkan dunia mereka. Wajahnya pucat basah, rambutnya menutupi sebagian pipinya, dan matanya menatap Lia begitu tajam, penuh rasa sakit yang tak terperi.
Lia mundur perlahan hingga punggungnya menyentuh sandaran tempat tidur. “Ka… kamu siapa sebenarnya?” suaranya keluar bergetar nyaris tak terdengar.
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Lia lekat-lekat, lalu perlahan mengangkat tangannya yang pucat dan menunjuk lurus ke arah pintu kamar Lia.
Lia menoleh dengan rasa ngeri yang merayap naik. Pintu kamar itu bergerak sendiri. Perlahan, berderit pelan, terbuka lebar ke luar. Lorong di luar sana tampak gelap gulita, kosong, seolah mulut raksasa yang siap menelan siapa saja yang melangkah ke sana.
Ketika Lia kembali memalingkan wajahnya ke cermin, sosok gadis itu sudah berdiri jauh lebih dekat ke permukaan kaca. Hampir menempel. Bibirnya bergerak sangat pelan, mengucapkan kalimat yang membuat darah Lia membeku.
“Dia tahu.”
Lia menggeleng kuat, air mata mulai menetes membasahi pipinya. “Tahu apa? Siapa yang tahu?”
“Semua kejahatan ayahmu. Semua dosa yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.”
Tiba-tiba, lampu kamar berkedip sekali lalu mati total. Ruangan seketika tenggelam dalam kegelapan . Lia menjerit sekuat tenaga, suaranya memantul di keheningan malam.
Beberapa detik kemudian, lampu menyala kembali dengan sendirinya. Terang menyilaukan mata.
Cermin di sudut kamar itu kini tampak kosong. Tidak ada sosok gadis itu lagi. Namun di permukaan kaca yang mengkilap, terlihat jelas jejak bekas telapak tangan yang basah — air yang masih menetes pelan meninggalkan noda di sana, seolah seseorang baru saja menekan kaca itu dari sisi dalam dengan sekuat tenaga.
Lia tidak berpikir dua kali. Ia langsung melompat turun dari tempat tidur, menerobos pintu kamar yang masih terbuka, dan berlari sekuat tenaga menuruni tangga menuju ruang tengah tempat ayahnya berada. Ia menangis sepanjang jalan, kakinya gemetar nyaris tak bisa menapak.
Zain yang sedang duduk di sofa langsung berdiri kaget mendengar suara tangis dan langkah kaki berlari. “Lia? Ada apa lagi?”
Lia jatuh berlutut di depan ayahnya, memegang erat kedua kaki Zain. “Dia… dia tadi ada di cermin, Yah! Dia bilang Ayah menyembunyikan kejahatan! Dia bilang semua ini karena dosa Ayah!”
Zain terpaku. Wajahnya pucat pasi. Kata-kata Lia menghantamnya seperti pukulan palu yang keras hingga ke ulu hati. Ia tahu Lia tidak mengada-ada. Lia melihat apa yang seharusnya tidak bisa dilihat siapa pun. Lia menjadi sasaran amarah yang seharusnya seluruhnya ditujukan kepadanya.
Ia berjongkok dan memeluk putrinya yang gemetar hebat. Tangannya mengusap punggung Lia, tapi sentuhannya sendiri terasa dingin dan gemetar. “Tenang… tenang dulu. Ayah di sini. Tidak akan ada apa-apa terjadi padamu.”
Namun Lia melepaskan pelukan itu perlahan. Ia menatap mata ayahnya — tatapan yang kini berubah. Tidak lagi penuh kepercayaan seperti dulu. Kini ada rasa takut bercampur keraguan di sana. “Benarkah, Yah? Siapa perempuan itu sebenarnya? Apa yang Ayah lakukan dulu sampai dia datang mengejar kita?”
Pertanyaan itu menohok tepat ke jantung Zain. Ia tidak sanggup menjawab. Lidahnya terkunci rapat. Rasa bersalah yang selama ini ia kubur dalam-dalam kini merembes keluar, menenggelamkannya perlahan-lahan.
Malam itu Zain tidak tidur sama sekali. Ia duduk sendirian di ruang tamu, menatap lurus ke arah lantai yang dingin. Pikirannya terlempar jauh ke masa lalu — ke wajah Yovana muda, ke tangisan yang ia abaikan, ke surat terakhir yang ia baca lalu buang begitu saja. Semua rahasia kelam yang ia kira sudah terkubur aman bersama kematian gadis itu, kini bangkit satu per satu, mengetuk pintu rumahnya, menuntut penyelesaian.
Dan sekarang, Lia — anak perempuannya — yang menjadi sasaran pertama pembalasan itu.
Zain memejamkan mata erat-erat, menahan rasa sakit dan ketakutan yang luar biasa. Bibirnya bergetar pelan mengucap doa yang lebih terdengar seperti permohonan ampun putus asa. “Jangan ganggu anakku… tolong, Lia tidak tahu apa-apa… Jangan bawa dia ke dalam ini…”
Tidak ada jawaban. Hening.
Namun tiba-tiba, dari dinding ruang tamu, jam dinding tua yang sudah bertahun-tahun tergantung di sana berhenti berdetak. Jarumnya kaku menunjuk angka dua belas tepat — pukul 00.00
Zain perlahan mengangkat wajah. Lampu ruang tamu berkedip pelan. Sekali. Dua kali. Cahayanya meredup menjadi kekuningan suram.
Lalu dari arah lantai atas, dari ujung lorong yang gelap, terdengar suara perempuan memanggil namanya — lirih, dingin, dan begitu jelas.
“Zain…”
Darah Zain seketika membeku. Ia mengenali suara itu. Suara yang menghantuinya setiap kali ia memejamkan mata. “Yovana…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Suara itu terdengar lagi, kini makin dekat — seolah sudah berdiri di puncak tangga, hanya beberapa langkah dari tempatnya.
“Dia tidak bersalah, kan? Lia tidak bersalah, kan?”
Zain menatap ke arah tangga yang gelap gulita. Kakinya lemas tak bertenaga. Ia ingin berlari, ingin bersembunyi, tapi tubuhnya seolah terpaku ke lantai. “Aku tahu… aku tahu dia tidak bersalah…” suaranya gemetar penuh tangis yang tertahan.
“Kalau begitu… kenapa dia yang harus menanggung dosa ayahnya?”
Tiba-tiba — DUK!
Suara benturan keras disusul jeritan melengking Lia terdengar memecah keheningan, berasal dari kamar atas.
“AYAHHH!!!”
Itu suara Lia. Penuh rasa sakit dan ketakutan yang tak terlukiskan.
Zain tersentak sekuat tenaga. Instingnya sebagai ayah seketika mengambil alih. Ia langsung berlari secepat kilat menaiki tangga, melangkah cepat, nyaris terjatuh karena terburu-buru. “Lia!!!”
Sampai di depan pintu kamar Lia, ia mendorongnya sekuat tenaga hingga terbuka. Ruangan itu kosong.
Tempat tidur berantakan, selimut tergeletak di lantai, jendela besar di sisi dinding terbuka lebar — angin malam yang dingin berhembus masuk menerpa tirai yang berkibar-kibar seperti bendera perang. Di lantai dekat tepi tempat tidur, ponsel Lia tergeletak hancur layarnya.
Zain berlari mendekati jendela, memegang kusennya kuat-kuat, lalu melihat ke bawah ke halaman rumah yang gelap. “Lia! Lia!!!”
Ia berteriak nama putrinya berulang-ulang, suaranya parau dan pecah ditelan malam. Tapi tidak ada jawaban. Tidak ada suara apa pun. Rumah itu, halaman itu, jalanan di luar — semuanya hanya membalas dengan kesunyian yang mencekam dan menakutkan.
Beberapa saat kemudian, dari kejauhan, terdengar suara sirene mobil polisi dan ambulans meraung-raung keras, membelah keheningan malam, mendekat dengan cepat ke arah kompleks perumahan mereka. Suaranya makin lama makin jelas, makin nyaring, hingga akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Zain.
Lampu merah dan biru berputar-putar memantul ke dinding luar rumah, menerangi jendela kamar Lia tempat Zain masih berdiri kaku.
Zain membeku di tempat. Wajahnya perlahan runtuh. Kakinya lemas seketika, membuatnya jatuh berlutut di tepi jendela. Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi. Ia tahu siapa yang datang mengambil alih. Dan ia akhirnya benar-benar memahami pesan yang selama ini dikirim kepadanya: Yovana tidak kembali untuk meminta maaf. Yovana kembali untuk menuntut keadilan yang seharusnya ia dapatkan sejak lama.
Dan Lia — putri yang tidak berdosa itu — baru saja menjadi korban pertama dari seluruh hutang nyawa yang harus Zain bayar.