NovelToon NovelToon
Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Bosku Menjadi Suami Rahasiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Fajar Rizky

Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu dengan Bagas

"Amara."

Tanganku yang hendak merogoh tas seketika terasa kaku. Aku mendongak, dan sosok yang sangat familiar berdiri di sana—Bagas! Sepupuku yang dulu sangat dekat denganku.

"Mara, ini benar-benar kamu," ujar Bagas dengan raut wajah penuh kegegeran sekaligus lega. Dia melangkah maju dan langsung mencengkeram pergelangan tanganku. "Bagaimana bisa kamu ada di sini? Keluargamu sudah mencarimu setengah mati selama beberapa tahun terakhir ini, kamu tahu tidak?"

Pandanganku jatuh pada jemari Bagas yang mencengkeram tanganku. Ekspresi wajahku berubah datar, bahkan cenderung dingin. "Pak Bagas, ada urusan apa ya?"

Bagas tertegun sejenak. Dia perlahan melonggarkan cengkeramannya, dan aku segera menarik tanganku kembali.

"Pak Bagas?" ulangnya dengan nada tidak percaya.

"Benar, kan? Kudengar sekarang Pak Bagas sudah menjabat sebagai direktur di perusahaan keluarga. Apa salah kalau aku memanggilmu secara formal?" jawabku dengan senyum tipis yang tawar.

Sebenarnya, jika tragedi tiga tahun lalu itu tidak pernah terjadi, hubunganku dengan sepupuku ini sangat baik dan erat. Kami tumbuh besar bersama, dan meski bukan saudara kandung, kedekatan kami sudah seperti kakak adik sendiri.

Namun justru karena merasa paling dekat, Bagas menjadi orang pertama yang menentang keras saat tahu aku berpacaran dengan Rendy, pria dari latar belakang sederhana. Dia bahkan menemui Rendy secara pribadi dan membuat harga diri Rendy sangat terluka .

Memori kelam itu masih membayang jelas di kepalaku, dan berdiri di hadapan Bagas saat ini membuat hatiku mengeras seperti batu karang.

Melihat sikap dinginku, guratan rasa bersalah sempat melintas di wajah Bagas, namun dia dengan cepat menguasai diri. "Mara, aku tahu kamu masih menyimpan dendam padaku selama bertahun-tahun ini. Aku mengaku kalau caraku menangani masalah waktu itu memang salah. Soal musibah yang menimpa Rendy... tidak ada satu pun dari kami yang menginginkan hal itu terjadi. Kamu..."

Bagas terus berusaha menjelaskan posisinya, namun aku hanya memutar bola mata karena malas mendengar retorika yang sama. Aku berbalik untuk meninggalkannya.

Melihatku hendak pergi, Bagas kembali menahan tanganku. "Mara, pulanglah bersamaku. Sejak kamu pergi dari rumah, suasana keluarga jadi kacau, bahkan Paman sampai harus dirawat di rumah sakit."

"Lepaskan tangannya!"

Sebuah suara dingin dan terasa menusuk mendadak menyela ucapan Bagas. Tanpa perlu menoleh pun aku sudah tahu pasti siapa pemilik suara itu.

Bagas sempat menahan genggamannya sejenak sebelum akhirnya berbalik. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan saat menyadari siapa yang berdiri di sana. "Pak Bastian?"

Bastian berdiri dengan garis wajah yang mengeras. Dia menatap Bagas dengan tatapan dingin tanpa ramah tamah. "Pak Bagas."

Tanpa membuang waktu, Bastian melangkah maju, merebut pergelangan tanganku dari genggaman Bagas, lalu menarik tubuhku rapat ke dalam dekapannya.

Bagas menatap tindakan Bastian dengan alis berkerut penuh tanya. Dia lalu mengalihkan pandangannya kepadaku. "Mara, kamu dan Pak Bastian..."

Sebelum Bagas sempat menyelesaikan kalimatnya, aku memiringkan kepala menatap Bastian dan memotong, "Katanya malam ini mau mengajakku makan steak? Aku sudah lapar."

Genggaman tangan Bastian di pinggangku seketika mengencang. "Ayo."

Kami berdua berbalik dan melangkah menuju pintu kamar. Bagas hanya bisa berdiri terpaku di koridor, tidak mencoba mengejar ataupun bersuara lagi.

Begitu masuk ke dalam kamar, aku melepaskan sepatu hak tinggiku untuk menggantinya dengan sandal kamar. Namun, saat tubuhku baru membungkuk, Bastian menarik salah satu pergelangan tanganku hingga aku terpaksa berdiri tegak kembali.

"Ada apa lagi?" tanyaku agak jengkel sambil berusaha menarik tanganku dari cengkeramannya.

"Bagas, Direktur Utama dari PT.Cipta Utama itu... bagaimana bisa kamu kenal dengannya?" Bastian menatapku dengan tajam, genggamannya terasa semakin erat seolah tidak akan melepaskannya sebelum mendapat jawaban.

"Mana aku tahu dia siapa?" bantahku cepat. "Aku cuma tidak sengaja berpapasan dengannya di depan lift. Pria itu mungkin sedang mabuk dan salah mengira aku sebagai orang lain!"

"Mabuk dan salah orang?" Bastian mengangkat sebelah alinya, senyum sinis terukir di wajahnya. "Amara, kamu pikir aku bakal percaya cerita tidak masuk akal begitu?"

Mau percaya atau tidak, itu urusanmu!

Aku menarik napas dalam-dalam lalu melangkah tanpa alas kaki di atas lantai. "Terserah mau percaya atau tidak, tapi yang kukatakan itu memang kenyataannya. Kalau tidak percaya, silakan keluar sekarang dan tanyakan sendiri pada pria itu untuk tahu apa hubunganku dengannya."

Sikapku sengaja kubuat mengeras. Dadaku terlihat naik turun karena menahan emosi yang melonjak.

Aku sangat tahu Bastian tidak mungkin benar-benar pergi menemui Bagas untuk mengonfirmasi hal sepele seperti ini. Lagipula, kalaupun Bastian bertanya, Bagas tidak akan pernah membongkar rahasianya.

Aku dan Bagas tumbuh bersama. Aku sangat memahami sifatnya yang penuh perhitungan. Jika dia mengingat kembali masa laluku, dia pasti bisa menebak alasan utamaku bertahan di samping Bastian.

Mana mungkin Bagas tega berkata pada Bastian: Amara itu adik sepupuku, dan dia bertahan bersamamu hanya karena memanfaatkan wajahmu sebagai pengganti almarhum pacarnya.

Terlepas dari perselisihan kami soal Rendy, Bagas selalu menyayangiku sejak kecil. Jadi meskipun Bastian mendesaknya, Bagas pasti akan memilih bungkam.

Melihat sikapku yang keras kepala, nada bicara Bastian perlahan sedikit melunak meski tetap tegas. "Amara, sebaiknya jangan sampai aku tahu kalau kamu sedang membohongiku."

Aku hanya bisa membisu.

Gara-gara insiden dengan Bagas tadi, baik aku maupun Bastian sama-sama kehilangan selera untuk keluar mencari restoran. Kami akhirnya memesan layanan kamar untuk menikmati hidangan malam di dalam kamar kami.

Saat memotong daging steak di piringku, aku sengaja menekan pisaunya agak kuat hingga menimbulkan suara decitan yang cukup bising.

"Amara," panggil Bastian. Dia mengambil serbet kain dari meja lalu menyapu bibirnya dengan gerakan anggun. "Makanlah dengan benar."

"Bastian," sahutku sambil membanting pisau dan garpu ke atas meja hingga berdenting keras. "Ini bukan di kantor lagi. Kita sedang tidak dalam hubungan atasan dan bawahan. Kita ini pasangan suami istri yang sah secara hukum, jadi bisakah kamu berhenti memerintahku terus-menerus?"

Bastian menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapku dengan perpaduan antara sikap malas dan rasa geli. "Baiklah, Bu Amara, silakan lanjutkan makanmu dan jangan membuat keributan lagi, ya?"

Aku dengan cemberut menatapnya.

Melihat ekspresiku yang masih ditekuk, Bastian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebatang rokok dengan jarinya . "Jadi, katakan sejujurnya... apa hubungan sebenarnya antara kamu dan Bagas?"

Bastian sama sekali tidak menatapku saat menanyakan hal itu. Dia memegang sebatang rokok yang belum dinyalakan di jemarinya, mendekatkannya ke bibir, sementara tangannya yang lain memantik korek api.

Gerakannya terlihat begitu tenang dan memikat. Aku menatapnya selama beberapa detik, lalu tiba-tiba bersuara, "Dulu dia pernah bertahun-tahun mengejarku."

Mendengar pengakuanku, Bastian tertawa sinis. "Bagas? Mengejarmu?"

"Iya," jawabku tanpa berkedip.

Bastian menjauhkan rokok dari wajahnya, lalu menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. "Amara, kamu yakin bukan kamu yang dulu menggejar-ngejar Bagas?"

"Kalau dulu aku yang mengejarnya, menurutmu untuk apa dia menatapku dengan pandangan penuh penyesalan begitu di koridor tadi?" Aku mengambil tisu untuk menyapu bibirku, karena selera makanku sudah menguap sepenuhnya.

1
sunaryati jarum
Kalian benar - benar pintar menyembunyikan status pernikahan kalian.
sunaryati jarum
Wah minta imbalan Rian
sunaryati jarum
Bastian makin menunjukkan perilaku sebagai suami, Amara.
sunaryati jarum
Shela sepertinya yang suka sama Bastian
sunaryati jarum
Amara hilangkan bayangan mendiang kekasihmu cukup di kenang dan masukkan Bastian suamimu
sunaryati jarum
👋👋👋 untuk Amara
sunaryati jarum
Dilamar diketahui suami😃
sunaryati jarum
Siapa, Bastian punya adik?
sunaryati jarum
Berarti dirahasiakan,ya
sunaryati jarum
Istrinya CEOmu ya sahabatmu
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!