NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sekali-Sekali Gapapa

...****************...

"Yang bener, Nay?" tanyanya tidak percaya. "Dirga Atmajaya yang terkenal itu?"

"Iya, itu."

"Ya Tuhan..."

Kanaya hanya bisa menghela napas pelan. Melihat ekspresi Dinda yang seperti baru saja mendengar berita paling mengejutkan tahun ini, entah kenapa ia justru merasa sedikit lega.

Setidaknya, ternyata bukan hanya dirinya yang masih sulit percaya bahwa dalam waktu dua minggu lagi, ia akan menikah dengan seorang pria bernama Dirga Atmajaya.

"Kanaya, kamu serius?"

"Ya serius. Masa nggak serius?"

"Tapi dua minggu lagi, Nay." Dinda masih tampak belum bisa menerima kenyataan itu. "Kenapa buru-buru?"

Kanaya menundukkan pandangannya sejenak. Ujung sumpit ditangannya bergerak pelan mengaduk kuah ramen yang sejak tadi sudah mulai dingin.

"Dia yang minta nikahnya dua minggu lagi, Din." ucapnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Jawaban itu keluar begitu saja, tetapi justru membuat Dinda semakin curiga. Ia mengenal Kanaya terlalu lama untuk tidak menyadari perubahan kecil pada ekspresi sahabatnya itu.

"Kenapa ngalihin pandangan gitu?" tanyanya sambil memajukan tubuhnya sedikit ke atas meja. "Ada yang kamu tutupin?"

Kanaya yang merasa tertangkap basah hanya menggaruk pelipisnya pelan.

"Nggak ada."

"Kanaya."

"Apa?"

"Jangan bohong."

Hening sejenak.

Ada alasan mengapa Kanaya jarang berbohong pada Dinda. Selain karena tidak terbiasa, setiap kali mencoba melakukannya, Dinda selalu berhasil mengetahuinya dalam hitungan detik.

"Ada apa?" tanya Dinda lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut.

Kanaya mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyerah. "Dia memang mau pernikahan itu di langsungkan agar cepat selesai."

"Cepat selesai gimana maksudnya?"

"Kemarin kita berdua bicara empat mata."

Kanaya berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat untuk menceritakan semuanya.

"Dia tanya kenapa aku menerima perjodohan ini, dan aku jawab karena itu permintaan terakhir Kakek." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Terus dia bilang kalau dia menerima perjodohan ini semata karena dia harus mempertahankan apa yang sudah dia perjuangkan mati-matian. Dan juga menyelamatkan orang-orang yang selama ini bekerja dengannya."

Dinda masih diam, menunggu Kanaya melanjutkan ceritanya.

"Dia juga bilang kalau aku nggak boleh salah paham dan menganggap pernikahan ini punya arti lebih." Kali ini, suara Kanaya terdengar jauh lebih pelan. "Dia juga mengajukan beberapa syarat setelah kami menikah nanti."

"Syarat?"

Kanaya mengangguk kecil.

"Iya. Aku nggak boleh ikut campur urusan pribadinya apapun itu. Aku juga nggak boleh berharap apa pun dari dia, termasuk soal perasaan." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Dan... dia bilang kalau dia masih punya seseorang di hidupnya."

Dinda yang sedari tadi masih berusaha tenang perlahan meletakkan sumpitnya di atas meja.

"Terus?"

"Yang terakhir..." Kanaya tersenyum tipis, meski senyum itu terasa begitu tipis hingga nyaris tak terlihat. "Dia minta pernikahan ini hanya berlangsung selama satu tahun. Setelah itu, kami akan bercerai."

Untuk beberapa detik, Dinda hanya terdiam. Ia menatap Kanaya seolah berharap sahabatnya itu tiba-tiba tertawa dan mengatakan bahwa semuanya hanyalah lelucon.

Namun, Kanaya tidak tertawa.

"Do you agree with all of that, Nay?"

"Hmm." Kanaya mengangguk pelan. "Aku setuju."

"Kamu gila, ya?"

Nada suara Dinda yang meninggi kali ini membuat Kanaya refleks menoleh ke beberapa meja di sekitar mereka.

"Pernikahan macam apa pakai syarat nggak masuk akal kayak gitu?" lanjut Dinda dengan wajah tidak percaya. "Kamu nggak bisa nolak apa?"

"Din..." Kanaya tersenyum kecil. "Ngelihat orang tuaku dan orang tuanya ngobrolin pernikahan dengan mata yang berbinar penuh harap, menurutmu aku tega batalin gitu aja?"

"Ya seenggaknya pikir diri kamu sendiri, lah!" balas Dinda cepat. "Itu cowok namanya egois. Jahat banget, sumpah."

"It's okay, Din. Satu tahun itu cepet, kok. Setelah itu selesai."

"Dan selama satu tahun kamu ngejalanin pernikahan toxic?"

Kanaya hanya tertawa kecil mendengar kalimat tersebut.

"Mending nggak usah nikah sekalian daripada harus hidup sama cowok redflag kayak gitu. Jauh banget sama Dev-..."

"Dinda."

"Ck." Dinda menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Aku kesel, Nay. Sorry."

Melihat wajah kesal sahabatnya, Kanaya justru merasa dadanya sedikit menghangat. Tidak banyak orang yang akan semarah ini demi dirinya.

"Selama satu tahun nanti, aku bakal berusaha tetap jadi istri yang baik untuk dia," ucapnya pelan. "Kalaupun nggak di terima dengan baik, ya nggak masalah. Aku juga nggak akan ambil pusing."

"Nggak ambil pusing, katanya."

"Aku serius."

"Aku tau."

Kanaya kembali melanjutkan ucapannya, kali ini dengan sorot mata yang jauh lebih hidup.

"Aku akan tetap jalanin hidupku seperti biasa. Setelah nikah nanti, aku akan lanjut S2 sama kamu sambil mulai bangun klinik impian kita."

Dinda menatapnya cukup lama sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Punya perasaan nggak usah lembut-lembut bisa nggak sih, Nay? Heran deh."

Kanaya terkekeh kecil. "Aku juga bisa jadi Sumala kali."

"Iya juga sih." Dinda mendengus pelan. "Malah lebih dari Sumalanya."

Hening sejenak menyelimuti meja mereka sebelum Dinda akhirnya meraih tangan Kanaya yang berada di atas meja dan menggenggamnya pelan.

"Kalau gitu, aku akan dukung apa pun keputusan kamu. Tapi kamu harus janji sama aku."

Kanaya menatapnya.

"Kalau ada apa-apa, kamu harus hubungin aku dan cerita sama aku. Kamu nggak boleh pendam apa pun sendirian. Ngerti, Nay?"

Senyum di wajah Kanaya perlahan melebar.

"Baik, Bu Dinda."

"Serius."

"Iya, Bu Dinda."

"Nggak boleh bohong juga."

"Siap, Bu Dinda."

Baru setelah mendengar jawaban itu, Dinda menghembuskan napas panjang sebelum kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Ya udah, ayo lanjut makan."

"Nggak ah." Dinda melirik mangkuk ramennya dengan malas. "Udah nggak nafsu, Nay."

Kanaya tak kuasa menahan tawanya. "Ya udah, ayo belanja. Aku traktir."

Secepat kilat, ekspresi Dinda berubah. "Ya udah, ayo!"

Kanaya hanya bisa menggeleng sambil tertawa pelan.

"Yeee... dasar."

...****************...

Percakapan mereka akhirnya berakhir ketika mangkuk ramen di atas meja telah kosong dan pelayan datang membawa lembar tagihan. Seperti janjinya tadi, Kanaya langsung mengambil dompet dari dalam tasnya dan melakukan pembayaran, sementara Dinda hanya duduk manis sambil sesekali tersenyum lebar.

"Enak juga ya punya teman yang mau nikah sama CEO," g0danya pelan.

Kanaya hanya mendengus kecil sambil menyerahkan kartu debitnya kepada pelayan. "Aku traktir terakhir kali, nih. Habis ini jangan berharap aku kaya mendadak."

"Gapapa. Yang penting sekarang masih bisa di manfaatin."

"Dinda!"

Tawa keduanya kembali memenuhi meja mereka sebelum akhirnya bangkit dari kursi masing-masing. Setelah itu mereka pun melangkah keluar dari restoran Jepang tersebut.

Pusat perbelanjaan itu tampak jauh lebih ramai di bandingkan saat mereka datang beberapa jam sebelumnya. Langkah kaki para pengunjung bersahut sahutan memenuhi koridor, sementara suara musik yang mengalun dari pengeras suara berpadu dengan obrolan orang-orang yang berlalu lalang.

Dari lantai enam, Kanaya dan Dinda berjalan santai menuju eskalator yang akan membawa mereka turun ke lantai lima.

"Mau cari apa, Din?" tanya Kanaya sambil berdiri di samping sahabatnya saat eskalator mulai bergerak turun.

Dinda tampak berpikir cukup lama.

"Hmm... belum tau, Nay." Ia mengusap dagunya sok serius. "Pengen apa, ya? Cari yang mahal kali ya, mumpung ada yang traktir."

Kanaya spontan menoleh. "Ya ampun, matrenya."

Dinda terkekeh pelan.

"Aku matre juga sama kamu aja, Nay."

Kanaya menggeleng kecil sebelum balas tersenyum.

"Sama lagi. Aku matre juga sama kamu aja."

Mereka kembali tertawa bersama, seolah pembicaraan berat beberapa menit yang lalu tidak pernah terjadi. Begitulah mereka sejak dulu. Sesulit apa pun keadaan yang sedang di hadapi, pada akhirnya salah satu dari mereka akan selalu berhasil membuat yang lain tertawa.

Sesampainya dilantai lima, keduanya melangkah keluar dari eskalator dan mulai menyusuri koridor pusat perbelanjaan yang dipenuhi deretan toko-toko ternama. Lampu-lampu yang terang memantul dilantai marmer mengilap, sementara etalase berbagai merk terkenal berjajar memamerkan koleksi terbaru mereka.

Dinda yang sedari tadi berjalan di samping Kanaya tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Nay."

"Hmm?"

"Aku punya ide."

Kanaya langsung menatap sahabatnya penuh curiga.

"Kenapa aku jadi takut setiap kamu bilang begitu?"

Dinda menunjuk ke arah sebuah butik yang berada tidak jauh didepan mereka. Nama merk yang terpampang di atas pintu masuknya termasuk salah satu yang cukup terkenal dan hampir selalu dipenuhi pengunjung.

"Ayo masuk sana."

Kanaya mengikuti arah telunjuk Dinda dan sontak menghela napas panjang.

"Kamu serius?"

"Serius banget."

"Dinda, satu baju disitu bisa buat bayar satu semester kuliah."

"Makanya!" Dinda langsung menarik pergelangan tangan Kanaya. "Sekali-sekali gapapa, Nay! Lagian bentar lagi kamu mau nikah."

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!