"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
Tok tok tok
Ketukan pintu itu menggema di tengah heningnya malam. Di luar, hujan turun perlahan, membawa dingin yang kian menusuk tulang.
"Tuan."
Itu Max. Ia akhirnya datang menemui Leon dengan sebuah laporan di tangannya.
"Saya sudah menemukan fakta yang sebenarnya... mengenai kejadian empat tahun lalu."
Max maju satu langkah, lalu meletakkan berkas itu tepat di atas meja di hadapan Leon.
"Rekaman CCTV di rumah sakit malam itu, memang benar... dihancurkan oleh nyonya Airish."
Deg.
Rasa sakit itu seketika menghantam dada Leon. Dalam dan menghujam. Menghancurkan seluruh benteng keyakinan yang selama ini ia genggam.
Kepercayaan yang puluhan tahun ia bangun setinggi langit untuk sang ibu—kini runtuh seketika. Menyisakan puing-puing kecewa yang terasa menyesakkan dada.
"Tapi, saya berhasil menemukan dua orang saksi," sambung Max, pelan. "Mereka ada di lokasi saat Nyonya Airish memaksa Nona Alina menandatangani surat cerai—sebagai imbalan karena telah menyelamatkan nyawa Anda."
Rahangnya mengeras. Buku-buku jarinya memutih, mencengkeram erat lembaran laporan di tangannya hingga remuk tak berbentuk.
"Lalu?" Suaranya terdengar dingin, bergetar menahan badai emosi yang perlahan menggelapkan tatapannya.
"Nona Alina terpaksa menyanggupi, karena saat itu kondisi anda sedang kritis dan harus di operasi malam itu juga."
Hela napas terdengar begitu berat. Sesak dan menyakitkan.
Leon mengusap wajahnya frustasi. Sungguh, ia tak sanggup membayangkan betapa hancurnya Alina malam itu—dipaksa, diintimidasi, lalu di ancam hingga tak memiliki pilihan lain selain pergi meninggalkannya demi keselamatannya.
"Setelah malam itu, nona memutuskan untuk pindah ke pelosok desa." lanjut Max, suaranya makin melambat. "Dari catatan dokter setempat, beliau sempat pingsan sebelum akhirnya tau kalau sedang hamil muda."
"Dokter juga menyampaikan... saat nona Alina melahirkan, Nona Alina masih bekerja di perkebunan. Beliau mengalami pendarahan hebat karena kelelahan fisik dan mental."
Setiap kata yang keluar dari mulut Max laksana belati tak terlihat yang menancap tepat di dadanya. Remuk. Hancur tak berbekas.
Rasa bersalah yang teramat sangat kini merayap cepat, mencekik lehernya hingga Leon kesulitan sekadar untuk menarik napas.
Semua informasi ini bertaut sempurna dengan apa yang pernah diucapkan Ummi Hannah tempo hari. Tidak ada keliru, tidak ada manipulasi. Hanya kebenaran pahit yang kini telanjaang merobek nuraninya.
"Dan ini... hasil tes DNA anda dengan nona Marsha." Leon meyerahkan satu amplop lagi ke hadapan Leon.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Leon membuka amplop itu perlahan. Ada debar tak biasa. Dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat matanya menatap deretan angka bertuliskan kompatibilitas 99,9%—menegaskan fakta bahwa Marsha memang darah dagingnya, putri kandungnya yang selama ini tak pernah ia akui keberadaannya.
Jemarinya mencengkeram erat kertas itu.
Air mata penyesalan mulai merebak di sudut matanya yang kian redup.
"Siapkan mobil. Sekarang!"
Mobil melaju cepat membelah jalanan di tengah hujan yang perlahan menderas.
Langkah itu mengalun cepat di tengah kesunyian malam. Derap sepatunya menggema keras, seolah merobek sepi koridor yang ia lewati di belakangnya.
Tanpa ragu, pintu itu ia dorong hingga terbuka.
Disana, tampak sosok Alina yang tengah mengusap lembut dan menyelimuti si kecil Marsha yang terbaring lemah. Perempuan itu menoleh, menatap kedatangannya dengan raut wajah penuh keterkejutan.
"Mas-"
Alina baru saja hendak memprotes sebelum akhirnya Leon memangkas jarak dan menghamburkan tubuhnya, merengkuh perempuan itu ke dalam pelukan yang begitu erat dan terdesak.
"Maaf..."
Annyeong
Hi chingu semuanyaaaa
Mon maaf karena othor ngilang agak lama ya, karena kemarin othor lagi sakit ceritanya, hehe.
Othor sambung lagi ya ceritanya
Happy reading
Saranghaja