NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 – Ketika Rumah Datang Menjemput

Keheningan masih menyelimuti seluruh Arena Celestia. Tak seorang pun disana bergerak, bahkan untuk menarik napas panjang saja mereka tak berani, karena semua mata kini tertuju pada retakan raksasa yang membelah langit di atas Akademi Aetherion.

Cahaya ungu pekat terus berdenyut dari balik celah itu, memancarkan gelombang mana yang begitu berat hingga membuat dada setiap penyihir terasa sesak. Udara berubah dingin, langit yang sejak pagi cerah kini perlahan diselimuti awan hitam yang berputar membentuk pusaran raksasa.

Sebuah tangan bersisik hitam itu masih mencengkram tepi retakan dengan erat. Jari-jarinya terlihat sangat besar, masing-masing dihiasi kuku sepanjang pedang. Sisi-sisi gelapnya memantulkan cahaya ungu yang membuat makhluk itu terlihat seperti Terasa dari mimpi buruk.

Suara gesekan kuku dengan ruang kosong terdengar memekakkan telinga. Retakan itu pun kembali melebar beberapa jengkal, dan hal itu membuat wajah Profesor Elowen langsung terlihat pucat.

“Itu… tidak mungkin.”

“Makhluk seperti itu seharusnya tidak bisa menembus penghalang Aetherion.” Ucap Profesor Lyren yang semakin mengeratkan genggamannya pada tongkat sihir miliknya.

“Bukan penghalangnya yang lemah, namun ada seseorang membukanya dari luar.” Sahut Profesor Cedric. Kalimat itu membuat Aldric membeku seketika dan tatapannya pun kini berubah menjadi tajam.

“Semua professor.” Suara Aldric kembali menggema ke seluruh arena. “Perkuat penghalang.” Pintanya.

Tanpa menunggu aba-aba kedua, puluhan professor mengangkat tongkat sihir mereka secara bersamaan. Lingkaran-lingkaran sihir raksasa bermunculan dilangit. Cahaya biru, emas, hijau, dan putih saling bertaut membentuk jaring mana yang perlahan menekan retakan tersebut. namun, makhluk dibalik sana justru tertawa.

Suara tawanya terdengar begitu berat dan dalam sampai menggetarkan tanah. Untuk pertama kalinya, seluruh murid menyadari bahwa apa yang mereka hadapi bukan lagi sekedar Shadow Wraith.

Di tengah kekacauan itu, Orion masih berdiri di depan Aurelia. Tatapannya tidak pernah lepas dari retakan yang berada di langit.

“Orion,” panggil Aurelia dengan nada yang terdengar lirih. “Sebenarnya itu apa?” Orion masih diam dan belum memberikan jawaban, seolah ia tengah memastikan sesuatu terlebih dulu.

“Itu bukan musuh yang seharusnya muncul hari ini,” ucapnya pelan dan hal itu membuat Aurelia mengernyitkan keningnya.

“Maksudmu?”

“Masih terlalu cepat.” Orion mengepalkan tangannya. Nada suaranya yang biasanya tenang kini terdengar sedikit lebih berat. “Seharusnya segel itu masih mampu bertahan.” Ucapannya itu langsung membuat Lucien menoleh.

“Segel?” Lucien memandang Orion dengan tatapan penuh dengan selidik. “Kau tahu tentang makhluk itu?” Orion tidak menjawab pertanyaan Lucien. Tatapannya tetap lurus ke depan dan sikap itu membuat Lucien semakin yakin bahwa pria misterius di hadapan mereka mengetahui jauh lebih banyak dari pada yang selama ini diperlihatkan.

Sedangkan Aeron yang berdiri tak jauh dari mereka perlahan memasang anak panah baru pada busurnya. Tangannya tetap stabil meski langit terus bergetar. “Kalau makhluk itu berhasil keluar, berapa peluang kita bertahan?” Gumam Aeron yang membuat Selene menelan air liurnya.

“Jangan bicara seperti itu.” Sahut Lura seraya menghembuskan napan pelan dan menggigit lollipop rasa anggurnya. Untuk pertama kalinya sejak Aurelia mengenalnya, baru ini Lyra terlihat berhenti bercanda.

Kemudian, Lyra lekas membuka buku catatan kecil miliknya, tangannya pun terlihat sedikit gemetar, dan itu sangat tidak biasa. “Aku tidak menemukan mantra ilusi yang bisa menipu sesuatu sebesar itu.” Gumamnya. Aurelia memandang ketiga rekannya, ia tahu bahwa mereka semua takut, dan jujur, ia pun merasakan hal yang sama.

Tiba-tiba, sebuah ledakan dahsyat kembali mengguncang seluruh akademi. Retakan yang terjadi dilangit kini kembali melebar. Puluhan Shadow Wraith keluar sekaligus seperti kawanan belalang hitam.

“Mereka datang lagi.” Teriak salah seorang murid seraya menunjuk ke arah datangnya makhluk tersebut. Profesor Cedric yang menyadari hal itu pun langsung membentuk penghalang.

“Semua murid berlindung.” Perintahnya. Namun jumlah Shadow Wraith kali ini jauh lebih banyak dari sebelumnya. Mereka menyerbu dari segala arah, beberapa dari mereka berhasil menerobos barisan pertahanan dan salah satunya melesat lurus ke arah Aurelia.

“Relia.” Teriak Rowan. Aurelia pun refleks mengangkat tongkar Astralisnya.

“Stella Lux.” Ledakan cahaya yang dihasilkan menghancurkan tiga Shadow Wraith sekaligus. Namun, lima lainnya sudah berada sangat dekat.

Kael yang menyadari hal itu pun langsung melompat ke arahnya, pedang sihirnya menebas dua makhluk dalam satu ayunan. Sedangkan Lucien, ia menciptakan pusaran air yang langsung mengurung beberapa Shadow Wraith sebelum membekukannya menjadi kristal es.

Rowan, dia membentuk puluhan ilusi dirinya, bayangan-bayangan itu membuat para Shadow Wraith kehilangan arah, tetapi jumlah mereka tetap terlalu banyak.

Di balik pepohonan luar akademi, pria bertopeng putih masih berdiri tanpa bergerak. Kristal hitam ditangannya kini memancarkan cahaya yang semakin terang.

“Ya…” bisiknya pelan. “… teruslah bertarung. Semakin besar keputusasaan, semakin cepat segelnya melemah.” Ia mengangkat kepalanya dan tatapannya lurus menuju satu sosok—Aurelia.

“Pewaris Astralis. Bangkitlah.” Ucapnya untuk kesekian kali.

Di dalam arena, salah satu Shadow Wraith berhasil melewati pertahanan. Makhluk itu melesat begitu cepat ke arah Aurelia. Kael yang saat itu sedang menjauh berusaha untuk mengejar waktu agar makhluk itu tidak mendekati adiknya. Namun jaraknya terlalu jauh.

Orion, ia langsung bergerak. Dalam satu langkah, ia sudah berada di depan Aurelia. Pedang hitam tipis muncul begitu saja ditangannya, dan dalam satu tebasan, Shadow Wraith itu langsung terbelah menjadi kabut hitam.

Tidak ada mantra maupun lingkaran sihir yang diciptakan oleh Orion, ia hanya menciptakan sebuah satu ayunan sederhana sehingga membuat Profesor Cedric membelalak.

“Itu…” Aldric menyipitkan kedua matanya. “.. teknik itu.” Sahut Aldric tak percaya.

Orion perlahan menurunkan pedangnya. Namun tepat saat itu, makhluk raksasa di balik retakan mengeluarkan raungan yang jauh lebih keras. Seluruh tangan berguncang hebat, bahkan penghalang para professor mulai dipenuhi retakan kecil, hingga membuat Profesor Elowen terhuyung.

“Aku tidak sanggup menahannya lebih lama lagi.”

“Mananya terlalu besar.” Profesor Lyren pun ikut terdesak.

“Semua professor, jangan lepaskan penghalang.” Perintah Aldric lagi. Namun semua orang tahu bahwa pertahanan mereka hampir mencapai batas.

--

Jauh dari Akademi Aetherion, disebuah rumah besar yang berdiri tenang di tepi Danau Elarion, Selena Arvendis sedang menyiram bunga-bunga putih di halaman depan. Pagi itu seharusnya terasa damai, embun masih menempel di kelopak bunga, dan burung-burung kecil beterbangan di antara pepohonan. Namun tiba-tiba seluruh bunga yang tengah ia sirami layu dalam sekejap.

Air didalam teko penyimpanan itu bahkan berhenti mengalir, angin yang sebelumnya terasa sejuk  berubah menjadi dingin, bahkan burung-burung yang tadi berkicau mendadak terbang menjauh. Selena membeku, tangannya gemetar dan tatapan lembutnya berubah menjadi cemas.

“Armand.” Panggilnya pelan. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Armand Arvendis keluar dengan langkah tenang, pria itu langsung menyadari ekspresi dari istrinya.

“Apa yang terjadi?” Selena menatap langit. Meski dari rumahnya Akademi Aetherion tidak terlihat, naluri seorang penyihir membuatnya merasakan sesuatu.

“Seseorang menyentuh Segel Astralis.” Armand langsung terdiam mendengar pernyataan istrinya tersebut.

Beberapa detik kemudian, Armand menutup kedua matanya, ia mencoba merasakan aliran mana yang memenuhi udara. Saat kedua matanya kembali terbuka, tatapannya berubah sangat tajam.

“Penghalang Aetherion retak.” Mendengar ucapan suaminya langsung membuat Selena menggenggam erat lengan suaminya.

“Aurelia.” Hanya satu nama. Namun keduanya langsung memahami maksud satu sama lain. Tidak ada lagi keraguan maupun waktu untuk berpikir, Armand kembali masuk ke dalam rumah hanya dalam beberapa langkah.

Di dalam, ia mengambil mantel panjang berwarna hitam yang selama bertahun-tahun tidak pernah disentuhnya. Di balik mantel itu tersemat lambang keluarga Arvendis yang mulai memudar di makan usia.

Ia mengenakannya perlahan, kemudian menatap Selena dengan senyum tipis yang terukir dibibirnya. “Sudah waktunya.” Ucapnya penuh dengan keyakinan dan Selena pun mengangguk.

Selena lekas meraih tongkat sihir miliknya yang selama ini tersimpan rapi di ruang keluarga. Debu-debu tipis beterbangan saat tongkat itu kembali berada di tangannya, seolah benda itu telah lama menunggu hari itu.

Armand mengulurkan tangannya pada istrinya, Selena pun langsung menggenggamnya erat. “Kita jemput anak kita.” Ucap Armand dengan nada suara yang pelan. Meski terdengar pelan, kalimat sederhana itu mampu membuat dada Selena menghangat.

Detik berikutnya, lingkaran sihir raksasa berwarna emas muncul dibawah kaki mereka, cahaya itu menjulang tinggi ke langit, dan dalam sekejap kedua sosok itu menghilang dari halaman rumah keluarga Arvendis.

Sementara itu, di Akademi Aetherion, tak seorang pun menyadari bahwa dua penyihir yang telah lama meninggalkan medan pertempuran, kini sedang menuju tempat dimana putri mereka menunggu.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!