Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Malang
PRC Junior High School
"Kamu kasih apa?" seru Kenzie dan Zane saat mereka bertiga berjalan menuju ruang kelas.
"Jari tengah. Sepertinya dia itu lebih Nepo baby dari aku deh! Mana sopirnya kelihatan songong kali dan melihat judes ke sopir taksi aku. Kan meremehkan!" jawab Sheva dengan wajah cuek.
"Apa kamu tahu dari konsulat atau Kedubes mana gitu?" tanya Zane.
"Entah!" Sheva berjalan masuk ke dalam kelas dan menuju bangkunya. "Bodo amat!"
Kenzie dan Zane saling berpandangan. "Eh, kamu tahu. Oom Cris, Oom Fariz, Oom Sharivan dan Oom Teguh ke Surabaya pagi ini bareng Mbak Lilis. Siang ini paling sudah sampai Malang," celetuk Zane sambil meletakkan tasnya di atas mejanya.
"Eh tahu nggak. Pak Lucky malah dapat selebaran jadul soal biaya pesugihan disana," ujar Kenzie sambil mengeluarkan ponselnya. "Hora ( lihat )."
Sheva dan Zane langsung melihat layar ponsel Kenzie. "Serius itu?"
"Oom Lucky kok ya sempat-sempatnya cari sih?" kekeh Sheva.
"Namanya juga bapakku. Kalau nggak random, perlu diragukan kalau bapakku lagi mode benar." Kenzie menyeringai usil.
"Anaknya saja seperti ini juga," gumam Zane malas.
***
Surabaya, Bandara Juanda
Keempat polisi itu tiba di bandara Juanda dan mereka melihat ada seorang pria membawa papan bertuliskan 'Mas Cristiano bukan Ronaldo'. Sontak ketiga senior Iptu Cristiano auto cekikikan.
"Salahkan bokap yang fans berat Cristiano Ronaldo jadi aku dikasih nama yang sama. Akibatnya, aku jadi korban dibully gara-gara nama," ucap Iptu Cristiano.
"Tapi menilik pak Indrawan Santoso memang orangnya jenaka, jadi tidak heran kalau kasih pengumuman seperti itu," senyum Kombes Fariz.
"Mas Cristiano? Saya Burhan, sopir sekaligus pengawal yang dikirim pak Indrawan. Mari kita segera berangkat ke Malang," sapa pria dengan wajah datar itu.
"Baik. Perkenalkan ini pak Teguh, pak Samsudin dan pak Fariz," ucap Iptu Cristiano.
Semuanya saling bersalaman dan berkenalan. Kelima pria itu pun masuk ke dalam mobil Toyota Fortuner. Tanpa Burhan tahu, ada sosok anomali ikut duduk di belakang. Mbak Lilis merasa senang bisa kembali lagi ke kota kelahirannya. Sebelumnya, bersama Shea dan ( dulu ) AKP Steven, dia menghadiri pernikahan putri tunggalnya yang memang tinggal bersama neneknya.
Kabar terbaru, putrinya sudah punya anak laki-laki bersama suaminya. Mbak Lilis merasa lega karena putrinya mendapatkan suami yang baik, jauh berbeda dari ayah kandungnya. Kadang-kadang putrinya memberikan kabar ke Shea jadi dia merasa senang mereka baik-baik saja.
"Kita tidak menunggu malam kan?" tanya Burhan sambil membelokkan mobilnya ke arah tol.
"Tidak. Kita tidak sampai malam. Memang kenapa Mas Burhan?" tanya Iptu Cristiano yang duduk di depan.
"Hari ini malam orang-orang biasanya pada datang buat sembahyang."
"Kok Mas Burhan tahu?" tanya Kombes Fariz.
"Saya orang Malang, Pak. Jadi tahu. Sejujurnya, malah orang Malang sendiri, tidak pernah meributkan soal pesugihan Gunung Kawi karena kami lebih memilih hidup apa adanya. Bahkan warga di area sana, lebih memilih kerja di kebun atau sawah," jawab Burhan.
"Tapi katanya setelah revolusi kemarin, ada yang masih datang nggak? Karena kan semua koruptor dihukum mati dan dimiskinkan jadi tidak ada yang dikasih makan setannya," celetuk AKP Samsudin.
"Sudah waktunya buat menjadi Konoha dengan SDM yang bagus." AKP Samsudin melihat ke arah jendela kaca. "Setidaknya, ormas sudah dibabat habis, pungli juga. Masa kita kalah sama Vietnam?"
***
Mobil Toyota Fortuner itu tiba di area Gunung Kawi. Mereka melihat ada beberapa orang yang seperti hendak ngalap berkah dengan melakukan perbuatan musyrik. Mbak Lilis melihat para penunggu disana dan dia memilih bodo amat karena fokusnya berbeda.
Mereka diarahkan ke arah penggalian arkeologi yang diprakarsai oleh Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga.
Kabut tipis menyelimuti lereng Gunung Kawi ketika sebuah mobil SUV itu berhenti di tepi jalan setapak. Di kejauhan, garis polisi membatasi sebuah area penggalian yang baru beberapa hari sebelumnya menghebohkan dunia arkeologi. Beberapa pecahan gerabah, arca batu, dan perhiasan logam kuno ditemukan terkubur di sana.
Kombes Fariz menatap lokasi itu dengan sorot mata tajam.
"Ada sesuatu yang tidak beres. Penemuan sebesar ini seharusnya langsung dilaporkan ke Balai Pelestarian Kebudayaan. Tapi justru tidak ada data di dua Universitas itu kan?" ujarnya.
AKBP Teguh mengangguk sambil membuka map berisi foto-foto barang bukti. "Korban Akbar Maulana adalah kurator museum. Dia pasti tahu mana artefak asli dan mana replika. Kalau memang ada penyelundupan, dia bisa menjadi orang yang paling berbahaya bagi pelakunya."
AKP Samsudin berjongkok memperhatikan bekas roda kendaraan di tanah yang mulai mengering.
"Jejak ban ini bukan milik kendaraan proyek. Ukurannya lebih kecil, kemungkinan mobil boks."
Iptu Cristiano mengangkat sebuah serpihan kayu peti yang terselip di balik semak. "Pak, ada bekas paku baru. Sepertinya pernah ada peti penyimpanan di sini."
Kombes Fariz menerima serpihan kayu itu lalu mengamatinya. "Berarti barang-barang itu sempat dikemas sebelum aparat mengetahui lokasi ini."
Mereka kemudian berjalan menuju sebuah gubuk tua yang digunakan para pekerja sebagai tempat beristirahat. Di dalamnya masih tersisa termos, peta topografi, dan secarik kertas yang hampir basah oleh embun.
Iptu Cristiano membuka lipatan kertas itu. "Ini daftar kode... A-17, B-09, C-21... Di sampingnya tertulis 'JKT'."
AKBP Teguh langsung menatap Kombes Fariz. "JKT ... Jakarta?"
"Memangnya mana lagi selain Jakarta? Jukut goreng?" balas suami Suster Lia itu.
"Kok jadi lapar ya membayangkan jukut goreng," gumam AKP Samsudin. "Hawa dingin, bikin lapar."
"Kalau benar, berarti sebagian artefak sudah dikirim keluar dari Gunung Kawi tanpa masuk data ke kedua kampus itu." AKBP Teguh melihat sekelilingnya. "Pada kemana orang-orang dari arkeologi?"
AKP Samsudin membuka laptop dan mencocokkan kode tersebut dengan inventaris museum yang pernah ditangani Akbar Maulana.
Beberapa menit kemudian wajahnya berubah serius. "Pak ... kode-kode ini cocok dengan nomor katalog benda purbakala yang belum pernah dipamerkan ke publik."
Suasana mendadak hening.
Kombes Fariz mengepalkan tangan. "Akbar pasti mengetahui ada artefak yang menghilang dari daftar resmi. Kemungkinan dia menemukan jalur penyelundupan dari Gunung Kawi menuju Jakarta."
Iptu Cristiano menambahkan, "Kalau begitu pembunuhan Akbar bukan sekadar untuk membungkam seorang kurator. Pelaku ingin memastikan tidak ada yang bisa membuktikan bahwa benda-benda purbakala bernilai miliaran rupiah itu telah berpindah tangan secara ilegal."
Kombes Fariz menatap lereng gunung yang diselimuti kabut. "Mulai hari ini kita tidak hanya menyelidiki kasus pembunuhan. Kita juga memburu jaringan penyelundup artefak yang kemungkinan sudah beroperasi bertahun-tahun."
Keempat perwira itu menyelidiki lokasi dengan satu keyakinan baru. Misteri kematian Akbar Maulana ternyata hanyalah pintu masuk menuju sebuah jaringan perdagangan benda purbakala yang jauh lebih besar, dengan jejak yang mengarah dari lereng Gunung Kawi hingga ke Jakarta.
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛