NovelToon NovelToon
7-14: Insiden 06-06

7-14: Insiden 06-06

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Dean Jeremia Sp

"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"

Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.

Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

depresi

Jakarta, 8 Juni 2025

Samuel membuka kelopak matanya secara perlahan. Langit-langit putih kamar rumah sakit kembali menyambut pandangannya untuk kesekian kali. Namun, tidak ada lagi letupan tekad atau kobaran amarah di dalam dadanya. Samuel telah benar-benar capek. Jiwanya telah terkikis habis, dan ia berada di titik di mana menyerah terasa jauh lebih masuk akal daripada terus bertarung melawan takdir yang mustahil.

Kini, Samuel hanya ingin tidur. Ia ingin menghentikan otaknya dari memikirkan strategi, konspirasi, ataupun pengkhianatan. Begitu menyelesaikan urusan administrasi dan keluar dari rumah sakit, ia sama sekali tidak mengarahkan kendaraannya menuju kantor BPI. Samuel memilih pulang, mengunci diri di dalam apartemennya, dan menenggelamkan tubuhnya di balik selimut.

Riza, yang tidak tahu apa-apa tentang garis waktu yang telah hancur, hanya bisa mengekor dengan raut penuh tanda tanya. Keheningan yang asing menyergap apartemen mereka. Untuk menjaga jarak aman dari trauma masa lalu, Samuel memutuskan tidur di kamar utama, sementara Riza menempati kamar tamu.

Jakarta, 9 Juni 2025

Samuel mengambil cuti panjang dari seluruh tugas kedinasannya. Ia memilih untuk tetap tinggal di apartemen, mengikis jarak namun tetap membiarkan atmosfer canggung menyelimuti ruang di antara mereka berdua. Riza lebih banyak diam di sofa, sementara Samuel menatap kosong ke luar jendela.

Hingga akhirnya, Samuel membalikkan badan dan memecah keheningan dengan suara datar. "Nyonya Riza, ayo jalan-jalan."

Riza yang sedang bersantai langsung mendongak. Mendengar ajakan yang begitu tiba-tiba dari sosok investigator yang biasanya dingin dan kaku itu, Riza sempat tertegun. Detik berikutnya, semburat merah tipis muncul di pipinya, ia tersipu malu. "Y-ya, boleh," jawabnya pelan dengan gugup.

Wajah Samuel tetap kokoh bak batu pualam. Tidak ada binar kebahagiaan, tidak ada emosi romantis, bahkan tidak ada setitik pun rasa kasih sayang yang terpancar dari matanya. Semuanya kosong.

Meski begitu, ia tetap melangkah pergi mendampingi wanita itu. Samuel sengaja menapaki kembali memori-memori lawas yang pernah mereka lalui saat badai konspirasi belum merubuhkan dunianya. Ia membawa Riza menyusuri jalanan kota, mengunjungi tempat-tempat sederhana yang pernah menjadi saksi bisu di awal pertemuan mereka. Di sepanjang jalan, Samuel membiarkan sepasang matanya merekam setiap lengkungan senyum renyah dan tawa lepas yang keluar dari bibir Riza. Senyuman yang di beberapa lini masa sebelumnya selalu berakhir dengan genangan darah.

Dari tanggal 9 hingga 14 Juni, Samuel mendedikasikan seluruh sisa harinya hanya untuk menemani Riza. Ia memperlakukan wanita itu dengan kelembutan yang hambar, sekadar memanjakan Riza dan menikmati detik demi detik kebersamaan yang tenang sebelum badai petaka kembali menjemput. Baginya, waktu lima hari ini adalah sebuah oasis palsu yang sengaja ia ciptakan untuk melarikan diri dari kenyataan pahit.

Hingga akhirnya, hari ke-14 yang terkutuk itu tiba.

Sore hari menjelang malam, Samuel memilih untuk melangkah pergi, menjauhkan dirinya dari apartemen dan dari jangkauan Riza. Ia berjalan tanpa arah di bawah temaram lampu jalanan Jakarta, membiarkan takdir mengeksekusi apa yang seharusnya terjadi di tempat lain tanpa keterlibatannya. Samuel tidak ingin melihat pembantaian itu lagi. Ia tidak ingin melihat kepala yang hancur, mayat yang dimutilasi, atau sahabat yang bunuh diri.

Tepat ketika jam digital di pergelangan tangannya berkedip menunjukkan pukul 19.30 WIB—waktu di mana peristiwa utama pertumpahan darah selalu mencapai puncaknya—Samuel menghentikan langkah kakinya. Ia mengangkat kedua tangannya dengan sisa tenaga yang ada, melipat jemarinya dalam pose memohon yang sunyi, lalu mengaktifkan kemampuan tabunya. Ruang di sekitarnya terdistorsi, menarik kesadarannya kembali ke titik awal.

Pada siklus pengulangan berikutnya, dan berikutnya lagi, Samuel menjelma menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Ia terus memutar waktu hanya untuk melakukan aktivitas yang serupa secara berulang-ulang. Ia tidak lagi peduli pada berkas Operasi Phoenix, tidak lagi mencari tahu siapa pria bertopeng kucing, dan tidak peduli pada konspirasi di dalam tubuh BPI. Di setiap jengkal lini masa baru yang ia datangi, Samuel hanya ingin duduk di samping Riza, menikmati eksistensi wanita itu yang masih bernapas, dan membiarkan dunia di luar sana hancur berantakan dengan sendirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!