Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Rania melangkah kedalam rumah sakit, keningnya mengkerut melihat tatapan dan bisikan mereka tentangnya.
"Darimana mereka dengar berita perceraian ku ini?, apakah keluarga Ardi membuat ulah lagi?". Cicitnya pelan.
Semakin dia berjalan menuju ruangannya cerita itu semakin menyebar, entah siapa yang melakukan hal ini.
"Apa yang kalian katakan barusan?, kalian punya bukti?". Tanyanya dengan tajam.
Dia melipat kedua tangannya mendapati dua orang perawat seenaknya berbicara sembarangan tentangnya.
"Eh dokter Rania". Jawab mereka dengan kikuk.
Mereka menggaruk tengkuknya karena salah tingkah melihat tatapan tajam Rania kepada mereka.
"Saya tanya, kenapa kalian berbicara sembarangan tentang saya". Jawabnya dengan dingin tanpa menjawab perkataan keduanya tadi.
"Maaf dokter, saya tadi mendengar berita perceraian dokter tersebar dirumah sakit, beritanya sangat heboh dan apa yang kami katakan barusan adalah cerita gadis besarnya". Jawab mereka dengan kikuk.
Rania mengangguk pelan mengerti kemudian menatap mereka dengan tajam dan paling dingin yang dia punya.
Keduanya menelan Salivanya melihat tatapan murka dari dokter yang terkenal ramah dan baik itu.
"Katakan dari mana sumber kalian dapat kan sehingga bisa berbicara sejenaknya seperti itu, kalian bisa saya tuntut dengan tuntutan pencemaran nama baik".
Mereka berdua langsung saling menatap ketakutan, mereka hanya mendengar cerita, tidak bermaksud untuk melakukan pencemaran nama baik seperti itu.
"Maafkan kami dokter, kami hanya mendengar cerita dan sedang membicarakannya, kami tidak bermaksud buruk seperti itu, tolong maafkan kami".
Keringat dingin langsung keluar dari tubuh mereka, dokter di hadapannya ini adalah dokter yang tidak pernah bercanda soal ucapannya, mereka takut diperkarakan kepolisian.
"Baik jika seperti itu, katakan darimana asal gosip yang tidak bermutu itu?". Tanyanya dengan dingin.
Mereka menundukkan kepalanya dan saling menyenggol dan merasa serba salah.
"Katakan!!". Bentak Rania pelan penuh penekanan.
Keduanya tersentak dan terkejut, mata mereka membola mendengar bentakan dari dokter dihadapannya ini.
"Dokter Valeria". Jawab mereka bersamaan.
Rania mengangkat alisnya mendengar nama dokter baru dirumah sakit mereka itu, dia tidak dekat dan tidak pernah menyapanya, tapi mengapa dokter itu menyebarkan berita miring seperti ini kepada semua orang.
"Kalian tidak bohongkan?". Tanyanya penuh selidik.
Dia menatap keduanya tidak percaya karena dia tidak begitu mengenal dokter itu.
"Tidak dokter, kami dengar langsung tadi kok, katanya dia melihat persidangan dokter jadi dia menceritakan semuanya".
"Kalian serius?".
Keduanya mengangguk pelan dan sangat yakin, karena memang begitulah sebenarnya
"Kalau begitu Kalian bisa dijadikan saksi?".
"Saksi". Cicit keduanya pelan
Rania menghela nafas kemudian menatap keduanya dengan tatapan tajam
"Kalian pikir saya akan diam saja setelah pembicaraan tentang Rana pribadi saya menyebar luas dirumah sakit dengan seenaknya?, kalian pikir saya akan berusaha masa bodoh?, kalian salah jika berpikir seperti itu, saya akan menindak lanjuti ini dengan tegas siapapun yang berani menyebar fitnah seperti ini".
Rania bernafas lega karena bukan keluarga Ardi yang menyebarkan berita tidak masuk akal ini, Ardi menepati janjinya untuk membuat keluarganya tidak kembali membuat keributan
"Dokter yakin?".
"Tentu saja, saya akan ke direktur utama setelah ini, jika kalian tidak bisa bersaksi, aku pastikan kalian juga ikut terseret, saya punya rekaman suara kalian barusan".
Wajah keduanya langsung memucat mendengar perkataan Rania, mereka tidak menyangka jika keadaan seperti ini karena perkataan mereka tadi.
"Pastikan kalian jadi saksi jika tidak maka bersiap saja kalian".
Rania berjalan meninggalkan keduanya dan berjalan ke Lift dan mereka yakin jika Rania akan pergi keruangan direktur utama.
"Ya tuhan bagaimana ini?, kita dalam masalah besar". Cicit keduanya ketakutan.
"Ya sudahlah, kita jadi saksi saja nanti jika memang seperti itu daripada kita kena masalah yang lebih besar".
Mereka langsung menuju keruangan mereka karena mereka akan bertugas sebentar lagi.
Rania berjalan dengan nafas memburu, sepanjang jalan keningnya mengkerut karena tidak mengerti akan kejadian ini, dia tidak mengenal dokter Valeria tapi hanya tahu karena mereka sama-sama dokter dirumah sakit itu. Seolah dokter itu punya masalah pribadi dengan dirinya.
Tok..tok
Dia mengetuk pintu ruangan direktur itu pelan tapi pasti, dia diam dan menunggu hingga suara dari dalam membuatnya membuka pintu.
"Masuk!!".
Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam, dia bisa melihat dokter yang menjadi biang masalahnya hari ini.
"Silahkan duduk!!, Ada apa dokter?". Tanya Dokter Aldo dengan pelan.
Rania langsung duduk dengan anggun disamping Valeria dan langsung menatap lurus kearah direktur rumah sakit itu.
"Saya ingin mengkonfirmasi secara langsung dengan berita yang beredar dan kebetulan sekali ada dokter Valeria jadi bisa sekalian saja". Ucapnya dengan dingin dan datar.
Aldo mengangkat alisnya karena tidak mengerti maksud Rania barusan.
"Masalah gosip itu?, apa hubungannya dengan dokter Valeria?". Tanyanya dengan penasaran
Rania menatap Valeria dengan tatapan tajam menghunus sedangkan Valeria salah tingkah melihat tatapan itu.
"Iya dokter".
Dia mengalihkan pandangannya pada Valeria yang berpura-pura tidak mengerti.
"Bisa jelaskan kepada saya dan dokter Aldo, dokter Valeria tentang maksud anda menyebarkan berita bohong kesemua orang dirumah sakit?".
Tubuh Valeria menegang seketika sedangkan Aldo kini menatap Valeria untuk menuntut jawaban dari perkataan Rania barusan.
"Apa maksud anda dokter Rania, saya tidak mengerti?". Ucapnya pelan sedikit bergetar
Rania menyunggingkan senyum sinisnya, matanya menatap tajam kearahnya dengan tatapan penuh intimidasi
"Baiklah, tunggu saya putarkan ini, silahkan dengar karena ini adalah dua perawat yang sedang membicarakan masalah gosip itu".
Tubuh Valeria menegang seketika begitu mendengar percakapan ketiganya dari handphone Rania sedangkan Aldo menatap Valeria dengan tatapan kecewa dan tidak percaya.
"Dokter Valeria ini sudah keterlaluan, sekarang jelaskan pada saya!!". Ucap Aldo dengan penuh penekanan .
"Itu bohong dokter Aldo, saya hanya mengatakan jika saya melihat sidang perceraian dokter Rania mereka menambahkan banyak bumbu dari perkataan saya".
Dia berusaha menghindar dari tatapan tajam Aldo itu karena takut dan khawatir jika semuanya terbongkar.
Rania tertawa hambar, matanya kini menatap dokter Valeria dengan tatapan tajam
"Terserah dokter, saya ingin semua ini dibereskan oleh pihak berwajib, saya tidak terima dihina dan di fitnah seperti itu, ini adalah Rana pribadi yang tidak seharusnya dipublikasikan diruang kerja seperti ini". Jawabnya penuh penekanan.
Mendengar kata polisi, kedua dokter itu langsung menatap Rania tidak percaya, jika sampai ini dibawah kepolisian maka citra rumah sakit akan rusak sedangkan Valeria pasti akan dipenjara dan di cap sebagai dokter penyebar fitnah.
"Maaf dokter, saya minta tolong jangan lakukan itu, ini bisa kita selesaikan dengan internal, tidak perlu melibatkan polisi segala, citra rumah sakit dipertaruhkan disini".
Rania langsung menoleh kearah Valeria yang kini mematung
"Kalau begitu silahkan bertanggung jawab atas perkataan anda dokter Valeria"