NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Dalam Dekapan Cahaya Bulan

Cahaya bulan yang dingin menembus jendela-jendela besar dari lantai hingga langit-langit, menyinari ruang tamu mewah yang kini tenggelam dalam keheningan ambigu.

Di atas karpet wol yang mahal, gaun tidur kamisol kuning pucat tergeletak begitu saja — lembut seperti kelopak bunga yang layu diterjang badai mendadak. Di atasnya, sabuk logam kasar dan berat terbebani kain ringkih itu, gespernya memantulkan cahaya remang bulan. Kontras yang mencolok antara keras dan rapuh.

Di samping sandaran sofa yang lebar, tumpukan pakaian pria tersusun tak beraturan: jaket jas hitam, kemeja sutra abu-abu gelap, dan di atasnya selembar boxer yang dilemparkan asal. Di sebelahnya, sebentuk pergelangan kaki putih porselen dengan jari-jari yang sedikit melengkung menyentuh udara dingin.

Cahaya bulan bergeser perlahan, menerangi sosok yang bersembunyi jauh di dalam sofa.

Rambut panjang Citra Lestari terurai berantakan seperti rumput laut di atas punggungnya, beberapa helai menempel lembab di sisi leher dan bahunya yang berkilau. Matanya terpejam rapat, alis halus seperti daun willow itu masih sedikit mengerut — ekspresi yang entah mengapa justru terasa memukau. Bibir merah mudanya sedikit terbuka, naik turun mengikuti napasnya yang pelan.

Leher lentiknya dan lekukan bahu-lehernya yang rapuh terbuka sepenuhnya ke udara malam. Cahaya bulan menerangi dengan jelas bekas-bekas kemerahan yang baru saja tercipta di sana — jejak sayang pria itu yang ditinggalkan di atas kulit lembutnya beberapa saat lalu. Punggungnya yang murni sekaligus menggoda tampak berkilau di bawah sinar pucat itu, tulang belikatnya menyerupai sepasang sayap kupu-kupu yang hampir terbang.

Satu-satunya yang mampu menembus kerapuhan punggung seputih salju itu adalah tangan besar Arjuna Pratama.

Alis Citra mengerut lebih dalam. Tangan kecilnya naik, jari-jarinya yang ramping tenggelam ke dalam rambut hitam tebal Arjuna.Dagu nya Menekan telapak tangannya yang lembut, menimbulkan Tekanan samar yang membuat ia ingin menepis. Tapi kekuatannya sendiri — berhadapan dengan dominasi yang begitu mutlak — tak lebih dari capung yang mencoba mengguncang pohon beringin.

Karena merasa sia-sia, Citra hanya meninggalkan beberapa bekas merah muda dangkal di otot punggung Arjuna dengan kuku jarinya yang membulat.

*Dia hanya ingin memberi hadiah kecil. Bagaimana bisa berubah menjadi seperti ini?*

Ciuman pria itu akhirnya berhenti sejenak. Ia mengangkat kepala, mendekat, suara seraknya yang memikat berbisik tepat di cuping telinga Citra:

"Sayang, bersikaplah baik."

"Ini karena kamu sendiri sudah kehabisan tenaga."

Nada suaranya sedikit meninggi di ujung kalimat, malas sekaligus menggoda: "Dan kaulah yang memulai Semua ini. Jangan salahkan aku."

Malam semakin larut. Kegelapan terasa berat dan panjang seperti tinta yang menggenang.

Lama kemudian, Citra Lestari akhirnya menyerah — seperti anak kucing kelelahan, ia tenggelam sepenuhnya ke dalam sofa yang empuk. Mata berbentuk almond yang biasanya jernih dan berair kini terpejam rapat. Alisnya yang halus masih sedikit berkerut, seolah bahkan dalam tidur pun ia enggan melepas gengsi sepenuhnya.

Ia hanya ditutupi kemeja abu-abu gelap milik Arjuna yang melingkupinya secara longgar. Ujung kemeja berhenti di pertengahan paha, memperlihatkan dua kaki lurus dan ramping yang bertumpu lembut di tepi sofa, jari-jari kakinya berkilau samar.

Arjuna Pratama bersandar setengah badan di ujung sofa yang lain. Posturnya malas, tapi tubuhnya memancarkan kepuasan yang diam-diam terbaca jelas. Dada yang terbentuk dengan baik, pinggang dan perut yang kencang membentuk garis-garis halus di bawah cahaya bulan. Satu lengannya bertumpu santai di sandaran sofa; tangan lainnya dengan lembut menepuk punggung Citra, berulang, berirama.

Tatapannya berat tertuju padanya. Ia mengamati wajah kecil yang tertidur itu, menelusuri bekas merah pucat yang samar di leher dan tulang selangkanya — dan matanya dipenuhi rasa posesif yang tidak ia sembunyikan.

Karena tepukan lembut itu terus berlanjut, Citra mengeluarkan rintihan kecil dan memutar tubuhnya, berusaha menghindari tangan besarnya.

Arjuna memperhatikannya dengan penuh kasih sayang. Tangannya memberikan sedikit tekanan di punggungnya, menariknya lebih dekat.

Citra akhirnya membuka mata. Pandangannya berkabut — berkaca-kaca penuh kebingungan dan kelelahan — bertemu langsung dengan tatapan kosong pria itu.

"Apakah kamu baik-baik saja?" Suaranya sangat rendah dan serak.

Wajah Citra langsung memerah. Mengingat kejadian absurd beberapa saat lalu, ia ingin menyembunyikan mukanya jauh-jauh. Tapi jari Arjuna sudah lebih dulu mengangkat dagunya dengan lembut.

"Apa yang kau sembunyikan?" Ia terkekeh pelan. Ibu jarinya membelai lembut dagu Citra, tatapannya menyapu bibir meronanya, matanya semakin dalam. "Bukankah tadi kamu cukup... proaktif?"

Citra terlalu malu untuk menjawab. Ia hanya mengulurkan tinjunya yang lemas dan memukul dada keras itu dengan tenaga yang hampir tidak ada artinya, suaranya terdengar lembut dan cemberut sekaligus:

"Berhenti bicara. Ini semua salahmu..."

Arjuna menangkap tangan kecilnya yang nakal. Ia membawanya ke bibir, mengecup ujung jari-jarinya satu per satu, matanya dipenuhi rasa sayang yang tidak perlu diucapkan.

"Baiklah, aku akan berhenti."

Ia menunduk, menarik Citra — bersama kemejanya — lebih erat ke dalam pelukannya. Membiarkan wajah kecil itu bersandar di dadanya, tepat di atas detak jantungnya yang stabil dan kuat.

"Istirahatlah sebentar lagi," bisiknya pelan. "Lalu aku antarkan kamu kembali ke kamar untuk tidur." Tangannya yang besar masih menepuk punggungnya, lembut dan teratur.

Citra menggumamkan sesuatu yang hampir tak terdengar, napasnya kembali pendek-pendek mengikuti kantuk. Ia menutup matanya lagi.

Arjuna menatap orang yang patuh dalam pelukannya itu. Cahaya bulan memancarkan aura lembut di wajah Citra, membuatnya tampak sangat cantik dengan cara yang tenang dan tanpa usaha.

Ia tak kuasa menahan diri.

Ia menundukkan kepala, dan mengecup lembut dahi halusnya.

 

1
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!