Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kini kami sudah berada di dalam kabin mobil mewah yang melaju membelah jalanan pulang. Di dalam kendaraan ini, kami hanya tinggal berdua saja. Sementara Jayan, putra kecilku itu sengaja dipindahkan untuk ikut naik di mobil SUV hitam bersama Rudi agar kami bisa memiliki waktu privat.
Sepanjang perjalanan, sebelah tangan Jalal masih setia menggenggam erat jemariku, sesekali membawanya ke depan bibir untuk diciumnya dengan penuh kehangatan. Rasa kantuk perlahan-lahan mulai menyerang kesadaranku. Efek kelelahan setelah berjalan jauh ditambah sisa rasa dingin sehabis berendam di air terjun tadi membuat kelopak mataku terasa teramat berat. Hingga tanpa sadar, aku pun akhirnya jatuh tertidur lelap di kursi penumpang.
...
Samar-samar, aku terbangun dari tidurku saat merasakan sebuah sentuhan yang teramat lembut dan hangat di area sensitifku. Ada sensasi mendesir yang membuat seluruh tubuhku meremang fajar.
Perlahan, aku membuka kedua mataku yang masih terasa berat. Dalam pendar cahaya yang temaram, kulihat siluet tubuh tegap Jalal. Suamiku itu rupanya sedang menyesap bagian dadaku dengan begitu intens dan penuh perasaan. Begitu menyadari pergerakan kecil dari tubuhku, Jalal mendongak, menatap lurus ke dalam netraku yang masih mengantuk. Dia perlahan menjauhkan wajahnya.
"Apa saya mengganggu tidurmu, Yas?" tanya Jalal dengan nada suara yang teramat rendah dan serak, sarat akan gairah yang tertahan.
Aku tidak langsung menjawab. Dengan tatapan mata yang sudah layu dan sayu menahan gelora yang tiba-tiba hadir, aku hanya menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban.
"Pak... lanjutkan saja," ucapku lirih, menyerahkan kendali sepenuhnya pada pria di depanku.
Jalal menyunggingkan senyuman samar yang teramat menawan. Tanpa membuang waktu lagi, dia kembali merundukkan kepalanya, mengecup dan menyesap lembut pucuk keindahanku dengan penuh damba. Kepalaku refleks mendongak ke atas, menatap langit-langit ruangan. Saat itulah aku baru menyadari sepenuhnya dari dekorasi sekitar, rupanya aku sudah tidak lagi berada di dalam mobil, melainkan sudah terbaring nyaman di atas ranjang empuk kamar tidur kami. Suamiku rupanya telah menggendongku masuk tanpa membuatku terjaga.
"Shhh... Ah, Pak..." ringisku pelan, meremas bahu kokohnya saat merasakan sensasi penuh kelindan yang memabukkan di dadaku.
Perlahan, Jalal menghentikan sesapannya sejenak. Dia mendongak, menatap wajahku yang sudah merona merah dengan napas yang memburu.
"Milikmu sangat indah dan sempurna, Yas. Saya benar-benar menyukainya... Apa saya boleh meminta lebih dari ini?" tanyanya dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa cinta dan damba yang teramat dalam.
Aku menatap balik manik mata suamiku, lalu mengangguk pelan memberikan izin. Senyuman cerah seketika terbit di wajah tampannya. Dengan gerakan cekatan namun tetap lembut, Jalal menanggalkan satu per satu pakaian kering yang membungkus tubuh kami berdua.
Setelahnya, dia menarik selembar selimut tebal sampai ke atas, menutupi seluruh tubuh kami dari terpaan hawa dingin malam. Di balik kehangatan kain itu, dalam suasana kamar yang sunyi dan intim, Jalal pun mulai menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami dengan penuh kelembutan dan rasa cinta yang membuncah.
•••••••••••••
Aku masih berada dalam dekapan hangat miliknya. Jalal benar-benar pria matang yang penuh pengalaman; dia tahu persis bagaimana menuntun ritme dan memberikan sensasi yang membuatku terbuai. Jujur, meski tubuhku terasa lelah luar biasa, permainannya yang intens dan penuh perasaan selalu berhasil membuatku ketagihan.
Sampai pada saat-saat terakhir, dia memintaku untuk berbalik tengkurap, lalu menyatukan kembali kehangatan kami dalam posisi yang lebih dalam. Di sanalah dia mencapai puncaknya. "Ah... Yas, saya sampai... oughh..." desahnya rendah di balik punggungku. Aku pun tidak bisa menahan desahan panjang yang tertahan, larut dalam irama yang sama.
Tak lama kemudian, pria itu membalikkan tubuhku kembali dan mengecup pucuk kepalaku dengan penuh sayang.
"Enak sekali, Sayang. Kamu membuat saya benar-benar ketagihan," bisiknya memujiku. Dia kemudian menciumi seluruh wajahku yang masih basah bersimbah peluh dengan lembut.
Setelah napas kami mulai teratur, aku teringat sesuatu. "Ah, Pak... Jayan sekarang di mana? Kenapa belum pulang juga?" tanyaku cemas.
"Sedang diajak Rudi jalan-jalan sebentar," jawabnya santai sembari membelai rambutku.
"Jalan-jalan lagi? Pak, Jayan dari siang sudah beraktivitas, dia belum ada istirahatnya sama sekali. Kasihan, loh," protesku pelan.
Pria itu menatapku tajam, lalu berucap dengan nada yang melembut. "Jangan risau, Yas. Rudi sangat bisa diandalkan untuk urusan menjaga Jayan. Saya memang meminta Rudi membawanya keluar sedikit lebih lama... saya hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu tanpa gangguan apa pun. Saya benar-benar candu denganmu, Yas. Setiap waktu, rasanya saya ingin terus mendekapmu," ucapnya rendah, menatap mataku dengan tatapan melas yang membuat hatiku luluh.
Aku menghela napas panjang lalu tersenyum tipis. "Huff... Oke. Tapi, Pak, kamu sadar tidak kalau Bapak berubah banget sekarang? Pak Jalal yang sekarang benar-benar beda dengan yang dulu. Dulu itu cuek, dingin, tidak pernah senyum, kalau melihat saya saja selalu buang muka. Sekarang kok jadi super manja dan bucin akut begini sama saya?" tanyaku diiringi tawa kecil sembari membelai wajah tampannya.
Pria itu tersenyum lebar. "Pernah dengar kata orang, kalau pria akan benar-benar berubah saat berada di depan wanita yang sangat dia cintai? Dan itulah saya sekarang, Yas. Saya merombak jati diri saya yang dulu pendiam, cuek, dan dingin, menjadi seseorang yang cerewet dan bucin... dan semua itu karena kamu," jawabnya pelan dengan nada tulus.
Jawaban itu ditutupnya dengan sebuah ciuman lembut yang mendarat tepat di bibirku yang masih terasa basah.