Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERIBU CERITA DI SEMARANG
Percakapan mereka berlangsung hampir dua jam,Di luar jendela hujan turun perlahan membasahi malam Surabaya,dira sadar satu hal,cinta sejati bukanlah seseorang yang mengajarkan cara memanfaatkan orang lain,tapi mengingatkan saat kita saat mulai melangkah ke arah yang salah.
Laut membentang luas sejauh mata memandang,Langit pagi berwarna kebiruan dengan semburat jingga di ufuk timur,Di atas anjungan kapal,Kapten Andi berdiri tegak mengenakan seragam putihnya,Tatapannya fokus memperhatikan layar navigasi, radar, dan komunikasi radio yang terus berbunyi silih berganti.
"Kecepatan stabil, Kapten."
"Pertahankan haluan,Kita masuk jalur pelayaran utama dalam tiga puluh menit," jawab Andi tegas.
Sebagai kapten kapal,hari-harinya dipenuhi tanggung jawab besar,Ia harus memastikan keselamatan awak kapal,muatan,dan perjalanan yang melintasi berbagai pulau,Setiap kali kapal berlayar jauh meninggalkan daratan,Andi selalu menyempatkan diri menghubunginya,Kadang saat matahari terbit,Kadang ketika malam mulai turun,Kadang saat hujan dan ombak besar mengguncang kapal,suara Nadira selalu menjadi penenang setelah hari yang melelahkan,Beberapa hari kemudian.
"Aku kirim e-ticket ke ponselmu."
Nadira terkejut,dan tertawa
"Mas serius?"
"Aku selalu serius kalau soal bertemu kamu."🙂
dira terbang menyusul Andi,Begitulah hubungan mereka,Tidak selalu bersama,Tetapi setiap bertemu selalu terasa istimewa,Batam,tempat kapal Andi bersandar,andi menjemput,seperti adegan dalam film romantis.
Andi memeluknya erat.
"Akhirnya ketemu."
Nadira mengangguk malu,pertama,andi mengajakku jalan,ke toko pakaian,sepatu,kosmetik,andi memenuhi kebutuhan dira,ia merasakan perhatian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya,boneka beruang besar hampir setinggi tubuhnya,dibawa oleh Andi.
"Mas, aku bukan anak kecil."
Nadira tertawa,andi memperhatikan ponsel dira yang mulai lambat.
"Kamu masih pakai ini?rusak ya?
Nadira berpikir.
" sudah 4 tahun."
Andi menggandeng tangannya menuju sebuah gerai ponsel.
"kita kesana Lihat-lihat."
pegawai toko mengeluarkan ponsel keluaran terbaru.
"Yang ini."
Nadira membelalakkan mata.
"Mas, jangan."
belum sempat menyelesaikan kalimatnya,Andi sudah melakukan pembayaran,kotak ponsel baru akhirnya berada di tangan Nadira.
"Terima kasih ya, " senyum dira,
Andi mengusap kepalanya pelan.
"Asal jangan lupa menghubungiku."
ada satu kejutan lagi yang paling tidak pernah dilupakan dira,ia mengira malam ini mereka hanya akan makan malam,tapi Andi mengajaknya menuju sebuah toko perhiasan mewah.
"kita salah masuk."
Andi tertawa.
"Aku tidak salah."
Berbagai perhiasan tertata rapi dalam etalase kaca,andi melihat satu per satu koleksi yang dipajang.
"Yang itu."
Untuk beberapa detik dira masih belum mengerti,Sampai akhirnya Andi berdiri di belakangnya,Mengangkat rambut panjangnya perlahan,memasangkan kalung itu di lehernya.
"Bagus."
cara Andi menatapnya,Seolah ia adalah wanita paling berharga di dunia,Widya mulai merasa kesal,dira semakin hari sulit dihubungi,itu karena ia sengaja menjaga jarak.
"dira sekarang sombong,sejak punya pacar kaya."ujar Widya menyebar gosip ke tetangga.
Suatu sore, Widya datang ke rumah dira bersama Om Burhan,ia membuka pintu langsung terkejut.
"Widya?"
nadira mempersilakan mereka masuk,suasana canggung,Percakapan yang terjadi membuatnya yakin bahwa keputusan menjaga jarak adalah pilihan yang tepat.
Malam itu,dira langsung menelepon Andi Menceritakan semuanya,Andi mendengarkan dengan tenang.
"Jangan khawatir,"
Andi menenangkan.
"Tapi mereka marah."
"Biarkan,Orang yang benar-benar peduli tidak akan marah hanya karena kamu menjaga dirimu."
Kalimat itu kembali membuat dira merasa tenang,Waktu terus berjalan,Hubungan mereka semakin dekat,Andi mulai bertanya tentang keluarga.
"Ayahmu jarang di rumah?"
Nadira diam sesaat,Lalu mulai bercerita,Tentang ayahnya yang dulu pernah memiliki jabatan penting,Tentang kebiasaan buruk yang menghancurkan banyak hal,perjudian,perempuan lain,juga ibunya yang sering menangis diam-diam.
Tentang uang yang tidak pernah sampai ke tangan ibunya,Andi mendengarkan tanpa memotong,Sampai cerita selesai.
"Berat ya."
Nadira mengangguk,Namun ia tidak menangis,luka itu sudah terlalu lama,Beberapa hari kemudian,Andi sering mengirim sejumlah uang.
"Buat jalan-jalan sama Ibu dan Bapak."
"Mas tidak perlu."
"Perlu."
dira tersenyum,Akhirnya ia mengajak kedua orang tuanya makan di luar,nonton,Berbelanja kebutuhan rumah,Hal-hal sederhana yang sudah lama tidak mereka lakukan bersama,Paket demi paket mulai datang ke rumah,Kemeja untuk Bapak,Sepatu baru,Tas untuk ibu,Peralatan dapur,Bahkan kursi pijat kecil yang membuat ibunya tertawa bahagia.
"Andi, "
Nama itu semakin sering terdengar di rumah ini,suasana rumah berubah,Menjadi lebih hangat,penuh harapan.
"Halo, Sayang."🙂"Kapal lagi di mana?"
"Masih di laut."
"Kangen."ujar dira 🙂
"Aku juga."
dira merasa benar-benar dicintai,jauh di tengah lautan,capt Andi berdiri di anjungan,Menatap gelombang yang berkilauan diterpa cahaya bulan.
_________________________________________________
"Siap-siap besok."
Pesan singkat malam itu membuat dira penasaran.
"Siap-siap apa?"
"Rahasia."ujar andi.
dira mendengus kesal,ia sudah hafal sifat Andi,Keesokan paginya,andi mengirim kan tiket penerbangan menuju semarang,andi menjemput seperti biasa,lalu membawanya ke pelabuhan,Di depannya berdiri kapal tempat Andi bekerja,Kapal yang selama ini hanya ia lihat lewat foto dan video.
dira menoleh,Andi tersenyum.
"Katanya pengen naik kapal?"
dira langsung memeluk lengannya.
"Serius?"
Wajahnya berbinar,Selama ini setiap kali mereka berbicara lewat telepon,Andi selalu bercerita tentang kehidupan di laut,ada anjungan,radar,ruang kemudi,Tentang ombak besar,yang akhirnya ia bisa melihat semuanya secara langsung,pertama kali menginjakkan kaki di atas kapal,perasaan Senang,Takjub,bahagia,Seolah memasuki dunia yang selama ini hanya hidup dalam imajinasinya.
"Selamat datang di kantor ayah."
dira tertawa.
"Ayah?"
"Iya."
"Sejak kapan?"
"Nanti juga terbiasa."
Andi mengajak dira berkeliling,Memperlihatkan ruang kerja,dira terpaku,Jendela besar menghadap lautan,Panel navigasi berjejer rapi.
"ini layar semut ya? kok banyak titik titik! 🙄ujar dira, andi terbahak.
Radar berputar perlahan,Radio komunikasi sesekali berbunyi.
"Jadi ini tempat Mas kerja?"
Melihat Andi mengenakan seragam,Dengan pangkat kapten di pundak,dira menatap beberapa detik,ia terlihat gagah,Berbeda dengan pria usil yang sering menggodanya lewat telepon.
"Foto yuk."
dira merangkul bahunya,mereka duduk santai di dek belakang kapal,Angin laut berembus,Langit Semarang tampak cerah,Andi memegang gitar miliknya,Sayangnya kemampuan bermain gitarnya masih jauh dari kata sempurna,Petikan demi petikan terdengar kadang benar,kadang meleset,membuat Nadira menahan tawa.
"Mas...Kayaknya gitarnya juga pengen pulang."
Andi melotot.
"Bunda jangan menghina seniman."
Nadira langsung tertawa,Meskipun tidak mahir,andi tetap berusaha,ia sangat menyukai suara Nadira,Setiap kali mereka pergi ke restoran yang menyediakan live music,Andi selalu memaksa.
"Coba nyanyi satu lagu."suara merdu itu,membuat Pengunjung memberikan tepuk tangan meriah,Sedangkan Andi,Duduk paling bangga di sudut ruangan,Wajahnya seperti ingin mengatakan kepada semua orang.
"Lihat tuh. Pacar saya."
Hari itu pun sama.
"Ayo nyanyi.!
Andi memetik gitar lagi,Petikannya semakin kacau.
"Ayah capek loh,Jempol ayah lecet dari tadi bunda enggak nyanyi-nyanyi."
dira tertawa,
"apa sih?"
Sejak itu,terkadang Muncul panggilan baru,ayah dan Bunda,Panggilan yang awalnya hanya bercanda,Namun kemudian melekat begitu saja,Saat mereka sedang bercanda,Sebuah kapal besar melintas tidak jauh dari posisi mereka.
Nadira terpukau.
"sayang...Itu besar sekali."
Andi mengangguk,Tatapannya mengikuti kapal tersebut,Ada sesuatu yang berbeda di matanya,Seperti mimpi yang belum selesai,dira memperhatikan.
"Lagi mikir apa?"
Andi tersenyum tipis.
"Keinginan."
Andi menunjuk kapal besar itu.
"aku ingin membawa kapal seperti itu."
Nadira diam mendengarkan.
Andi melanjutkan.
"Berlayar keliling dunia."
Kalimat itu keluar,dira tahu,Itu adalah mimpi besar seorang pelaut,Mimpi yang disimpan bertahun-tahun.
"Nanti kalau sudah jadi kapten kapal besar,ayah gak kenal bunda.
Andi menoleh,Kemudian memainkan lagi gitarnya pelan.
"Ayo nyanyi lag! ".
keesokan harinya,Matahari bersinar hangat,dira berdiri di bagian belakang kapal,Menatap laut sambil membuka kedua tangan,Membiarkan angin menerpa wajahnya,Persis seperti adegan Titanic,Andi yang muncul mengerutkan dahi.
"Ngapain bun?"
"Biar kayak film Titanic."😛
Andi melihat posisi berdirinya,Lalu menggeleng.
"Turun."
"Enggak."balas dira.
"Turun."!
"Enggak."
"Itu besi."Andi mengingat kan.
"Biarin."!
"Nanti kakinya kena."
dira tetap keras kepala,Lima menit kemudian.
TUK!
"Aduhhh!"
Andi menoleh,dira melompat sambil memegang kaki,Andi spontan menahan tawa mati-matian.
"Tuh kan!"Sakit.?Apa ayah bilang?Baru lima menit lalu dikasih tahu.
Tiba-tiba dira mendapat ide,"sayang Kita kan lagi di semarang,kita ke Lawang Sewu yuk."
"Ogaaaahhh."teriak andi.
"Takut ya?"
Andi menghela napas,Meskipun sebenarnya ia penakut,tapi andi tidak ingin kehilangan gengsi di depan dira,ia mengalah,Beberapa jam kemudian mereka turun dari kapal menggunakan boat kecil,Menuju pusat Kota Semarang, tiba di Lawang Sewu,Bangunan tua peninggalan Belanda itu berdiri megah,Jendela-jendela tinggi berjajar panjang,Lorong-lorongnya tampak sunyi,Meski siang hari,Ada suasana berbeda di tempat itu,Sedikit dingin,misterius,Sedikit membuat bulu kuduk merinding.
"yah,...Kalau tiba-tiba ada yang manggil gimana?"
Andi menatap sekeliling.
"Jangan mulai."
Mereka berjalan menyusuri koridor,tangga besar,Ruangan tua,dan berbagai cerita sejarah yang terpampang di dinding,saat Hari mulai gelap,mereka kembali ke kapal, Angin laut semakin dingin,keberanian dira menghilang.
"yah,Anterin bunda pipis."
Andi melotot.
"Kalau takut kenapa tadi ngajak ke Lawang Sewu!
"ayo dong Temenin."
"Enggak."
andi pura-pura galak,ia sendiri masih teringat suasana Lawang Sewu,diira akhirnya pergi sendiri, Beberapa menit kemudian,dira kembali Dengan wajah muram,Bibir mengerucut,Langkah berat,Melihat ekspresi itu,Andi terbahak.
begitulah mereka,Selalu menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana Di atas kapal,Di tengah laut,Di kota yang penuh kenangan,Dan di antara panggilan ayah serta bunda yang lahir dari candaan yang Tanpa mereka sadari.
_________________________________________________
Dua tahun berlalu sejak Andi dan dira memutuskan untuk mempertahankan hubungan mereka,Jarak yang membentang antara lautan dan daratan tak lagi terasa menyiksa seperti dulu. Mereka sudah menemukan irama cinta yang nyaman,Andi tetap menjadi kapten kapal yang tegas dan disegani anak buahnya,sementara Nadira tumbuh menjadi perempuan yang jauh lebih percaya diri,Semua itu berkat Andi,Perlahan perempuan yang dulu pemalu dan selalu merasa rendah diri itu berubah menjadi sosok yang anggun,Mereka memang jarang bertemu,Namun setiap hari selalu ada panggilan video,pesan singkat,dan cerita-cerita kecil yang membuat hubungan mereka tetap hangat,Andi selalu punya kebiasaan,Setiap kali turun kapal untuk jalan-jalan andi selalu memberi kabar.
"sayang,aku turun sebentar ya,Mau cari makanan,Nanti balik kapal Ayah telepon."
Kalimat itu selalu berhasil membuat Nadira tenang,Malam yang sama,pukul tujuh,Andi mengirim pesan.
"ayah turun ya,crew ngajak Bilyard "
dira tersenyum.
"hati-hati ya,Jangan pulang terlalu malam."
"Siap, Bos."
Diikuti emoji hormat dan wajah tertawa,Hubungan mereka memang dipenuhi candaan,Tak pernah ada larangan,Baginya,selama komunikasi tetap berjalan, tidak ada alasan untuk cemburu.
satu jam...Dua jam...dira sedang melipat pakaian sambil sesekali melihat layar ponselnya,Belum ada pesan,Ia tak berpikir hp,Mungkin Andi sedang bermain,Tiga jam kemudian,sudah Pukul sebelas,Biasanya jam segini Andi sudah dikapal,Sebentar lagi pasti telepon," gumam Nadira.
Ia membuat segelas teh hangat,Layar ponsel tetap gelap,Perasaan tidak enak,dira membuka ruang obrolan,Terakhir online empat jam lalu.
"Kenapa ya?"
Nada sambung,Sekali...Tak diangkat,Mungkin mandi,aku tersenyum menenangkan diri sendiri,Lima menit kemudian ia mencoba lagi,tetap tak diangkat,"Tidak biasanya begini..."
dira kembali menelepon ketiga kali, Empat kali...Akhirnya telepon tersambung,tapi kok suara yang terdengar bukan suara Andi.
"Hallo..."
Suara laki-laki asing.
dira langsung berdiri.
"Maaf... ini siapa?"
"Saya Rio, Bu... kru kapal."
Nadira langsung mengenali nama itu,Rio memang sering disebut Andi.
"Capt mana?"
Di seberang terdengar suara gaduh,Seperti orang-orang sedang berbicara,Lalu terdengar helaan napas.
"Maaf Bu... Capt lagi mabuk."
Dira terkejut.
"Mabuk?"
Nadira menggenggam ponselnya semakin erat," sekarang beliau di mana?"
"Sudah di kapal, Bu,Tadi muntah,Mohon maaf ya Bu,"Belum sempat Nadira bertanya lagi,Telepon sudah ditutup.Tut...Tut...Tut...
Selama dua tahun bersama,Andi memang pernah bercerita kalau sesekali ia minum saat berkumpul dengan kru kapal,dia selalu meyakinkan ku bahwa dia tahu batas dan tidak akan membuatku cemas,kalimat itu terngiang jelas,tapi malam ini..Batas itu hilang.
pukul dua belas malam,dira kembali mencoba menelepon,Tak ada jawaban.
"Sayang, kalau sudah bangun kabari aku ya".
Lima belas menit kemudian,Masih centang.
Di lautan, apa pun bisa terjadi,Jika Andi sakit...Jika terjadi sesuatu...Siapa yang akan menjaganya?
Lampu kabin kamar Andi masih menyala redup,Rio bersama dua kru lain sedang membantu melepas sepatu sang kapten,dira berdoa minta keselamatan orang yang paling ia cintai,ribuan kecemasan yang tidak pernah bisa ia lihat dengan mata,sebuah kesalahan kecil yang dilakukan Andi sepertinya mulai meninggalkan luka di hati,luka yang belum tentu bisa sembuh hanya dengan sebuah kata maaf.
_________________________________________________