Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. O'oww!
"Dys, sore ini kita harus pergi ke gudang senjata." Kata Ryu yang di jawab anggukan oleh Gladys.
"Kita transaksi senjata?" Tanya Gladys.
"Enggak!" Jawab Ryu.
"Kita menyelinap, mengambil foto dan beberapa senjata." Jawab Ryu.
"Maksud Abang, kita mencuri?" Tanya Gladys yang di jawab anggukan oleh Ryu.
"Waah!" Ujar Gladys sambil memijat pelipisnya.
"Gak bisa di bilang mencuri juga sih, itu kan uang Negara." Kata Ryu.
"Cepet siap - siap." Kata Ryu.
"Abang aja belum selesai makan." Jawab Gladys.
"Kamu sih, masaknya enak, jadi gak mau berhenti. Pokoknya kamu harus tanggung jawab kalo berat badanku nambah." Kata Ryu sambil mengambil sepotong ayam kecap kesukaannya.
"Dih! Kok nyalahin aku. Aku cuma masakin permintaan Abang." Kata Gladys sambil mencebik, namun tak di tanggapi lagi oleh Ryu yang sedang asyik menikmati makan siangnya.
Setelah makan siang, mereka mengobrol sebentar, kemudian mulai bersiap untuk menjalankan misi. Sebelum menuju ke gudang senjata, mereka pergi ke tempat senjata terlebih dulu untuk mengambil beberapa senjata di sana.
"Ini tempat apa, Bang?" Tanya Gladys saat masuk ke dalam ruangan kecil dan remang - remang itu.
Ryu kemudian menekan saklar lampu, hingga kini nampaklah isi dari ruangan itu. Gladys hanya bisa membelalakkan mata saat melihat ruangan yang penuh dengan senjata.
"Ini punya siapa, Bang?" Tanya Gladys sambil melihat senjata - sejata di salam ruangan itu.
"Punyaku." Jawab Ryu.
"Semua?" Tanya Gladys yang di jawab anggukan oleh Ryu.
Gladys kemudian mengambil ponselnya, ia hendak menjahili Ryu dengan pura - pura menelfon ibu mertuanya.
"Bundaa.... Bundaa... Abang koleksi senjata mahal banyak banget!" Seru Gladys.
Mendengar itu, Ryu langsung menarik ponsel Gladys hingga membuat Gladys tertawa.
"Jangan macem - macem ya, Dys." Kata Ryu sembari mengembalikan ponsel Gladys.
"Kenapa sih, Bang? Kok Bunda gak boleh tau?" Tanya Gladys.
"Bisa - bisa aku dikasih siraman rohani sama Bunda, kalo Bunda tau aku koleksi senjata sebanyak ini." Jawab Ryu sembari melihat beberapa koleksinya.
"Abang dapet senjata - senjata ini dari mana?" Tanya Gladys.
"Kebanyakan dari pelelangan. Ada juga dari toko barang antik, kayak Katana ini." Ujar Ryu sembari menunjuk sebuah Katana kesayangannya yang begitu kokoh dan panjang.
"Wuaaahh!" Lirih Gladys yang terkesima dengan Katana di tangan Ryu.
"Kalau Katana ini?" Tanya Gladys sembari menunjuk sepasang Katana kembar yang kemarin di pakai oleh Ryu untuk membantai Frank.
"Itu, aku pesan dari pengerajinnya di Jepang." Jawab Ryu.
"Kamu suka Katana?" Tanya Ryu kemudian.
"Hm'm." Jawab Gladys sambil mengangguk.
"Kelihatannya indah, anggun, tapi mematikan." Imbuh Gladys kemudian.
"Kamu pernah pakai Katana?" Tanya Ryu lagi.
"Dulu, aku pernah belajar dari seorang Samurai, kenalannya Sir Adam." Jawab Gladys.
Ryu pun tersenyum. Ia kemudian memberikan Kata kembar pada Gladys.
"Pakailah." Ujar Ryu.
"Aku boleh pakai?" Tanya Gladys dengan netra yang berbinar - binar.
"Tentu saja. Bawa senjata yang kamu bisa pakai di sini." Titah Ryu.
"Makasih, Bang!" Seru Gladys dengan girang.
Mereka berdua mulai bersiap dan menyiapkan senjata. Setelah membawa perbekalan senjata dan memakai rompi anti peluru, mereka segera kembali ke mobil. Di dekat mobil, sudah berdiri sepuluh orang yang sedang berjaga, salah satunya adalah Boy yang di kenal oleh Gladys.
Ryu memberikan arahan pada sepuluh orang tersebut dalam bahasa Jerman sebelum mengajak Gladys masuk ke dalam mobil. Mereka berdua kemudian segera menuju ke lokasi Gudang Senjata.
Di dalam mobil, Gladys kembali bersiap. Ia melepas mantel panjangnya dan mengikatkan sarung senapan di paha kanan dan kirinya. Ia juga mengantungi gas air mata dan pisau lipat khusus untuk berjaga - jaga.
"Mereka itu beneran orang suruhan BIN atau Agen Rahasia, Bang?" Tanya Gladys yang di jawab anggukan oleh Ryu.
"Kecuali Boy dan tiga orang rekannya yang biasa menjagamu." Ujar Ryu kemudian.
"Lalu, mereka siapa?" Tanya Gladys yang penasaran.
"Mereka itu Bodyguard khusus." Jawab Ryu.
"Abang menyewa Bodyguard?" Tanya Gladys.
"Nanti aku jelasin setelah kita selesai jalanin misi." Jawab Ryu.
Gladys pun mengangguk setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Ryu. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka akhirnya sampai di gudang senjata milik Mister X yang bekerja sama dengan seorang Mafia terkenal dari Jerman. Gudang senjata itu terlihat di jaga dengan sangat ketat.
Gladys mengambil Katana kembar milik Ryu dan menyelendangkannya di pundak sebelum menutupi Katana itu dengan mantel tebalnya. Tak hanya Gladys, Ryu pun mulai menyusun senjata di tubuhnya agar mudah di ambil saat terdesak.
Sebelum masuk, keduanya mengamati situasi gudang yang seperti tak ada celah itu. Ada banyak penjaga yang mondar - mandir dan berjaga di setiap sudut gudang.
"Ini ketat banget, Bang." Bisik Gladys.
"Hm, sepertinya sudah ada yang mengendus keberadaan kita." Lirih Ryu.
"Serius, Bang?" Tanya Gladys dengan mata melotot.
"Mungkin itu mantanmu." Jawab Ryu sambil menatap ke arah Gladys.
"Panggil aja Nolan. Gak usah sebut mantanku terus." Gerutu Gladys.
Hampir satu jam mereka mengintai dengan berpindah - pindah tempat yang semakin mendekat ke Gudang Senjata. Hingga akhirnya Ryu melihat sebuah jendela yang cukup tinggi yang luput dari pengawasan.
"Dys, kita masuk lewat jendela itu." Kata Ryu sambil menunjuk ke arah jendela yang ia maksud.
Gladys yang mengerti pun langsung mengangguk. Mereka pun berjalan dengan tenang dan tetap was - was dengan kondisi sekitar. Setelah sampai di bawah jendela, Gladys segera naik ke pundak Ryu untuk membuka jendela itu.
Tak butuh waktu lama, Gladys berhasil membobol kunci jendela dengan menggunakan jepitnya. Ia segera membuka jendela itu dan melompat ke batas jendela.
Gladys mengacungkan jempol ke arah Ryu saat melihat kondisi di dalam yang aman. Ia pun segera turun ke dalam gudang. Sementara Ryu, dengan mudahnya memanjat dinding dan masuk dengan teknik parkour yang ia kuasai.
"Wah, lain kali harus ajarin aku teknik parkour." Pinta Gladys yang di jawab anggukan oleh Ryu.
Mereka mulai memeriksa dan mengambil foto di gudang senjata itu. Mereka juga mengambil beberapa sampel senjata sembari melihat - lihat senjata apa yang di produksi di sana.
"Bener - bener luar biasa, Mister X." Bisik Ryu sambil melihat sebuah senapan keluaran terbaru. Tanpa ragu, ia mengamankan senapan itu di saku mantelnya.
"Aku juga mau." Bisik Gladys tiba - tiba.
Ryu tersenyum lalu memberikan senapan yang berbeda versi pada Gladys. Keduanya kemudian melanjutkan pemeriksaan. Mereka melihat beberapa senjata laras panjang yang juga merupakan versi terbaru.
"Wah, harus di amankan ini." Kata Ryu yang kemudian mengambil senapan beserta pelurunya.
Saat sedang asyik memotret dan mengamkan beberapa barang bukti, tiba - tiba semua lampu gudang menyala hingga suasana di situ menjadi terng benderang.
"Yaaaahhh, kita ketahuan." Kata Ryu pada Gladys sambil terkekeh.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kan lebih besar dan lebar 🤣🤣🤣🤣
manisss bgttt tanpa kepura² an....
love you author ku sayang🩷🩷🩷
Jangan per bopoan aja
tp nanti klo Gladys n Ryu dah dalam tahap bucin... lebih seruuuuuu lagi pastinyaaa..
gak sabar mereka bucin🤣