“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 29.
Dewangga sedang berdiri membelakanginya, postur pria itu sangat tegak dan tidak membungkuk seperti biasanya. Ekspresinya tidak polos dan tak ada suara kekanak-kanakan.
Pria itu baru saja selesai berbicara melalui telepon dengan nada rendah, tenang, dan penuh wibawa.
Napas Liora langsung tertahan, jantungnya berdetak keras.
Apa...
Apa yang baru saja kudengar? Dewangga?
Suara barusan, bukan suara Dewangga yang dikenalnya. Itu suara seorang pria dewasa, sangat tegas, dingin, dan penuh kendali. Tubuh Liora terasa kaku, Ia bahkan lupa bernapas.
Sementara di balkon, Dewangga menutup mata beberapa detik. Lalu dengan sangat cepat, ekspresinya berubah. Bahunya kembali sedikit membungkuk, tatapan tajam itu menghilang. Dan senyum polosnya kembali muncul, persis seperti Dewangga yang selama ini dikenal semua orang.
Liora membelalak.
Dia... berpura-pura? Selama ini?
Seketika pikirannya kacau, semua kejadian beberapa hari terakhir mendadak berputar di kepalanya.
Dewangga yang terus meminta dimandikan.
Dewangga yang minta dipakaikan baju.
Dewangga yang selalu merengek minta tidur dipeluk.
Dewangga yang terus mencuri perhatian.
Semuanya... pura-pura?
Dada Liora terasa sesak. Alih-alih marah, ia justru diliputi kekecewaan yang perlahan menggerogoti hatinya.
"Kenapa... kamu membohongiku?“ Bisiknya sangat pelan.
Sebelum Dewangga sempat berbalik, Liora buru-buru mundur. Ia kembali berjalan ke arah pantry, mengisi segelas air lalu sengaja membuat suara langkah. Baru kemudian masuk ke kamar seperti tidak terjadi apa-apa.
Dewangga yang mendengar suara pintu langsung menoleh. "Liora! Darimana?"
"Ambil minum, aku haus."
"Oh." Pria itu kembali duduk di sofa sambil memeluk bonekanya, persis seperti biasanya.
Kalau saja Liora tidak melihat kejadian beberapa detik lalu, mungkin ia akan kembali percaya jika pria itu memang masih 'sakit'. Namun sekarang, setiap gerakan Dewangga terasa seperti sandiwara.
Liora menatap wajah suaminya beberapa saat, ingin sekali dia langsung bertanya kenapa pria itu membohonginya? Tetapi... Ia mengurungkan niatnya. Kalau Dewangga belum ingin mengatakan yang sebenarnya, berarti pasti ada alasannya.
Kalau begitu, aku juga akan pura-pura gak tahu.
Sudut bibir Liora perlahan terangkat, senyum yang sangat tipis.
Dewangga yang melihatnya langsung bertanya polos. "Liora senyum kenapa?"
"Nggak."
"Hehehe..." Dewangga ikut tersenyum tanpa mengetahui, orang yang paling ingin ia rahasiakan baru saja mengetahui seluruh sandiwaranya.
Malam semakin larut. Dan seperti biasa, mereka tidur di ranjang yang sama. Liora membelakangi Dewangga, sementara pria itu merapatkan tubuhnya hingga dada bidangnya menempel di punggung wanita itu.
"Liora..."
"Hm?"
"Hadap Dewangga sini."
Liora mengembuskan napas pelan sebelum berbalik menghadap pria itu. Begitu mata mereka bertemu, Dewangga langsung mengembangkan senyum polosnya.
"Peluk."
"Iya."
Liora menurut, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dewangga. Seketika pria itu balas memeluknya erat, lalu memejamkan mata dengan wajah puas, seolah itulah satu-satunya cara agar ia bisa tidur nyenyak.
Namun kali ini berbeda, Liora diam-diam membuka sebelah matanya. Tatapannya tertuju pada wajah Dewangga yang tampak sudah terlelap, sudut bibirnya terangkat tipis.
Terus aja berpura-pura, bocah tua tengik. Besok... giliranku. Aku akan mengerjaimu sampai kamu menyerah sendiri.
Membayangkan ekspresi Dewangga saat nanti kepura-puraannya mulai ia balas, entah mengapa membuat sesak dan kecewa di dadanya sedikit berkurang.
Perlahan ia memejamkan mata, sementara Dewangga yang mengira Liora sudah tertidur diam-diam membuka matanya. Tatapannya melembut menatap wajah istrinya.
"Maaf... belum saatnya kau tahu." Bisiknya pelan.
Jemarinya mengusap lembut rambut Liora, sama sekali tidak menyadari bahwa perempuan dalam pelukannya itu belum terlelap dan mendengar setiap bisikan yang baru saja ia ucapkan.
Liora menggigit bibirnya pelan agar tidak bereaksi.
Dasar pria pembohong...
Namun anehnya, Ia justru tersenyum. Karena mulai malam ini, permainan mereka berubah. Jika Dewangga masih ingin berpura-pura menjadi anak kecil, maka Liora akan berpura-pura tidak tahu bahwa suaminya sudah kembali menjadi pria yang sesungguhnya.
Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar, menyinari ranjang besar di sudut ruangan.
Liora perlahan membuka mata, dan seperti biasa hal pertama yang ia rasakan adalah pelukan hangat yang melingkari pinggangnya. Ia menoleh pelan, Dewangga masih memejamkan mata dengan wajah setenang biasanya. Salah satu lengan pria itu memeluknya erat, sementara wajah pria itu sedikit terkubur di rambut panjang miliknya.
Kalau ini terjadi beberapa hari lalu, mungkin Liora hanya akan menganggapnya sebagai kebiasaan anak kecil yang mencari rasa aman. Namun sekarang, ia sudah mengetahui semuanya.
Ia masih ingat jelas kejadian semalam, ketika tanpa sengaja mendengar Dewangga berbicara dengan suara yang sangat berbeda dari suara polosnya selama ini. Pria itu sudah sembuh, dan selama ini masih terus berpura-pura.
Liora memejamkan mata beberapa detik, lalu mengembuskan napas pelan.
Baiklah, Tuan Dewangga Salendra. Kalau kamu ingin bermain sandiwara, aku juga akan ikut bermain. Kita lihat... siapa yang menyerah lebih dulu.
Sudut bibir wanita itu terangkat tipis, dengan sangat hati-hati Liora mencoba melepaskan pelukan Dewangga. Namun baru bergeser sedikit, lengan pria itu otomatis mengencang.
"Liora..." Suara mengantuk itu terdengar sangat alami.
"Hm?"
"Jangan pergi."
Biasanya kalimat seperti itu akan langsung meluluhkan hati Liora tapi hari ini berbeda, Ia justru hampir tertawa.
Wah... aktingnya bagus sekali!
"Aku cuma cuci wajahku" Liora sengaja memasang wajah lembut.
"Nggak...."
"Kok nggak?"
"Aku belum bangun."
Liora menggigit bibir bagian dalam agar tidak tertawa. "Kalau belum bangun, berarti tanganmu juga belum kuat meluk aku, dong? Tapi kok, ini kuat banget peluk aku."
"....." untuk sesaat Dewangga kehilangan jawaban, tapi dia buru-buru kembali memasang ekspresi lugu. "Pelukannya bergerak sendiri...."
Liora hampir tersedak mendengar alasan itu.
Cih, pelukannya bergerak sendiri? Hebat sekali alasannya.
"Iya, kah?" tanya Liora dengan wajah polos.
"Iya." Dewangga mengangguk-anggukkan kepalanya samar.
"Kalau begitu... aku pinjam tanganmu sebentar, ya."
Sebelum Dewangga sempat bereaksi, Liora menyelipkan kedua tangannya perlahan di bawah lengan pria itu. Dengan gerakan hati-hati, ia mengangkat lengan Dewangga sedikit demi sedikit, lalu memindahkannya ke atas bantal yang masih hangat bekas tempatnya berbaring. Setelah memastikan pelukan itu benar-benar terlepas, Liora menarik tubuhnya pelan hingga berhasil keluar dari dekapan pria tersebut.
"Nah! Sudah."
Dewangga berkedip, Ia benar-benar tidak menyangka istrinya berhasil lolos secepat itu. Biasanya, Liora akan membujuknya cukup lama. Namun, hari ini justru berbeda.
"Aku ke kamar mandi dulu."
"Oke..." jawab Dewangga sambil kembali memejamkan mata, seolah masih sangat mengantuk.
Liora mengangguk pelan. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menyingkap selimut dan turun dari ranjang dengan hati-hati agar kasurnya tidak terlalu berguncang. Kakinya menyentuh lantai marmer yang terasa sedikit dingin. Ia mengenakan sandal rumah, kemudian melirik sekilas ke arah Dewangga.
Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju kamar mandi. Tangannya meraih handuk yang sudah tergantung di dekat pintu, lalu sesaat sebelum masuk, ia sengaja menoleh sekali lagi.
Dewangga sama sekali tidak bergerak, masih memejamkan mata. Masih terlihat seperti pria bermental lima tahun yang selalu bergantung padanya.
Liora nyaris terkecoh lagi.
Teruslah berpura-pura, aku juga akan berpura-pura tidak tahu.
Perempuan itu membuka pintu kamar mandi perlahan, engsel pintu mengeluarkan bunyi pelan sebelum akhirnya tertutup kembali.
Klik.
Suara kunci terdengar samar.
Barulah setelah memastikan Liora benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, Dewangga perlahan membuka sebelah matanya. Tatapannya langsung mengarah ke pintu kamar mandi. Beberapa detik kemudian, ia membuka kedua matanya sepenuhnya dan mengembuskan napas panjang.
"Perasaanku saja... atau Liora berubah?"
Biasanya perempuan itu selalu luluh jika ia merengek. Hari ini, istrinya itu terlihat jauh lebih tenang.
Dewangga mengusap dagunya pelan. "Apa semalam aku melakukan kesalahan?"
Ia mencoba mengingat.
Mencium bibir Liora? Tidak mungkin ketahuan.
Berbicara di balkon? Seharusnya juga tidak...
"Mungkin cuma perasaanku." Dewangga menggeleng kecil.
Di balik pintu kamar mandi, Liora sedang menutup mulutnya dengan handuk kecil agar tawanya tidak terdengar keluar.
"Dasar aktor! Sekarang giliranku mengerjaimu, Tuan Salendra..." gumamnya lirih, seraya terkekeh pelan.
apa Liora tau ya kalo Dewangga sembuh🤔🤔🤔maka'y tubuh Liora membeku
sebab, dia takut
korupsi di perusahaan akan terungkap
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃