NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:21.7k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan Mendadak

Hari sudah beranjak siang. Sinar matahari yang menembus celah gorden kamar membuat ruangan terasa lebih hangat. Ezra membuka matanya perlahan, lalu bangkit dan duduk di tepi ranjang.

Pandangannya tertuju pada wadah styrofoam di meja samping sofa. Makanan pesanannya yang masih penuh itu kini tampak semakin tidak menarik. Ia tadi memang lebih memilih tidur, daripada menahan rasa lapar.

Kini, rasa haus yang hebat mulai menyerang. Tenggorokannya terasa kering, seolah menuntut cairan untuk membasahinya. Dengan sisa tenaga dan ego yang masih tertinggal, Ezra bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan keluar kamar dengan langkah gontai.

Di lantai bawah, suasana terasa begitu lengang. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Azizah. Ezra mengendikkan bahu, mencoba bersikap acuh, lalu melangkah ke arah kulkas untuk mengambil minuman dingin.

Saat ia meneguk air, matanya menyapu sekeliling. Dapur dan meja makan tampak bersih. Tidak ada satu pun piring atau hidangan yang tersaji. Ia meletakkan kembali botol yang tersisa setengah itu, lalu penasaran membuka tutup panci di atas kompor.

Kosong.

Sama sekali tidak ada jejak masakan.

“Apa dia tidak masak hari ini?” gumamnya.

Perutnya mulai mengeluarkan suara keroncongan yang cukup keras. Ezra mengelus perutnya, merasa sedikit tersinggung dengan fakta bahwa ia harus menahan lapar.

Tidak lama, suara langkah kaki terdengar. Ezra buru-buru menutup kembali panci itu dan memasang raut wajah datar, berusaha bersikap tidak peduli.

Azizah muncul dari arah belakang dengan peluh membasahi keningnya. Ia baru saja selesai membersihkan halaman belakang. Namun wanita itu hanya menatap Ezra sekilas dengan wajah datar yang dingin dan tanpa senyum. Ia langsung menuju meja dapur, menuang air ke gelas, dan meminumnya dengan cepat. Setelah itu, ia melenggang pergi begitu saja menuju kamarnya.

Ezra terpaku. Ekspresi Azizah tadi bukanlah ekspresi wanita yang biasanya menyambutnya dengan hangat. Ada kekesalan yang kental di sana. Tanpa pikir panjang, ia pun menyusul wanita itu ke koridor.

“Kau tidak masak?” tanya Ezra ketus.

Tangan Azizah yang baru saja menyentuh gagang pintu terhenti. Ia berbalik dan melirik Ezra dengan tajam. Wanita itu kemudian mengangkat kedua tangannya ke udara, memberi simbol bahwa ia tidak membawa ponselnya sebagai alat bantu komunikasi.

“Ck, apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti!” sahut Ezra dengan nada tidak sabar.

Azizah mulai menggerakkan jemarinya dengan tangkas, berkomunikasi lewat bahasa isyarat yang tegas dan teratur.

‘Kalau Mas lapar, silakan pesan makanan lagi dari luar. Percuma aku masak, jika tidak ada yang makan.’

Ezra terdiam, bola matanya mengikuti setiap gerakan tangan Azizah dengan bingung dan penuh frustrasi.

“Sebenarnya kau bicara apa?” geramnya.

Azizah kembali menggerakkan tangannya, kali ini lebih singkat dan menutup pembicaraan.

‘Yasudah, kalau tidak mengerti.’

Setelah itu, ia membuka pintu kamarnya dan masuk, meninggalkan Ezra yang masih berdiri mematung.

“Hei! Azizah!” teriak Ezra saat pintu tertutup tepat di depan hidungnya, “Dasar wanita bisu!”

Dengan emosi yang meluap-luap, ia berbalik dan melangkah kembali menuju kamarnya sendiri. Rasa lapar yang tadinya mendera kini sepenuhnya tertutup oleh rasa marah yang membakar.

Sesampainya di dalam kamar, Ezra langsung membanting pintu hingga menimbulkan suara dentuman keras yang menggema ke seluruh penjuru lantai atas.

“Sial! Beraninya dia!” umpatnya dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Ia mondar-mandir di dalam kamar seperti macan yang terkurung. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh sikap dingin Azizah. Selama ini, Ezra terbiasa menjadi pusat kendali, sosok yang didengarkan dan dituruti. Namun kali ini, ia merasa kehilangan kendali atas rumahnya sendiri.

Ia kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kasar.

Dia pikir dia siapa? Berani sekali dia melawanku? Batinnya terus mendebat keadaan.

Drrt... Drrt...

Ponselnya di atas nakas bergetar. Ezra pun bangkit dengan terpaksa dan menyambar benda itu dengan raut wajah kesal yang seketika berubah pucat saat membaca nama pengirimnya.

‘Ezra... Mama sekarang dalam perjalanan menuju rumahmu. Mama pikir, kau pasti akan menolak jika Mama memintamu menginap di rumah. Karena itu, biar Mama yang menginap di sana, apalagi Mama sudah merindukanmu dan Azizah. Besok juga hari Minggu, jadi Mama membawa Clara. Sebentar lagi Mama sampai.’

Mata Ezra melebar sempurna. Jantungnya berdegup kencang bukan karena marah, tapi karena panik. Jika Amisha menginap di sini, maka sandiwara pernikahan harmonis yang ia bangun di depan sang ibu akan hancur dalam sekejap. Terlebih lagi, ia teringat peringatan dokter bahwa ibunya tidak boleh terpapar stres atau kejutan yang bisa membahayakan kesehatannya.

“Tidak, ini tidak boleh terjadi,” desisnya. Ia membuang ponselnya ke atas tempat tidur dan berlari keluar kamar.

“Azizah!” panggilnya dengan suara lantang sambil menuruni anak tangga dengan derap langkah kaki yang terburu-buru, “Azizah!”

Ezra langsung menerobos masuk ke kamar Azizah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kamar itu kosong, namun suara gemericik air dari balik pintu kamar mandi menjelaskan segalanya.

Brak! Brak! Brak!

“Azizah! Kau di dalam?!” Ezra menggedor pintu kamar mandi dengan tidak sabar.

Gemericik air berhenti seketika, namun tidak ada sahutan. Ezra semakin tidak sabar, “Azizah! Kenapa kau tidak menjawab?!”

Ia hendak mendobrak pintu itu, sebelum akhirnya kesadaran menghantamnya. Ia menepuk dahinya sendiri dengan frustrasi, “Sial! Aku lupa kau tidak bisa bicara.” Ia mengembuskan napas panjang, menahan emosinya agar tidak meledak, “Baiklah, kutunggu kau di luar. Cepat!”

Ezra melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan bantingan halus.

Di dalam kamar mandi, Azizah berdiri mematung di balik pintu. Ia bernapas lega begitu langkah kaki Ezra menjauh. Jantungnya masih berdegup kencang karena kaget atas kedatangan Ezra yang tiba-tiba dan kasar. Walaupun merasa terganggu, ia sadar ada sesuatu yang mendesak dari sikap suaminya tadi. Ia pun segera menuntaskan ritual mandinya, bersiap menghadapi Ezra yang entah mengapa bertingkah seolah dunia akan runtuh.

Ezra terus mondar-mandir di depan pintu kamar Azizah. Sepuluh menit berlalu, dan setiap detik yang terbuang terasa seperti ancaman untuknya. Ia berulang kali melirik ke arah jendela ruang tamu, waspada kalau-kalau mobil ibunya muncul.

Ceklek.

Pintu terbuka. Azizah keluar dengan wajah yang tampak lebih segar namun bingung. Ezra tidak membuang waktu, ia langsung mendekat dengan napas memburu.

“Ck, lama sekali!” sembur Ezra tanpa memedulikan perasaan wanita itu.

Azizah segera mengeluarkan ponselnya, mengetik dengan cepat lalu menunjukkan layarnya.

‘Aku sekalian melaksanakan salat dhuhur.’

Ezra menarik napas panjang, berusaha menahan kesabarannya yang sudah menipis, “Sekarang cepat pindahkan barang-barangmu!”

Azizah mengernyit, menatap Ezra dengan tatapan bertanya. Ia segera mengetik lagi.

‘Ada apa sebenarnya? Kenapa Mas terlihat panik? Dan pindahkan ke mana?’

Ezra menyugar rambutnya dengan frustrasi, “Mama dalam perjalanan ke sini!”

Mata Azizah melebar, terkejut dengan kabar itu.

“Jangan sampai Mama tahu kalau kita tidur terpisah. Bisa berbahaya jika Mama sadar bahwa selama kita menikah, hubungan kita tidak akur. Aku tidak bisa berkompromi jika berhubungan dengan kesehatannya,” jelas Ezra dengan nada mendesak, “Sekarang, pindahkan barang-barangmu ke kamarku. Kita harus berakting layaknya pasangan harmonis!”

Tanpa menunggu persetujuan, Ezra masuk ke kamar Azizah. Ia mulai menarik pakaian dari lemari dengan kasar, lalu memasukkannya ke dalam tas. Saat Azizah mencoba mengambil alih, Ezra justru menolaknya mentah-mentah, dan membawa tas itu keluar kamar.

Azizah dengan cepat menyisir keadaan kamar, memastikan tidak ada barang pribadinya yang tertinggal. Ia masuk ke kamar mandi untuk mengambil peralatan mandi, lalu merapikan tempat tidur agar tampak seolah tidak baru saja digunakan. Setelah memastikan kamar itu terlihat kosong dari jejaknya, ia keluar dan bergegas menyusul Ezra.

Sesampainya di kamar pria itu, Azizah langsung melesat menuju kamar mandi untuk menata alat-alat mandinya di rak yang tersedia. Di saat yang sama, Ezra tampak sibuk menggeser pakaian-pakaiannya ke satu sisi lemari, berusaha menciptakan ruang agar pakaian istrinya bisa masuk.

Azizah yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera membantu menata ruang itu. Dengan cekatan, ia membuka tas besar berisi pakaiannya dan mulai memasukkannya ke dalam lemari dengan lipatan yang sangat rapi. Namun di sela-sela kegiatannya, pandangan mata Azizah tidak sengaja melirik ke arah meja samping sofa. Di sana, wadah styrofoam berisi makanan yang dipesan Ezra tadi pagi masih terlihat penuh.

Apa Mas Ezra tidak memakannya? batin Azizah.

Seolah sadar arah pandangan istrinya, Ezra dengan refleks langsung memutar tubuhnya, menutupi meja itu dengan tubuh besarnya, “Kau sedang melihat apa?! Cepat selesaikan! Jangan sampai Mama datang sekarang,” sergahnya.

Azizah mengangguk patuh dan mempercepat gerakannya. Setelah semua pakaian masuk, ia menyampirkan mukena serta sajadahnya dengan rapi di gantungan luar lemari.

Tiinn... Tiinn...

Suara klakson mobil di halaman depan memutus kesibukan mereka. Ezra menegang, “Itu pasti Mama. Cepat keluar! Kita harus menyambutnya.”

Azizah mengangguk cepat. Mereka berdua segera bergegas keluar dari kamar.

1
Ariany Sudjana
waduh, siapa yang menculik Azizah? semoga Azizah baik-baik saja dan bisa diselamatkan. mana Azizah ga bisa bicara lagi /Sob/
Ariany Sudjana
wah semangat yah Azizah, kamu harus tetap bersemangat untuk bisa melanjutkan studinya
Cici Sri Yunita
bagus
Lilik Juhariah
moga Zizah bisa bersuara lagi dan jadi wanita mandiri
Lilik Juhariah
Ezra Ezra Ezra
Lilik Juhariah
syukurlah sudah lebih baik hubungan mereka
Ariany Sudjana
hahaha Ezra bucin akut
Ariany Sudjana
puji Tuhan, kehidupan rumah tangga Ezra dan Azizah semakin membaik. ayo semangat Ezra untuk bisa berjalan dengan baik, dan Azizah juga semangat untuk ikut terapi, supaya bisa berbicara lagi
Lilik Juhariah
moga Zizah bisa buat Ezra sholat dan menjalankan perintah NYA
Lilik Juhariah
baguslah , Ezra kembali jadi manusia lagi , bukan robot yg gak punya hati Krn dendam
Ariany Sudjana
iya, semoga Azizah bisa kembali berbicara, supaya tidak harus selalu membalas dengan hp setiap pertanyaan dari Ezra atau orang lain
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Ezra sudah boleh pulang, tinggal Azizah nih, semoga bisa kembali berbicara, supaya komunikasi dengan Ezra bisa lebih lancar
Lilik Juhariah
Zizah istri Sholehah, tiap untaian kata mu bikin aku tercengang, dalam banget maknanya , aku sukaaa
Lilik Juhariah
terus dirimu dg shiena , sampe segimana hubunganmu sampe jd orang bodoh Zra
Ariany Sudjana
semangat terus yah Ezra untuk sesi terapi, bersyukur kamu punya istri yang bijak seperti Azizah, bukan pelacur murahan kesayangan kamu itu
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Ezra dan Azizah semakin membaik. seandainya Azizah bisa bicara, komunikasi dengan Ezra bisa lebih lancar dan rumah tangga mereka bisa lebih baik
Zia Zee
Terimakasih sudah up ya kak author🥰
Ariany Sudjana
asli part ini /Sob/ Azizah sangat dewasa dalam berpikir, semoga hubungan kalian semakin membaik
Lilik Juhariah
dewasa sekali Zah , tapi coba tanya ke Ezra apa dia pernah berzina dh shiera
Lilik Juhariah
rawat aja Zah , dari awal kamu wanita berprinsip , tapi tidak cengeng, jaga jarak sesuai kesepakatan yg pernah Ezra bilang padamu , biarkan Ezra mencintaimu dan menghargai keberadaan mu dulu,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!