Bagaimana jadinya, hidup kembali sebagai wanita ahli pedang di zaman kuno?
Sudah pastinya begitu tidak menyenangkan, Anya seorang dokter Bedah yang meninggal karena di khianati oleh seorang sahabat nya.
Ia bereinkarnasi menjadi wanita ahli pedang di zaman Kerajaan China kuno. Bagaimana kisah nya?
Baca kisahnya... Di
— Cinta Wanita Pedang —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Rumor
Tetiba tangan Anya terhenti saat maniknya menangkap siluet seorang wanita yang sudah agak berumur, diiringi beberapa Dayang-dayang di belakang wanita berumur yang begitu mewah pakaian nya.
Barata Zhou dan Arta, langsung menekuk lutut dan mengepal tangannya di depan dada menundukan kepalanya dalam hormat.
" Sembah Yang Mulia Ibu Agung Zhoujia, Semoga Yang Mulia Ibu Agung selalu diberkati oleh para Leluhur! " Koor mereka menggema di halaman kediaman tersebut,
Kala melihat wanita anggun tersebut menghampiri keduanya, Anya menatap heran kedua Panglima tersebut lalu tatapannya beralih ke wanita anggun wajahnya begitu dingin menatapnya tajam.
" Mengapa anda pergi begitu saja?, Kau Membuatku Murka Puteri Agung! tingkahmu membuatku selalu berpikir kalau kau bukanlah anak dari Anak ku! " Suara penuh penghinaan keluar dari bibir wanita anggun tersebut
" Maksud anda? " Tanya Anya menatap heran wanita itu ia baru saja bertemu namun sudah di marahi, sebenarnya seperti apakah kehidupan orang yang ia masuki tubuhnya?
Ibu Agung Zhoujia, mengangkat tangannya ke udara lalu 𝘗𝘭𝘢𝘬! Sebuah tamparan nan panas itu mendarat di pipi kanan Anya membuat wajahnya terbuang ke sisi kiri. tangan Anya meraba wajahnya yang terasa perih sekali
" Anda itu selalu membuat harkat martabat keluarga kami malu, manusia menjijikkan!. Pergilah ke Kuil bermalam disana renungkan kesalahan yang selalu kau perbuat! " Bentak wanita itu membuat Anya terdiam
" Apa sih salahku? " Geram Anya sembari mengepal tangannya di balik baju yang ia kenakan, tangannya bergetar hebat
Ibu Agung Zhoujia maju beberapa langkah, mengikis jarak diantara Ia dan Anya matanya menatap tajam penuh kebencian kepada sosok tersebut
" Karena kau adalah titisan Iblis pedang!, merusak darah murni kerajaan!. " Ucapnya lalu berlalu bersama Dayang-dayang nya
Anya tertegun mendengar perkataan sosok yang merupakan neneknya itu sekarang. Ia menatap punggung wanita itu yang lambat laun menghilang, tatapan Anya beralih ke kedua Panglima dengan tatapan sendu dan penuh tanya.
" Kenapa nenek sangat membenci ku?, ada apa Panglima?, Kenapa? " Cecar Anya dengan suara ingin tahu yang terbendung
" Yang Mulia Puteri Agung. Maafkan hamba kalau penjelasan dari kami begitu akan menyakiti Puteri Agung " Kata Arta dengan suara sopan membuat Barata Zhou menatapnya dengan tajam,
" Katakan! " Perintah Anya
" Begini yang Mulia, Puteri Agung memang sangat tidak di sukai oleh yang Mulia Ibu Agung karena Puteri Agung. Di 𝘫𝘶𝘭𝘶𝘬𝘪 ' 𝘴𝘪 𝘪𝘣𝘭𝘪𝘴 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 ' " Jelas Arta membuat Anya berkerut dahi
" Kenapa di juluki si iblis pedang?, jangan bilang karena aku suka sekali menyiksa orang dan mengotori nama kerajaan? " Terka Anya
" Benar sekali , Puteri Agung namun Puteri Agung itu tidak mencernakan nama baik Kerajaan karena Puteri Agung bermain pedang bila kami ada perang. Puteri Agung selalu berada di garda terdepan " Jelas Barata dengan suara datar
" Main pedang?, what?... Kenapa aku harus bereinkarnasi jadi orang ahli pedang? " Tanya Anya begitu kecil sekali seperti bisikan
" Puteri Agung, apakah Puteri Agung baik-baik saja? " Tanya Barata kala melihat wajah Puteri Agung nya berubah masam tersebut
" Saya baik-baik saja, mau bobo cantik kalian huss! Pergi! " Anya memutar telapak tangannya di depan dada. Seperti mengusir seekor ayam
" Bobo cantik?, bobo cantik itu apa? " Tanya Arta begitu polos membuat gadis itu tertawa geli melihat kepolosan lelaki itu,
" Ngga tahu?, masa gitu aja ngga tahu bobo itu artinya tidur!. Ganteng-ganteng kok bodoh?.. " Cebik Anya
" Puteri Agung bicaralah yang kami mengerti, mengapa Puteri Agung menjadi seperti ini? " Tanya Barata tetiba
" Shutt!, berisik aku mau istirahat maskeran dan luluran kayanya disini tempatnya begitu panas sekali! " Ujar Anya berlalu begitu saja membuat kedua Panglima itu geleng-geleng kepalanya
" Apakah Panglima tahu kenapa Puteri Agung seperti itu? " Tanya Arta
" Entahlah! " Barata mengedikkan bahunya acuh
" Panglima terlalu tidak peduli dengan Puteri Agung padahal beliau adalah Murid anda yang begitu cepat tangkap! " Cibir Arta dengan raut masam
" Berhenti berkata seperti itu! "
" Panglima tunggu! "
Sementara itu di sebuah kamar yang begitu besar. Anya berdecak kagum melihat kamar yang begitu besar seperti milik nya yang ada di Jakarta betapa rindunya dirinya kepada sosok wanita yang telah melahirkannya,
Anya tanpa sadar mengusap, kalung berbentuk hati terbuat dari batu Giok berwarna hijau cerah itu. Kalung pemberian dari sang almarhum mama nya,
𝘞𝘩𝘶𝘴𝘴𝘴!
Sebuah sinar kecil, keluar dari liontin batu Giok tersebut — lama kelamaan begitu besar sekali. Menyilaukan mata Anya ia menutup matanya hawa dingin menjalar menusuk — Tulang tangannya bergetar, seperti nya seluruh energinya akan habis selepas ini.