Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Darah di Gaun Putih
Bunyi ledakan senjata api itu masih menyisakan dengungan panjang di telinga Alana.
Dunia di sekitarnya seolah mendadak berjalan lambat. Sebelum matanya sempat berkedip, cipratan cairan kental yang panas langsung membasahi bagian dada gaun putih gading yang dikenakannya.
Merah pekat. Bau anyir darah seketika menguasai indra penciumannya.
Di depannya, tubuh tegap Devano berguncang hebat, namun pria itu tetap berdiri kokoh. Kakinya yang selama ini dikira dunia lumpuh total, justru menjadi tameng hidup paling kuat untuk melindungi tubuh Alana.
"T-Tuan Devano..." Suara Alana tercekat di tenggorokan, tersendat oleh rasa syok yang luar biasa.
Jemari Alana yang gemetar perlahan bergerak menyentuh punggung jas Devano. Telapak tangan wanita itu langsung basah oleh cairan hangat yang terus merembes keluar dengan sangat cepat.
Devano tidak mengerang, tidak pula mengeluh kesakitan. Wajah tegasnya hanya mengeras menahan perih, sementara sepasang matanya yang tajam menatap ke arah pilar beton tempat penembak tersembunyi.
"Jefri, habisi dia," perintah Devano dengan suara rendah dan serak, namun masih penuh dengan penekanan yang mematikan.
Jefri yang melihat bosnya terluka langsung kehilangan kendali emosinya. Tanpa banyak bicara, ia mengarahkan moncong senjatanya ke balik pilar beton dan melepaskan tembakan beruntun.
Bang! Bang! Bang!
Tubuh pria bertopeng di balik pilar itu langsung ambruk ke lantai marmer dengan kepala terkulai. Suasana parkiran bawah tanah mendadak sunyi, hanya menyisakan kepulan asap tipis dari gas air mata dan mesiu.
"Area aman! Cepat siapkan mobil medis sekarang juga!" terak Jefri kepada sisa pengawal dengan nada panik yang jarang sekali ia tunjukkan.
Begitu ancaman selesai, pertahanan fisik Devano tampaknya benar-benar runtuh. Tubuh besarnya mendadak limbung, kehilangan keseimbangan, lalu ambruk sepenuhnya ke arah Alana.
Alana tidak siap menahan beban seberat itu. Mereka berdua jatuh bersamaan ke atas lantai beton yang dingin, dengan posisi Alana yang memeluk erat kepala Devano di pangkuannya.
"Tuan! Buka mata Anda! Tolong jangan tertidur!" jerit Alana dengan air mata yang langsung tumpah membasahi pipinya yang pucat.
Rasa takut yang sangat besar mendadak merayap di dadanya, mencabik-cabik seluruh pertahanan mentalnya. Wanita itu menyadari satu kenyataan pahit dalam batinnya: ia membenci segala paksaan dan kekejaman pria ini, tetapi ia jauh lebih takut jika harus kehilangan pelindung tunggalnya di dunia yang kejam ini.
"Jefri! Sialan, cepat bawa mobilnya ke sini!" Alana berteriak histeris, kehilangan seluruh kendali dirinya.
Devano perlahan membuka kelopak matanya yang mulai terasa berat. Ia menatap wajah Alana yang kini sudah berantakan oleh tangisan dan ketakutan yang mendalam.
Tangan kanannya yang dingin dan dipenuhi noda darah bergerak pelan, menyentuh dagu Alana dengan cengkeraman yang lemah namun tetap terasa memaksa wanita itu agar tidak memalingkan wajah.
"Jangan berteriak seperti orang gila, Alana. Aku belum mati," bisik Devano dengan suara yang sangat tipis, mencoba mengulas senyum meremehkan yang menjadi ciri khasnya.
"Kenapa Anda melakukan ini? Kenapa Anda harus berdiri dan menerima peluru itu untukku?!" tangis Alana kian menjadi-jadi saat melihat noda merah di gaunnya semakin melebar luas.
"Karena kamu milikku," jawab Devano tegas, meskipun napasnya mulai tersengal-sengal menahan rasa panas yang membakar punggungnya. "Tidak ada satu pun bajingan di kota ini yang boleh menyentuh barang berharga milik Devano Adhitama."
Jefri dan dua pengawal langsung mengangkat tubuh Devano dengan sangat hati-hati, memasukkannya ke dalam kursi belakang mobil sedan mewah antipeluru yang mesinnya sudah menderu keras.
Alana ikut merangkak masuk ke dalam ruang kabin mobil yang sempit tanpa memedulikan penampilannya lagi. Ia kembali menarik kepala Devano ke atas pangkuannya, menekan luka tembak di punggung pria itu dengan robekan kain gaunnya yang tersisa.
"Jalan, Jefri! Ke rumah sakit utama sekarang juga! Tancap gasnya!" perintah Alana dengan nada suara yang mendadak penuh dengan tekanan otoritas.
Mobil sedan itu langsung melesat keluar dari area parkir, bannya berdecit keras di atas aspal dan melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan yang sangat membahayakan.
Di dalam mobil yang melaju zigzag, kesadaran Devano tampak mulai timbul tenggelam. Namun, genggaman tangannya pada jemari Alana masih terasa begitu kuat, seolah menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan wanita itu menjauh darinya.
Alana terus menunduk, memandangi wajah tampan suaminya yang kian memucat di bawah temaram lampu kabin. Jantungnya berdegup brutal, didera dilema emosi yang membuatnya ingin terus memeluk pria egois yang baru saja mempertaruhkan nyawa demi dirinya ini.
Tiba-tiba, sebuah suara getaran yang panjang memutus keheningan yang menegangkan di dalam mobil tersebut.
Bukan ponsel Alana, melainkan ponsel pintar milik Devano yang berada di saku jas dalamnya yang bergetar tanpa henti. Layar gawai itu menyala terang, menampilkan sebuah notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Alana refeks meraba saku jas Devano yang basah oleh darah, lalu mengambil ponsel tersebut dengan tangan yang gemetar hebat.
Ada sebuah lampiran video pendek yang langsung berputar secara otomatis di layar depan saat Alana menyentuh layarnya.
Detik berikutnya, seluruh aliran darah di tubuh Alana seolah membeku seketika. Genggaman tangannya pada ponsel itu mendadak lemas, dan napasnya tertahan di tenggorokan karena rasa syok yang jauh lebih mengerikan dari insiden penembakan tadi.
Di dalam video berdurasi lima detik itu, terlihat sosok adiknya—satu-satunya keluarga kandung yang paling ia sayangi—sedang duduk terikat di sebuah kursi besi.
Wajah adiknya tampak lebam penuh luka, dan yang paling mengerikan adalah sebuah rompi bom waktu digital yang terpasang erat di dadanya dengan angka merah yang terus berjalan mundur: 09:59.
Sepuluh menit lagi.
Sebuah pesan teks tertulis di bawah video tersebut: "Hadiah kedua dari Keluarga Surya. Pilih sekarang, Devano... selamatkan nyawamu sendiri di rumah sakit, atau biarkan istri kecilmu pergi menjemput mayat adiknya berkeping-keping."
Alana menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan telapak tangan yang gemetar hebat sementara air matanya kembali tumpah secara brutal.
"Ada apa, Alana?" tanya Devano dengan suara yang kian melemah, namun matanya langsung terbuka saat mendengar jeritan ketakutan istrinya.
"A-Adikku... Rendy menyandera adikku, Tuan... Ada bom di tubuhnya," cicit Alana dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar akibat rasa putus asa yang teramat sangat.
Devano berusaha bangkit dari pangkuan Alana dengan sisa tenaga terakhirnya, mengabaikan rasa sakit luar biasa yang kembali mengoyak luka tembak di punggungnya hingga darah segar kembali merembes. Pria itu merebut ponsel dari tangan Alana, menatap video tersebut dengan rahang yang mengeras sempurna hingga urat-urat di pelipisnya menonjol kaku.
"Bajingan licik," desis Devano dengan suara serak yang sarat akan kebencian yang mendalam terhadap pergerakan Keluarga Surya.
"Jefri, putar balik mobilnya. Kita tidak ke rumah sakit," perintah Devano tiba-tiba dengan nada suara yang kembali dingin dan mutlak.
Jefri yang sedang menyetir langsung melirik melalui kaca spion tengah dengan mata terbelalak. "Tapi Tuan Besar, luka tembak Anda sangat parah! Anda bisa kehabisan darah sebelum kita sampai di lokasi!"
"Aku bilang putar balik sekarang, Jefri! Ini perintah!" bentak Devano, disusul dengan batuk darah kecil yang keluar dari sudut menyerang bibirnya.
Alana langsung menggelengkan kepalanya dengan histeris, menahan dada bidang Devano agar pria itu tidak banyak bergerak lagi. "Tidak, Tuan Devano! Jangan putar balik! Anda harus ke rumah sakit sekarang juga! Nyawa Anda lebih penting!"
"Diam, Alana! Aku tidak akan membiarkan musuhku menyentuh apa pun yang menjadi milikku, termasuk adikmu!" sahut Devano dengan tatapan mata yang begitu keras, menolak segala bentuk bantahan terhadap keputusannya.
Di tengah perdebatan sengit yang dipenuhi tetesan darah dan air mata itu, mobil sedan mereka tiba-tiba berguncang hebat akibat hantaman keras dari arah samping.
Braakk!
Sebuah truk kontainer besar berwarna hitam pekat tanpa plat nomor mendadak melaju kencang dari arah persimpangan jalan, menabrak bagian depan mobil sedan mereka hingga berputar seratus delapan otot derajat di atas aspal yang basah.
Mobil mereka terhenti dengan posisi melintang di tengah jalan raya yang sepi, dengan kepulan asap tebal yang mulai keluar dari balik kap mesin yang hancur.
Melalui kaca jendela mobil yang retak seribu, Alana bisa melihat tiga mobil jip besar milik Keluarga Surya perlahan-lahan datang mendekat, mengepung mereka yang sudah ringsek tidak berdaya, sementara angka di bom waktu adiknya terus berjalan mundur mendekati angka nol.