Kana Nada Praya dilahirkan oleh ibunya dengan doa akan anak perempuan yang kuat, penuh harapan dan dicintai. Seiring langkah kecil hingga ia dewasa, doa itu kerap menuntunnya pada keberhasilan gemilang yang ia raih. Hingga ia bertemu seorang lelaki yang mengubah semua itu. Mengubah hidup Kana menjadi sebuah kenyataan yang terbalik dari doa sang ibu.
Aruna Wira Mahendra bagai titisan berlian yang diturunkan tuhan dari langit. Ia dilahirkan dari keluarga terhormat dan berwibawa. Meski berada di keluarga kaya, Aruna tak pernah sekalipun memanfaatkan apa yang orangtuanya miliki. Dengan keahlian dan bakatnya, ia meraih kegemilangan hidup terutama saat bertemu Kana, magnet dalam hidupnya. Hingga sebuah keputusan demi keputusan salah menuntunnya pada jalan yang gelap.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang begitu indah.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang berakhir begitu saja.
Benarkah cinta adalah anugerah?
Ataukah cinta butuh lebih dari sekedar cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Conscious
Sebuah mobil sedan merah memasuki areal perkantoran gedung mewah. Dua orang satpam yang berjaga di depan pintu lobby ikut mengalihkan padnangan pada arah mobil yang baru saja parkir itu. Tepat saat pintunya terbuka, mulut mereka menganga.
"Mbak Kana, wah sudah lama gak lihat ngantor! Saya pikir sudah resign!" sahut seorang satpam yang jelas-jelas terkejut dengan perubahan kondisi Kana setelah hampir dua bulan tidak muncul di kantor secara fisik.
"Wah, balik-balik kantor langsung jadi kece banget ya, Mbak! Ini habis nikah atau gimana?" baru saja sang satpam kedua bertanya, ia langsung di pukul oleh satpam yang lain.
'Nikah?' batin Kana. Tak ingin berlama-lama terpaku, Kana hanya membalas dengan senyum. Ia lalu berjalan cepat menuju lift.
'Nikah, ya,' ucap Kana dalam hati.
Tentu saja gosip akan semakin liar dan semena-mena saat seoramng karyawan bisa tidak hadir di kantor tapi masih bisa terima gaji dan project. Kana kini sadar seberapa berharganya kemampuan yang ia miliki, dan serugi apa ia telah dimanfaatkan dan diperas oleh teamnya sendiri.
Selama ini ia merupakan otak kunci yang memikirkan strategi dan solusi bisnis, tapi tiap kali sebuah keberhasilan dirayakan, tak pernah sekalipun mengkreditkan atas namanya. Tidak satu 'makasih' pun terucap. Bahkan dari Nadia, seorang senior yang ia anggap baik namun ternyata sama saja, menggunakan Kana hanya demi tujuan-tujuan dan keuntungan pribadinya.
Terimakasih pada Sam. Kana bahkan tak perlu harus menginap di rumah sakit jiwa dan memiliki sejarah menjadi salah satu pasien disana yang tentunya tidak akan baik bagi masa depannya. Semua hal yang Sam lakukan, semua terapi, dan perhatian yang Sam beri sebagai orang yang Kana percayai membatu kondisi Kana menjadi jauh lebih baik.
Sam bahkan bisa meyakinkan Kana untuk menghabiskan secuil tabungannya untuk membeli mobil mewah yang nyaman. Dibandingkan dengan kesusahpayahannya dulu menaiki transportasi umum dan harus bolak-balik mengganti baju.
Sam juga berhasil meyakinkan Kana untuk tidak perlu merasa berat hati mempergunakan uang pisah hasil keputusan perceraian dari Ibu Lastri, mantan mertuanya. Dengan menikmati uang itu, Kana paling tidak, dapat merasa bahwa Lastri dan Aruna sedang membayar kesalahannya meski setitik kecil saja.
Well, mobil yang Kana beli sangat-sangat nyaman. Dan ternyata Sam benar. Mempergunakan uang pemberian Ibu Lastri membuatnya merasa bahwa paling tidak, mereka memang harus membayar hutang kesalahannya. Dan itu, membuka jalan maaf dari diri Kana yang paling dalam dan tersembunyi.
Saat pintu lift terbuka, tentu saja seluruh mata dari semua ruangan sudah terpaku pada Kana. Ia memang sudah banyak berlatih dengan Sam, tapi Kana belum bisa benar-benar menguasai arena kerja dengan strategi baru dalam hidupnya ini. Itulah sebabnya Sam menyarankan untuk memakai kacamata hitam. Selain terlihat savage, kacamata hitam efektif untuk membuat kita less focus pada tatapan mata orang lain.
Kana hampir saja salah berbelok, ke kursi dan meja yang biasanya ia tempati. Tapi tidak, meeting pagi tadi adalahs alah satu bukti bahwa kini hidup telah perlahan berbalik memihak Kana. benar, pagi tadi Kana sudah diangkat menjadi manager teamnya sendiri. Mengalahkan politik busuk yang selama ini Nadia jalankan.
Keabsenan fisik dua bulannya di kantor memperlihatkan dengan jelas performa Nadia. Dan para atasan dapat dengan jelas melihat bagaimana kecerdasan dan keahlian Kana pada saat bekerja, terutama saat memimpin penentuan strategi bisnis. Kana, kini memiliki ruang kerja sendiri.
Klap!
Pintu ruangan Kana tertutup, membuat Kana cepat-cepat berbalik untuk bisa melihat ke arah luar dari jendela. Kaca jendela dilapisi kaca one-view yang baik sehingga memungkinkan pemilik ruangan untuk mengawasi arah luar sementara dari luar tidak dapat melihat apapun kedalam ruangan.
Disana, tampak jelas siapa-siapa yang berekspresi tak percaya akan kembalinya Kana ke kantor. Juga orang-orang yang bersorak senang, mengetahui bahwa orang yang jujur, baik, dan profesional seperti Kanalah yang akhirnya menang dan menuai hasil. Bukan kelompok penjilat dengan zero skill seperti team Nadia. Kedatangan kana membawa angin segar yang memotivasi team.
Menghela nafas, Kana duduk di mejanya. Dengan semakin baiknya kondisi mental dan kejiawaan Kana, bahkan Kana merasa sedang berada di kondisi etrbaik yang pernah ia rasakan, Kana mulai mampu berpikir jernih. Diam-diam tanpa sepengetahuan Sam, Kana mulai menelaah kembali hidupnya dan segala kekacauan yang pernah terjadi.
Kana mulai menyusun kembali pecahan puzzle yang hampir nyaris menjadi debu saking kacaunya jalan hidupnya. Begitu banyak hal yang mulai ia mengerti dan pahami. Meski begitu banyak pertanyaan yang masih belum terjawab, tetapi Kana yakin, kini langkah hidupnya sudah semakin kuat dan tegar. Semua, semua yang Sam lakukan telah membuat Kana kembali menemukan dirinya yang telah lama hilang. Dirinya yang jauh ada, sebelum mengenal Aruna.
***
Memasuki areal rumah sakit, Sam tak dapat menahan dirinya untuk tidak bersiul. Sebenarnya pun, ia sudah sekuat tenaga untuk menahan luapan bahagia dalam dadanya. Ia benar-benar tidak ingin berjoget di lroong rumah sakit dan menarik perhatian, meski sebenarnya tanpa ia sadari ia sudah menjadi topik perbincangan para warga Rumah Sakit Jiwa Benteng Agung sebulan penuh ini.
Alesha memijit-mijit keningnya sambil menunduk setelah melempar senyum 'Selamat Pagi, Dokter Sam!' pada Sam yang melewati meja para suster. Suster Alesha juga tidak tahan ingin langsung membicarakan dokter muda ganteng yang digosipkan jatuh cinta pada mantan pasiennya sendiri.
Begitu Sam menutup pintu ruang kerjanya, Alesa... dan beberapa suster lainnya sontak langsung mengerubung dan membuka topik obrolan.
"Sumpah, kata Tio, dia udah benar-benar konfirmasi kalau yang beli mobil beberapa minggu yang lalu memang Kana, dan perginya pun barengan sama Dokter Sam!" pekik Alesha sambil berjingkrak.
Tio adalah tunangan Alesha yang bekerja sebagai marketing mobil di kota.
"Wah, gak sangka ya, ternyata benar bahwa alasan Dokter Sam memindahkan Kana ke Dokter Bambang adalah karena dia tidak ingin ada Conflict of Interest padahal sebenarnya memang pemindahan Kana ya karena dia sudah jatuh cinta," balas suster Airin sambil mendecak.
Mereka lalu sadar ada seseorang yang menarik bibirnya ke bawah, dia Sonya.
"Sonya, lo gak papa?" tanya Alesha prihatin.
"Huuuaaaa, padahal gue udah ngefans banget sama Dokter Sam! Kenapa dia gak pernah melirik gue yang tiap hari perhatian sama dia, sih? Huaaaaa, padahal Kana jarang-jarang banget dateng ke konsultasi. Sekalinya dua bulan lalu dateng kenapa langsung jadian sih?! Huaaaaaa," Sonia tak dapat menahan rasa sedih dan kecewanya. Ia hendak meluapkan perasaannya sampai ada dehem yang ia kenali.
"Sorry, siapa yang jadian?!"
Sontak semua kepala dalam kumpulan bergosip itu menoleh ke arah sumber suara. Dan di lorong sudah ada Dr. Bambang yang mengelue-elus dagunya. Sudah mengolah informasi yang baru saja ia dengar.
Bambang mendekat sambil bersedekap, "jadi itu alasan kenapa pasien favorit si Sam dipindahkan ke gue, ya. Hm, begitu. Tapi kalian yakin info ini valid?"
Merasa bersalah sudah menggosipkan dokter Sam, para suster hanya menunduk.
"Tapi ada yang aneh," lanjut Bambang.
"Anehnya adalah, setelah dipindahkan, Kana tak pernah sekalipun mendatangi gue untuk follow up konsultasi. Apa itu artinya gue gak sesuai kemauan Kana, atau... perpindahan pasien ini hanya memang untuk menghapus jejak romantisme mereka?"
"Benar!" pekik Alesha yang langsung ia sesali.
Bambang mendelik menatap para suster dan segera berbalik badan, menuju ruang kerja Sam.
Seiring langkahnya, Bambang berbisik, "gue harus pastikan info ini sendiri."
Dibelakang Bambang, segerombol suster dengan sigap mengikuti langkah Bambang dengan berjingkat diam-diam.
***
Di sebuah ruangan rapat yang cukup besar, segerombolan orang dengan muka serius dan tegang terdiam menatap meja. Memecah keheningan, seseorang mengetuk meja dengan ketukan berirama. Seolah bunyi ketukan itu adalah seperti sisa waktu yang diberikan.
"Baik, tidak ada keberatan, ini berarti... Adios Gamigo!" ucap Jay sambil menutup sebuah map dan memberikan map itu kepada asisten Jay yang sigap berdiri di belakang kursinya.
Seiring dengan beralih topik, beberapa orang menghembuskan nafas lega. Mereka lalu menegakkan kembali punggung dan memperbaiki postur duduk. Hanya ada satu orang yang tetap terlihat santai dan menikmati jalannya rapat. Orang tersebut duduk disamping Jay, Abraham Mahendra.
Abraham menarik sedikit ujung bibirnya, mengagumi kecepatan Jay mengejar performa yang Aruna tunjukkan selama berada di kursi yang sama. Jay, meski bukan orang yang ia rencanakan untuk memimpin bisnisnya, tetapi darah emmang lebih kental dari pada air. Darah keturunan Mahendra ini memang terbukti jelas pada diri Jay yang terlihat berbakat di dunia bisnis.
"Agenda berikutnya adalah, mengisi kekosongan Gamigo, pengalihan dana akan dibuka untuk membeli perusahaan baru untuk direkrut menjadi anak perusahaan Mahendra berikutnya," ucap sebuah suara dari seorang perempuan dari ujung ruangan.
Sebuah layar kembali hidup dan lampu ruangan meredup, beberapa orang maju bergantian mempresentasikan calon perusahaan yang akan dibeli oleh Mahendra Group. Saat sebuah nama muncul di layar, manik mata Jay membesar.
"... demikian presentasi tentang performa Atlantech Corp.," pamit seorang lelaki muda yang bersiap kembali duduk di kursinya.
Lampu kembali hidup dan Jay sudah menekan sebuah tombol voting yang tertera di tablet di atas meja.
Perempuan sang MC tadi terkejut melihat tabletnya, seseorang telah melakukan voting padahal belum ia persilahkan.
"Baik, silahkan melakukan voting pada tablet anda di meja. Voting di buka," ucap si MC.
***
Aruna berdiri fokus menatap dirinya di cermin kamar mandi. Tepat didepannya ada sejumpah kertas hasil print dari printer di meja suster jaga ruangannya. Kertas-kertas itu adalah hasil penelusurannya terhadap jurnal yang belakangan ia pelajari dengan sungguh-sungguh.
Aruna lalu menutup mata, dan meletakkan telapak tangan di cermin yang dingin. Aruna menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
Saat manik mata Aruna berhenti bergerak, nafas Aruna sangat tenang hingga dadanya hampir tidak bergerak. Suasana kini begitu sunyi.
Seperti sedang menunggu, Aruna lalu menggerakkan bibirnya, pelan, sangat pelan. Suaranya bahkan hampir tidak terdengar oleh telinganya sendiri.
"Chas, hey, come back!"
Aruna membuka matanya dan kabut menutupi permukaan cermin seolah ada embun karena perbedaan suhu. Dengan tangannya yang bergetar, Aruna menghapus kabut di permukaan cermin.
Manik mata Aruna membesar, urat lehernya mendadak timbul. Ia berteriak, "CHAS!! CHAAS!!"
***
ni sepertinya alur maju mundur cantik bergabung 😂😂..tinggalin jejak thor
Mulai baca