Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: BENIH CURIGA - ITU UANG APA,RA?
Hari ke-49 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Yang Sarapannya Dingin, Kopinya Dingin, Suasananya Ikut Dingin.
Jam 09.00, pecahan gelas udah disapu Mbak Yuni. Tapi pecahan di antara aku sama Tadz Rayan? Masih berserakan.
Ustadz Rayan di ruang tamu. Nulis LPJ. Tangannya gerak, tapi matanya kosong. Jarak kami 3 meter. Kemarin 1,5 meter. Hari ini... berasa beda pulau.
Bunda Aisyah narik aku ke dapur. Bisik-bisik. "Nduk, kalian kenapa? Le Rayan dari Subuh cuma diem. Kopi aja nggak disentuh. Padahal itu kopi buatanmu."
Aku gigit bibir. "Nggak papa, Bun. Cuma... salah paham dikit."
"Dikit?" Bunda ngangkat alis. "Dikit kok sampe piring bisa pecah? Nduk, Bunda emang nggak sekolah tinggi. Tapi Bunda tau, kalau suami istri diem-dieman, itu setan lagi tepuk tangan."
Aku mau jawab. Tapi HP di saku geter. Notif. Dari grup WA. Grup "Alumni Ndalem Al-Hikmah".
Isinya: Foto bukti transfer. 50.000.000.
Dari: ARYA PUTRA
Ke: ZAHRA ALMIRA
Berita: "Buat bantu Ndalem. Semangat, Ra. –Arya, Cozy Corner Brews"
Di bawahnya, chat dari Kang Jono: "Loh, Bu Nyai? Ini beneran? Alhamdulillah ya. Rezeki Ndalem."
Chat dari alumni lain: "MasyaAllah. Barakallah Bu Nyai. Temennya baik banget."
Darahku turun ke dengkul.
Arya Putra. Dia transfer beneran. Terus... dia sebar ke grup alumni. Sengaja. Biar Tadz Rayan liat. Biar satu Ndalem liat. Biar aku keliatan... nerima bantuan mantan.
Licik. Manipulatif. Persis kayak dulu pas dia selingkuh tapi nuduh aku yang cemburuan.
---
Jam 10.00, Ustadz Rayan masuk dapur. Nggak liat aku. Cuma naruh gelas kosong di bak cuci.
"Tadz," panggilku. Pelan.
Ustadz Rayan berhenti. Nggak nengok. "Hm?"
"Aku... bisa jelasin soal tadi pagi," kataku. Jari dingin. "Soal transfer... aku nggak minta, Tadz. Sumpah. Aku bahkan nggak bales DM-nya."
Ustadz Rayan masih nggak nengok. Tangannya meres air. Lama.
Terus dia ngomong. Pelan. Dinginnya ngalahin kulkas. "Terus kenapa dia transfer, Zahra? Kalau kamu nggak kasih sinyal?"
Deg.
Itu. Kalimat itu. "Kalau kamu nggak kasih sinyal".
Artinya... Ustadz Rayan mikir aku salah.
"Tadz, aku nggak kasih sinyal apapun!" jawabku. Panik. "Dia aja yang... dia tiba-tiba DM. Terus tiba-tiba transfer. Aku juga kaget, Tadz!"
Ustadz Rayan akhirnya nengok. Matanya... capek. Bukan marah. Tapi kecewa. Dan itu lebih sakit.
"Terus kenapa kamu nggak cerita dari DM pertama, Zahra?" tanyanya. Pelan. "Padahal semalem aku udah bilang... kalau berat, cerita. Kita tim."
Aku bungkam.
Kenapa nggak cerita? Karena aku takut. Takut Tadz Rayan mikir aku masih kepikiran Arya Putra. Takut Tadz Rayan ngusir aku. Takut... Ndalem ribut lagi.
Tapi gara-gara takut, sekarang beneran ribut.
"Aku... aku mau cerita, Tadz," kataku. Suara bergetar. "Tapi... HP-mu udah liat notif duluan. Aku telat."
Ustadz Rayan senyum. Pahit. "Iya. Aku telat. Telat percaya kalau kamu bakal cerita tanpa aku pergokin dulu."
Plak. Nggak ada yang nabok. Tapi rasanya kayak ditampar.
Dari luar, Humairah lari masuk. "Bu Nyai! Ustadz! Ada orang ke gerbang! Bawa kamera lagi!"
Aku sama Rayan nengok. Kompak. Tapi sorot mata kami... udah nggak sama kayak kemarin.
---
Jam 10.30, ternyata bukan wartawan. Tapi Mas Burhan. Calo sarung kemarin. Dateng lagi. Kali ini bawa... koran.
"Ustadz, Bu Nyai," katanya. Senyum licik. "Selamat ya. Ndalem dapat donatur. Udah masuk berita online."
Dia nyodorin HP. http://PortalGosip.com. Judulnya: "EKSKLUSIF! Bu Nyai Viral Dibiayai Mantan Bos Kafe Terkenal. Ustadz Rayan Di Mana?"
Isi beritanya: Screenshot transfer Arya Putra. Foto Arya Putra di Cozy Corner Brews. Foto aku waktu masih jadi barista. Narasi: "Sumber dekat menyebut, Bu Nyai Zahra masih komunikasi intens dengan Arya Putra, pemilik kafe. Uang 50 juta diduga untuk... mendekatkan kembali hubungan lama."
Aku lemes. Lutut mau copot.
Mas Burhan ketawa. "Nah, Ustadz. Gimana? Mau pake jasa saya buat klarifikasi? Saya punya kenalan media. Bisa hapus berita. Tapi... ada biayanya."
Rayan maju selangkah. Berdiri di depanku. Nggak ngomong. Tapi auranya... ngusir.
Mas Burhan mundur. "Ya... ya udah. Pikir-pikir dulu aja." Terus pergi.
Gerbang ketutup. Hening.
Aku nengok Rayan. "Tadz... aku nggak... aku beneran nggak..."
Rayan ngangkat tangan. Nyuruh aku berhenti.
"Zahra," katanya. Suaranya serak. "Aku percaya kamu nggak minta uang itu. Aku percaya kamu nggak selingkuh."
Aku lega. Sedetik.
"Tapi," lanjut Rayan. Matanya merah. "Aku nggak percaya... kenapa kamu milih diem. Kenapa kamu nggak anggap aku... tempat pertama buat cerita. Bukan HP. Bukan screenshot."
Air mataku jebol. Akhirnya.
"Tadz... aku takut..."
"Takut apa, Zahra?" potong Ustadz Rayan. "Takut aku marah? Atau takut... aku nggak cukup buat ngelawan masa lalumu?"
Aku nggak bisa jawab. Soalnya dua-duanya bener.
Ustadz Rayan geleng. Pelan. "Aku ke ndalem dulu. Mau ngadem."
Dia pergi. Ninggalin aku sama berita fitnah. Ninggalin aku sama transfer 50 juta yang nggak pernah aku minta.
Dari HP, DM Arya Putra masuk lagi.
"Zah, maaf. Aku nggak tau bakal rame gini. Aku cuma mau bantu. Beneran. Kamu blok aja aku kalau ganggu. Tapi uangnya pake aja. Buat Ndalem. Aku ikhlas."
Ikhlas. Katanya.
Padahal ini... ini bom. Dan dia yang naruh.
Di teras, Bunda Aisyah nyapu sambil istighfar. Humairah diem. Nggak gambar "Bu Nyai Avengers" lagi.
Ndalem... dingin lagi. Kayak sebelum aku dateng.