Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Malam itu, Setelah pulang dari makam ibu dewi,Arka, liana dan pak dimas lansung masuk kerumah lama liana, tidak da yang berubah didalamnya, hanya Cat tembok yang sudah mengelupas, dna mereka bertiga bercerita, tentang masa lalu.
Pak Dimas sudah menunggu di ruang tamu. Wajahnya lebih kurus dari empat tahun lalu, tapi matanya masih tajam. Sejak namanya tercemar, ia menolak bantuan siapa pun. Ia memilih hidup sederhana, bersama putri dan menantunya.
Liana duduk di depannya, memegang dua cangkir teh hangat.
“Ayah,” katanya pelan, “aku mau cerita.”
Pak Dimas mengangguk. Ia tahu, selama ini anaknya menyimpan banyak hal sendiri.
Liana menarik napas.
“Ibu… Ibu Dewi menikah lagi setelah Ayah pergi.”
Suara Liana bergetar, tapi ia memaksa dirinya tetap tenang.
“Ibu bilang, biar ada yang jaga aku kalau Ibu sudah nggak ada. Nama suaminya Pak Darmo.”
Tangan Pak Dimas yang memegang cangkir mengepal pelan.
“Pernikahan itu cuma bertahan dua bulan,” lanjut Liana.
“Setelah itu, Ibu meninggal. Sakit. Cepat sekali.”
Pak Dimas menutup mata sebentar, seolah menahan sesuatu yang sudah lama ia tahan.
“Lalu?” tanyanya, suaranya rendah.
Liana menatap lantai.
“Pak Darmo… dia punya utang judi, Yah. Banyak. Dan waktu penagihnya datang, dia jual aku.”
Ruangan itu langsung hening.
Hanya suara napas berat Pak Dimas yang terdengar.
“Dia jual kamu?”
Suara Pak Dimas pelan, tapi ada api yang menyala di baliknya. Tinjunya mengepal di atas meja kayu sampai buku-buku jarinya memutih.
“Anak kandungku… dijual buat bayar utang judi?”
Liana mengangguk, matanya berkaca-kaca.
“Aku nggak benci Ibu. Ibu cuma mau aku aman. Tapi aku benci Pak Darmo. Dan aku benci kenyataan kalau aku nggak bisa berbuat apa-apa waktu itu.”
Pak Dimas berdiri tiba-tiba. Kursinya terdorong ke belakang dengan keras.
“Kalau aku masih punya tenaga dulu, aku cari orang itu. Aku hajar sampai dia ngerti rasanya kehilangan!”
Tapi sekarang, tubuhnya sudah tua. Amarah itu hanya bisa keluar lewat suara yang bergetar.
Liana bangkit, memegang tangan ayahnya.
“Sekarang nggak perlu, Yah. Waktu yang memanggil Pak Darmo.”
Pak Dimas menatapnya bingung.
“Maksudmu?”
Liana tersenyum tipis, tapi matanya dingin.
“Dia sudah meninggal lima tahun lalu ayah. ”
Pak Dimas terdiam.
Keadilan memang datangnya lambat. Tapi kalau datang, rasanya seperti beban yang lepas dari dada.
Ia menarik Liana ke dalam pelukan. Pelukan yang sudah lama tidak ia berikan.
“Ayah bangga sama kamu, Li. Kamu kuat. Lebih kuat dari Ayah.”
Dan kali ini, ia tidak akan sendiri.
Apalagi tentang Arka, dia tidak tau tentang kabar keluarganya sekarang semenjak ibunya dengan kasar menyurunya menghapus nama wijaya.
Ibunya yang pertama kali bertindak.
“Kalau kamu lebih memilih istri kontrak itu daripada keluarga, jangan bawa nama Wijaya lagi,” katanya waktu itu, dingin.
Dalam satu malam, akses Arka ke beberapa dokumen penting dicabut. Undangan rapat keluarga besar berhenti datang. Bahkan di acara resmi, namanya sering “tidak sengaja” dilewatkan.
Arka tidak pernah cerita pada Liana.
Ia pikir, kalau ia bilang, Liana akan merasa bersalah.
Tapi sekarang, tidak ada gunanya menyembunyikan lagi.
“Aku nggak tahu banyak soal keluarga sejak saat itu,” ujar Arka sambil menatap Liana yang membuat Teh jangan untuknya.
“Ibu aku yang hapus nama aku dari semua urusan internal. Katanya biar aku belajar mandiri. Tapi sebenarnya… mereka takut aku jadi penghalang.”
Liana mengangguk pelan.
“Jadi selama ini kamu juga dijauhin?”
Arka tersenyum getir.
“Iya. Lucu kan? Aku anak kandung, tapi sekarang lebih dianggap orang luar daripada kamu.”
Sejak saat itu, mereka mulai membongkar semuanya bersama.
Liana membawa bukti lama tentang ayahnya. Arka membawa akses yang masih ia miliki—email lama, laporan keuangan, rekaman rapat yang belum sempat dihapus.
Dan kebenaran itu akhirnya muncul.
Semua fitnah terhadap Pak Dimas, semua proyek yang digagalkan secara sengaja, semua dokumen yang dipalsukan…
Ulahnya satu orang.
Paman Hendra.
Paman Arka sendiri. Adik dari Tuan Wijaya. Orang yang paling vokal bilang “demi nama baik keluarga” di setiap rapat, tapi di belakang layar dialah yang mengatur semuanya.
Ia yang menyuap orang dalam untuk menjatuhkan Pak Dimas,dan perusahaan pak dimas lansung bangkrut.
“Dia takut kehilangan kekuasaan,” kata Arka pelan.
“Jadi dia bunuh karakter orang lain biar jalannya mulus.”
Bersambung....